Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Kekawatiran Ansel


__ADS_3

Saat sampai tangga Ansel melepaskan pegangan tangannya pada Bella.


"Kamu jangan terlalu dekat dengan Arka."


"Memangnya kenapa.?" tanya Bella dengan polos.


"Aku sudah bilang pada mu, panggil aku suamiku."


Bella mendengus, yang benar saja, tidak mungkin dia memanggil Ansel suamiku di depan Mama dan Papa mertuanya, apa lagi di depan Arka, mau di taruh di mana wajahnya.


Ansel menenggok ke belakang dilihatnya wanita itu malah melamun.


"Kenapa kamu masih di situ..?"


Bella kaget, dia segera menyusul suaminya ke atas.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Ansel langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang king sizenya, sedangkan Bella menidurkan dirinya di lantai, karena terlalu lelah Bella tertidur dengan cepat, sementara Ansel masih membuka matanya, ia berbalik menatap Bella yang meringkuk kedinginan.


Ansel berdiri menghampiri Bella, dia mengendong gadis cupu itu, memindahkannya di ranjang miliknya, setelahnya Ansel ikut terlelap di samping Bella.


Pagi memancarkan sinarnya melewati celah-celah gorden, silaunya menembus wajah wanita cantik ini, Bella mengerjapkan matanya, malam ini ia tidur dengan sangat nyenyak.


Bella merasa ada yang aneh, saat sesuatu yang berat membebani perut ratanya, ia menoleh kesamping, hampir saja bibir itu berteriak, dengan cepat Bella membungkam bibirnya dengan satu tangan.


Bella tidak berani bergerak, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel milik Ansel, Ansel memaksa membuka matanya, dia sangat kaget saat tangan kekarnya memeluk Bella dari samping, ia beranjak duduk dan menatap Bella dengan tajam.


"Apa yang kamu lakukan disini..?" Ansel menatap Bella dengan tatapan elangnya.


"Maaf suamiku, aku juga tidak tahu." jawab Bella dia ikut beranjak duduk.


Ansel mengaruk kepalanya yang tidak gatal, dia baru ingat jika semalam dia sendiri yang memindahkan Bella.


"Ya sudah siapkan air hangat untuk ku." Ansel mengambil ponselnya, di lihatnya 5 panggilan tidak terjawab dari Felix.


Bella tersenyum, dia pun lekas turun berjalan menuju kamar mandi.


Terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Ansel, ia pun membukanya.


Isi Pesan


"Sel nanti pulang dari kantor kumpul di tempat biasa".


Ansel tidak membalas, dia lekas berdiri.


"Airnya sudah siap suamiku." Bella sebenarnya malu memanggil pria itu dengan sebutan suamiku, terlihat dari pipinya yang merah merona saat ini.


Ansel melirik Bella, bibir itu sedikit tersenyum hampir tidak terlihat.


Bella merapikan ranjang, sembari menunggu suaminya keluar.


Tidak lama Ansel keluar dari kamar mandi, dia sudah memakai baju tapi hanya boxer dan kaos dalam, Ansel berjalan menuju wardrobe.


Bella yang melihat Ansel sudah selesai mandi, diapun masuk dengan membawah pakaian ganti.

__ADS_1


Mereka berdua sudah selesai berpakaian, saat ini Bella kembali berpenampilan cupu, kemarin dia meminta asisten untuk mengambilkan kaca matanya yang tersangkut.


Ansel berjalan keluar terlebih dahulu di susul oleh Bella, di meja makan sudah ada Papa Robert, Mama Tia dan juga Arka, Ansel segera mengandeng tangan Bella saat sampai di tangga terakhir.


"Pagi Pa Ma." ucap Ansel, sedangkan Bella hanya memberi senyuman.


"Pagi .." ucap Orang tua Ansel serempak, keduanya tersenyum melihat putranya mau menerima Bella sebagai istrinya.


Bella berdiri, dia melayani semua yang ada disana termasuk Arka.


Sarapan pagi pun usai Ansel, Arka dan Bella akan pergi ke tujuan mereka masing-masing, Bella masih sama berangkat dan pulang mengunakan jasa taksi, padahal Mama Tia menyuruhnya memakai supir saja tapi Bella menolak.


Di tempat kursus


Bella merasa sangat kesal, karena aktifitasnya terganggu oleh segerombolan pemuda yang juga akan berlatih di tempat itu, sepertinya mereka sudah sangat ahli, terlihat dari cara mereka menembak terlihat sudah berpengalaman, peluru yang meluncur selalu tepat sasaran.


"Ar lihat, di sana ada wanita berkaca mata." ucap Grisham teman dari Ardolp.


Ardolp yang akan meloloskan pelurunya hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada titik sasaran.


"Kalau di lihat-lihat sebenarnya dia sangat cantik." Kaya juga ikut memperhatikan gadis itu.


"Kamu benar kay." ucap Sea.


Mereka datang berempat, tiba-tiba terdengar suara bariton yang menegur ketiganya.


"Kalian bisa tidak fokus berlatih." Ardolp menatap rekan-rekannya dengan tajam.


Ketiga temannya hanya tersenyum smirk, kemudian kembali melatih kemampuan mereka, meskipun mereka penembak jitu tapi tetap harus sering-sering berlatih.


"Kamu tidak lihat saya duduk di sini." Bella beranjak berdiri, ia menatap tajam ke arah Ardolp.


Pandangan Ardolp sangat tajam saat menatap manik mata Bella, seketika Bella menginggat suaminya Ansel, tatapan itu tidak kalah seram dengan tatapan yang Ansel miliki.


Ardolp tidak menjawab perkataan Bella, dia kembali berjalan tanpa menanggapi teriakan gadis cupu itu.


"Hei dasar pria sialan." umpat Bella sambil berteriak.


"Uhh baju ku jadi basah kan."


Bella kembali berlatih sambil menunggu sore tiba, keempat pria tadi sepertinya sudah pulang, karena Bella tidak melihat mereka kembali ke arena tembak.


Tak terasa saat ini sudah pukul 15.30 Bella bergegas untuk pulang.


**


Sepulang dari kantor Ansel tidak langsung pulang, dia menyuruh Revan untuk pulang lebih dulu, sementara Ansel menuju ke markasnya.


Saat ini Ansel sudah sampai, dia memarkirkan mobilnya di halaman gedung yang tidak terpakai, tempatnya sangat jauh dari keramaian orang.


'Taptaptap..'


Terdengar bunyi sepatu pantofel yang Ansel pakai, rekan-rekannya sudah berkumpul di sana, mereka tahu siapa yang datang.

__ADS_1


"Selalu saja telat." Mads duduk dengan meletakkan dua kakinya di atas meja.


"Bos kita satu ini selalu sibuk." seru Felix menimpali.


Sedangkan Garvin tersenyum menyeringgai.


"Jangan di lanjutkan, kalau kalian ingin tetap hidup." Ansel mendudukan dirinya.


Ketiga rekannya tertawa, tawa yang tak pernah mereka tunjukkan pada halayak umum.


"Kenapa menyuruhku kesini..?" tanya Ansel pada rekannya Felix.


"Apa waktu mu terganggu, karena sudah ada yang melayanimu di ranjang." Mads tersenyum mengejek.


Mads memang sangat suka memancing kemarahan Ansel, rekan-rekan Ansel juga mengetahui jika Ansel menikah diam-diam dengan wanita cupu karena perjodohan.


Ansel menatap tajam Mads.


"Katakan.." hanya itu yang keluar dari bibir Ansel.


"Anggota Jevarck sudah mengetahui jati dirimu, kamu harus berhati-hati." Garvin mulai mengeluarkan suaranya.


"Mereka marah, saat mendengar kita menghabisi salah satu anggotanya." ucap Garvin kembali.


"Apa pernikahanmu kau rahasiakan..?" tanya Felix.


Keempat pria ini memiliki aura masing-masing yang membuat siapa saja yang menatapnya bergidik.


"Ya hanya aku dan keluarganya saja yang tahu, terutama kalian." Ansel menyepul asap rokoknya.


"Bagus jangan sampai mereka tahu, jika tidak istrimu dalam bahaya." Felix duduk di antara Ansel dan Mads.


"Felix benar." seru Garvin menimpali.


Dari 4 pria ini hanya Ansel yang sudah menikah, mereka menganggap wanita adalah kelemahan, untuk itu belum ada yang mau menikah sampai saat ini.


Mads berdiri. "Jaga wanita mu baik-baik." ucap Mads langsung pergi meninggalkan markas.


"Kalian masih mau di sini..?" tanya Ansel dia membuang rokok dan menginjaknya, kedua pria itu menganggukkan kepala.


Ansel bergegas pergi meninggalkan kedua rekannya, dia jadi kawatir dengan Bella, jangan sampai musuhnya tahu jika dirinya sudah beristri.


Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍


________________________Like Vote Dan Komen


________________________


Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.


Wuland4ri_05


Facebook

__ADS_1


Wulan


__ADS_2