Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Pernyataan Cinta Damien


__ADS_3

Selang beberapa hari keadaan Bella sudah membaik, ia sudah mulai bisa berjalan.


"Pagi Om, apa mau aku suapi." Bella menghampiri ranjang Papa Daniel, setiap hari Bella berbincang dengannya layaknya seorang teman, membuat hari-hari Papa Daniel lebih berwarna.


Papa Daniel menjawab dengan mengedipkan matanya, mengerti akan hal itu Bella langsung mengambil piring dari tangan perawat.


"Biar saya yang suapi ya, mbak bisa kerjakan yang lain." ucap Bella.


Perawat itu pun mengangguk dan berlalu pergi, sudah 3 hari ini Damien tidak ke mansionnya, hal itu membuat Bella kesal, apa pria itu sengaja tidak menjengguknya agar dirinya tidak jadi pulang.


Dengan telaten Bella menyuapi Papa Daniel, sesekali ia bercanda hal itu membuat keadaan Papa Daniel setiap harinya semakin membaik.


Makanan di piring habis tak tersisa, Bella mengambil obat dan membantu Papa Daniel untuk meminumnya, setelahnya Bella pamit ia ingin mencari angin segar di luar mansion.


"Om Bella keluar sebentar ya, apa Om mau menonton tv?" tanya Bella.


Papa Daniel kembali mengedipkan matanya, Bella mengambil remot tv dan menyalakannya.


"Bella tinggal ya Om." ucap Bella berlalu setelah mendapat kedipan mata dari Papa Daniel.


Baru kali ini Bella keluar kamar, karena sebelum-sebelumnya tubuhnya masih belum kuat untuk berjalan jauh, tapi hari ini ia merasa sudah sangat sehat, tinggal menanti janji Damien saja yang tak kunjung datang.


"Wow mewah juga mansion ini meskipun kecil." ucap Bella celinggukkan melihat desain mansion dan beberapa furnitur yang terpampang disana.


Bella mencoba berjalan keluar pintu, tiba-tiba saja langkanya terhenti saat melihat banyak bodyguard di depan mansion, mansion ini layaknya penjara karena para bodyguard berbaris mengelilingi mansion dengan hanya jarak 1 meter tiap orangnya.


"Astaga gila pria itu, penjagaannya ketat sekali." monolog Bella, ia tidak jadi keluar tubuhnya berbalik kembali melangkah memasuki mansion.


"Apa disini tidak ada alat komunikasi sama sekali ya?" Bella sudah seperti orang gila sekarang, bisa juga dikatakan seperti seorang perampok, ia celinggukkan sendiri dengan bibir komat-kamit.


Disana tidak ada asisten rumah tangga, yang bertugas memasak dan membersihkan mansion ialah 3 perawat yang menjaga Papa Daniel, berani membayar berapa Damien, hingga membuat perawat itu mau saja dijadikan layaknya pembantu pikir Bella.


Tidak terasa sudah 1 jam Bella memutari setiap sisi mansion hingga kakinya terasa pegal, ia juga mencoba mencari telpon atau alat komunikasi apa saja yang bisa ia gunakan untuk menghubungi suaminya, tapi hasilnya nihil.


"Kemana pria itu? awas saja kamu kalau hari ini tidak datang, bakal aku bejek-bejek wajah yang sok tampan itu." ucap Bella, ia memukul bantal sofa sebagai pelampiasan kekesalannya.


"Siapa yang sok tampan, aku memang tampan." tiba-tiba saja suara seseorang mengagetkan Bella.


Bella membalikkan badannya, dilihatnya Damien berdiri di belakangnya dengan bersedekap dada.


Bella berdiri. "Darimana saja kamu, kenapa 3 hari ini tidak datang?" tanya Bella.


"Kenapa, kangen?" goda Damien dengan memincingkan matanya.

__ADS_1


Bella mendengus, bukan hanya sok tampan pria ini kepercayaan dirinya juga sangat tinggi.


"Aku ingin menagih janjimu." Bella berjalan menghampiri Damien, tanpa sengaja kakinya tersandung karpet, Damien reflek menangkap tubuh Bella yang hampir saja terjatuh.


Lagi dan lagi, sudah dua kali Damien berada di situasi seperti ini, saat menjadi Darrak dan sekarang menjadi dirinya sendiri.


Bella tersadar ia melepas dan menjauhkan dirinya dari Damien.


"Terima kasih." ucap Bella dengan canggung.


Damien pun sama ia merasa canggung saat ini, apalagi detak jantungnya sudah seperti genderang perang.


"Sama-sama." Damien berjalan kearah sofa, dia mencoba menormalkan detak jantungnya.


"Bagaimana dengan janjimu?" tanya Bella sekali lagi, ia ikut mendudukan dirinya di samping Damien.


"Suamimu ada di negara ini." ucap Damien, membuat Bella langsung menatap ke arahnya.


"Benarkah?" tanya Bella antusias.


Damien hanya mengangguk, malas sekali membahas orang yang sangat dia benci.


"Kalau begitu, kamu tak perlu mengantarku, aku pulang sendiri saja." ucap Bella mencoba merayu Damien dengan menunjukkan wajah puppy eyesnya.


"Memang kenapa aku jelek ya?" tanya Bella memegang wajahnya.


Damien meraup wajahnya kasar, wanita ini sungguh menguji imannya.


"Bergantilah baju, aku akan mengantarmu pulang." akhirnya kata itulah yang keluar dari bibir Damien, berat sebenarnya tapi apalah daya dia sudah terlanjur berjanji.


"Seriously?"


"Mau pulang apa tetap disini?" tanya Damien, ia mendekatkan tubuhnya pada Bella.


"Pulang." jawab Bella bergeser mundur.


"Kalau begitu cepat ganti bajumu!" suruh Damien.


Bella segera beranjak dari sana, meninggalkan seorang Damien yang sedang gelisah.


Damien memang orang yang kejam pada musuh-musuhnya, apalagi pada orang yang sengaja menyakiti dirinya maupun keluarganya, tapi untuk kali ini Damien menggunakan hati, itu semua karena Bella.


Tidak lama Damien menunggu, terlihat Bella berjalan ke arahnya dengan wajah berseri.

__ADS_1


Sebelum pergi Bella ingin menanyakan sesuatu hal pada Damien.


"Dam sebelum aku pergi, aku ingin bertanya sesuatu padamu." ucap Bella menatap Damien.


"Apa itu?" tanya Damien yang juga menatap Bella.


"Kenapa kamu memperlakukan diriku dengan baik disini? kenapa sikapmu berbeda saat pertama kali kita bertemu?" tanya Bella penasaran, ia beberapa hari ini memikirkan hal itu, kenapa Damien tidak membiarkannya mati saja, dan satu hal yang membuat hati Bella menganjal, kenapa Damien sampai menangisinya.


Tubuh Damien membeku, mungkin Bella harus tahu perasaannya, dia tidak akan tahu kapan dirinya bisa bertemu lagi dengan wanita cantik ini.


"Karena." Damien diam sebentar ia mengambil nafas dalam lalu membuangnya.


"Karena aku mencintaimu." jawaban dari Damien membuat Bella kaget, benarkah yang dia dengar saat ini.


"Kenapa bisa begitu, bukankah kita bertemu cuma 1 kali?" tanya Bella.


"Entahlah mungkin ini yang namanya cinta pada pandangan pertama." jawab Damien sembari tersenyum, ia geli sendiri saat mengatakannya.


Bella membuang nafas kasar, "Jadi karena itu kau menolongku, tapi maafkan aku Damien aku tidak bisa membalas cintamu." ucap Bella menunduk sedih, ternyata Bella salah menilai Damien, sebenarnya Damien ini orang yang sangat baik, tapi karena hatinya di butakan oleh dendam akhirnya ia menjadi pria yang begitu kejam.


Damien mendekat pada Bella, ia mengusap kepala Bella dengan lembut.


"Tak apa Bell, jangan bersedih." ucap Damien.


Bella mendonggak, "Sebelum pergi, aku ingin menemui Om Daniel dulu." ucap Bella.


"Baiklah ayo kita temui Papa sebentar." ajak Damien, ia mempersilahkan Bella untuk berjalan lebih dulu.


Dilihatnya Papa Daniel masih setia menonton tv.


"Bella pamit pulang, Om cepat sembuh ya, Om harus janji sama Bella jika Om sembuh, Om harus berkunjung ke mansionku." ucap Bella.


Damien tersenyum melihat keakraban Bella dan Papanya.


Papa Daniel hanya mengedipkan mata, tiba-tiba saja mata itu terlihat berair, sepertinya Papa Daniel sedih karena Bella akan meninggalkannya.


"Om jangan menangis, Bella berjanji jika ada waktu luang Bella akan menjengguk om kesini." ucap Bella menautkan jari kelingkingnya di jari milik Papa Daniel.


Papa Daniel mengidapkan mata di sertai airmata yang menetes.


"Damien pergi sebentar ya Pa, aku akan panggil perawat untuk menemani Papa." ucap Damien.


Pamit haru pun usai, Damien keluar dari mansion di ikuti Bella di belakangnya, tidak lupa ia menyuruh perawat untuk segera ke kamar Papanya.

__ADS_1


Terima kasih untuk suportnya 😍 author jadi semangat up lagi😘


__ADS_2