
Suara langkah sepatu pantofel milik Ansel membuat ketiga rekan dan yang lainnya menatap pada satu titik yang sama.
"Maaf telat." ucap Ansel tersenyum membuat rekan-rekannya melongo menatap Ansel.
"Ada angin apa seorang Ansel bisa tersenyum semanis itu." ucap Mads.
"Karena istri cantiknya lah." sambar Velix.
"Giliran udah cantik doyan." ucap Mads membuat Ansel menatapnya tajam.
"Kita langsung ke topiknya saja." ucap Garvin menengahi.
Rekan-rekan yang lain sudah berkumpul di markas baru mereka, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat karena hari sudah hampir menjelang pagi, strategi sudah di rencanakan seapik mungkin Ansel akan pulang terlebih dulu untuk menemui istrinya.
**
Bella saat ini sedang makan malam berdua dengan adik iparnya.
"Kak Ansel kemana Kak?" tanya Arka.
"Kakak mu ada urusan." jawab Bella sembari melayani Arka.
"Terima kasih." ucap Arka tersenyum.
Sebenarnya Bella merasa canggung jika harus berdua seperti ini dengan adik iparnya tapi mau bagaimana lagi keadaanlah yang memaksanya.
Saat makan Arka selalu curi-curi pandang pada Kakak Iparnya, Bella menyadari hal itu ia pun mengunyah dengan cepat agar acara makan malam yang penuh kecanggungan ini cepat usai, Bella terlalu bersemangat hingga membuatnya tersedak.
"Hati-hati Kak." ucap Arka ingin mengelap mulut Kakak iparnya tapi segera di tepis oleh Bella.
"Maaf Arka, kamu harus menjaga sikapmu apalagi Kakak mu tidak berada di rumah." ucap Bella.
Arka tersenyum." Maaf Kak aku tadi reflek." ucap Arka beralasan.
"Ya sudah aku pamit ke kamar dulu ya." pamit Bella meninggalkan Arka sendirian di meja makan.
"Kenapa dari hari ke hari kamu terlihat semakin cantik Bell." monolog Arka memandang siluet Bella sampai menghilang dari pandangannya.
Malam hampir berganti pagi, Ansel baru sampai di Mansionnya, dia membuka pintu kamar dengan mengunakan kunci cadangan yang dia bawah.
Terlihat Bella masih tidur dengan lelapnya karena saat ini masih pukul 4 pagi, Ansel membaringkan dirinya di samping istrinya, tidak lama ia pun ikut terlelap.
Mata Bella terbuka karena merasakan sesuatu yang menimpa perutnya. " Suamiku." ucap Bella dengan suara pelan.
"Jam berapa dia pulang, kasihan sekali sepertinya dia sangat kelelahan." batin Bella sembari mengelus kepala Ansel.
Sentuhan tangan Bella membangunkan Ansel. " Jam berapa ini?" tanya Ansel.
" Pukul 07.00, kamu tidak ke kantor?" tanya Bella.
"Hari ini aku dan rekan-rekan harus menyelesaikan misi penting, doakan aku agar pulang dengan selamat." ucap Ansel membuat Bella kaget.
__ADS_1
"Apakah harus, aku tidak ingin kehilangan dirimu suamiku." ucap Bella memeluk suaminya erat.
"Tenang saja aku akan kembali untukmu." ucap Ansel mencium puncak kepala istrinya.
"Aku akan bersiap, mungkin rekan-rekanku sudah berkumpul di markas." tambah Ansel.
Bella tidak rela melepas pelukannya, dengan terpaksa ia membiarkan suaminya pergi untuk bersiap.
"Aku pergi dulu, jangan kemana-mana tetaplah berada di rumah." pamit Ansel pada Bella.
Bella hanya mengangguk, Ansel pergi dengan langkah seribu, dia tidak ingin terlambat.
Semua kelompok Black wolf berkumpul, mereka sudah siap dengan senjata yang akan mereka gunakan untuk menyerang musuhnya, tidak lama Ansel sampai ketiga rekannya sudah menunggu manusia kulkas satu ini.
"Kamu bawah senjata apa Sel?" tanya Velix.
"Pistol.." jawab Ansel mengeluarkan pistol kesayangannya yang sudah tidak terhitung berapa nyawa yang melayang di tangannya mengunakan pistol itu.
"Kita berangkat." teriak Mads semua bergerombol memasuki mobil masing-masing menuju markas musuh.
Kebetulan di markas Jevarck saat ini sedang ada perkumpulan entah mereka membahas apa, tiba-tiba terdengar bunyi letusan pistol menggema di luar markas, semua orang yang berada di dalam markas keluar dengan membawah senjata masing-masing.
Di depan pintu markas berdiri bergerombol kelompok dari Black Wolf, ke empat nyawa Black Wolf yang tidak lain, Ansel, Velix, Mads, dan Garvin bersembunyi, mereka akan keluar jika waktunya tiba, terlihat 6 orang yang menjaga di depan markas sudah terkapar bersimbah darah.
"Brengsek, berani sekali kalian memasuki kandang singga." ucap Ardolp tatapan matanya menusuk jantung parah musuhnya.
"Hahaha apa kalian takut?" tanya salah satu dari anggota Black Wolf.
"Cuih tidak ada kata takut untuk Jevarck apa lagi harus menghadapi semut seperti kalian." ucap Ardolp meludah meremehkan musuhnya.
"Omong kosong."
'Dor Dor' pertikaian berakhir di akhiri dengan suara letusan pistol yang terdengar begitu riuh.
Banyak korban yang berjatuhan disana, Jevarck kuwalahan menghadapi musuh karena mereka kalah personil, tidak semua rekan Jevarck hadir di perkumpulan pagi ini.
Setelah melihat anggota Jevarck lenggah ke empat nyawa Black Wolf keluar, mereka banyak menghabisi musuhnya, banyak juga dari anggota Jevarck yang berhasil melarikan diri.
Ansel dan Velix mengalami luka tembak di tangannya membuat keduanya terpaksa bersembunyi untuk mengamankan diri.
"Brengsek." umpat Ansel mencengkram luka tembak di tangannya yang cukup dalam.
"Kita keluar saja dari sini." ucap Velix meringis merasakan denyutan yang luar biasa di tangannya begitupun juga dengan Ansel.
Markas Jevarck sudah seperti lautan manusia yang tergeletak di tanah, darah berada dimana-mana.
Anggota Black Wolf berhasil menumbangkan anggota Jevarck, ke empat orang yang menjadi nyawa Jevarck juga terluka parah tapi mereka masih bisa lolos dari kepunggan anggota Black Wolf.
Anggota Black Wolf membalas dendamnya dengan membakar markas serta mayat anggota Jevarck.
"Bawah mereka yang terluka ke markas, kuburkan dengan layak untuk rekan kita yang sudah tewas." perintah Mads.
__ADS_1
Hari sudah mulai malam tapi Ansel tidak kunjung pulang membuat Bella kawatir, dia juga berkali-kali mencoba menghubungi Ansel tapi ponsel Ansel tidak bisa di hubungi, Bella mendapatkan nomor ponsel suaminya dari adik iparnya.
"Arka kenapa Ansel tidak pulang-pulang." ucap Bella mondar mandir di ruang keluarga di temani Arka.
"Kakak ipar tenang dulu." ucap Arka ikut pusing melihat Kakak iparnya tidak mau diam.
Bella tidak mungkin memberitahu Adik iparnya jika Kakaknya sedang menjalankan misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawanya.
Bella mendudukan dirinya dan menyandarkan punggungnya di sofa dengan mata terpejam, dia sampai lelah sendiri hampir 2 jam mondar mandir seperti setrika'an.
Arka menatap Bella dengan lekat, dia berpindah duduk di samping Kakak Iparnya.
"Kak.." panggil Arka.
"Sepertinya dia tertidur." monolog Arka.
Arka menatap wajah Bella dari mata hidung dan turun ke bibir.
"Cantik.." ucap Arka.
Lama Arka menatap wanita cantik di hadapannya, mumpung sang Kakak belum juga pulang, apa salahnya menikmati ciptaan tuhan yang begitu indah, Arka tidak sadar jika Kakaknya sudah berada di sampingnya.
"Kamu lihat apa?" tanya Ansel.
"Bella, cantik banget." jawab Arka tanpa sadar.
"Oh cantik ya." ucap Ansel penuh penekanan.
"Seperti suara kulkas." ucap Arka dengan suara rendah tapi masih bisa di dengar oleh Ansel, ia pun mendongak.
"Eh kapan Kakak pulang?" tanya Arka terkejut, ia berdiri sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pergi kamu!" suruh Ansel.
Merasa malu karena ketahuan sang Kakak, Arka pun pergi menuju kamarnya, meninggalkan sepasang suami istri itu.
"Istriku." ucap Ansel membangunkan Bella, Ansel menyembunyikan luka tembaknya di balik jaket.
Bella mengerjap saat melihat Ansel di hadapannya, dia beranjak dari sofa dan memeluk Ansel erat.
"Kenapa kamu lama sekali suamiku, apa kamu baik-baik saja?" tanya Bella, ia memperhatikan badan suaminya dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat Ansel tersenyum.
"Hanya luka kecil disini." ucap Ansel menunjuk tangan kanannya.
"Kita ke kamar sekarang." ucap Bella menarik tangan kiri suaminya menuju kamar.
Bella memaksa Ansel membuka seluruh bajunya hingga suaminya hanya bertelanjang dada, Bella menutup mulutnya saat melihat luka perban di lengan suaminya.
"Apa ini terkena pisau atau luka tembak?" tanya Bella terlihat kawatir.
"Luka tembak, aku tidak apa-apa ini hanya luka kecil untuk ku." jawab Ansel.
__ADS_1
"Sini kamu pasti mengantuk." ucap Ansel menyuruh Bella untuk tidur di lengan kirinya.
Bella menuruti kemauan Ansel dia tidur di lengan Ansel dengan memeluknya erat, Ansel mencium puncak kepala istrinya, tidak menunggu waktu lama karena keduanya sama-sama mengantuk mereka pun terlelap bersama.