Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Tangan Kanan Ansel


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, seperti permintaan Ansel putranya, Papa Robert meminta Vero untuk berkunjung ke mansionnya, ini kunjungan pertama Vero ke mansion Ansel, karena dari awal Papa Robert merahasiakan semua masa lalunya dari keluarga tapi tidak untuk saat ini, Papa Robert sangat bersyukur karena sang istri mau memaafkannya.


'Ting Tong' Bell pintu berbunyi Ririn berlari untuk membuka pintu, mata itu membulat sempurna saat melihat paras tampan pria di depannya.


"Kenapa penghuni disini tampan-tampan sekali, kemarin teman Tuan Ansel, dan sekarang siapa dia?" batin Ririn.


"Tuan Robertnya ada?" tanya Vero, ia menatap sekiling mansion yang terlihat begitu mewah.


Lamunan Ririn hilang dengan sekejap saat mendengar suara Vero.


"Ada Tuan, silahkan masuk!" Ririn mempersilahkan duduk dan berlalu memanggil majikannya.


Kebetulan Papa Robert sedang berkumpul di ruang keluarga dengan besannya.


"Tuan di luar ada tamu yang mencari anda." ucap Ririn dengan sopan, ia pun berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman.


Papa Robert berdiri. " Ayo Sel mungkin itu Vero." ajak Papa Robert.


Ansel ikut berdiri, keduanya berjalan menuju ruang tamu, dari jauh Vero melihat pria parubaya yang sudah berjasa di hidupnya pun beranjak berdiri.


"Selamat Sore Tuan Robert." ucap Vero dengan sopan.


"Sore Nak Vero, jangan memanggil dengan sebutan Tuan panggil saja Om." pinta Papa Robert.


Papa Robert dan Vero mendudukkan dirinya di sofa, sementara Ansel masih berdiri menatap tamu pria itu lekat-lekat.


"Saya sepertinya pernah melihat kamu, tapi dimana ya." ucap Ansel menginggat-ingat.


"Oh ya kamu pria yang duduk berdua dengan Bella di food Court itu bukan?" tanya Ansel pada Vero.


"Duduk dulu nak, jangan berdiri begitu." pinta Papa Robert pada Ansel.


Ansel mengangguk, ia pun duduk di samping Papanya.


"Benarkah maaf saya lupa, tapi teman saya yang bernama Bella banyak." ucap Vero karena dirinya juga tidak tahu Bella mana yang di maksud oleh Ansel.


Obrolan terhenti saat Ririn membawakan minuman dan camilan untuk ketiga pria ini.


"Silahkan nak." ucap Papa Robert.


Untuk menghargai pemilik mansion Vero meminumnya sedikit, disusul Papa Robert dan juga Ansel.


"Sudahlah yang tadi tidak usah di bahas, Pa katakan padanya sekarang." pinta Ansel, moodnya tiba-tiba hancur saat melihat pria di hadapannya saat ini, sesempit itukah dunia, dari banyaknya nama Vero kenapa harus pria ini yang akan menjadi tangan kanannya.


"Begini nak Vero, sebelumnya Om mau meminta maaf terlebih dulu, Om ingin menawarkan sesuatu hal padamu, apa kamu mau dan siap menjadi orang kepercayaan putra saya Ansel?" tanya Papa Robert dengan sungkan, padahal Vero juga seorang pembisnis.


Tanpa perlu berfikir lagi Vero langsung menjawab.


"Tentu Om saya mau, saya akan mengabdikan diri saya pada keluarga Om." ucap Vero dengan mantap.


Hal yang dari dulu Vero nanti-nanti tercapai juga, akhirnya dia bisa mengunakan skillnya untuk melindungi keluarga yang begitu berarti di hati Vero.

__ADS_1


"Terima kasih nak Vero." ucap Papa Robert begitu senang.


"Tapi saya tidak bisa tinggal disini Om, karena Mama saya hanya sendirian saja." ucap Vero.


"Lebih baik seperti itu." batin Ansel.


Memang dasarnya Gangster bucin, istrinya tidak berada disana saja sudah cemburu seperti itu.


"Tidak apa-apa nak." ucap Papa Robert.


"Besok kamu sudah mulai bekerja, siapkan dirimu kita akan pergi ke Prancis besok pagi." ucap Ansel.


Vero sedikit kaget, tapi setelahnya mengiyakan.


"Baiklah saya siap." ucap Vero.


"Kamu jangan pulang dulu nak, kita makan malam bersama." ajak Papa Robert.


"Maaf Om saya tidak bisa, saya masih ada perlu." ucap Vero.


"Baiklah kalau begitu, sekali lagi Om ucapkan terima kasih nak." ucap Papa Robert.


"Sama-sama Om, saya permisi dulu, mari Tuan." pamit Vero pada keduanya.


Papa Robert tersenyum dan mengangguk.


"Pa memang tidak ada yang lain, selain pria itu?" tanya Ansel setelah tamunya pergi.


"Tidak ada, dia yang terbaik." jawab Papa Robert.


"Kamu salah lihat mungkin, buktinya Vero tidak mengenal Bella." ucap Papa Robert, ia berdiri meninggalkan putranya yang terlihat bertambah kesal.


Ansel mengacak-acak rambutnya, belum apa-apa sudah membuatnya kawatir.


Di sisi lain kelompok Red Blood mendapat penyerangan dari 4 anggota Jevarck, mereka meminta anggota Red Blood untuk memberitahukan dimana keberadaan Damien saat ini.


"Brengsek, kami tidak tahu dimana Damien, kalian jangan main-main dengan kami." ucap salah satu anggota Red Blood.


Ardolp tersenyum miring. "Pembohong, kalau berani lawan kami dengan tangan kosong." ucap Ardolp membuang senjata yang ia pegang, disusul Sea, Kaya dan Grisham.


Saat itu anggota Red Blood hanya ada sekitar 8 orangan.


"Kalian menantang kami." ucap anggota Red Blood, 8 orang ini terpancing mereka membuang senjata mereka.


Tanpa anggota Red Blood ketahui Sea menyimpan pistol andalannya yang ia sembunyikan di sakunya.


8 anggota Red Blood berlari menyerang Ardolp, Sea, Kaya dan Grisham, masing-masing mendapat jatah dua orang.


Perkelahian tanpa senjata pun tak terhindari, anggota Red Blood mendapat banyak pukulan dari ke empat pria tampan ini hingga membuat 8 orang ini terjungkal-jungkal, merasa mendapat jalan dengan cepat Sea menembakkan peluru biusnya ke masing-masing lawan membuat 8 orang ini langsung terkapar.


"Kita ambil senjata mereka." ucap Ardolp.

__ADS_1


Meskipun tidak mendapatkan info tentang Bella, ke empat anggota Jevarck ini masih bisa mendapat rampasan senjata, ke empatnya pergi begitu saja meninggalkan 8 orang yang sedang pingsan.


"Bagaimana ini hal yang paling aku takutkan terjadi juga." ucap Ardolp, saat ini ke empatnya sudah berada di markas mereka.


"Kamu sungguh mencintainya kawan?" tanya Grisham pada Ardolp.


Ardolp tersenyum. "Entahlah, mungkin ucapanmu benar adanya." jawab Ardolp.


Ketiganya membuang badan mereka di sofa, saat mendengar ucapan Ardolp.


Dari ke empatnya hanya Ardolp yang berani terang-terangan, padahal dulu dialah yang paling susah untuk terbuka dengan rekannya, tapi sekarang malah sebaliknya justru yang biasanya blak-blakan kini malah berlomba-lomba memendam perasaannya.


*


Malam mulai berganti dengan pagi, pagi-pagi sekali Vero sudah berada di mansion Ansel.


"Selamat pagi Tuan." ucap Vero dengan sopan.


Ansel hanya mengangguk.


"Mana barang bawahanmu, kita belum tahu berapa lama kita disana, bisa jadi seminggu atau sebulan bahkan bisa lebih." ucap Ansel pada Vero.


"Sudah Tuan semuanya sudah saya siapkan." ucap Vero.


"Bagus, Ma Pa Ansel berangkat doakan yang terbaik." pamit Ansel pada kedua orang tua dan mertuanya.


"Hati-hati, jaga diri kalian baik-baik." ucap Papa Robert.


"Arka Kakak percayakan semuanya sama kamu." ucap Ansel menepuk bahu Adiknya.


"Baik Kak, Kakak hati-hati disana." ucap Arka memeluk Ansel.


Kepergian Ansel pagi ini menjadi tanggis haru bagi keluarga, mereka menaruh harap pada seorang Ansel, semoga Bella bisa pulang dengan keadaan baik-baik saja, begitu juga dengan Ansel dan teman-temannya.


Keduanya berangkat ke bandara tanpa sarapan, karena di pesawat semuanya sudah ada.


Mobil pun melesat cukup kencang, karena jalanan masih normal tidak terlalu ramai.


Akhirnya keduanya sampai di bandara, disana sudah ada Felix, Mads dan juga Garvin.


"Lama sekali." ucap Mads, seperti biasa tikus ini selalu memulai.


Ansel mendengus, dia tidak tertarik membalas ucapan Mads.


"Kenalkan ini Vero, Vero mereka sahabatku." ucap Ansel.


Vero membungkukkan badannya memberi hormat.


"Jangan seperti itu, biasa saja kawan." ucap Garvin.


"Jangan banyak bicara, ayo cepat." ucap Mads berjalan mendahului.

__ADS_1


Keempat nya hanya tersenyum sembari menggeleng, mereka berjalan menyusul Mads yang sudah menjauh.


Jangan Lupa Tekan Like dan Vote 😘🥰


__ADS_2