
Dengan terpaksa Damien mengiyakan.
"Sayang maafkan Om, Om harus pergi." ucap Damien pada Stella.
Stella melepas tangannya, yang tadinya bergelanyut manja kini menjaga jarak. mata gadis itu mulai berkaca-kaca. tanpa membalas ucapan Damien Stella langsung berlari ke atas.
"Stella, Stell.." panggil Damien.
"Sudahlah nak biar Stella Papa yang urus." Papa Daniel beranjak dari sofa, ia berencana membujuk cucunya yang sedang merajuk.
Damien mendengus, dia berjalan keluar mansion tanpa menunggu Arrabel. gadis itu tersenyum dia beranjak dari sofa berlalu menyusul Damien.
"Robby ikut kami." Damien tidak ingin pergi hanya berdua saja dengan gadis itu.
"Baik Bos." Robby bergegas membukakan pintu untuk Bosnya. tidak lama Arrabel menyusul masuk mendudukan dirinya di samping Damien.
"Kita mau kemana bos?" tanya Robby menginggat dirinya tidak tahu tujuan keduanya.
"Kita ke mall saja ya?" pinta Arrabel. ia bergelanyut manja di lengan Damien menirukan gaya Stella tadi.
Damien merasa sangat risih, kenapa gadis di sampingnya ini tidak memiliki rasa malu. padahal Damien baru dua kali ini bertemu dengannya, oh ya Damien lupa ia sedang berada di negara Prancis, tentu saja hal seperti ini di anggap biasa.
"Jangan seperti ini." Damien berusaha melepas tangan Arrabel membuat gadis itu cemberut.
"Kalau seperti ini boleh?" Arra tidak putus asa, dia menyandarkan kepalanya di bahu kekar milik Damien.
Damien berpaling, percuma juga menolak. ia pun terpaksa membiarkan Arra bersandar di bahunya, tak lama mobil marcedes benz milik Damien sampai di gedung parkir mall. Robby lekas berlari membukakan pintu untuk majikannya.
"Kamu harus ikut Rob."
Sebelum Robby menjawab, Arrabel merenggek pada Damien. dia tidak mau kencan pertamanya di ganggu oleh Robby.
"Kita berdua saja ya?" Arrabel memohon dengan wajah memelas membuat Damien terpaksa mengiyakan.
Keduanya mulai memasuki gedung mall terbesar di negara Prancis meninggalkan Robby di gedung parkir sendirian.
"Nasip-nasip." gerutu Robby.
__ADS_1
Arra mengajak Damien berkeliling. dirinya hanya membeli satu barang, tentu ia memakai uangnya sendiri. Arra tidak mau memberikan kesan matre pada Damien, karena terlalu asik tidak terasa hari sudah mulai siang.
"Aku ingin makan, aku lapar." Arrabel merengek sembari bergelanyut manja di lengan Damien.
"Baiklah, pilih tempat yang kamu suka." ucap Damien.
Keduanya layaknya sepasang kekasih yang terlihat sangat serasi. tidak sedikit orang memandang pengusaha terkenal itu. banyak yang terkejut melihat Damien berjalan dengan seorang wanita. karena sebelumnya banyak media yang memberitakan jika pengusaha terkenal bernama Damien tidak tertarik dengan cinta, itu sebabnya pria itu setia melajang sampai saat ini.
Arrabel memilih resto makanan jepang. keduanya duduk saling berhadap-hadapan. setelah memesan beberapa menu tak lama pesanan langsung datang. Damien makan dengan diam sementara Arrabel sibuk memperhatikan pria di depannya, ia tersenyum smirk seperti ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.
"Satu dua tiga.." Arrabel berhitung di dalam hatinya.
Tepat pada hitungan terakhir, tubuh Damien langsung ambruk di atas sofa.
"Berhasil." gumam Arrabel.
Arrabel menjentikkan jarinya kemudian 3 orang berbadan besar datang menghampiri. sebelum membawah Damien pergi, Arrabel menutup wajah Damien mengunakan masker agar tidak ada seseorang pun yang mengenalinya. orang-orang itu langsung membopong tubuh Damien menuju mobil pribadi milik Arrabel.
Di gedung parkir mall, Robby mulai merasa kesal sebab dia menunggu hampir 5 jam disana tapi Bosnya tidak kunjung datang.
Di Hotel Bintang 5
Sudah setengah jam Arrabel bermain-main dengan tubuh polos milik Damien sedangkan sang pemilik tubuh terbaring tidak sadarkan diri.
Apa yang di rencanakan Arrabel pada Damien? entahlah sepertinya gadis itu ingin menjebak Damien.
**
Di Mansion Damien
Papa Daniel tidak berhasil membujuk cucunya. gadis itu tetap merajuk, Stella bersembunyi di kamar Damien ia tidak mau membukakan pintu untuk Oppanya membuat Daniel menghela nafas berat. Daniel berfikir mungkin cucunya sedang kecapekan hingga membuatnya jadi gampang emosi.
Hari mulai siang, Stella baru keluar dari kamar Omnya karena perutnya terasa lapar.
"Oppa.." Stella menunduk malu menghampiri sang Oppa.
"Sudah tidak merajuk lagi cucu Oppa." Papa Daniel memeluk Stella dan membawahnya menuju meja makan.
__ADS_1
Stella mengelengkan kepala. di meja makan banyak sekali menu makanan. disana juga ada makanan kesukaannya, keduanya makan bersama dengan sesekali mengobrol. Stella juga meminta maaf pada Papa Daniel akan sikapnya yang kekanak-kanakan. obrolan itu terus berlanjut hingga makan siang usai.
Papa Daniel dan Stella melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga sembari menonton tv, kebersamaan Kakek dan cucunya ini terganggu saat asisten rumah tangga tiba-tiba datang dengan membawah kotak kado yang cukup besar di tangannya.
"Dari siapa itu ***?" tanya Papa Daniel pada asisten Leri.
"Saya tidak tahu Tuan, disini tertulis untuk Nona Stella." jawab Leri membuat Papa Daniel dan Stella saling pandang.
Stella beranjak dari kursinya lalu mengambil kado dari tangan Leri dan membukanya, seketika itu juga ketiga orang itu terkejut.
"Arrgghh...." asisten Leri menjerit melihat kepala boneka bayi mengelinding berlumuran darah, bau amis mulai tercium ke indra penciuman mereka.
"Siapa yang melakukan ini Oppa?" Stella tidak sama sekali takut. di fikirannya saat ini hanya satu, siapa yang mengirimi kotak ini? baru juga sampai di negara Prancis sudah mendapat teror extreme. bahkan gadis itu juga tidak memiliki musuh disini.
"Oppa tidak tahu sayang, Leri cepat bersihkan ruangan ini."
"I-iya Tuan.." sebenarnya Leri takut tapi karena sudah tugasnya dia terpaksa membersihkan ruangan yang penuh dengan darah itu dengan tubuh gemetar.
"Sebentar sayang, Oppa coba hubungi Om mu dulu." Daniel mengambil ponsel dan mulai menelpon putranya.
Daniel mulai kawatir saat mengetahui ponsel putranya tidak aktif. Ia mencoba menelpon Robby dan tidak lama sambungan pun terhubung.
"Iya Tuan."
"Robb, dimana Damien?" tanya Papa Daniel dengan nada kawatir.
"Maaf Tuan Bos tadi pergi berdua saja dengan Nona Arrabel. kami saat ini sedang berada di mall." jawab Robby.
Sebenarnya Robby kehilangan jejak Bosnya. dia sudah menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari Damien dan Arrabel di dalam mall tapi hasilnya nihil.
"Baiklah biarkan mereka bersenang-senang." Papa Daniel bernafas lega setelah mendapat kabar jika sang putra baik-baik saja.
"Baik Tuan."
Panggilan terputus.
Papa Daniel tidak ingin cucunya merajuk lagi. terpaksa dia berbohong pada Stella jika Damien sudah dalam perjalanan pulang. Papa Daniel tidak ingin menganggu putranya, beliau berharap hubungan Damien dan Arrabel akan berlangsung hingga ke jenjang pernikahan.
__ADS_1
Bersambung ...