Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 03


__ADS_3

Selepas kepergian suaminya, Bella menghampiri putri sulungnya yang sedang bersantai sambil membaca novel.


"Sayang mau berlatih?"


"Boleh Ma.." jawab Stella, ia langsung beranjak dari sofa.


Kedua wanita cantik ini berjalan saling merangkul layaknya seorang sahabat. mereka berlalu ke kamar masing-masing untuk berganti baju. selesai berganti baju keduanya berlalu menuju lantai paling atas.


"Kita pemanasan dulu sayang."


"Siap Ma." Stella mengikuti gerakan sang Mama. mereka melakukan pemanasan ringan seperti biasanya. usai melakukan pemanasan Bella menanyakan kesiapan putrinya.


"Siap?" tanya Bella pada putrinya.


Stella menjawabnya dengan anggukkan, kedua wanita berbeda usia ini memasang kuda-kuda sebelum melakukan pertarungan. ya Bella mengajari putrinya ilmu beladiri. bukan hanya Stella, kedua twins pun sama tidak terkecuali. Bella memberikan anak-anaknya bekal ilmu karna ada alasannya. sampai saat ini sang suami masih bergabung dengan perkumpulan para gangster. seiring berjalannya waktu sudah banyak lika-liku yang Bella dan Ansel lalui. tidak menuntut kemungkinan kejadian itu akan terulang kembali membuat mereka harus tetap berhati-hati dan selalu waspada dalam keadaan apapun dan dimanapun.


Meskipun usia Bella dan Ansel terbilang tidak muda lagi tapi stamina dan kebugaran tubuhnya tetap terjaga. apalagi di lihat dari postur tubuh keduanya tidak ada perbedaan yang signifikan. keduanya masih terlihat awet muda. tentu hal itu juga di bantu dengan perawatan rutin, setiap weekend keluarga kecil ini selalu menyempatkan diri untuk berolahraga, selalu menjaga pola makan dan tentunya makan makanan yang bergizi.


Stella dan Azzam sudah berhasil memegang sabuk hitam. keduanya memiliki karakter yang sama kecuali Azzura. gadis itu lebih mirip Ansel, jika berada di luar memiliki sikap dingin dan susah untuk di perintah. usai berlatih beladiri ibu dan anak ini beristirahat sekejap untuk melenturkan otot-otot mereka.


"Ingat sayang jangan pernah menyerang lawan dengan bernafsu tapi serang mereka mengunakan akal dan ketenangan."


"Yes ma." ucap Stella.


"Bagus." Bella mengelus bahu putri sulungnya. dia beranjak berdiri menghampiri brangkas yang berada di sudut ruangan. Tangan lentik itu mengambil dua pistol berwarna hitam, satu untuknya dan satu lagi untuk putrinya.


"Sudah siap untuk kegiatan selanjutnya?" Bella sudah berdiri tepat di depan Stella. putrinya tersenyum dan mengangguk. Bella mengulurkan tangannya membantu putrinya untuk bangun.


Bella menyerahkan satu pistol berjenis semi otomatis pada Stella. pistol ini memiliki kapasitas ruang peluru yang besar. di dalamnya terdapat 20 butir amunisi peluru. pistol ini sangat cocok di gunakan untuk berlatih.


"Pegang ini sayang." setelah menyerahkan satu pistol untuk putrinya, Bella mengambil penutup kepala yang sudah ia siapkan.


"Maaf ya sayang." Bella membantu menutup kedua mata Stella.


"Iya Ma."

__ADS_1


"Fokus sayang, gunakan pendengaran mu dengan baik." ucap Bella.


Tepat di depan Stella terdapat benda bergerak dan memutar. Stella harus berhasil menembak miniatur kelinci berupa kayu yang berada disana.


Untuk kali ini Stella benar-benar serius. setelah memfokuskan pendengarannya, gadis itu berkali-kali ingin menekan pistol tapi berkali-kali juga ia urungkan.


"Fokus." ucap Bella lagi.


Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya dengan mantap Stella menekan pistolnya.


"Dor..Dor" dua kali peluru melesat, dua kali tembakan Stella berhasil meluncur tepat pada miniatur kelinci itu.


"Gotcha..." Bella memberikan aplausnya untuk sang putri.


Stella tersenyum smirk, mendapat tepukan tangan dari sang Mama membuatnya merasa bangga. rasanya seperti menerima sebuah penghargaan berharga.


"Ulangi sayang."


Stella kembali mengangguk dan untuk kedua kalinya dia kembali berhasil. melihat skill putri sulungnya membuat kekawatiran Bella sedikit berkurang saat dirinya harus membiarkan putrinya tinggal di negeri orang.


"Ma.." Stella melepas penutup kepalanya, membalas pelukan sang Mama dengan hangat. gadis itu ikut meneteskan airmata, dia tahu apa yang membuat Mamanya menangis.


Keduanya saling mengurai pelukan. Bella menghentikan aktifitasnya karna hari sudah siang, sebentar lagi kedua twins juga pulang dari sekolah, ia harus menyiapkan makan siang untuk ketiga buah hatinya.


Di Prancis


Di mansionnya Damien sibuk mendekor kamar tamu untuk Stella tempati nanti.


"Nak kenapa tidak menyuruh bawahan mu saja atau menyewah dekoratif?" suara Papa Daniel mengagetkan Damien.


"Tidak Pa, Dam ingin mendekornya sendiri." jawab Damien.


Papa Daniel menunduk sedih. setelah bertahun-tahun berlalu putranya tidak pernah membawah atau mengenalkan wanitanya. waktu Damien hanya di gunakan untuk bekerja hingga kesuksesannya melambung tinggi, meskipun memiliki harta berlimpah dan mansion mewah tetap saja tidak ada kebahagian di dalamnya.


...Jangan Habiskan Masa Sehatmu...

__ADS_1


...Hanya Untuk Mencari...


..."KEKAYAAN"...


Papa Daniel menghampiri putranya yang sedang serius. "Dam.." panggil Papa Daniel.


"Heeem." Damien masih serius dengan kegiatannya.


"Kenapa kamu menolak beberapa wanita yang Papa pilihkan, tidak bisakah kamu memikirkan hidupmu nak. kamu perlu pendamping usiamu sudah 41 tahun, Papa semakin renta mungkin hidup Papa tidak akan lama lagi, Papa ingin melihatmu menikah memiliki keluarga yang utuh, cinta pertama mu sudah lama berlalu, tidak bisakah kamu berpaling sedikit saja." Papa Daniel menangis di hadapan putranya.


Damien terdiam, entahlah sampai kapan dirinya akan seperti ini. apa dia bisa membuka hatinya untuk wanita lain. melihat Papanya selalu menangis membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Damien menghembuskan nafas dalam, setelahnya menjawab pertanyaan Papanya.


"Baiklah, Papa carikan saja." ucap Damien, ia kembali meneruskan aktifitasnya.


Seketika bibir pria tua itu tersenyum, benarkah yang ia dengar? Papa Daniel langsung memeluk putranya dan berterima kasih.


"Terima kasih nak."


Setetes airmata jatuh di bawah kelopak mata Damien. mata elang itu terakhir menangis untuk Bella, tapi detik ini Papa berhasil membuatnya menangis lagi.


Papa Daniel bergegas menyuruh anak buahnya untuk membawah beberapa wanita ke mansion. tentunya bukan wanita sembarangan, siapa yang tidak mau menikah dengan pria tampan dan Kaya. meskipun usia Damien memasuki kepala empat, tapi wajahnya masih seperti pria yang berusia 30an, bentuk tubuhnya pun masih sama, pantas saja Stella tidak mau jauh-jauh dari Om nya. mana ada gadis secantik dan secerdas Stella memiliki selera rendah, tapi memang tidak sepatutnya Stella menyukai Om nya sendiri, apa lagi usianya dan Damien terpaut begitu jauh, mungkin semuanya hanya akan menjadi anggan-anggannya saja.


Matahari sudah berpindah dari timur ke barat, dua hari ini Damien sengaja cuti kerja hanya untuk menyiapkan semua keperluan Stella yang sudah di anggapnya sebagai putrinya sendiri.


Pria berparas tampan ini sedang bersantai dengan Papanya di ruang tamu, tiba-tiba keduanya di kagetkan dengan kedatangan Robby, tangan kanan Papa Daniel sekaligus tangan kanan Damien.


"Pak semuanya sudah datang." Robby menunduk hormat.


Papa Daniel mengangguk dan tersenyum sedangkan Damien mengernyitkan dahi. siapa yang datang? apa maksud dari ucapan Robby? banyak pertanyaan berputar-putar di kepalanya.


...... Hai-hai readers tersayang...


..."Om Damien Mine"......

__ADS_1


...sudah Author hadirkan, jangan lupa kasih dukungan kalian untuk Author ya😘...


__ADS_2