
Setelah makan malam usai, Bella meminta putrinya Stella untuk menemuinya di taman.
"Ada apa Ma, apa Mama sudah membicarakannya dengan Papa?" gadis cantik itu duduk di samping Bella. berharap sang Mama membawah kabar baik.
Bella menatap putrinya dengan tatapan sendu, Stella sudah bisa menebak jika Papanya menolak memberikan izin. seketika itu juga gadis cantik itu menangis, harapannya bertemu dengan Damien musnah sudah.
"Eh kenapa menangis, Papa menyetujuinya sayang." Bella membawa sang putri kepelukannya, tujuannya tadi hanya menggoda Stella tahu-tahunya sang putri malah menangis sesenggukkan seperti ini.
"Mama serius?" Setella mengurai pelukannya. tangisan Stella seketika terhenti berganti dengan senyuman membuat Bella menepuk jidatnya.
"Astaga Stella, Mama serius sayang." Bella tersenyum, ia kembali memeluk putri sulungnya.
"Tapi Stella harus berjanji pada Mama dan Papa, kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh, tidak ada cinta-cintaan jangan buat Mama dan Papa kecewa kamu mengerti?" Bella mengelus kepala putrinya dengan sayang.
"Mengerti Ma, tapi Stella akan tinggal bersama Om Dam kan?" tanya Stella.
"Heemmm."
Mendengar jawaban sang Mama membuat gadis itu bahagia. Stella memberikan beberapa kecupan di pipi kiri dan kanan Bella, membuat wanita itu mengeleng melihat tingkah putrinya tanpa memiliki rasa curiga sedikit pun.
"Ekhem sudah malam, waktunya untuk tidur." suara Ansel mengagetkan kedua wanita spesial di hidupnya.
"Papa.." Stella beranjak langsung menghambur ke pelukan Papanya Ansel.
"Terima kasih Pa sudah mengizinkan Stella kuliah disana." ucap Stella mengeratkan pelukannya.
Ansel mengecup puncak kepala putrinya. "Sama-sama sayang sekarang sudah malam waktunya beristirahat, Mama sini." Ansel mengayunkan tangannya memanggil sang istri.
Ketiga orang ini berjalan saling memeluk, sedang posisi Ansel berada di tengah-tengah.
...
"Sayang putri kita terlihat bahagia sekali." Bella memeluk suaminya dengan erat keduanya saat ini sudah berada di kamar pribadi mereka.
"Iya Ma, semoga Stella tidak mengecewakan kita ya Ma, aku akan mewanti-wanti Damien agar benar-benar menjaga putri kita." Ansel tak kalah erat memeluk istrinya.
"Iya Pa.." Bella hampir saja memejamkan mata, suara Ansel kembali terdengar.
"Ma malam ini sangat dingin ya?" Ansel memberi kode.
"Heeeemm." Bella menjawabnya dengan deheman saja, karena mata lentik itu mulai mengantuk.
"Kok heem sih sayang." Ansel sedikit menunduk mengintip sang istri. ternyata Bella sudah terlelap, gairah bercinta yang awalnya menggebu seketika lenyap.
"Puasa lagi malam ini." gerutu Ansel.
Pria itu memaksa menutup matanya, tidak lama Ansel juga ikut terlelap sembari mendekap istrinya.
__ADS_1
Matahari mulai terbit dari ufuk timur, membuat wanita cantik ini mengerjap, karna merasa terganggu saat sinar pantulan memaksa menerobos masuk melalui celah-celah gorden.
"Hoammm." Bella menguap, ia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Tidak lama Ansel ikut terbangun saat merasa guling tersayangnya menghilang. terdengar suara kucuran air shower dari kamar mandi, itu artinya sang istri sedang berada disana. Ansel beranjak duduk dan bersandar di ranjang king sizenya. ia mengambil ponsel di atas nakas, rencana pagi ini Ansel akan menelpon Damien.
'Tuuuuutttt Tuuuuut' panggilan tersambung.
"Hallo.." terdengar suara serak khas bangun tidur dari sebrang sana.
"Damien, aku ingin bicara serius denganmu."
"Hah.." seketika itu juga Damien terbangun, beranjak dari ranjangnya menuju balkon dengan muka bantalnya.
"Katakan mau bicara apa, sepertinya serius sekali." ucap Damien kembali saat tidak mendengar suara apapun.
Sepertinya Ansel sangat berat membicarakan hal ini pada Damien tapi saat menginggat kebahagian putrinya tadi malam, membuat pria itu mulai membuka suaranya kembali.
"Dam Stella tiba-tiba memohon pada ku agar bisa kuliah disana." suara Ansel terdengar berat saat mengatakannya.
"Hah, maksudnya kuliah disini?" tanya Damien dengan nada terkejut.
"Iya, aku sudah memberikannya izin. dua hari lagi dia akan terbang ke Prancis, aku minta padamu rawat dan jaga Stella disana, aku titip putriku padamu." jawab Ansel.
Disebrang sana terdengar hembusan nafas kasar, sebenarnya apa tujuan Stella meminta kuliah di negara yang saat ini dirinya tempati. Damien sudah hafal bagaimana sifat gadis itu.
"Baiklah aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku." ucap Damien.
"Telpon siapa Pa?" tanya Bella, kedua alis itu terpaut menatap penuh curiga.
"Damien Ma." jawab Ansel dengan jujur.
Ansel beranjak dari ranjang menghampiri istrinya, memeluk Bella dari belakang.
"Kenapa Papa buru-buru mematikannya, seperti orang ketakutan begitu?" tanya Bella dengan nada sewot.
Wanita itu tidak percaya jika sang suami menelpon Damien. Bella berfikiran jika suaminya sedang menghibungi wanita lain diam-diam di belakangnya.
Ansel mencium rambut Bella beraroma milk yang sangat di sukainya. "Aku takut dia mendengar suara mu sayang. aku takut dia menanyakanmu, kamu tahu bukan suamimu sangat tidak suka jika istrinya di ganggu pria lain." bisik Ansel mesra.
Bisikan dari Ansel membuat Bella tersenyum, wajah wanita itu seketika bersemu merah.
"Baiklah aku percaya padamu, sekarang Papa mandi gih nanti telat ke kantornya." Bella mengurai pelukannya.
"Baik Nyonya Bella Audonia Guinandra." ucap Ansel berlalu menuju kamar mandi.
Bella mengelengkan kepala mendengar ucapan suaminya. wanita itu mulai mengeringkan rambut dan merapikannya lalu berjalan ke arah wardrobe menyiapkan baju untuk suaminya ke kantor. setelahnya Bella turun menuju dapur membantu Ririn menyiapkan sarapan pagi ini.
__ADS_1
Ririn sudah berkeluarga, suaminya juga di pekerjakan disini menjadi supir pribadi Ansel, sementara putranya yang usianya di bawah si twins lebih memilih tinggal bersama neneknya di desa.
"Rin masak apa pagi ini?" Bella tiba-tiba datang mengagetkan Ririn yang sedang memasak.
"Masak nasi goreng Nyonya." jawab Ririn.
"Biar saya lanjutkan, kamu bisa menyiapkan piring-piringnya." ucap Bella.
"Baik Nyonya." Ririn berlalu pergi.
Sarapan pagi sudah siap, Bella berjalan ke atas meminta sang suami untuk turun.
"Papa, sarapan sudah siap." Bella tidak masuk dia hanya melonggokkan kepalanya ke dalam kamar, membuat Ansel tertawa.
"Istriku suka mengintip sekarang." ucap Ansel, ia sedang merapikan bajunya.
Bella tersenyum. "Aku membangunkan anak-anak dulu Pa." ia kembali menutup pintu dan berlalu ke kamar twins dan Stella.
Keluarga bahagia ini sudah berkumpul di meja makan, semuanya makan dengan sangat lahap karena pagi ini Bella memasak nasi goreng favorit keluarga.
"Ma Pa kita berangkat dulu." kedua twins pamit dengan serempak, mencium kedua pipi orang tuanya.
"Hati-hati sayang." ucap Bella.
"Apa perlu Papa antar?" tanya Ansel pada kedua putra putrinya.
"Tidak perlu Pa, kita berangkat dengan Pak supir saja." ucap Azzam.
Kedua twins pun berlalu membiarkan sang Kakak cemberut, padahal dari tadi Stella menyodorkan pipinya pada kedua adiknya.
"Cup, jangan sedih Papa berangkat dulu." Ansel mencium pipi putri sulungnya, setelahnya ia berlalu menghampiri sang istri.
"Papa berangkat dulu Ma." Ansel memberikan tangannya untuk di gandeng, Bella tersenyum ia ikut keluar mengantar sang suami sampai pintu.
Ansel menatap sekitar nampak sepi, dengan cepat pria itu memberikan kecupan selamat pagi di bibir istrinya.
"Papa berangkat." Ansel mengelus kepala Bella.
Bella tersenyum, sudah menjadi kebiasaan suaminya sebelum berangkat ke kantor. "Hati-hati Pa."
Ansel mengangguk, mobil Ansel pun melaju meninggalkan mansion.
Bersambung...
Hai-hai readers tersayang
"Om Damien Mine"
__ADS_1
Di tunggu
LIKE, VOTE DAN KOMENNYA