
Selang beberapa menit Stella sudah siap, Stella berpenampilan layaknya gadis-gadis Prancis, ia mengikuti trend yang ada di negara yang sangat terkenal dengan menara eifelnya ini.
Rok jeans mini dengan atasan model tube top yang hanya menutupi bagian dada sampai pinggang, Stella memadupadankannya dengan switer kelelawar.
Damien sempat terpanah melihat penampilan Stella. "Ehkem, Sudah siap?" ia berdehem untuk menetralkan kegugupannya.
"Sudah dong Om." jawab Stella berjalan menghampiri Om nya.
Keduanya keluar dari mansion, tangan Damien merangkul manja pundak Stella, langkah gadis itu terhenti, ia sedikit terkejut melihat banyak penjaga berdiri menggelilingi mansion, alis Stella saling bertaut melihat dua mobil menyambut mereka, mobil pertama akan menjadi kendaraan Damien dan Stella, sementara kendaraan di belakang di isi beberapa bodyguard untuk mengikuti kemana pun mereka pergi.
"Kenapa Om bawah rombongan sebanyak ini? kita hanya ke taman Om bukan menghadiri acara pernikahan." cerosos Stella.
Di bayangan Stella, ia akan pergi berdua dengan Om nya, mungkin itu akan sangat menyenangkan, tapi melihat keadaan saat ini sepertinya harapannya tidak seperti apa yang ia bayangkan.
"Om akan ceritakan semuanya nanti, sekarang masuk lah." Damien menyuruh Stella untuk masuk ke mobil terlebih dulu.
Stella masuk dengan wajah cemberut, di susul Damien setelahnya, keduanya duduk di belakang kemudi, sementara yang mengendarai mobilnya siapa lagi jika bukan Robby.
"Kita ke taman Robb." Damien melirik Stella, ia jadi binggung kenapa wajah Stella malah terlihat tidak senang.
"Baik Tuan." mobil mulai melaju keluar dari halaman mansion, di susul satu mobil di belakangnya yang berisi beberapa bodyguard.
"Sayang kamu kenapa? kenapa wajahmu cemberut begitu?" tanya Damien pada Stella.
"Pakai tanya segala lagi, aku kan maunya pergi berdua, bukan bawah rombongan sebanyak ini." batin Stella kesal.
Stella tetap diam tidak mau menjawab pertanyaan Damien, gadis itu menikmati pemandangan kota paris, ia sengaja memunggungi Damien, memperjelas aksi protesnya, Damien menghembuskan nafas kasar, apa yang harus ia perbuat agar gadis nakalnya tidak merajuk lagi.
Perjalanan kali ini terasa hambar, tidak ada lagi Stella yang manja, hanya ada keheninggan di dalam mobil, Robby pun tidak berani bicara, keheningan terus berlanjut hingga mobil tiba di taman.
Damien lekas turun usai Robby membukakan pintu. "Sayang turunlah!" pinta Damien pada Stella.
Sepertinya gadis cantik itu tidak mau turun dari mobil, Stella masih merajuk dengan wajah cemberut.
Damien membuang nafas dalam. "Kita pergi ke taman hanya berdua sayang, tanpa mereka." bujuk Damien.
Seketika wajah Stella kembali berbinar. "Janji?" Stella memberikan jari kelingkingnya.
Damien memasukkan setengah badannya ke dalam mobil. "Janji." jawabnya sembari tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari Stella.
__ADS_1
Stella keluar dari mobil dengan wajah berbinar, sementara Robby mengelengkan kepala melihat tingkah Stella, dari dulu gadis itu bersikap manja pada Tuannya.
"Robb berjagalah disini bersama para bodyguard, ingat jangan mengikuti kami, nanti bayi kecil ini merajuk lagi." Damien berkata pelan di akhir kalimatnya.
Robby tersenyum. "Baik Tuan.
Damien mengandeng tangan Stella, Stella pun sama, ia mengenggam erat tangan Damien layaknya seorang kekasih, kebetulan taman sore ini tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang disana.
Damien membawah Stella menuju danau buatan, ia mencari tempat yang sepi. "Kita duduk disini saja ya sayang." Di bawah pohon tepat di depan danau ada kursi panjang berbahan kayu.
"Iya Om." setelah sama-sama mendudukkan dirinya, genggaman tangan keduanya yang saling bertautan pun terlepas.
"Stell Om sudah tahu pelaku yang mengirimi mu teror." Damien memulai obrolan.
"Oh ya, siapa Om?"
" Musuh masa lalu kita bersama." jawab Damien dengan ambigu.
"Maksud Om?"
"Musuh Om Dam dan Papa Ansel, alasan Om memperketat pengawalan karena masalah ini, Om tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang." jawab Damien.
Stella langsung menghampur ke pelukan Damien. "Maafkan Stella ya Om, sikap Stella tadi kekanak-kanakan sekali." ucap Stella merasa sangat bersalah.
"Oh ya, katanya Om mau kasih kabar bahagia buat Stella, kabar apa itu Om?" Stella mengurai pelukannya.
"Besok kita pulang ke kotamu, tapi hanya 5 hari saja kita disana, karena besoknya kamu harus memulai kuliah mu." jawab Damien sembari tersenyum.
"Aaaaaa Stella bahagia sekali Om." Stella kembali memeluk Damien dengan erat.
Damien ikut bahagia melihat gadis nakalnya seceria ini, karena gemas Damien mencium kedua pipi Stella secara bergantian, terdengar tawa lepas dari bibir Damien, saat Stella berusaha menggelitikinya.
"Kak Dam." tiba-tiba suara seseorang menghentikan tawa keduanya.
Damien dan Stella menoleh ke belakang secara bersamaan, wajah Stella seketika berubah masam melihat Arrabel juga berada disana.
"Arrabel." ucap Damien sedikit terkejut, kenapa bisa kebetulan begini bertemu dengan Arrabel di taman.
"Arra boleh gabung kak?" tanya Arrabel mulai mendekati Damien.
__ADS_1
Damien menatap Stella, nampak wajah gadis itu kembali masam, tapi tidak mungkin juga Damien mengusir Arrabel dari sana.
"Boleh silahkan."
Arrabel langsung beringsek duduk di tengah-tengah, dengan sengaja mengambil tempat Stella.
"Hei apa yang kamu lakukan?" teriak Stella.
"Maaf." ucap Arrabel memasang wajah memelas.
"Stell, jangan begitu sayang, dia lebih tua dari mu." nasehat Damien pada Stella.
Arrabel tersenyum smirk ke arah Stella, gadis itu dengan nyalang mengibarkan bendera perang.
"Kak Dam, bibir Kakak kenapa?" Arrabel lebih mendekatkan dirinya, mengelus bibir milik Damien dengan lembut, mengigit bibirnya sendiri dengan manja berusaha mengoda pria di depannya, sementara tubuh Damien membeku, di tatapnya dengan aneh wajah Arrabel yang sengaja mengoda dirinya.
Sementara Stella, amarah gadis itu sudah berada di ubun-ubun, rasa cemburu dan rasa tidak suka pada Arrabel bercampur menjadi satu, Stella tahu gadis itu bukan gadis baik-baik.
Stella beranjak dari kursi dengan kasar, ramput panjang milik Arrabel menjadi santapan kemarahannya.
"Arrggh sakit." rintih Arrabel, ya Stella sengaja menjauhkan tubuh gadis itu dari Om nya dengan menjambak kasar rambut Arrabel.
"Stella apa yang kamu lakukan?" Damien panik, dia berusaha melepas tangan Stella dari rambut Arrabel.
Arrabel sengaja tidak melawan, ia berpura-pura menangis untuk mencari simpati Damien.
Damien berhasil melepas tangan Stella, sementara Arrabel tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, gadis itu langsung menghambur ke pelukan Damien, mengaduh sakit pada pria itu.
"Sakit Kak hiks hiks.." Arrabel menangis di pelukan Damien, hal itu semakin membuat Stella muak.
"Sudah jangan menangis, maafkan Stella ya, sebenarnya dia gadis yang baik." Damien membalas pelukan Arrabel, mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
Tidak lama Damien mengurai pelukannya, di balik tangisan palsu, lagi-lagi Arrabel menantang Stella, gadis itu tersenyum smirk ke arah Stella.
Karena muak dengan Arrabel, Stella langsung pergi meninggalkan keduanya begitu saja.
Stel Stella.." Damien ingin mengikuti Stella yang kembali merajuk, tapi Arrabel dengan sikap menghalaunya.
"Kak temani Arra disini sebentar, ku mohon." pinta Arrabel kembali mengeluarkan airmata palsunya.
__ADS_1
Karena tidak tega meninggalkan Arrabel dalam keadaan seperti ini, dengan terpaksa Damien kembali duduk dan berusaha menghibur gadis itu.
Bersambung ...