
Bella sudah sadar, dia menangis di pelukan suaminya.
"Sayang sudah jangan menangis, aku akan menyelamatkan Papa dan Mama."
"Hiks hiks kenapa kepala Papa berdarah, apa yang mereka lakukan." Bella sesenggukan, sekuat apapun Bella ia tetap seorang wanita, hatinya begitu hancur saat melihat kedua orang tuanya di perlakukan seperti itu.
"Tenang sayang." Ansel mencium kening istrinya berkali-kali, melihat Bella menangis seperti ini membuatnya tidak tega.
"Bawah istrimu ke kamar nak, kita akan fikirkan masalah ini besok saja, kita harus menyiapkan stamina untuk mengalahkan pria itu." ucap Papa Robert.
"Kita ke kamar ya, sudah jangan menangis."
Bella mengangguk, Ansel memapah istrinya menuju kamar.
"Kasian sekali jeng Eva Pa." Mama Tia ikut prihatin pada besannya.
"Iya Ma, kita juga harus istirahat." Papa Robert mengajak istrinya kembali ke kamar.
Dikamar dering ponsel milik Ansel terdengar, ia mendapat kabar dari pengawal yang ia tugaskan di mansion Papa Tio, jika sepuluh orang pengawalnya masuk rumah sakit karena patah tulang.
Ansel akan bertanggung jawab, ia akan membayar semua biaya rumah sakit sampai keadaan mereka membaik, dia juga akan memberikan kompensasi untuk mereka.
Di markas Jevarck.
"Brengsek, katakan siapa yang menyuruh kalian?" Ardolp berteriak, amarahnya sudah berada di puncaknya, ia baru mendapat kabar jika kedua orang tua Bella berhasil di bekuk oleh para mafia.
"Hahahaha"
"Bos kami memang terbaik." ucap salah satu dari mereka.
Kondisi kelima orang ini masih sama, sangat memprihatinkan.
"Sea, eksekusi mereka." Ardolp meninggalkan tempat itu.
'Dor Dor Dor..'
Ketiga peluru menembus kepala ketiga orang itu, seketika ketiganya tewas.
"Apa kalian ingin bernasip sama dengan rekan kalian?" Sea tersenyum menyeringgai menatap dua orang yang masih menggantung.
"Jangan, jangan lakukan itu pada kami." akhirnya kedua orang ini takut mati juga.
"Hahaha.." tawa Sea menggema di ruangan itu.
"Cepat katakan siapa yang menyuruh kalian?" bentak Sea.
"Darren, adik tiri Tio." jawab salah satu dari mereka.
Baru saja keduanya memohon pada Sea untuk tidak menembaknya, Sea malah meluncurkan dua tembakan ke arah mereka.
'Dor Dor..' dua peluru menembus dada kedua pria itu.
"Lemparkan mayat mereka ke kandang buaya." suruh Sea pada rekannya.
__ADS_1
Ketiga rekan Sea mengangguk, Sea pun keluar dari sana, ia mencari keberadaan teman-temannya.
Ardolp, Kaya dan Grisham sedang meneguk wine di ruangan pribadi mereka.
"Kalian meninggalkan ku." Sea menghampiri ketiga temannya.
"Bagaimana?" tanya Ardolp.
"Semuanya beres, salah satu dari mereka memberitahu siapa dalangnya."
"Lalu?" tanya Ardolp.
"Aku membunuh semuanya."
"Hahahaha..." ketiganya tertawa.
"Kau memang Iblis berwajah tampan." ucap Grisham.
"Wow terima kasih." Sea malah bangga disebut iblis tampan.
"Lalu siapa dalangnya?" tanya Kaya.
"Darren, adik tiri dari Papanya Bella." jawab Sea, ia mengambil satu gelas, menuangkan sedikit wine dan meneguknya.
"Cari informasi tentang mereka!" suruh Ardolp pada Sea.
"Siap Bos.."
Pagi ini Ansel absen lagi ke kantor, ia menyerahkan tugas kantor pada Revan, Ansel berencana mengumpulkan seluruh anggota Black Wolf pagi ini juga, ketiga rekan Ansel murka saat melihat video yang dikirimnya semalam.
"Sayang aku akan menemui rekan-rekan ku." pamit Ansel pada Bella.
"Aku ikut." pinta Bella.
Ansel menautkan kedua alisnya.
"Jangan, ini misi penting." ucap Ansel.
"Oke pergilah, aku akan menyelamatkan orang tuaku dengan caraku sendiri." Bella kekeh ingin ikut.
Ansel menghembuskan nafas kasar, istrinya benar-benar keras kepala.
"Baiklah, mandilah dulu aku menunggumu di bawah."
Bella mengangguk, ia bergegas ke kamar mandi, sementara Ansel turun menuju meja makan.
Bella mandi dengan cepat, ia berjalan ke arah wardrobe, Bella memilah-milah baju yang cocok untuk dia pakai, akhirnya ia memilih dres warna hitam polos, Bella memoles sedikit wajahnya.
Sungguh wanita Ansel ini terlihat begitu cantik saat ini.
Bella segera turun menyusul suaminya menuju meja makan.
__ADS_1
Semua yang berada di meja makan di buat cenggo melihat penampilan Bella, apalagi dengan Ansel, ia sampai menganggah menatap istrinya.
"Kalian mau kemana?" tanya Mama Tia melihat kedua pasutri ini memakai baju serba hitam.
"Ada kepentingan Ma." jawab Ansel.
Arka baru mengetahui jika kedua orang tua Bella di sekap.
"Kak, jika Kakak menjalankan misi Arka ikut, mungkin tenaga ku bisa bermanfaat." ucap Arka.
Ansel hanya mengangguk, dia melirik istri cantiknya, andai saja keadaannya tidak seperti ini, Ansel ingin membawah istrinya ke kamar dan menguncinya disana.
Sarapan pun usai, Arka pamit lebih dulu untuk berangkat ke kantor.
"Ma Pa Arka pergi dulu."
"Hati-hati nak." ucap Papa Robert.
"Hati-hati sayang." ucap Mama Tia, sebelum pergi Arka mencium pipi sang Mama.
"Shiiit Bella cantik sekali." batin Arka saat menatap Kakak Iparnya.
"Kakak Ipar yang sabar ya." Arka menepuk pundak Bella pelan, hal itu membuat pawang kelinci melotot tajam.
"Astaga." Arka berlalu pergi saat menatap wajah seram Kakaknya.
Mama Tia dan Papa Robert mengeleng melihat kelakuan kedua putra mereka.
"Kami juga pamit Ma."
"Hati-hati kalian berdua." ucap Mama Tia.
Keduanya berlalu, Vero berdiri di samping mobil menunggu Bosnya, mata Vero berubah hijau saat melihat penampilan Bella pagi ini.
"Jaga matamu Ver." Ansel kesal kenapa pagi ini istrinya harus secantik ini.
"Maaf Tuan." Vero segera membukakan pintu untuk keduanya.
Tidak lama mobil berlalu meninggalkan mansion Ansel, disusul satu mobil pengawal di belakangnya.
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
Wulan
__ADS_1