Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 07


__ADS_3

Visual Stella Adonia Guinandra




Visual Azzam Guinandra



Visual Azzura Adonia Guinandra



Visual Arrabel



Sebelum memutuskan ke kamar Stella Damien mengambil ponselnya yang sudah di cas. batrai sudah terisi penuh ia segera menyalakan ponselnya, banyak pesan chat masuk dari Papa Daniel, Robby maupun Stella, bahkan notif panggilan dari ketiganya mencapai 50 kali. tidak lama ada nomor baru mengirim chat bebaberangan dengan chat-chat lain yang masuk. Damien langsung membukanya. ternyata nomor ponsel itu milik Arrabel, gadis itu meminta maaf karena sudah meninggalkannya di resto begitu saja.


Damien menghembuskan nafas dalam ternyata dia salah menilai gadis itu, tanpa menunda lagi Damien berjalan ke arah kamar tamu. kebetulan pintu kamar milik Stella terbuka, Damien langsung masuk dan berbaring di samping Stella hingga kedua kakinya bergelantung di lantai, hal itu membuat jantung Stella kembali tidak aman, Stella menatap Om nya dari samping. mata itu terpejam dengan nafas yang tidak teratur, mungkin Om nya sedang banyak masalah. ia mencoba mendekat lalu memeluk tubuh Damien yang berotot hingga mengagetnya si pemilik badan sixpack itu.


"Stell apa yang kamu lakukan?" mata itu masih terpejam tubuhnya diam tidak berkutik.


"Om banyak masalah? cerita lah padaku!" Stella kembali berbaring melepas pelukannya dari Damien.


Entah karena apa, tubuh yang selama ini tidak bereaksi saat berdekatan dengan wanita kini mulai terasa berbeda. semakin berdekatan dengan Stella membuat benda pusaka yang selama ini tertidur kembali terbangun. Damien dengan cepat beranjak ia terkejut dengan respon tubuhnya yang mulai terasa aneh.


"Kenapa Om, Om baik-baik saja?" wajah Stella terlihat kawatir.


Wajah Damien mulai memerah karena menahan sesuatu yang ingin di lepaskan. reaksi apa ini? ia sudah gila, Damien berusaha menahan dirinya sebisa mungkin agar tidak menyerang gadis itu.


"Eem sepertinya Om harus ke kamar mandi." Damien beranjak meninggalkan Stella dengan rasa penasarannya yang tinggi.


"Om Dam kenapa sih?" Stella kembali merebahkan dirinya di ranjang strawberry miliknya.


Kurang seminggu lagi Stella memulai kegiatannya di kampus yang baru. ia harus benar-benar serius belajar ia tidak ingin melihat kedua orang tuanya kecewa.


Di kamar milik Damien pria itu menjambak rambutnya frustasi. sudah puluhan tahun ia berusaha membuat miliknya berfungsi. bahkan Damien pernah membayar beberapa gadis untuk membuat miliknya bereaksi tapi hasilnya nihil, kegagalan cinta pertama yang di alaminya membuat Damien menjadi pria impoten, itulah salah satu alasan Damien tidak ingin menikah sampai detik ini.

__ADS_1


Hal yang membuatnya syok kenapa gadis yang dari kecil ikut dia besarkan bisa membuat miliknya bereaksi kembali.


"Jangan gila kamu, sejak kapan kamu jadi pemilih begini hah kenapa harus Stella? kenapa tidak yang lain saja?" Damien memegang benda miliknya yang masih menegang.


Damien beranjak dari sofa menuju kamar mandi. ia mencoba menguyur tubuhnya dengan air dingin berharap bisa meredam gairahnya.


Entah Damien harus bahagia atau bersedih, hal yang di anggap cacat olehnya kini berfungsi kembali tapi kenapa harus putri Ansel dan Bella yang membuatnya sembuh. padahal sebelum-sebelumnya Damien biasa saja, kenapa hari ini semua terasa berbeda.


Semua orang sudah berkumpul untuk makan malam sementara Damien masih berada di kamar mandi.


"Kek, Stella panggil Om dulu ya?"


"Iya nak tolong panggilkan, makanannya keburu dingin." jawab Papa Daniel.


Stella bergegas menaiki lantai atas menuju kamar Damien. gadis itu membuka pintu tanpa mengetuknya hingga membuat pemilik kamar terkejut.


Mata suci Stella ternoda ia tidak sengaja melihat tubuh sixpack Om nya yang hanya berbalut dengan handuk. keduanya sama-sama terdiam tanpa reaksi. tidak lama Damien tersadar, pria yang hanya berbalut dengan handuk itu menyapa Stella dengan kikuk.


"Stell, em maaf Om baru saja mandi." Damien mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Stella tersadar gadis itu juga terlihat salah tingkah.


"I-Iya Om akan segera turun."


Stella mengangguk, gadis itu berbalik meninggalkan kamar Damien. senyuman terus terukir di wajah cantiknya.


"Shiiitt Sial, kenapa dengan diri ku." Damien bersandar di dinding sembari memegang dadanya.


"Sepertinya kesehatan jantung ku bermasalah, apa usia mempengaruhi kesehatan jantung? monolog Damien.


Damien lekas berganti baju. sebelum turun ia mengambil ponselnya di atas nakas, rencananya selesai makan malam ia akan menelpon Robby, sejak sore tadi Robby masih belum pulang.


"Lama sekali nak?" tanya Papa Daniel pada Damien.


"Maaf Pa, Dam baru selesai mandi." jawab Damien. pria itu tidak berani menatap Stella yang duduk tepat di depannya, Stella pun sama gadis itu terus menunduk malu.


"Oh Papa kira kamu sakit."


Ketiganya makan dengan diam, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. tak lama makanan pun tandas, Damien berusaha bersikap senormal mungkin, dia tidak boleh seperti ini pada Stella.

__ADS_1


"Pa, Dam ingin ke ruang kerja dulu."


Papa Daniel mengangguk, tidak lupa ia juga berpamitan pada Stella.


"Sayang, kamu langsung bobok saja ya." Damien mengusap gemas kepala Stella.


"Baik Om."


Satu persatu mulai meninggalkan meja makan beralih menuju kamar masing-masing, sementara Damien sudah berada di ruang kerjanya. ia tidak jadi menelpon Robby karena Robby baru saja mengirim pesan untuknya jika sudah dalam perjalanan pulang.


"Bos.." Robby datang mengagetkan Damien.


"Bagaimana?" Damien langsung berdiri. dia sangat penasaran dengan hasil penyelidikan Robby, semoga hasilnya tidak mengecewakan.


Sebelum memulainya Robby membuang nafas dalam-dalam.


"Maaf Bos tidak ada bukti yang kita temukan, rekaman cctv yang berada di resto detik dimana Bos menghilang sudah terhapus. begitu juga rekaman cctv di hotel itu, sepertinya pelaku sudah merencanakan hal ini dengan matang." jawab Robby.


"Brengsek, tidak bisakah kamu mengancam pekerja disana?" ucap Damien geram.


"Mereka tetap tidak ingin mengaku bos." jawab Robby menunduk takut.


"Apa aku harus meminta bantuan teman-teman gangster." batin Damien.


*Di mansion Ansel


"Pa baru juga hari ini Stella pergi meninggalkan kita, Mama sudah sangat merindukannya." Sepasang pasutri ini sudah bersiap untuk tidur.


"Sabar Ma, seiring berjalannya waktu, Mama akan terbiasa." ucap Ansel.


Ansel mendapat kabar dari orang suruhannya, jika putrinya mendapat kiriman kado dari seseorang. info dari anak buahnya hanya sebatas itu mereka tidak tahu jika di dalamnya berisi teror.


"Iya Papa benar tapi dari siang tadi firasat Mama tidak enak Pa, Mama takut terjadi sesuatu dengan putri kita." Bella memeluk erat tubuh Ansel.


"Ingat putri kita bukan wanita biasa tidak akan terjadi apa-apa padanya."


Terlalu banyak bicara keduanya sama-sama mulai terlelap. besok Ansel akan mencoba menanyakan kabar putrinya langsung pada Damien.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2