Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

Bella masih mematung di tempatnya, melihat pria itu yang sudah mulai menjauh.


"Ardolp, Ardolp seperti pernah mendengar nama itu." ucap Bella menginggat-inggat.


"Ah sudahlah lebik baik aku ke arena tembak saja." Bella langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Di arena tembak Bella berlatih cukup extream hari ini, karena sasarannya benda yang bergerak, sekali peluru terlepas.


'Dor..'


"Yeah, aku bisa." teriak Bella senang, tembakannya tepat sasaran.


Sang pelatih melihat muridnya sangat mudah untuk di ajari, memberikan aplaus untuk Bella.


"Ulangi.." suruh pelatih dengan bersendekap dada.


Bella memegang pistol dengan tumpuan tangan yang kuat, dia berkonsentrasi memusatkan arah bidikan yang akan menjadi tujuannya dan.


'DOR..' gotcha.


Lagi-lagi tembakan Bella tepat sasaran, Pelatih tersenyum smirk dia bangga memiliki murid sepertinya.


"Sepertinya kamu sudah sangat lihai memegang pistol, untuk besok kita harus pakai orang sebagai sasaranmu." ucap Sang Pelatih.


"Apa, aku harus bunuh orang?" Bella terkejut hingga mata bulat itu melotot.


"Hahaha bukan, maksudnya kamu harus menembak benda yang di pegang seseorang." tawa Sang Pelatih lepas melihat kelucuan Bella.


"Tap-tapi." ucapnya terbata.


"Tidak ada tapi-tapian, sampai jumpa besok, kau yang terbaik." Pelatih tersenyum pada Bella dan melenggang pergi.


"Apa aku bisa..?" Bella bergidik, dia tidak bisa membayangkan jika sampai salah sasaran.


Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 Bella bergegas untuk pulang, saat ini jalanan begitu ramai Bella beberapa kali menyetop taksi namun tak ada satu taksi pun yang kosong, selalu ada penumpang di dalamnya, dia pun menyusuri jalanan kota dengan berjalan sambil sesekali menenggok ke kanan mencari taksi yang kosong.


Tiba-tiba saja dari arah belakang sebuah tangan terulur menarik tasnya, Bella dengan sigap membalikan badan orang itu dan memelintir tangan berakar itu, meskipun di lihat dari postur tubuh orang itu lebih besar tapi Bella bisa mengendalikannya dengan mudah.


"Arghhh.." teriak pria itu, saat Bella mendorong dan menendang dadanya dengan sangat keras.


"Jangan bermain-main dengan ku paman." Bella dengan memasang kuda-kuda.


Bella saat ini bukanlah Bella yang selalu Ansel sakiti, bukan Bella yang lemah, inilah Bella sesungguhnya, inilah jati dirinya yang sebenarnya, yang selalu dirinya sembunyikan dari siapa pun, meskipun Bella pendiam dan tidak banyak teman karena penampilan yang membuat semua orang menjauhinya, tapi untuk masalah melindungi diri Bella jagonya.


"Gadis cupu sialan." umpat pria itu, dia berdiri berlari ke arah Bella, dengan gerak cepat tak terbaca Bella melompat memutar tubuh, kaki jenjangnya menendang kepala pria besar itu hingga pria itu pingsan.

__ADS_1


Tanpa Bella sadari, dari jauh ada seseorang yang sedang melihat aksinya.


"Menarik.." ucap Ardolp, bibirnya sedikit melengkung ke atas hanya sedikit hampir tak terlihat.


Bella yang melihat taksi kosong segera menyetopnya, dia membiarkan pria itu terkapar di pinggir jalan.


Selama berada di taksi Bella memperbaiki penampilannya yang berantakan karena kejadian tadi.


Tak lama taksi berhenti di depan mansion mewah Ansel, ia turun setelah membayar ongkos taksi, Bella berjalan cukup jauh untuk menuju mansion mewah itu, di dalam mansion beberapa asisten sedang melakukan tugasnya masing-masing.


Para asisten menyapa Bella, Bella hanya membalasnya dengan tersenyum, ia naik menapaki tangga menuju kamar.


"Huuufft lelahnya.." Bella membuang kasar tubuhnya di sofa.


Dia berdiam sejenak sambil menutup mata, setelah lelahnya merasa berkurang dia bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Cukup 15 menit saja untuk mandi, dia keluar dengan sudah berpakaian santai.


Niat Bella hanya ingin merengangkan tubuhnya di kasur king size milik Ansel, sambil menunggu suaminya pulang, tapi Bella malah tertidur cukup lama hingga melewatkan makan malam, para asisten tidak ada yang berani membangunkan Bella.


Bella mengerjap. "Jam berapa ini.."


Bella mengambil ponselnya ternyata sudah pukul 12 malam tapi Ansel belum juga pulang.


Tak lama terdengar pintu kamar terbuka, Bella tadi sengaja tidak menguncinya, Ansel masuk tidak lupa mengunci pintu, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ansel keluar sudah berganti baju tidur, ia melihat Bella sudah tertidur lelap, Ansel mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga Bella, malam ini keduanya tidur dalam satu ranjang yang sama.


Cahaya mentari mulai menampakkan sinarnya yang membuat pria tampan ini mengerjap.


"Ehhhmmm." lengguhan Bella lolos dari bibirnya, tubuh itu mengeliat hingga posisinya saat ini menghadap ke arah Ansel, tanpa sadar Bella memeluk Ansel dengan erat, mengunakan Ansel sebagai gulingnya, kaki jenjangnya berada di atas tubuh Ansel, hal itu membuat Ansel frustasi karena kaki Bella mengenai barang berharganya.


"Ssshh.." desah Ansel saat Bella mengerakkan kakinya.


Sungguh dari pada harus berada di situasi seperti ini, Ansel lebih memilih untuk menghadapi 1000 musuhnya.


Bella mengerjap saat merasa ada yang berbeda dengan gulingnya.


"Aaaaaaaa.." teriak Bella, ia mengulingkan badannya hingga terjatuh di lantai.


Ansel mengeser badannya, mengintip Bella dari atas ranjang.


"Apa yang kamu lakukan..?" Ansel berusaha menahan tawa sebisa mungkin.


"Aduuuhhh.." Bella mengusap bokongnya yang terjun bebas tanpa menggubris Ansel.

__ADS_1


Seketika Ansel tertawa keras, dia seperti memiliki mainan baru sekarang.


Bella cemberut sembari memanyunkan bibirnya, seketika tawa Ansel terhenti, bibir yang manyun itu terlihat mengoda, Ansel tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi, karena sejak kejadian itu Ansel ingin kembali merasakan bibir Bella.


"Bangun kamu." suruh Ansel.


Bella segera berdiri tegap menghadap ke arah Ansel.


"Maaf aku tidak sengaja memelukmu." pipi Bella bersemu merah.


"Awas jika sampai kamu mengulanginya lagi."


"Kalau begitu aku tidur di sofa saja ya suamiku." Bella bernegoisasi.


Ansel mengeleng dengan cepat. "Tidak boleh, kamu harus tidur di sini dengan ku." ucap Ansel.


Bella tersenyum. "Kamu pulang jam berapa kemarin?" tanya Bella.


"Jam 12 malam. " jawab Ansel singkat.


"Kamu dari ma.." Bella tidak berani melanjutkan ucapannya karena mata elang itu menatapnya tajam.


"Baiklah akan ku siapkan air hangat untukmu. " Bella berlalu pergi ke kamar mandi.


Ansel diam di tempatnya, dia masih menetralkan nafasnya yang hampir tercekik karena kelakuan Bella tadi.


"Perasaan apa ini?" monolog Ansel.


Usai dari markas mengurus mayat-mayat rekannya yang mengenaskan kemarin, Ansel mengumpulkan seluruh rekannya untuk berunding, mereka membahas pembalasan apa yang tepat atas apa yang sudah di lakukan oleh anggota Jevarck kepada anggotanya.


Meskipun anggota Black Wolf terkenal kejam dan berbahaya tapi mereka berpegang teguh dengan simbol mereka, "JANGAN GANGGU KAMI JIKA TIDAK INGIN MATI", yang artinya anggota Black Wolf tidak akan mengusik siapapun jika bukan orang itu yang lebih dulu mengusik anggotanya.


Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍


________________________Like Vote Dan Komen


________________________


Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.


Wuland4ri_05


Facebook


Wulan

__ADS_1


__ADS_2