Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Bella Merajuk


__ADS_3

Untuk Bella, mandi 3 kali sehari tidaklah cukup jika sang suami sedang berada di rumah, sore ini Ansel benar-benar menghukum istrinya di kamar mandi.


Saat ini Bella duduk di meja rias, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


"Sini biar aku keringkan." Ansel mengambil handuk dari tangan istrinya, membantu mengeringkan rambut istrinya dengan lemah lembut.


"Sayang, apa kamu tidak ingin memiliki baby?" tanya Ansel masih berdiri di belakang istrinya.


"Siapa yang tidak ingin, semua wanita yang sudah berumah tangga pasti mengingginkannya." jawab Bella.


"Kalau begitu kita harus extra berusaha, kalau perlu lima kali sehari." bisik Ansel sembari memeluk istrinya dari belakang.


Bella melepas pelukan suaminya dan beranjak berdiri.


"Modus.." senyuman terukir di bibir wanita cantik ini.


Tiba-tiba saja terdengar bunyi ketukan pintu dari luar yang menggagetkan kedua pasutri ini.


'TOK TOK TOK...'


"Sayang di bawah ada Calista." teriak Mama Tia.


"Iya Ma, sebentar lagi kami turun."


Wajah yang semula berseri itu berubah garang, Bella menatap suaminya dengan tatapan tajam.


"Kenapa dia kesini?" Bella bertanya dengan wajah masam.


Ansel mengaruk kepalanya yang tidak gatal, kenapa Calista benar-benar main ke mansionnya, padahal dia tadi hanya asal bicara.


Melihat wajah sang istri berubah masam, membuat Ansel kalang kabut bagaimana jika istrinya merajuk, alamat tidak mendapat jatah malam ini.


"Aku tidak tahu, kita temui sama-sama ya." jawab Ansel mencoba meluluhkan hati istrinya.


Bella mangangguk, Ansel merangkul pundak istrinya menuruni tangga.


Mama Tia berada di ruang tamu menemani Calista, sembari menunggu putra dan menantunya datang.


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Mama Tia.


"Ya seperti inilah Tan, Calista selalu merasa kesepian." jawab Calista, ia menunjukkan wajah paling menyedihkan seantero dunia, agar mendapat simpati dari Mama Tia.


"Kamu boleh sering-sering main kesini nak."


"Iya Tan.." Calista kembali memperlihatkan wajah sedihnya, saat melihat Ansel berjalan merangkul Bella menuju ke arahnya.


"Calista." sapa Bella.


Calista hanya tersenyum, tentunya senyuman yang dipaksakan.


"Tante tinggal ke dalam dulu ya." pamit Mama Tia pada Calista.


"Iya Tan."


"Sel, sesuai permintaanmu aku akan sering-sering main kesini." ucap Calista tersenyum mengoda pada Ansel.

__ADS_1


Ansel menjawabnya dengan senyuman, dirinya sudah ketar ketir melihat sang istri mulai berwajah masam.


Mendengar ucapan wanita ular itu mood Bella kembali hancur, dengan perasaan kesal ia mencubit punggung suaminya dengan kencang.


Ansel menahan perih di punggungnya, ia berusaha biasa saja di hadapan Calista.


"Bagaimana kerjaanmu?" Calista mencari topik untuk berbicara dengan Ansel tanpa memperdulikan kehadiran Bella disana.


"Ya pekerjaan dikantor lancar-lancar saja Cal." jawab Ansel.


Bella yang mulai bosan dan muak menatap wanita ular di hadapannya, memilih berdiri meninggalkan suaminya.


"Aku kedalam dulu." ucap Bella pelan tapi terdengar sangat dingin di telingga Ansel.


"Waduh bahaya ini.." batin Ansel.


Calista tersenyum, akhirnya wanita yang ia anggap benalu itu pergi juga.


Dengan cepat Calista berpindah duduk disamping Ansel.


"Aku rindu sekali Sel." Calista memeluk Ansel dari samping.


"Cal jangan seperti ini." Ansel melepas pelukan itu dengan paksa.


Tiba-tiba terdengar deheman merdu yang sangat familiar di telingga Ansel.


"Ehem, Mama Tia menyuruhmu untuk makan malam disini." ucap Bella pada Calista.


Kesempatan pikir Calista, dirinya kembali bergelanyut di lengan Ansel.


Bella memutar bola matanya malas, sebelum pergi dia memberi peringatan pada suaminya, ia mengorok lehernya sendiri sembari menatap suaminya dengan tajam.


Ansel beringsut dengan cepat ia melepas tangan Calista dari tangannya.


"Ayo Cal masuk jangan sungkan-sungkan." Ansel berlalu meninggalkan Calista dan berlari menyusul sang istri.


"Sayang jangan marah." Ansel merangkul pundak istrinya.


"Sudahlah.." Bella menaruh tangannya di pinggang suaminya.


Di belakang kedua pasangan suami istri ini, wanita berambut pirang sedang mengumpat, benar-benar adegan yang dilihatnya saat ini membuat hatinya seketika mendidih.


"Calista, mari nak.." sapa Papa Robert.


"Iya Om.."


Makan malam berjalan seperti biasa, tapi dengan suasana yang begitu mencekam bagi Ansel, karena mata Calista selalu menatap ke arahnya, membuat Ansel was-was sendiri, di liriknya sang istri yang dari tadi berwajah masam.


"Tante, Om saya permisi terima kasih makan malamnya." pamit Calista.


"Iya sayang hati-hati ya, apa perlu di antar biar supir mengantarmu." ucap Mama Tia.


"Tidak perlu Tan."


Calista menghampiri Ansel.

__ADS_1


"Sel aku pulang dulu." Calista langsung mencium pipi kiri dan kanan Ansel di depan Bella.


Hal itu cukup membuat api berkobar di hati wanita cantik ini.


"Hati-hati." Ansel melirik istrinya dengan hati gelisah.


Mama Tia dan Papa Robert berdiri mengantarkan Calista sampai pintu, ya hanya Papa Robert dan Mama Tia, sementara Ansel menyusul istrinya yang sedang merajuk.


"Sayang, sayang jangan seperti ini." Ansel memegang tangan Bella tapi segera di tepis oleh pemiliknya.


"Jauh-jauh deh, lihat tubuhmu bau wanita lain, aku tidak suka." Bella mendorong tubuh suaminya dan meninggalkan Ansel menuju kamar.


Suara kerasnya pintu yang tertutup menunjukkan bahwa istrinya benar-benar merajuk.


"Akh sial.." runtuk Ansel sembari menjambak rambutnya.


"Sayang, buka pintunya." Ansel mengetuk pintu mencoba membujuk istrinya.


"Malam ini kamu tidur di luar." teriak Bella dari dalam.


"Sayang jangan seperti ini, kamu tega sekali." ucap Ansel memelas.


Beberapa kali Ansel mencoba membujuk istrinya tapi tidak berhasil, dengan berat hati malam ini dirinya tidur sendiri di kamar sebelah.


"Sialan sialan, lebih baik aku bersembunyi saja jika Calista kesini lagi." monolog Ansel.


Ansel berlalu menuju kamar mandi, ia tidak ingin sang istri mencium wanggi wanita lain di tubuhnya.


Ansel malam ini tidak bisa tidur, bayangan Bella terus menganggunya, Ansel pun beranjak dari ranjang, ia ingin mengecek istrinya.


Ansel mencoba membuka pintu kamarnya, bagai memenangkan sebuah doorprize, ia girang sekali ternyata pintunya tidak di kunci, di lihatnya sang istri sudah tertidur lelap, Ansel menutup pintu, tidak lupa juga menguncinya.


"Sayang maafkan aku." Ansel mencium kening istrinya lama.


Ansel menggira istrinya akan merajuk lama, tapi melihat pintu kamar tidak lagi di kunci membuat Ansel mengerti jika istri cantiknya tidak benar-benar marah.


Ansel ikut membaringkan tubuhnya disamping tubuh molek Bella, tidak menunggu waktu lama untuk memejamkan mata, ia pun ikut terlelap dengan memeluk tubuh istrinya.


Di kota Paris - Prancis.


Pagi ini adalah hari yang membahagiakan untuk Damien, Damien mendapat kabar dari dokter yang merawat Papanya, jika sang Papa sudah bisa bicara dan mulai bisa mengerakan tangan dan kakinya.


Hampir sebulan Damien tidak menjenguk sang Papa karena kesibukannya di kantor.


Pagi ini ia bergegas menuju mansion untuk menemui Papa Daniel.


Jangan lupa kasih dukungan kalian untuk author😍


_____________________


LIKE, VOTE DAN KOMEN


_____________________


Kenalan sama Author yuk follow ig. Wulan_056t7

__ADS_1


__ADS_2