Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 16


__ADS_3

Keesokan paginya Stella bangun pagi-pagi sekali, hari ini gadis itu terlihat sangat bersemangat, usai keluar dari kamar mandi Stella berlari menuju lantai atas, dimana kamar kekasihnya berada, rasanya Stella ingin tertawa menginggat status barunya dengan Om kesayangannya.


Stella masuk tanpa mengetuk pintu, ia kembali menutup pintunya takut seseorang melihatnya, nampak Damien masih terlelap berbalut selimut tebal, dengan iseng Stella berlari ke arah Damien, mendudukan dirinya tepat di atas tubuh Damien, sementara Damien tidak merespon ia masih terlelap dalam tidurnya.


Melihat Damien tidak berkutik, Stella merangkak ke atas tubuh kekar itu, membisikkan sesuatu pada Om nya. "Om Dam bangun." gadis itu tidak mengerti jika kelakuannya membuat tubuh Damien menegang.


Ya Damien sudah terjaga dari tadi, ia berpura-pura tidur hanya untuk mengoda Stella, tidak di sangka-sangka gadis nakalnya seberani ini, gerakan Stella di atas tubuhnya membuat pusaka miliknya menegang.


Dengan cepat Damien merubah posisinya, kini Stella berada di bawah kungkungannya.


"Om sudah bangun?" Stella menunjukkan senyum tanpa dosanya.


"Iya semuanya bangun sayang." jawab Damien dengan suara serak.


"Hanya Stella dan Om Dam yang bangun, Oppa belum bangun, Om Robby juga belum bangun." ucapnya dengan polos.


Damien memejamkan matanya sembari tersenyum, ucapan polos Stella membuatnya ingin tertawa, beginikah rasanya memiliki kekasih yang sangat polos pikir Damien.


"Benarkah, memang pukul berapa sekarang?" Damien membuang tubuhnya di samping Stella, gairahnya seketika surut melihat kepolosan gadis di sampingnya.


"Benar Om, masih pukul 5 pagi." jawab Stella terkekeh.


"Astaga sayang, kenapa kamu bangun sepagi ini?" Damien tidur miring menghadap Stella, begitu juga dengan Stella.


"Stella sudah tidak sabar Om berjumpa dengan Mama, Papa dan juga Twins." Stella lebih mendekat, ia membenamkan wajahnya di dada bidang milik Damien.


"S-sayang jangan seperti ini." ucap Damien gelagapan.


"Kenapa, dulu aku sering seperti ini, sebelum tidur Stella selalu memeluk Om, Stella kangen bobok sama Om." ucap Stella dengan manja dan semakin mengeratkan pelukannya.


Damien mengontrol nafasnya yang mulai memburu, entah kenapa bila berdekatan dengan Stella miliknya selalu berontak, apalagi jika saling bersentuhan seperti sekarang ini, Damien berusaha menjelaskan pada Stella, agar gadis nakalnya mengerti dan segera pergi.


"Saat ini situasinya berbeda sayang, kamu sudah menjadi kekasih Om, kamu tahu bukan apa artinya kekasih? kamu tahu apa yang di lakukan sepasang kekasih bila berdua di dalam kamar."


Mendengar ucapan Om nya Stella langsung menjaga jarak. "Ih Om mesum."


Damien terkekeh mendengar Stella menyebutnya Om mesum. "Lebih baik Stella keluar dari kamar Om, sebelum terjadi sesuatu padamu." ancam Damien sembari tersenyum mengoda.

__ADS_1


"Hiiiih apa'an sih Om." Stella beranjak dari ranjang lalu berlari keluar meninggalkan kamar Damien.


"Shiiitt .." Damien memegang si joni yang dari tadi berdenyut hebat, ia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.


Waktu terus berputar, kini semua orang tengah bersiap menuju landasan penerbangan milik Damien, dengan berat hati Damien harus meninggalkan sang Papa di mansion, tapi tetap dengan memperketat penjagaan.


"Papa baik-baik ya disini, Dam pergi hanya 5 hari saja, penjagaan mansion sudah Dam perketat, jangan keluar kalau tidak penting, ingat pesan Dam Pa." entah kenapa hati Damien terasa sangat berat saat meninggalkan Papanya kali ini.


"Iya Dam, jangan kawatir nak."


"Oppa Stella pergi dulu." dua kecupan Stella berikan pada Oppa nya.


Mata Papa Daniel tiba-tiba berkaca-kaca, perasaannya tidak enak kali ini, ia merasa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan putra semata wayangnya dan cucu satu-satunya.


"Hati-hati cucu Oppa." Papa Daniel mencium kening Stella, seketika itu juga airmatanya menetes, beliau sudah menganggap Stella seperti cucunya sendiri, melihat putranya yang tak kunjung menikah membuat Papa Daniel bersedih, padahal beliau sangat menginginkan cucu, kesedihannya berubah menjadi kebahagiaan ketika putranya sering membawah Stella kecil ke mansion, Stella kecil sudah menjadi obat kegundahan hatinya.


Damien dan Stella serta Robby melangkahkan kakinya menuju mobil, meninggalkan Papa Daniel yang nampak bersedih, setelah mobil terlihat menjauh, Papa Daniel menatap sekitar, dalam hitungan detik mansionnya sudah terkepung banyak pengawal, putranya benar-benar memperketat keamaan mansion, pria itu benar-benar tidak ingin terjadi hal buruk pada Papanya.


Semua orang saat ini sudah berada di dalam pesawat, kedua pesawat akhirnya lepas landas menuju negara kelahiran Stella, gadis itu terus menampakkan senyum manisnya, sedangkan Damien pria itu terus melamun, meskipun raganya sudah meninggalkan negara Prancis, tapi entah kenapa fikirannya berada disana, ia masih memikirkan sang Papa.


Di tempat lain tepatnya di markas Cartel Sinaloa, pria parubaya yang nampak masih gagah ini duduk di kursi kebesarannya dengan mengangkat satu kakinya, di jari kanan terselip putung rokok yang menyala, tak lama datang satu rekannya, sebelum melapor ia menunduk hormat kepada pemimpin mafia yang begitu di hormati oleh seluruh anggota Cartel.


Gent membuang putung rokok dan menginjaknya dengan sepatu pantofel miliknya, pria itu menegakkan tubuh menatap nyalang rekan yang berdiri di depannya.


"Katakan!"


"Damien dan Robby serta Red Blood sudah meninggalkan negara Prancis." jawab rekannya.


Mata elang yang terlihat penuh dendam itu seketika berbinar, senyuman smirk penuh dengan ancaman nampak menakutkan bagi siapapun yang melihatnya.


"Lakukan rencana kita!" suruh Gent pada rekannya.


Rekan Gent mengangguk, menunduk hormat sebelum meninggalkan pria menakutkan itu.


"Dru lakukan tugasmu sekarang!"


Dru segera pergi meninggalkan markas membawah beberapa rekannya, 2 mobil melaju membelah jalanan kota Paris, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan, hanya dua orang yang turun dari mobil, sebelum melakukan misinya keduanya memperhatikan sekitar, setelah di rasa aman, kedua pria itu menerobos memasuki mansion yang tidak begitu besar, hingga mengagetkan para penghuni yang sedang bersantai.

__ADS_1


"Siapa kalian?" tanya wanita parubaya yang sedang bersantai dengan kedua putrinya, putrinya yang sulung kira-kira berusia 18 tahun sedangkan yang bungsu baru berusia 10 tahun, ketiganya ketakutan melihat kedua pria asing yang tiba-tiba masuk ke mansion mereka.


Tanpa menjawab pertanyaan wanita itu, kedua pria langsung membekap kedua wanita yang saling memeluk satu sama lain, sementara gadis kecil putri paling bungsu hanya bisa menangis dan memukul-mukul salah satu dari mereka.


"Jangan sakiti Mama dan Kakak, lepaskan mereka." ucap gadis itu menangis sesenggukkan.


Kedua wanita dewasa itu berhasil di ikat di kursi ruang tamu, sementara gadis kecil itu hanya di rangkul dari belakang sembari di todong pistol di kepalanya, membuat kedua wanita dewasa itu menjerit histeris.


"Tolong jangan apa-apakan putri ku." teriak Ibu dari kedua anak itu.


"Adiiikkk, hiks hiks." Kakaknya hanya bisa menangis histeris.


"Kalian akan selamat jika kalian mau menuruti perintah kita." ucap salah satu rekan Dru.


"Baik kami akan melakukan apapun, tapi tolong jangan sakiti kami." ucap Ibu itu.


Rekan Dru mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


'Tuuuuuuuttt' tidak lama telpon tersambung.


"Hallo siapa ini?" terdengar suara pria dari sebrang.


Rekan Dru langsung menganti panggilan suara dengan panggilan video, dia menunjukkan gambar istri dan kedua putrinya yang terlihat nampak menyedihkan.


"Papa.."


"Suamiku.." panggil ketiga wanita itu.


"Brengsek kalian apakan keluarga ku?" teriak pria di sebrang sana, tangannya mengepal erat melihat orang-orang yang ia sayangi tersakiti.


"Hahahahaha aku akan membebaskan istri dan anak-anak mu, tapi kamu harus menuruti semua perintah ku."


"Cepat katakan, apa yang kalian inginkan?" pria itu terlihat murka nampak dari matanya yang memerah.


"Pancing bos kalian Daniel agar keluar dari mansionnya, aku tunggu 5 menit, segera kirim kabar padaku." perintah rekan Dru, langsung menutup telponnya secara sepihak.


Kalian ingin tahu siapa yang mereka ancam? pria itu salah satu pekerja di perusahaan Damien, lebih tepatnya sekertaris Robby, ini cara mereka agar Papa Daniel bisa keluar dari mansionnya, karena tidak mungkin mereka langsung menyerang mansion Damien, penjagaan disana sangat ketat, mereka tidak mungkin mengundang kericuhan yang akan menimbulkan dampak besar yang bisa merugikan kelompok mafia mereka sendiri.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2