Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 08


__ADS_3

"Bos.." Robby datang mengagetkan Damien.


"Bagaimana?" Damien langsung berdiri, dia sangat penasaran dengan hasil penyelidikan Robby, semoga hasilnya tidak mengecewakan.


Sebelum memulainya Robby membuang nafas dalam-dalam. "Maaf Bos tidak ada bukti yang kita temukan. rekaman cctv yang berada di resto detik dimana Bos menghilang sudah terhapus. begitu juga rekaman cctv di hotel itu. sepertinya pelaku sudah merencanakan hal ini dengan matang." jawab Robby.


"Brengsek, tidak bisakah kamu mengancam pekerja disana?" ucap Damien geram.


"Mereka tetap tidak ingin mengaku bos." jawab Robby menunduk takut.


"Apa aku harus meminta bantuan teman-teman gangster." batin Damien.


Sudah lama Damien vakum di dunia gangster karena menepati janjinya pada sang Papa, haruskah ia kembali kedunia itu tanpa sepengetahuan sang Papa? Damien nampak kacau saat ini.


"Kita tunggu sampai besok saja Bos, jika ada berita yang tidak benar beredar saya akan bertindak dengan cepat." ucap Robby.


"Baiklah, untuk masalah teror Stella sudah tahukah kamu siapa pelakunya?"


"Belum Bos, sepertinya teror ini akan terus berlanjut. kita biarkan saja dulu, agar kita tahu apa tujuan mereka meneror Nona Stella, kita kumpulkan bukti-bukti yang mereka kirim, dari situ kita akan tahu tujuan mereka." jawab Robby.


"Bagus, aku serahkan semuanya padamu."


Percakapan keduanya terputus saat asisten Leri mengedor pintu dari luar dengan sangat keras.


"Tuan, Tuan.."


Damien terkejut, dia berlari dan segera membuka pintunya. "Ada apa?" alis Damien menukik tajam.


"Ma-maaf Tuan, Nona Stella mendapat kiriman kado lagi." dengan tangan gemetar Leri menyerahkan kotak kado itu pada Damien.


Padahal saat ini sudah pukul 8 malam, tapi masih ada saja yang mengirim paket malam-malam begini.


"Baiklah, kamu boleh pergi." Damien membawah kotak itu masuk.


Dengan rasa penasaran keduanya membuka kotak itu, seketika bau bangkai menyeruak membuat keduanya mual.

__ADS_1


"Hoek.." Damien berlari ke kamar mandi menumpahkan semua isi perutnya.


Robby memencet hidungnya berusaha menahan mual. disana terdapat kertas dengan tulisan warna merah yang berisi 'HUTANG NYAWA HARUS DI BAYAR DENGAN NYAWA' Robby dengan cepat memotretnya dan kembali menutup kotak itu lalu membawah kotak bangkai keluar dari mansion.


"Pak sini." Robby memanggil salah satu pengawal.


"Ya Tuan."


"Tolong kubur bangkai ini di tempat yang jauh." suruh Robby.


"Baik Tuan." pengawal itu langsung melaksanakan tugasnya sedangkan Robby kembali ke ruang kerja Bosnya.


Ruangan kerja yang tadinya berbau bangkai kini menjadi wanggi, tubuh Damien terkulai lemas di atas sofa setelah mengeluarkan semua isi perutnya.


"Bos tidak apa-apa?" tanya Robby.


Damien mengeleng. "Aku sudah baikan." Robby duduk di samping Bosnya.


"Bos saya menemukan ini di dalam kotak tadi." Robby menyerahkan ponselnya pada Damien.


Damien membacanya, seketika tangannya mengepal. siapa yang melakukan teror ini? apa ada hubungannya dengan musuh di masa lalunya.


"Siap Bos."


"Kamu boleh pergi Rob." ucap Damien sembari memijat pelipisnya.


Robby mengangguk pria itu menatap Bosnya dengan prihatin. masalah satu belum selesai datang masalah baru lagi.


Di Kamar Stella


Gadis itu tidak bisa tidur. ia memikirkan teror yang di terimanya tadi siang. siapa yang ingin membuat masalah dengannya sama saja berniat menghancurkan hidupnya sendiri.


Sifat Stella memang lembut di luar ,tapi keras di dalam, berbeda dengan Bella, sifat Mamanya keras di luar tapi lembut di dalam, meskipun Stella mencoba menutup mata, tetap saja gadis itu tidak bisa terlelap, Stella beranjak dari ranjang, ia ingin menghampiri Om nya, pasti Om nya masih berada di ruang kerjanya.


Stella masuk tanpa mengetuk pintu, itu sudah menjadi kebiasaannya, di lihatnya Damien tertidur dengan posisi duduk, Stella menghampiri Om nya, di tatap wajah Om nya yang terlihat awet muda itu, dari mata ke hidung dan berlalu ke bibir, bibir Stella melengkung sempurna saat membayangkan bibir sensual itu menempel di bibirnya, ia jadi geli sendiri karena berani berfikiran mesum.

__ADS_1


Gadis itu tidak sadar jika pria di hadapannya sudah terbangun. "Apa yang kamu lihat?" tanya Damien membuyarkan lamunan Stella.


"O-Om kapan bangun?" tanya Stella gelagapan.


Damien menegakkan posisi duduknya, pria itu tersenyum, ia berusaha mengontrol detak jantungnya yang mulai berdetak tak karuan.


"Baru saja." jawab Damien sembari tersenyum.


Tubuh Stella membeku, ia terpanah melihat senyuman menawan milik Om nya, tanpa sadar mata itu terus tertuju pada bibir Damien, begitu juga dengan Damien. keduanya sama-sama menikmati karya seni ciptaan tuhan yang sangat indah, tanpa keduanya sadar, Damien dan Stella saling mendekat dengan mata terpejam, seperti ada pantulan magnet yang menarik diri keduanya, sebelum bibir keduanya menempel otak Damien yang masih jernih seketika kembali.


"Kenapa kamu tidak tidur?" Damien mengapit kedua pipi Stella membuat gadis itu membuka matanya.


"Em aku tidak bisa tidur." jawab Stella, wajahnya mengungkapkan rasa kecewa.


"Mau Om bacakan dongeng?"


"Ih Stella sudah besar ya Om, Stella bukan anak kecil lagi." Stella bersendekap dada dengan bibir cemberut.


"Oh ya? coba buktikan." Damien mulai mengoda Stella, sudah lama dia tidak mengoda gadis kecilnya.


"Cup.." Stella berlari keluar setelah mengecup bibir Damien sekilas.


Tubuh Damien membeku, tiba-tiba celananya terasa begitu sesak, ya terjadi lagi. Stella membuat miliknya berfungsi.


"Eshhhhh sial .." desah Damien, lagi-lagi dia harus mendinginkan tubuhnya yang mulai memanas, sangat tersiksa sekali rasanya harus seperti ini, bayangkan saja semua teman-temannya setiap hari bisa menggali ladang milik istrinya, bahkan bibit yang mereka tanam sudah beberapa kali panen, tapi lihat nasip pria malang ini, Joni telah mempermainkan dirinya, nasip Joni pun sama, Ibu dan Anak itu sama saja suka memainkan perasaan Joni.


Selepas mendinginkan tubuhnya, dia keluar dari ruang kerja menuju kamar pribadinya, Damien langsung melompat ke atas tempat tidur, pria itu senyum-senyum sendiri, bagaimana jika Stella jodohnya? sangat lucu bukan jika itu sampai terjadi, mungkin dirinya harus bersusah payah membujuk kedua orang tua Stella untuk meminta restu, Damien tidak bisa membayangkan jika Ansel tahu, pasti 20 butir peluru langsung menembus ke seluruh organ tubuhnya.


"Hahaha sial, mungkin dengan menerima Arrabel aku bisa membuang perasaan gila ini." monolog Damien



Setelah mencuri kecupan dari bibir Om nya, Stella benar-benar tidak bisa tidur, gadis itu terus berguling-guling dengan senyuman yang terus terpancar di bibirnya.


"Apa aku keterlaluan ya? biarlah cinta kan butuh perjuangan, aku akan perjuangkan cinta ku sampai dapat." Stella memeluk gulingnya dengan erat.

__ADS_1


Malam ini kedua anak manusia itu sama-sama tidak bisa memejamkan matanya, cinta semacam misteri tidak tahu kapan datangnya, tidak tahu pula kapan perginya, cinta juga tidak bisa di tebak, seperti hati manusia, tidak mudah untuk di tebak, terkadang hati dan ucapan tidaklah sama, bahkan terkadang hati kitalah yang menjadi penghianat sejati.


Bersambung ...


__ADS_2