Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Menunggu Keajaiban Datang


__ADS_3

Akhirnya sampai juga mereka di bandara, sepertinya ucapan Felix benar mungkin Bella sudah di bawah ke Prancis oleh Damien.


"Aku sudah bilang, kita sudah telat." ucap Felix pada Ansel.


Keempat pria ini berdiri di area Arrival Lobby.


Ansel meraup wajahnya kasar, musuh Ansel sudah mulai aktif dimana-mana, sepertinya Ansel harus memiliki tangan kanan yang bisa menghandel semua urusan pribadinya, Revan sudah sangat sibuk dengan urusan di kantor, tidak mungkin Ansel meminta ia mengurusi urusan pribadinya juga.


"Mads carikan aku pria yang handal, pekerja keras, bertanggung jawab dan yang paling penting setia, setia akan pengabdiannya padaku." suruh Ansel pada Mads.


"Kenapa kamu tidak minta carikan Om Robert, dia pasti memiliki tangan kanan seperti yang kamu minta." ucap Mads.


Mata Ansel menatap Mads dengan tajam.


"Bukan aku tidak mau, pria berskill dan pekerja keras memang banyak, tapi untuk kata setia aku tidak bisa menjamin, orang ini akan kamu tugaskan untuk mengurus urusan pribadimu, terutama Black Wolf banyak sekali musuh, jika kamu mencari orang baru, tidak sedikit kemungkinan orang itu akan berkhianat padamu, jadi saranku sebagai teman, lebih baik kamu mempekerjakan orang yang sudah lama mengabdi pada keluargamu." ucap Mads panjang kali lebar.


Ansel diam sejenak, kemudian langsung memeluk teman bertikainya itu, sepertinya kucing dan tikus ini akan berubah menjadi sepasang kelinci yang imut.


"Terima kasih." ucap Ansel.


"Sama-sama, jangan seperti ini kau membuatku geli." ucap Mads mendorong tubuh Ansel agar menjauh.


Felix dan Garvin tertawa melihat keduanya, di susul Ansel dan Mads.


"Kita pulang saja, aku ingin menemui Papa, mendengar Bella masih hidup membuatku bersemangat kembali, aku akan mencarinya kemanapun walau harus ke ujung dunia sekalipun." ucap Ansel.


"Apa kau mengajak kami?" tanya Garvin.


"Pulanglah kalian, urusan kalian juga penting, nanti akan aku kabari jika sudah mendapatkan orang yang ku cari." jawab Ansel.


Ketiga sahabat Ansel kompak mengangguk, semuanya pulang ke mansion masing-masing.


Kini Ansel melajukan mobilnya menuju mansion, dia akan memberikan kabar bahagia ini untuk semuanya, firasat Ansel tak pernah salah, kenyataan istrinya saat ini masih hidup, hanya saja keadaannya masih kritis.


"Sayang aku harap kamu cepat sadar." tangan kekar itu menyetir dan sesekali memukul stirnya, Ansel jadi kesal sendiri saat Bella membutuhkannya malah orang lain yang berada disamping istrinya, bukan dirinya.


Tidak lama mobil Ansel sampai di mansion, ia berlari begitu saja menghiraukan para pengawal yang menyapanya.


"Sayang kenapa kamu lari-lari begitu?" tanya Mama Tia pada putranya.

__ADS_1


Saat ini semuanya sedang berkumpul di ruang tamu, sejak kejadian penculikan Bella Ansel menyuruh kedua orang tua istrinya untuk tinggal di mansionnya terlebih dulu.


"Ma Bella masih hidup." jawab Ansel, senyuman terus mengembang di bibirnya saat mengatakan kabar bahagia ini.


"Benarkah nak?" tanya Papa Tio dan Mama Eva serempak.


Ansel mengangguk, wajah Mama Eva dan Papa Tio kembali berseri saat mendengar putri satu-satunya masih hidup, ada kelegaan di hati keduanya.


"Lalu dimana Bella sekarang?" tanya Papa Robert, pencarian anak buahnya belum mendapatkan hasil.


"Damien membawahnya ke Prancis." jawab Ansel dadanya bergemuruh saat mengatakan hal itu.


"Siapa Damien?" tanya Papa Tio menautkan kedua alisnya.


Papa Robert memijat pelipisnya, ia jadi pusing melihat putranya tidak bisa mengontrol ucapannya.


"Em itu Pa." jawab Ansel kikuk sendiri.


"Mungkin musuh Ansel dalam dunia bisnis Tio." ucap Papa Robert berusaha menutupi siapa itu Damien, karena ini juga terjadi karenanya, Papa Robert tidak enak hati dengan sahabat sekaligus besannya karena dirinya lah Bella menjadi korban.


Papa Tio hanya mengangguk, sementara Ansel tidak memberitahukan keadaan Bella sekarang, karena ia takut Mama Eva kembali pingsan.


Ansel berjalanan mendekati Papanya dan berbisik.


"Sebentar saya tinggal dulu." pamit Papa Robert pada besannya, sementara Mama Tia yang melihat anak dan suaminya bisik-bisik tadi menatap keduanya dengan perasaan curiga.


"Masuk Sel." Papa Robert mempersilahkan putranya untuk masuk.


Ansel duduk di depan sang Papa yang hanya di batasi meja panjang.


"Ada yang ingin kamu bicarakan dengan Papa?" tanya Papa Robert.


"Pa aku butuh seseorang untuk menjadi tangan kananku." tatapan mata Ansel pada Papanya tersirat sebuah permohonan.


Papa Robert diam sejenak lalu berbicara.


"Ada satu pemuda yang Papa latih dari kecil tanpa sepengetahuan kalian, Papa berjaga-jaga agar dia bisa melindunggi kamu, karena Papa tahu kejadiannya akan seperti ini." Papa Robert mengambil nafas sejenak.


"Namanya Vero dia anak dari sahabat Papa yang sudah meninggal, dia meninggalkan seorang istri dan satu anak, Papa memberikan modal usaha untuk mereka, dan sekarang sepertinya usaha Mamanya Vero sudah berkembang pesat." ucap Papa Robert.

__ADS_1


"Mama tahu akan hal ini?" tanya Ansel.


Papa Robert mengangguk.


"Papa sudah jujur pada Mamamu, tidak ada yang Papa tutupi lagi." jawab Papa Robert.


"Baiklah nanti sore suruh pria itu kesini Pa." ucap Ansel.


"Ya nanti Papa akan menghubunginya, Papa yakin dia pria baik." ucap Papa Robert


Sebenarnya sudah dari dulu Vero meminta Papa Robert agar menjadikannya seorang pekerja di mansionnya, karena Vero merasa sangat berhutang budi pada Papa Robert, karena kebaikan hatinya hidupnya bisa sukses seperti sekarang.


*


Di negara yang terkenal akan keindahan menara eifelnya, seorang wanita cantik masih setia dengan tidur panjangnya.


Bella dan Papa Daniel berada di satu ruangan yang sama, di mansion rahasia milik Damien, siapa pun tidak tahu tempat persembunyian Damien saat ini kecuali Axel tangan kanannya serta Dokter dan 3 perawat yang mengobati sang Papa.


"Bagaimana dengan keadaan wanita ini sekarang?" tanya Damien pada Dokter pribadi Papa Daniel.


"Keadaannya masih kritis Tuan, kita hanya bisa menunggu keajaiban datang padanya." jawab Dokter.


Damien menjambak rambutnya kasar, bukan seperti ini keinginannya.


"Lalu bagaimana dengan keadaan Papa?" tanya Damien lagi.


"Kondisi Papa anda berangsur membaik." jawab Dokter.


Ada setitik embun yang membasahi hatinya yang sedang gelisah, mendengar kabar baik dari sang Papa.


"Lakukan yang terbaik untuk keduanya." pinta Damien pada Dokter matanya menatap sayu ke arah Bella.


"Tentu Tuan, saya akan berusaha sebaik mungkin." ucap Dokter.


Damien mengangguk, Dokter pun pergi meninggalkan Damien dan kedua pasiennya.


Damien berjalan mendekat kearah ranjang, di lihatnya wanita cantik yang tersenyum kepadanya kemarin, kini berwajah pucat dengan perban di kepalanya, terdapat alat bantu pernafasan yang menempel di hidung wanita cantik itu.


"Maafkan aku Bell, jika saja aku tidak menculikmu kamu tidak akan seperti ini." ucap Damien mengenggam jari-jari lentik itu.

__ADS_1


Damien mendekat, ia mencium kening Bella dengan penuh perasaan, entahlah melihat wanita ini membuat Damien merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama, Damien dulu tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama, tapi nyatanya saat ini dia sudah merasakannya sendiri, tidak butuh waktu lama untuk mencintai seseorang, hanya beberapa kali bertemu saja di hatinya sudah tumbuh bungga-bungga cinta yang bermekaran.


Jangan lupa pencet tombol like dan kasih Vote agar karya Author mendapat rekomendasi dari NT😘😘


__ADS_2