
"Kalian berdua ikut aku ke ruang kerja."
"Dan kamu sayang, cepat masuk ke kamar mu." lanjutnya kemudian.
"Tapi Om, lukamu bagaimana?" ucapnya kawatir.
"Aku bisa mengobatinya sendiri, kamu beristirahatlah." jawab Damien dengan lembut.
"Baiklah." Stella tersenyum lalu mencium pipi kiri Damien yang lebam, ia tidak perduli jika disana ada Vero, sudah kepalang tanggung menurutnya, usai mencium Damien gadis itu langsung berlari memasuki mansion.
Mendapat ciuman pipi dari Stella membuat bibir pria itu tersenyum dengan wajah memerah.
"Ck Lihatlah Tuan Dam, sama sekali tidak ingat umur." batin Vero saat melihat bosnya tersipu.
Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Damien pada Vero dengan tatapan tajam.
"Ah tidak Tuan." Vero langsung menunduk karena takut kena semprot bosnya lagi.
Damien mendengus, ia pun memasuki mansion menuju ruang kerjanya di susul Robby dan Vero, disini di ruang kerja Damien, kedua orang ini menjadi terdakwa, mereka harus mempersiapkan telinga yang tebal jika tidak ingin mendengar omelan dari Bos mereka.
"Vero.." panggil Damien, ia duduk di kursi kerjanya dan kedua terdakwah itu berdiri tegap di depan Damien sambil menundukkan kepala.
"Ya Tuan." tangan Vero sudah gemetaran, keringat dingin mulai bercucuran di wajah cantiknya.
"Apa alasanmu tidak melapor padaku tentang Dosen baru itu?" pertanyaan Damien sangat mengintimidasi.
"Maaf Tuan saya kira itu hal yang wajar karena setahu saya Nona Stella masih jomblo, dan saya melihat jika Dosen tampan itu memperlakukan Nona Stella dengan sangat baik." suara Vero semakin mengecil saat ia melihat tatapan Bosnya.
Mendengar jawaban Vero membuat hati Damien terbakar karena di liputi rasa cemburu, hingga berkas yang berada tepat di depannya menjadi korban, berkas itu di genggam erat hingga membuatnya tak berbentuk lagi.
"Dan kamu Robb, kenapa kamu menganggu kesenangan ku tadi, tidak bisakah kalian berpura-pura tidak melihat dan pergi dari sana." Damien berdiri tepat di depan Robby, menatap pria itu tajam.
"Maaf Tuan." hanya itu yang bisa di ucapkannya.
"Karena kalian berdua sudah lalai dan membuatku kesal, maka gajian kalian bulan ini aku potong 50%."
Keduanya mendonggak dengan serempak. "Tapi Tuan." ucap mereka kompak.
"Tidak ada tapi-tapian, sekarang kalian boleh keluar." Damien mengibaskan tangannya, kedua orang itupun keluar dari ruang kerja Bosnya dengan wajah lesu.
__ADS_1
"Sebaiknya besok saja aku bicarakan ini dengan Stella, dia harus tau siapa pria brengsek itu." gumam Damien, tak lama ia pun ikut keluar berjalan menuju kamarnya.
Apartment Albert
"Brengsek, kenapa pria itu menyerangku, apa benar Stella itu kekasihnya atau jangan-jangan dia sudah tau siapa aku." gumam Albert yang membuatnya semakin pusing.
"Argh.. entahlah sebaiknya aku kompres dulu luka ku ini." Albert menuju dapur mengambil air hangat, lalu mengambil handuk kecil untuk mengompres lukanya.
Saat Albert memasuki kamarnya, ia di kejutkan oleh seorang wanita yang sedang tidur di atas ranjang king sizenya.
"Ck kenapa dia tidur disini, hei bangun." Albert mengoyang bahu wanita itu, siapa lagi yang bisa keluar masuk apartmentnya jika bukan Arrabel.
Arrabel mengeliat lalu mengerjapkan mata. "Kakak sudah pulang?" Arrabel mencoba duduk dengan mata yang masih mengantuk.
"Kenapa kamu tidur disini?" bukannya menjawab Albert malah bertanya balik.
"Aku menunggu kepulangan mu Kak, aku penasaran bagaimana kencan kalian tadi? sukses kan?" tanya Arrabel dengan suara lemah karena tidak bisa menahan kantuknya.
Mendengar ucapan Arrabel membuat Albert mendengus kesal. "Apanya yang sukses, semuanya gagal total, gara-gara Damien sialan itu." ucap Albert kembali emosi.
"APA..?" mata Arrabel seketika melebar, rasa kantuk yang tadi menghinggapinya kini lenyap sudah.
"Entahlah, ini semua salahmu. aku sudah menyuruhmu mengajak pria tua itu untuk keluar tapi kamu menghiraukan ucapanku." geram Albert.
Mendengar ucapan Kakaknya membuat gadis itu tidak terima. "Kenapa jadi aku yang salah, Kakak kan tau apa alasan ku menolak rencana Kakak, dasar pria menyebalkan." Arrabel bangkit berjalan menuju pintu, lalu membanting pintu itu dengan keras.
'Braaak'
"**** .." umpat Albert meninju udara kosong.
Arrabel menolaknya bukan tanpa sebab, tadi sore gadis itu tiba-tiba mengalami kram perut dan ternyata ini sudah waktunya ia datang bulan, Arrabel tidak kuat merasakan nyeri di perutnya membuat gadis itu hanya bisa berdiam diri di atas tempat tidur.
....
Mansion Damien
"Empat hari kedepan kamu tidak usah berangkat ke kampus,." penghuni mansion baru saja menyelesaikan sarapan, ketiganya masih berada di meja makan, siapa lagi jika bukan Damien, Stella dan Robby.
"Apa alasan Hubby melarangku ke kampus?" Stella menautkan kedua alisnya menatap Damien lekat.
__ADS_1
"Tentu saja karena Dosen ganjen mu itu, aku tidak suka jika kau dekat-dekat dengannya, dia hanya seminggu mengantikan Dosen lamamu kan, aku sudah mencari tau, setelah empat hari berlalu kamu baru boleh pergi ke kampus lagi" jawab Damien matanya menatap Stella dengan tajam.
Stella mendengus, ia berfikir sikap Damien sangat keterlaluan kali ini, padahal menurutnya Dosen yang bernama Albert itu orang yang sangat baik.
"Aku ingin bicara serius denganmu, aku tunggu di ruang kerja ku dan kamu Robb seperti biasa aku percayakan urusan kantor padamu." Damien terlihat serius kali ini, hal itu membuat Stella bertanya-tanya, tidak biasanya sang kekasih bicara seserius itu.
"Baik Tuan." Robby beranjak dari sana, sementara gadis cantik itu memasang wajah masam.
Baru beberapa langkah Damien berjalan, terdengar bunyi nyaring dari ponsel miliknya membuat Robby tidak jadi pergi, pria itu masih mematung menunggu Tuannya mematikan telpon, sementara Damien pun langsung mengangkatnya.
"Hallo."
(....)
"Oke aku segera kesana?" Damien kembali melangkah menuju kedua orang yang dari tadi menatapnya.
"Sayang aku harus pergi, jangan keluar jika bukan bersamaku." Damien kembali melangkah tapi di hentikan oleh Robby.
"Maaf Tuan apa saya harus ikut?" tanyanya dengan ekspresi datar.
"Tidak usah kamu ke kantor saja disana lebih membutuhkanmu."
Robby menangguk, Damien kembali melangkah di ikuti Robby di belakangnya, kali ini mereka membawah mobil sendiri-sendiri, mobil Damien sudah melesat lebih dulu sementara Robby pria itu menghentikan langkahnya saat melihat Vero terburu-buru.
"Huh aku terlambat." ucap Vero, gadis itu berlari menuju mansion tapi langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Robby.
"Hari ini dan tiga hari mendatang Nona Stella tidak ke kampus jadi kamu tidak perlu datang kemari." ucap Robby datar.
"Tapi kenapa Tuan?" tanya Vero dengan alis menyatu, Robby tidak menjawabnya, pria itu langsung ngacir menuju mobil dan meninggalkan Vero yang nampak kesal.
"Dasar pria menyebalkan, apakah dengan keluarganya dia juga dingin seperti itu." Vero bergidik ia lebih memilih masuk mansion dan bertanya pada Stella langsung.
Saat ini Damien sudah ada di mall terbesar di kota itu, tujuannya bukan untuk belanja ataupun jalan-jalan, tadi saat di mansion ia mendapat telpon dari Lano jika seseorang yang selama ini bersembunyi sudah keluar dari sangkarnya, Lano beserta tiga rekannya yang tidak lain Lard, Bray dan Dimitri kini tengah memata-matai seseorang, sembari menunggu pemimpin mereka keempatnya berjalan berpencar.
Dari kejauhan Lano bisa melihat Damien, ia pun berbalik dan berjalan menghampirinya, ia mengajak Damien ke tempat yang cukup sepi.
"Om target sudah kita ikuti." Damien mengangguk, sementara Lano memasang sesuatu di telinga Damien agar memudahkan mereka untuk berkomunikasi.
Mereka keluar dari mall, keduanya memilih menunggu di mobil, tidak mungkin bukan jika mereka membuat keributan di dalam, cukup tiga orang saja yang mengintai orang itu.
__ADS_1
Bersambung ...