
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Albert memutuskan untuk makan malam dahulu sebelum menuju apartemen, ia lebih memilih makan malam di salah satu resto favoritnya.
"Kita ke resto dulu." ucap Albert pada salah satu bodyguard yang menyetir.
"Ketempat biasa bos?"
"Heemmm." Albert menjawabnya dengan deheman.
Sebelum Albert berpindah ke Amerika, ia sering makan-makan di luar dengan para bodyguard, Albert menganggap semua bawahannya sebagai teman, meskipun begitu dia bisa menempatkan dirinya dalam situasi tertentu.
Mobil pun sampai di resto langganan Albert, disana banyak sekali jenis makanan dari berbagai negara, tempatnya juga sangat luas, Albert dan kedua bodyguardnya mencari kursi yang nyaman, yang tidak terlalu ramai orang karena Albert tidak terlalu suka keramaian.
"Kalian masih sering makan disini?" tanya Albert pada kedua bodyguardnya.
"Jarang bos, sejak bos pindah kita-kita jarang makan-makan di luar, Tuan memberi peraturan baru untuk para bodyguard." jawab salah satu dari mereka.
Obrolan mereka terus berlanjut sampai pesanan mereka sampai.
Disisi lain malam ini Damien juga mengajak kekasihnya makan malam di luar, entah suatu kebetulan atau apa, Damien mengajak Stella ke restoran dimana Albert juga berada disana sekarang.
"Bagaiman sayang kamu suka tempatnya?" tanya Damien.
"Suka by tempatnya bagus." jawab Stella.
Keduanya saling mengobrol sambil menunggu pesanan datang.
"Bukankah itu wanita yang menabrakku tadi sore." batin Albert saat matanya menangkap keberadaan Stella.
"Apa wanita itu simpanan Om-Om?" Albert tersenyum sembari menggelengkan kepala.
Albert tidak percaya gadis polos yang ia temui tadi sore bukan gadis baik-baik, ia berfikir begitu karena melihat kemesraan keduanya, bahkan pria yang ia anggap lebih pantas menjadi Omnya tidak sungkan membelai pipi Stella dengan mesra.
Selepas makan malam Albert memilih untuk langsung pulang ke apartemennya, ia muak melihat kedua orang yang berada tidak jauh darinya, siapa lagi jika bukan Stella dan Damien.
"Huuuuffft.." Albert membuang dirinya di ranjang king size yang akan menjadi kamar barunya, pria itu sudah berada di dalam apartemen, ia tinggal tepat di sebelah apartemen adiknya.
Albert lebih memilih menutup mata, ia akan menemui adiknya besok pagi saja.
Pagi Hari ..
'Tok tok tok..' terdengar ketukan pintu yang sangat nyaring, Arrabel yang sedang menyiapkan sarapan pun bergegas membuka pintu.
"Siapa sih pagi-pagi sudah bertamu." gerutu Arrabel di sepanjang langkahnya.
'Ceklak..' pintu terbuka, nampak lelaki tampan bermuka bantal masuk begitu saja berjalan menuju meja makan, hal itu membuat si pemilik apartemen mendengus.
"Kak Albert." teriak Arrabel dengan segera menyusul Kakak tirinya ke dalam.
"Hanya ada roti dan selai, kapan kamu belajar masak." Albert mendudukkan dirinya mulai mengambil dua roti dan melumurinya dengan selai coklat kesukaannya.
Arrabel menatap Kakak tirinya dengan tatapan tajam. "Kenapa Kakak pagi-pagi sudah berada disini? jangan bilang kalau Kakak." sebelum Arrabel melanjutkan ucapannya,Albert langsung mencela.
"Ya, atas perintah Mama mu." jawab Albert sambil mengunyah roti.
Arrabel kembali mendengus, sejak Papa tirinya berhasil membunuh Papa dari lelaki yang ia cintai, Arrabel memilih untuk sementara menjauhi Damien, ia tidak ingin Damien mengetahui siapa dia sebenarnya, dia juga menjaga dirinya dari intaian musuh, itu juga permintaan dari sang Mama, Calista beberapa minggu ini juga sengaja tidak menemui putrinya, ia pun lebih memilih mengurung dirinya di mansion, kalau pun harus pergi ia selalu memakai masker dan tentunya dengan kawalan ketat.
"Kakak tinggal di sebelah?" Arrabel memutar bola matanya malas, ia mendudukan dirinya di depan Albert.
__ADS_1
"Heeem.."
Obrolan terhenti sejenak,keduanya sama-sama menikmati sarapan paginya, sepintas Arrabel teringat dengan Damien, ia sudah sangat merindukan pria itu.
"Kak.." panggil Arrabel.
Albert hanya menatap adiknya sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Kakak mau tidak mengantarkan ku kesuatu tempat?"
"Kemana?" tanya Albert mengangkat sudut alisnya.
"Rahasia, aku mau bersiap dulu, Kakak juga harus cepat bersiap." Arrabel berlalu menuju kamarnya, sementara Albert juga ikut bangkit kembali ke apartemen miliknya.
Tidak lama keduanya sudah bersiap, saat ini Albert lah yang menyupiri sang adik.
"Kita mau kemana?" tanya Albert sembari menyetir.
"Jangan banyak nanya deh, Kakak nurut aja." jawab Arrabel.
Albert mengeleng keras, pagi-pagi begini Arrabel mau mengajaknya kemana pikirnya.
Mobil sport milik Albert berhenti tepat di depan mansion dengan pagar menjulang tinggi.
"Pagi-pagi begini mau bertamu?" tanya Albert menatap adiknya dengan tatapan aneh.
Pagar terbuka otomatis, di sepanjang jalan menuju mansion nampak beberapa penjaga dengan seragam khas berwarna hitam sedang berdiri tegap seperti sebuah manekin.
"Wooow, apa ini hunian pacarmu Ar?" lagi-lagi Albert bertanya, Arrabel hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari sang Kakak, matanya hanya fokus menatap sekitar, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Damien, semoga saja pria itu belum berangkat ke kantor.
"Ingat, Kakak jangan banyak bicara." pesan Arrabel pada Albert.
Albert hanya melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf O.
'Ting Toooong...'
Tidak lama pintu terbuka, nampak seorang asisten rumah tangga mempersilahkan mereka untuk masuk, kebetulan saat ini Damien, Stella dan Robby sedang sarapan di meja makan.
"Saya panggilkan Tuan sebentar." pamit sang asisten.
"Sepertinya pacarmu bukan orang sembarangan." ucap Albert sembari menatap sekeliling.
"Jelas lah." ucap Arrabel dengan sombong.
Dari dalam terlihat pria dewasa berjalan menghampiri kedua tamunya.
"Kak Dam.." Arrabel berlari langsung memeluk tubuh tegap Damien, sementara Damien dengan reflek mencoba melepas pelukan Arrabel.
"Arra maaf jangan seperti ini." Damien melirik seorang pria yang sedang menatapnya lekat.
"Bukankah itu pria kemarin yang aku lihat di resto." batin Albert.
Damien dan Arrabel pun mendudukan dirinya di kursi ruang tamu, sementara Albert mencoba menyapa Damien dengan sopan walaupun di fikirannya banyak pertanyaan, apa benar pria di depannya ini kekasih Arrabel? lalu apa yang di lihatnya kemarin, siapa gadis cantik yang bergelanyut manja di lengan pria itu saat di resto.
"Kenalkan saya Albert Kakak dari Arrabel." Albert mengenalkan dirinya.
"Nama saya Damien, senang berkenalan dengan anda." ucap Damien dengan ramah.
__ADS_1
"Kak aku merindukanmu, beberapa minggu ini aku di sibukkan dengan kerjaan, bagaimana kabarmu?" Arrabel mencoba memulai obrolan.
"Kabarku baik-baik saja." jawab Damien singkat sembari menatap jam di tangannya.
Melihat sikap dingin Damien pada Arrabel membuat Albert semakin penasaran, sebenarnya ada hubungan apa Arrabel dengan pria itu.
"Maaf Ar aku harus segera ke kantor karena ada meeting penting pagi ini." Damien mengusir kedua tamunya secara halus.
"Maafkan kami sudah menganggu waktumu Tuan." ucap Albert mulai berdiri.
"Kak.." Arrabel protes padahal ia masih sangat merindukan Damien.
"Kamu tidak dengar Tuan Damien sibuk pagi ini." ucap Albert pada adiknya.
"Terima kasih Tuan Albert, anda mau mengerti."
Obrolan mereka terhenti, nampak Robby keluar dan menghampiri Damien. "Maaf Tuan sudah waktunya kita berangkat." ucap Robby membungkuk hormat.
"Baiklah kami permisi dulu, mari." Albert menarik tangan adiknya berjalan meninggalkan ruang tamu menuju parkiran.
Kedua tamu tidak di undang itu sudah pergi, tidak lama Stella datang bergelanyut manja di lengan Damien.
"Sayang ada hadiah spesial untukmu pagi ini." ucap Damien menoel hidung mancung Stella dengan gemas.
"Apa itu by?" tanya Stella dengan mata berbinar.
"Hadiahnya sudah menunggu mu di mobil, Hubby berangkat dulu karena ada meeting pagi ini." Bara mencium pipi kanan kekasihnya dan berlalu pergi di susul Robby di belakangnya.
"Aku sudah tidak sabar melihat hadiahnya." gumam Stella, sebelum keluar dia mengambil tasnya terlebih dulu.
Stella berlari ke arah mobil yang sudah menunggunya, ada yang aneh pagi ini, mana dua bodyguard yang biasanya berdiri di depan mobilnya, sekilas bibir gadis itu tersenyum mungkin sang kekasih sudah memberinya kebebasan, ini hadiah terindah yang ia inginkan, dengan semangat Stella menuju ke arah kemudi dan membuka pintu mobil, raut wajah Stella berubah aneh saat melihat seorang wanita cantik duduk disana.
"Selamat pagi Nona, kenalkan nama saya Veronika panggil saja Vero, mulai hari ini dan seterusnya saya di tugaskan Tuan Damien untuk mengawal anda." ucap Vero.
Stella menatap penampilan Vero dari atas sampai bawah, wanita itu terlalu cantik jika harus menjadi seorang bodyguard.
"Dasar Om, biarlah setidaknya aku memiliki teman dari pada harus di ikuti dua bodyguard menyebalkan itu." batin Stella.
Stella pun kembali menutup pintunya dan beralih membuka pintu belakang, mobil pun mulai melaju membelah jalanan menuju kampus.
*Di mobil Lain
"Jangan terlalu agresif jadi wanita." ucap Albert keduanya sudah meninggalkan mansion Damien.
"Aku tidak butuh komentar mu Kak."
"Aku kemarin melihatnya jalan bersama gadis muda, sepertinya pria itu bukan pria yang baik." tutur Albert.
Arrabel terdiam sejenak, mungkin yang di maksud sang Kakak ialah Stella, ternyata gadis itu sudah sangat dekat dengan pria pujaannya.
"Dia keponakannya Kak." jawab Arrabel.
"Benarkah?" tanya Albert dengan mata berbinar, padahal belum tentu yang di ucapkan Arrabel itu benar, tapi entah mengapa saat mendengar hal itu dirinya merasa senang.
"Heemm." jawab Arrabel.
Bersambung ...
__ADS_1