
Mata Azzura membulat menatap pemandangan yang begitu menyayat hati, ia melihat teman barunya Dewi mendapat perlakuan buruk dari teman sekelasnya, bahkan yang lebih mengejutkan lagi seorang siswa yang menjabat sebagai ketua kelas berada disana sedang menjambak rambut Dewi dengan kasar , tanpa basa-basi Azzura berlari menghampiri mereka, kaki jenjangnya mendarat sempurna di tangan Farel, membuat tangan lelaki itu terpelanting ke samping dengan sangat keras.
"Argh sialan siapa yang-." ucapannya terhenti, Farel mematung menatap orang yang berani menyerangnya.
"Tandingan Loe bukan dia tapi Gue." Azzura memasang kuda-kuda.
Farel tersadar akan keterkejutannya saat mendengar suara Azzura, ia kembali mengibaskan tangannya yang terasa nyeri.
"Oh brani Loe sama kita." tantang si kribo, maju melawan Azzura, sementara Mevi berlari entah kemana karena ketakutan.
Baru saja si Kribo ingin melawan, dengan cepat Azzura menendang tepat di tulang kakinya hingga membuat pria itu menjerit kesakitan.
"Argh Mama sakiiiiittt." ia berlari setengah pincang dan pergi meninggalkan dua sahabatnya, begitu juga si jabrik belum apa-apa pria itu sudah gemetaran dan bersembunyi di balik pohon besar, hal itu membuat Azzura tersenyum menyeringgai, senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di sekolahnya, sementara Farel mata lelaki itu tak pernah lepas menatap Azzura.
"Ayo sekarang giliran Loe." Azzura memasang kuda-kuda kembali, ia menantang Farel yang kini berjalan mendekatinya.
"Gue ngak mau adu jotos sama Loe, kecuali kita adu bibir." bisik Farel di akhir kalimat, lalu melewati Azzura begitu saja.
"Brengsek, beraninya dia." gerutu Azzura, matanya kini menatap tajam si Jabrik.
"Rel tunggu gue." Si jabrik berlari tanpa melihat ke depan membuat lelaki itu terjatuh di kubangan lumpur yang bercampur kotoran sapi.
Di belakang halaman sekolah memang tempat menganggon sapi milik tukang kebun yang bertugas menjaga sekolah. Pak Sukri namanya, ia mendapat izin karena halaman belakang sekolah termasuk lahan kosong dan tentu saja di batasi pagar yang menjulang tinggi, disana hanya ada satu pintu yang menembus sekolah yang biasa di lewati para siswa saat pulang.
"Aaaaaa tai sapi, huek.. huek." tubuh si Jabrik sudah tidak berbentuk lagi, ia berdiri sendiri dan berlari menyusul Farel.
"Hahaha...." Dewi yang tadinya menangis tertawa terpingkal-pingkal melihat kekonyolan si Jabrik.
"Astaga Dewi." Azzura menepuk jidatnya, lalu berjalan ke arah Dewi dan membantu gadis itu berdiri.
"Terima kasih Zura." ucap Dewi dengan tulus.
"Sama-sama."
*Di Ruang Bawah Tanah (Mansion Damien)
"Cetaaarr...mengakulah kau kan yang menyuruh suamimu untuk membunuh Papaku." kilatan amarah tergambar di wajah pria tampan yang sedang memegang sebuah cambuk.
"Aaarrrgghh sa-sakit ku mohon jangan, aku tidak tau apa-apa." ucap Calista berkilah.
"Sudah Om jangan mencambuknya terus, wanita itu bisa mati." ucap Dimitri.
"Aku tidak akan membiarkannya mati semudah itu mit." Damien membuang tali dengan kasar dan pergi meninggalkan Calista yang sudah tidak berdaya.
"Pengawal jangan biarkan wanita itu mati, beri dia makan." perintah Dimitri.
"Baik Tuan."
Dimitri dan Damien kembali ke mansion menemui ketiga rekannya yang mereka tinggalkan.
Di ruang tamu Lard sempat bercerita pada Lano dan Bray, di mall tadi ia hampir saja mengaet dua wanita seksi, tapi di gagalkan oleh Dimitri.
__ADS_1
"Brengsek si Mit berani dia mengagalkan usahaku, untung saja kita teman kalau tidak-."
"Kalau tidak apa?" Damitri yang baru datang bersama Damien menatap tajam Lard.
"Hehe tidak ada." ucap Lard cenggengesan.
"Oh ya Om, kemana ponakan Om yang cantik itu?" tanya Bray mengalihkan pembicaraan, baru saja Damien akan membuka mulut, Stella keluar dari dalam bersama Vero, sepertinya ia ingin pergi.
"Eh ada tamu ya." Stella terkejut, ia nampak sexy mengunakan span mini berwarna merah maron, di padupadankan dengan atasan crop berwarna putih, membuat gadis itu terlihat mengoda.
Bola mata ke empat pria yang duduk di ruang tamu seolah ingin lepas menatap kagum keponakan pemimpin Rick Devil itu, Damien melirik ke empat juniornya yang membuatnya merasa geram.
"Apa yang kalian lihat?" Damien menatap tajam keempatnya, mereka pun tersadar dan mengalihkan pandangan mereka ke Vero sebelum pria di hadapan mereka mengamuk.
Stella dengan cuek sibuk merapikan make upnya, sementara Vero hanya diam berdiri seperti manekin hidup
Damien segera berdiri dan menghampiri kekasihnya. " Mau kemana sayang?"
"Aku mau pergi sebentar Om, temen-temanku mengajak ku hang out sore ini."
"Bolehkah kami ikut Nona cantik?" Lard begitu percaya diri mengoda Stella, ia tanpa sadar membuat tanduk sang pawang keluar.
"Eheeemm." Damien berdehem keras, tak lupa tatapan tajam ia berikan pada Lard, membuat pria itu bersembunyi di balik punggung Lano, sementara yang lain hanya bisa terkekeh melihat kekonyolan dua orang itu.
"Sayang kau tidak boleh pergi dan kau Vero boleh pergi sekarang, tiga hari ke depan aku meliburkanmu."
Tapi-."
" Baik Tuan." Sebelum pergi Vero melirik Stella yang nampak kesal.
Stella berlari ke dalam, gadis itu menangis karena terlalu kesal dengan Om sekaligus kekasihnya.
"Apa sih maunya, dasar pria tua tampan." gerutu Stella di sepanjang langkahnya.
Ruang tamu
"Harusnya Om jangan terlalu mengekang Stella." suata Dimitri memecah keheningan.
"Ya benar katamu Mit, kan kasihan calon istriku." tambah Lard yang membuat Damien kembali geram.
"Kenapa dia menyeramkan sekali, aku hanya ingin mengoda keponakannya yang cantik itu." batin Lard.
"Itu bukan urusan kalian, lebih baik kalian istirahat."
"Iya Om kami lelah." Lard berdiri, bersiap melangkah ke dalam.
"Siapa yang menyuruhmu istirahat disini, sana pulang." usir Damien yang lelah meladeni Lard.
"Dasar jomblo akut, mencari kesempatan saja." batin Damien. (Sepertinya perjaka lapuk ini lupa jika pernah menjomblo selama 18 tahun)
Seperti biasa ke empat pria tampan itu mendapat perlakuan tidak enak dari Damien saat berkunjung ke mansion.
__ADS_1
"Lagi- lagi di usir." gerutu Lard, mulai berdiri dan keluar terlebih dahulu di ikuti yang lain.
"Sudah nasip kita, jangan di sesali." ucap Damitri di ikuti tawa ketiga rekannya.
Setelah merasa puas menghancurkan seluruh barang yang berada di ruang tamu, Derward menghampiri putranya yang sedang bersiap.
"Daddy akan ikut son." Derward mengambil satu buah pistol.
"Jqngan Dad lebih baik Dad di mansion saja, kesehatanmu jauh lebih penting." Albert tau Daddynya sedang tidak enak badan, ia akan sangat kawatir jika nanti terjadi sesuatu pada Daddynya.
"Daddy akan baik-baik saja son, Dad tidak akan tenang kalau hanya berdiam diri di dalam mansion." kekeh Derward, membuat Albert menghela nafas panjang.
"Baiklah, tapi Daddy harus lebih berhati-hati."
Derward tersenyum memandang sang putra, anak angkat yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.
"Son sebelum kita berangkat Daddy ingin berbicara denganmu." Damien hanya menjawabnya dengan anggukkan.
Albert dan Derward kini bersiap menghampiri rekan-rekannya yang sudah menunggu terlalu lama.
"Kita akan ke markas Rick Devil terlebih dulu." ucap Derward.
"Siap Gent." ucap rekannya dengan serempak.
Dua mobil fortuner terisi penuh para mafia, sementara satu mobil lagi untuk mengangkut senjata mereka, Dru yang mendapat job dari bandar narkoba terbesar di kota ini tidak bisa ikut serta.
"Apa benar Daddy baik-baik saja." Albert merasa kawatir melihat wajah sang Daddy nampak sedikit pucat.
"Daddy baik-baik saja son, sudahlah jangan berlebihan." Derward menatap lurus ke depan, tergambar gurat kecemasan di wajahnya.
Kini dua mobil fortuner dan satu mobil box sudah sampai di sekitar markas, mereka memilih berjalan kaki sambil menyiapkan beberapa senjata yang akan mereka gunakan, dengan mantap Derward berjalan paling depan, pria itu begitu menghawatirkan istri yang di cintainya.
Tidak jauh dari mereka nampak beberapa anggota Rick Devil terlihat sedang berjaga di depan markas, penjagaan kali begitu ketat karena sebelumnya Damien sudah memperkirakan jika kejadian ini akan terjadi, tanpa mengendap-endap Derward yang sudah tidak sabar langsung menghampiri dan menantang lawannya.
"Kalian sekap dimana istriku, cepat katakan." suara lantang Derward mengema di udara membuat para anggota Rick Devil terkejut, dengan sigap mereka menodongkan senjata pada tamu yang tak di undang itu, anggota Cartel juga tidak mau kalah, mereka dengan serempak juga mengangkat senjata masing-masing.
"Kalian tau ini apa?( Albert memyeringgai di tangannya terdapat bom atom yang siap untuk di lemparkan ke arah lawan) buka gerbangnya sekarang kalau tidak kalian akan meledak bersama bom ini." ancamnya.
Akhirnya anggota Rick Devil menyingkir dan membuka gerbang, tapi diam-diam salah satu dari mereka mengirim sinyal darurat pada yang lain, seketika para rekan Rick Devil yang berada di dalam berhambur keluar, hal itu cukup mengejutkan bagi Albert dan Derward.
Satu serangan bom meluncur ke arah Cartel membuat orang-orang yang menjadi sasaran kocar kacir, dua orang tewas di tempat sementara yang lainnya hanya terluka ringan.
"Brengsek." umpat Albert.
Albert tidak mau kalah, ia yang sedang bersembunyi bersama Derward di antara semak-semak melempar bom ke titik dimana anggota Rick Devil berkumpul.
'BUUUUUMMM...' asap dan debu berterbangan.
Bom milik Albert memakan korban tiga orang, sedangkan yang lain berhasil menghindar dengan cara melompat.
'Dor..Dor..Door.' bunyi letusan pistol terdengar mengema, Albert dan Derward berhasil mengecoh lawannya, keduanya sudah berada di dalam markas. mereka berjalan mengendap-endap dan saling berpencar, ada beberapa anggota Rick Devil yang tak sengaja berpapasan dengan mereka, tapi dengan cekatan Derward dan Albert berhasil menumbangkannya.
__ADS_1
Bersambung ...