Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Penyerangan


__ADS_3

Hari berganti begitu cepat, pagi ini Bella, Vero, Ansel dan rekan-rekannya akan menemui anggota Jevarck.


"Kalian sudah siap? jangan lupa bawah senjata untuk berjaga-jaga." Ansel membawah satu pistol di sakunya.


"Tenang saja, kami sudah siapkan." ucap Felix.


Semuanya berangkat menuju Belmont Cafe, tidak lama ketiga mobil mereka sampai di tujuan.


"Sayang gandeng tanganku." pinta Ansel.


Bella menurut saja, keduanya masuk ke Belmont Cafe di susul Vero dan tiga anggota Black Wolf.


Cafe itu terlihat begitu sepi, tidak ada pengunjung sama sekali.


"Kenapa sepi sekali ya?" gumam Bella.


Tanpa mereka semuanya tahu, Ardolp sudah menyewah Cafe ini, anggota Jevarck sudah menunggu kedatangan mereka di sudut cafe.


Keenam orang itu mulai mendekat ke arah Ardolp dan rekan-rekannya.


"Silahkan." Ardolp sangat wellcome dengan ke empat musuhnya ini.


Mereka duduk saling berhadap-hadapan, kedelapan gangster berbeda gang ini sama-sama menunjukkan aura mematikannya, suasana tiba-tiba hening.


Bella menatap kedelapan pria ini, ketegangan pun mulai terasa.


"Ehem." Bella berdehem untuk menghilangkan kecanggungannya.


"Apa benar kalian mau membantu kami?" suara Bella memecah keheningan di ruangan ini.


Ardolp menatap Bella sembari mengangkat satu alisnya.


"Ya kami akan membantumu." jawab Ardolp.


Sepertinya kedelapan pria ini saling menjaga wibawanya.


"Jangan kaku begini, aku tidak suka." Bella menatap satu persatu pria itu, tatapan terakhir ia berikan kepada suaminya.


Suasana masih hening.


"Oke aku akan pergi." Bella berdiri.


"Jangan." ucap delapan orang gangster ini serempak.


Vero di buat melonggo menatap pria-pria ini.


"Ekhem, baiklah kami menerima tawaranmu." ucap Ansel pada Ardolp, sebenarnya dia sangat gengsi, tapi demi istrinya apapun ia lakukan.


Ardolp tersenyum smirk, sebenarnya keempat anggota Jevarck menunggu Ansel yang memulai obrolan.


"Sebaiknya kita bertindak cepat, kalau bisa nanti malam kita eksekusi mereka." saran Ardolp


"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Felix.


"Mau menunggu kapan?" tanya Kaya.


Tiba-tiba suasana berubah tegang.


"STOP, sebenarnya besok paman memintaku untuk menemuinya di Holder beat." Bella menengahi perdebatan mereka.

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus secepatnya menyelamatkan kedua orang tuamu, kalau kalian menunggu besok, mungkin pria itu sudah merencanakan hal lainnya." seru Ardolp.


Ansel dan rekan-rekannya menganggukkan kepala tanda setuju.


"Baik kami percaya pada kalian, kami tunggu kalian di markas kami jam 12 malam." tutur Ansel.


"Baiklah, tunggu kami disana nanti malam." Ardolp beranjak dari duduknya begitu juga dengan ketiga rekannya.


"Kami duluan Bell." pamit Ardolp sembari tersenyum, disusul ketiga rekannya, ketiganya juga tersenyum manis pada Bella.


Vero dan ketiga rekan Ansel mengelengkan kepala.


Lagi dan lagi hati Ansel di buat panas, terlihat dari raut wajahnya yang berubah garang.


"Hey.." Bella mengelus rahang suaminya.


"Ayo kita pulang." Ansel berdiri, mereka pun pulang tanpa memesan apapun.


*


Malam sudah sangat larut, Ansel siap untuk berangkat ke markasnya, dia sudah mendapat info dari Felix dimana kedua mertuanya di sekap, Ansel tidak membiarkan istrinya untuk ikut, ini sangat berbahaya.


"Sayang doakan aku agar misi ini berhasil." Ansel mencium puncak kepala istrinya.


Rasanya Bella ingin sekali ikut, tapi suaminya menolak keras.


"Hati-hati." Bella memeluk suaminya erat.


"Jangan menangis sayang." Ansel menghapus airmata Bella saat pelukan mereka terlepas.


"Lekas hubungi aku."


Dibawah sudah ada Arka dan Vero menunggu Ansel.


"Kalian siap?" tanya Ansel pada adik dan juga tangan kanannya.


"Siap.." jawab keduanya serempak.


Disini Arka juga jago bela diri dan tembak-menembak, dari kecil Papa Robert melatih putra-putranya untuk bisa melindungi diri.


Adik dari Ansel ini sudah tahu jati diri sang Kakak dari Papa Robert.


Di Markas Black Wolf


Ansel sudah sampai di markasnya.


"Apa kalian sudah menyiapkan senjata yang kita perlukan nanti?" tanya Ansel.


"Sudah semuanya." jawab Felix.


Tidak lama rombongan Jevarck datang, ada sekitar lima mobil milik anggota Jevarck, mereka membawah pasukan sekitar 30an orang.


Ardolp dan ketiga rekannya keluar dari mobil, disusul rekan-rekan lainnya.


"Bagaimana sudah siap?" tanya Ardolp.


Semuanya mengangguk, mereka pun masuk ke mobil masing-masing, kedua kelompok gangster ini membawah banyak alat tempur.


Perjalanan memakan waktu dua jam, saat ini tepat pukul 2 pagi, akhirnya mobil mereka sampai di tujuan, sebelum turun dari mobil, semuanya memakai penutup kepala.

__ADS_1


Mobil terparkir jauh dari lokasi penyekapan, mereka lebih memilih jalan kaki dan berpencar, agar bisa mengelabuhi musuh, 53 orang ini membagi diri menjadi tiga bagian, mereka berjalan dari arah depan belakang dan samping.


Di depan gudang yang cukup besar itu ada sekitar 20 orang yang berjaga, ternyata Darren memperketat penjagaan malam ini.


"Brengsek pria itu benar-benar gila, lihatlah semua yang berdiri disana merupakan anggota mafia." bisik Mads pada rekan-rekannya.


"Sepertinya Darren juga berada disini sekarang." bisik Felix.


"Itu lebih baik, kita bisa langsung menghabisinya." bisik Ansel.


Di dalam gudang


Darren saat ini tidak tidur, dia ikut berjaga-jaga, di dalam sana dirinya di temani 25 anak buahnya yang mana mereka mantan anggota jevarck.


Keheningan berubah menjadi ancaman bagi Darren dan lainnya, saat terdengar bunyi riuh letusan pistol di depan.


"Brengsek.." umpat Darren.


"Kalian amankan dua orang itu." perintah Darren pada anak buahnya.


Ansel dan rekan-rekan lainnya bersembunyi di semak-semak, lawan kali ini cukup sulit untuk di taklukan, karena tembakan mereka selalu lolos, begitu juga dengan para mafia, mereka kesulitan untuk membasmi musuhnya.


Sudah hampir setengah jam baku tembak terjadi, hingga mereka semua sama-sama kehabisan peluru, dengan terpaksa Ansel dan rekan-rekannya keluar dari persembunyiannya.


"Brengsek, kalian ingkar janji." umpat salah satu mafia.


"Belum tentu juga kalian akan menepati janji." ucap Ansel.


Yang keluar dari persembunyian hanya 25 orang sementara separuhnya lagi masih bersembunyi, mereka sudah bersiap di belakang dan di samping gudang.


"Jangan banyak bicara, cepat habisi kami kalau kalian bisa." tantang mafia.


Ansel dan rekan-rekannya mulai menyerang, mereka bertarung dengan mengunakan tangan kosong.


'Bugh Bugh..'


Beberapa kali Ansel dan rekan-rekannya mendapat pukulan begitu pun dengan para mafia, pertarungan kali ini benar-benar sepadan.


Pukulan bertubi-tubi Ansel berikan pada lawannya hingga mafia itu berhasil tumbang, wajah mereka tidak ada yang tidak terluka, semuanya sudah berdarah-darah.


Di dalam Darren berusaha melarikan diri, dengan 10 anak buahnya yang mengotong Papa Tio dan Mama Eva, sementara 15 lainnya keluar membantu para mafia menyerang musuh.


Anggota Jevarck ikut keluar membantu Ansel, karena mereka melihat 15 orang, mantan rekannya baru keluar dari dalam gudang.


13 orang yang ikut Ardolp semuanya membawah senjata tajam, begitu juga dengan 15 orang yang baru keluar dari gudang itu.


Sementara untuk Ansel dan rekan-rekannya tadi hanya membawah pistol.


Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍


________________________Like Vote Dan Komen


________________________


Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.


Wuland4ri_05


Facebook

__ADS_1


Wulan


__ADS_2