
Di mansion mewah tepatnya di tengah-tengah pulau, dua manusia berlawanan jenis sedang bergumul di bawah selimut tebal, terdengar ******* demi ******* dari bibir keduanya, sebelum menugaskan suaminya untuk membalaskan dendamnya, Calista memberikan servis ranjang sebagai hadiah untuk Derward suaminya.
"Aaah baby kamu yang terbaik." racauan demi racauan keluar dari bibir Derward, hingga aktifitas keduanya terganggu dengan suara dering ponsel milik Derward yang terus berbunyi.
"Arggghh dumpt.." umpat Derward, ia pun melepas penyatuannya lalu dengan segera mengangkat telpon.
"Bisakah tidak menganggu ku.." ucapan Derward terhenti saat mendengar laporan dari rekannya jika ada penyusup yang masuk.
"Sial.." tanpa bicara lagi Derward memakai satu persatu pakaiannya yang terbuang di atas lantai, sementara Calista mengernyitkan dahi melihat suaminya tiba-tiba panik.
"Why..?" tanya Calista, wanita ini masih terlihat tenang.
"Dibawah ada penyusup baby, sepertinya Damien ingin menyelamatkan Papanya." jawab Derward.
Tubuh Calista menegang, ini tidak boleh terjadi Papa Damien tidak boleh selamat pikirnya.
"Kau harus berhasil membunuh pria tua itu, jika tidak aku akan meninggalkanmu, jangan berharap bisa bertemu dengan ku lagi." ancam Calista.
"Tenang baby, Wait here everything will be fine." Derward mengecup bibir Calista sekilas sebelum beranjak pergi.
Derward menekan tombol merah yang berada di luar kamarnya, tombol merah ini berfungsi sebagai penanda jika keadaan sedang tidak baik-baik saja, tombol ini juga mengirim sinyal darurat pada anggota Cartel yang tidak berada di pulau itu.
Dari mansion keluar beberapa rekan Derward, mereka berlari ke arah gudang yang jaraknya tidak jauh dari markas mereka.
Pertumpahan darah masih berlangsung, Damien dan rekan Red Blood berhasil melumpuhkan orang-orang yang berjaga mengitari gudang, mereka mulai mendekati gudang itu, nampak mayat berserakan dimana-mana.
'Brakk..' bunyi pintu terbuka sangat keras, Damien dan rekan Red Blood menerobos masuk, mencari keberadaan Papa Daniel.
__ADS_1
Jantung Damien hampir berhenti berdetak saat melihat orang yang di sayangnya terduduk lemah dengan tubuh terikat, wajah keriputnya di penuhi dengan darah yang sudah hampir mengering, Damien berlari langsung memeluk Papanya yang pingsan.
"Papa maafkan Dam." airmata pria itupun menetes tanpa permisi, melihat keadaan Papa Daniel sekarang membuat dada Damien bergemuruh menahan amarah, Damien segera membuka ikatan yang melilit di tubuh Papanya, tidak lama Papa daniel tersadar, beliau langsung memeluk Damien.
"Dam, putraku.."
"Om kita harus cepat membawah Tuan Daniel pergi." ucap Damitri.
Sudah tidak ada waktu lagi untuk saling melepas rindu, mereka harus cepat-cepat keluar dari pulau itu, sebelum Derward datang menghentikan mereka.
Damien segera memapah Papanya di bantu oleh Lano, mereka berhasil keluar dari gudang, tapi langkah mereka terhenti saat suara letusan pistol mengema di udara.
'Dor..'
"Kenapa buru-buru pergi, apa kalian takut?" Derward tersenyum menantang.
"Bawah Papa pergi, aku akan habisi dia." perintah Damien pada Lano, suaranya terdengar sangat menyeramkan.
'Dor...'
'Arrrrgghh.." erang Papa Daniel.
Damien menoleh kebelakang, Papanya sudah tergeletak bersimbah darah, sementara Lano panik, dengan tangan mengepal hingga urat-urat berototnya keluar Damien langsung membalas serangan Derward dengan pistolnya, peluru itu tepat menancap di lengan Derward, di susul yang lainnya juga saling menyerang, Lano segera mengendong Papa Daniel menuju kapal.
'Dor Dor Dor Dor..' suara tembakan mengema saling bersahutan, hingga dari pihak Damien berhasil memukul mundur lawannya, dengan cepat Damien dan rekan Red Blood berlari menyusul Lano ke kapal.
Dari jauh terlihat dua kapal Very lain yang akan datang, sepertinya mereka para anggota Cartel Sinaloa, selepas Derward menyembunyikan alarm peringatan tadi, semua anggota Cartel langsung berkumpul di pelabuhan.
__ADS_1
"Cepat mereka datang." teriak Lano, ia berhasil membawah Papa Daniel masuk kapal dan menidurkannya di kamar yang telah di sediakan, untung saja Damien membawah Dokter pribadi keluarga bersamanya.
Damien dan beberapa rekannya lekas menaiki kapal Very, kapal itu pun mulai meninggalkan pulau milik Derward, kelegaan mereka terhempas saat dua kapal Very lainnya mengikuti mereka, bukan hanya mengikuti para anggota Cartel melepas beberapa peluru ke arah kapal Damien, tentu saja hal itu membuat mereka berhamburan.
Di sisi lain Derward atau biasa di panggil Gent kini mendapat perawatan karena peluru yang bersarang di lengannya cukup dalam.
"Brengsek, kenapa kamu melepaskannya?" amarah Calista meledak-ledak, ia tidak perduli jika Derward saat ini dalam keadaan terluka.
"Aku sudah menembak dadanya baby, pria tua itu tidak akan selamat, percayalah." jawab Derward meringis sakit, saat dokter pribadinya mencoba mengambil peluru yang bersarang di lengannya.
"Benarkah?" wajah Calista berubah berbinar, wanita itu mulai mendekati suaminya.
Sejak kehidupan Calista hancur, ia berfikir akan mencari ketua anggota Cartel, mafia yang pernah di bayar oleh Darren kekasihnya, tujuannya hanya untuk mempermudah pembalasan dendamnya pada Damien dan yang lebih penting, ia bisa hidup berkecukupan tanpa harus bekerja keras.
Singkat cerita Calista yang saat itu sedang mengandung baru beberapa minggu, berhasil menemukan dimana keberadaan ketua mafia Cartel, Calista begitu beruntung, setelah meninggalnya para rekan Cartel yang lama tewas di tangan Damien dan seluruh rekannya, Para anggota Cartel yang dulunya memiliki markas besar di Meksiko, berpindah ke negara A dan merekrut banyak personil baru, di situlah Calista bertemu dengan Derward, ia mengaku statusnya pada Derward sebagai seorang janda yang sedang hamil muda, padahal ia tidak pernah menikah sama sekali, menginggat dirinya sedang hamil, ia pun membohongi Derward dengan mudah, bodohnya Derward percaya begitu saja pada Calista, pria itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sejak pertama kali bertemu dengan Calista.
Setelah menikah hampir satu tahun, Derward mengajak Calista berpindah ke negara Prancis, ia sudah membeli satu pulau untuk markas tersembunyi bagi anggota mafia Cartel, tentu saja Calista hanya bisa menurut, menginggat Derward belum sebucin sekarang.
**
Setelah beberapa kali melakukan penyerangan akhirnya dua kapal very milik anggota Cartel mulai berbalik arah, kalian tahu kenapa? karena Bray melempar bom rakitannya, ya memang tidak terlalu besar dampaknya jika bom itu meledak di air, namun jika bom itu berhasil mendarat di kapal milik anggota Cartel, semua akan hancur tanpa sisa, melihat keadaan mereka yang terancam anggota Cartel lebih memilih untuk mundur.
"Akhirnya mereka menyerah juga." ucap Lano.
"Kamu memang hebat Bray." puji Damitri, membuat Bray besar kepala.
Sementara di ruangan tempat Papa Daniel di rawat, terdengar erangan keras dari bibir Damien, kesedihannya nampak sangat kentara terlihat dari wajahnya yang memerah, wajah itu nampak sangat menyesal saat nyawa Papa tercinta tidak bisa tertolong lagi.
__ADS_1
"Papa maafkan Dam.." kepalan tangannya kembali terlihat, pria itu menangis merasa sangat kehilangan.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalianš„°