Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 12


__ADS_3

Di kota A


Siang ini sepulang sekolah, kedua twins merasa ada seseorang yang mengikuti mereka dari jauh, kejadian seperti ini sudah terjadi beberapa hari yang lalu, setiap harinya mereka selalu melihat mobil yang sama, berhenti tidak jauh dari gedung sekolah tempat mereka mengemban ilmu.


"Kakak sadar ngak mobil itu setiap harinya selalu ada di belakang kita, dari kita berangkat hingga pulang." Azurra menunjuk mobil hitam yang berada jauh di belakang mobil mereka.


"Kamu benar Dek, sepertinya mereka orang-orang jahat, kita harus melaporkan hal ini pada Papa." seru Azzam.


"Iya Kak, Pak tolong percepat mobilnya." Azurra ingin cepat sampai mansion.


"Baik Nona." sang supir menambah laju kecepatan mobilnya, begitu juga mobil hitam yang berada jauh di belakang mobil mereka.


Azurra akhirnya bisa bernafas lega mobil sudah memasuki gerbang mansionnya.


Seperti biasa keduanya dengan serempak berteriak memanggil sang Mama.


"Mama Ma Mama.."


"Mama disini.." teriak Bella, Bella berada di dapur ia sedang menyiapkan makan siang untuk putra putrinya.


"Cup Cup." dua kecupan di berikan Azzura dan Azzam di kedua pipinya.


"Kalian ganti baju dulu, setelahnya kita makan siang bersama." suruh Bella.


"Siap Ma." ucap twins serempak.


Tidak lama terdengar deru mobil milik Ansel, membuat Bella menautkan kedua alisnya, wanita itu sedikit berlari menuju ruang tamu, apa benar telingganya tidak salah dengar, tumben suaminya pulang siang-siang begini.


Dan benar saja nampak Ansel baru keluar dari mobil sport miliknya bersama dengan Ken tangan kanannya yang baru.


"Papa tumben pulang jam segini?" Bella mengernyit, berjalan menghampiri Ansel.


"Papa kangen sama Mama." Ansel mencium kening Bella di depan Ken tanpa ada rasa malu sedikit pun.


"Papa ih.." Bella tersenyum malu.


Saat Ken ingin berlalu, Bella menghentikan langkah pria muda itu. "Ken ikutlah makan siang disini, kebetulan siang ini saya masak banyak." ajak Bella.


"Terima kasih Nyonya." Ken mengangguk, berjalan di belakang majikannya.


Ansel dan Ken duduk di meja makan, tidak lama kedua twins datang.


"Papa.." teriak Azzam dan Azurra.


"Sayang-sayang Papa." Ansel mencium kedua pipi twins, kasih sayangnya ia bagi sama rata, tidak ada yang Ansel bedakan.


Bella tersenyum menatap keluarga kecilnya, ia mulai mengambilkan makanan untuk suaminya selanjutnya untuk yang lain, mereka makan dengan diam tanpa ada obrolan sama sekali hingga nasi di piring masing-masing tandas.


"Pa tau ngak, setiap kita berangkat dan pulang sekolah ada mobil asing yang mengikuti kita." ucap Azzura dengan manja.


Seketika Ansel tersedak, apa itu mereka?


"Papa tidak apa-apa?" Bella mengelus punggung kekar suaminya.


"Papa baik-baik saja Ma." jawab Ansel.

__ADS_1


Ansel kawatir dengan kedua putra putrinya, sepertinya ucapan dari Damien benar ia harus memperketat penjagaan di mansionnya, dan menugaskan para Bodyguard untuk selalu mengawal twins.


"Papa akan urus semuanya sayang, sebaiknya kalian tidur siang, Papa ingin bicara dengan Mama sebentar." ucap Ansel pada si kembar.


"Baik Pa." keduanya meninggalkan meja makan, berlalu ke kamar masing-masing.


"Ken kamu disini saja." suruh Ansel saat mendapati Ken akan beranjak pergi.


"Baik Tuan."


Ansel menghembuskan nafas kasar, setelah lama kehidupannya berjalan dengan baik-baik saja, kini datang prahara yang membuatnya menghawatirkan istri dan anak-anaknya.


"Ma Papa ingin bicara serius, ini mengenai keselamatan keluarga kita." ucap Ansel, membuat Bella dan Ken saling pandang.


"Maksud Papa?"


"Gang Cartel Sinaloa, mereka muncul kembali." jawab Ansel.


Bella terkejut ini kabar buruk, keadaan sedang tidak baik-baik saja, sementara Ken masih tidak mengerti maksud dari majikannya.


"Jangan-jangan yang meneror putri kita dan mengikuti twins, salah satu dari mereka Pa." tebak Bella mulai kawatir.


"Sepertinya Ma, Papa akan memperketat penjagaan di mansion mulai siang ini."


"Maaf Tuan saya tidak mengerti apa yang anda maksud." Ken memberanikan dirinya untuk bicara.


"Begini Ken, musuh kami di masa lalu kembali menyerang, kita harus lebih berhati-hati lagi karena mereka sangat berbahaya, tidak mungkin bukan, kamu belum pernah mendengar nama gang ini." ucap Ansel.


"Tapi saya benar-benar tidak pernah mendengarnya Tuan." jawab Ken mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah tidak apa-apa, walaupun begitu kita harus tetap waspada." Ansel mulai beranjak dari kursinya.


"Oh ya Ma, Papa punya kabar bahagia untuk Mama." Ansel memeluk pundak istrinya dari belakang.


Lagi-lagi Ken harus melihat kemesraan keduanya, mungkin kerjaan Ken bukan hanya menjadi tangan kanan Ansel, tapi juga menjadi saksi cinta kedua majikannya.


"Apa itu Pa?" tanya Bella.


"Besok putri kita pulang." jawab Ansel.


Seketika itu juga Bella melepas tangan Ansel yang merangkul pundaknya, wanita itu lekas berdiri menatap Ansel dengan lekat.


"Papa serius?" wajah Bella nampak berbinar.


"Ya Ma, dia akan datang bersama Damien dan anggota Red Blood, kami berencana membuat marga baru Ma, mempersatukan kelompok Red Blood dan Black Wolf agar lebih kuat untuk menghadapi gang mafia itu." jawab Ansel.


"Wow ide bagus itu Pa, apa lagi di tambah anggota Jevarck pasti akan lebih kuat lagi." saran Bella.


"Kalau masalah itu akan Papa pikirkan nanti dengan Damien Ma." kedua pasutri ini meninggalkan Ken begitu saja.


"Nasip-nasip jadi bawahan." monolog Ken, ia juga beranjak dari kursinya meninggalkan meja makan.


Di Prancis


Damien sudah bersiap membangunkan Stella, pria itu nampak tampan memakai baju casualnya, dia akan menepati janjinya pada Stella, mengajak gadia nakal itu untuk jalan-jalan ke taman.

__ADS_1


Damien membuka pintu kamar Stella tanpa mengetuknya.


"Glegh.." air liurnya hampir saja menetes saat melihat pemandangan indah di hadapannya, Stella saat ini hanya memakai hotpan pendek dan tangtop tipis, terlihat dua bukit kembar itu menyembul karena posisi Stella tidur miring menghadap ke arah pintu.


"Mesum mesum." Damien menyadarkan dirinya dengan memukul-mukul kepalanya, sebisa mungkin ia berusaha tidak tergoda dengan pemandangan di depannya saat ini.


"Ayo kamu bisa Dam, dan kamu anteng-anteng di dalam sana." Damien mengelus masa depan miliknya, berusaha bernegoisasi meskipun hal itu tidak akan merubah apapun yang akan terjadi.


Damien berjalan mendekati Stella dengan langkah perlahan, setiap langkahnya di barengi hembusan nafas berat, semakin mendekat semakin merubah reaksi dalam tubuhnya.


"S-sayang bangun." Damien mengoncang pelan bahu Stella.


Stella malah berpindah dengan posisi terlentang, menarik tangan kekar Damien, membawah tangan itu tepat ke atas bukit kembarnya.


"Astaga cobaan apa lagi ini." gumam Damien meraup wajahnya kasar dengan satu tangan.


"Om Dam jangan pergi." sepertinya gadis cantik itu sedang menggigau.


Bibir Damien tersenyum, tanpa sadar ia mendekatkan bibirnya pada bibir merah muda milik Stella, bibir keduanya pun menempel, Damien mencoba sedikit **********, sesekali megigit pelan dengan gemas, hal yang membuat Damien terkejut, Stella berusaha membalas kecupannya walaupun nampak sangat kaku, mata Damien seketika terbuka, ternyata Stella masih memejamkan matanya, itu tandanya gadis nakalnya masih tertidur, ia kembali memejamkan mata menikmati kelembutan yang terus membuat gairahnya kembali membuncah.


"Tidak-tidak jangan terbawah nafsu Dam." batin Damien.


Damien langsung melepas pagutannya, dengan cepat ia membersihkan sisa kelakuanya di bibir Stella, nampak gadis itu masih terlelap mungkin Stella kelelahan, biarlah acara ke taman untuk sore ini di batalkan saja pikir Damien.


Damien beranjak dari ranjang, saat tangannya membuka knop pintu, terdengar suara serak khas bangun tidur milik Stella sedang memanggilnya.


"Om Dam."


Tubuh Damien berbalik, ternyata gadis itu sudah terbangun, terlihat Stella duduk dengan mengucek kedua matanya.


"Sayang." Damien berjalan menghampiri Stella.


Ada yang aneh dengan bibir Stella, kenapa bibirnya terasa begitu tebal, gadis itu terus memegang bibirnya membuat tubuh Damien bergetar, apa Stella tadi pura-pura tidur? mau di taruh dimana wajahnya bila Stella tahu Om nya semesum ini.


"Om kenapa bibir ku terasa tebal ya, mimpi ku tadi terasa begitu nyata, sampai aku terbangun rasanya masih sangat terasa." ucapan Stella membuat Damien gugup.


"M- memang kamu bermimpi apa sayang?"


"Ada seorang pangeran tampan yang mencium ku." jawab Stella dengan malu-malu.


Damien membuang nafasnya dalam. "Benarkah? itu hanya bungga tidur, lebih baik kamu bangun dan bersiap, Om tunggu kamu di ruang tamu, oke." ucap Damien mengalihkan pembicaraan.


Stella mengangguk dengan semangat, ia pun beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.


"Ahhh amaaaannn." Damien mengelus dadanya merasa sangat lega.


"Apanya yang aman Om?" Stella tiba-tiba membuka pintu, gadis itu lupa membawah baju gantinya.


"Degh"


"Ah anu sayang, keamanan di mansion mulai detik ini Om perketat, nanti akan Om ceritakan padamu, Om juga punya kabar bahagia untuk mu." ucap Damien dengan gugup.


"Benarkah?" Stella sudah memegang satu stel pakaiannya. "Baiklah Stella cepat-cepat mandi." Stella kembali menutup pintu kamar mandinya.


"Astaga aku harus segera pergi dari sini." Damien sedikit berlari meninggalkan kamar Stella dengan jantung deg-degan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2