
Setelah lama menempuh perjalan akhirnya pesawat landing di tujuan, di parkiran bandara sudah ada 5 mobil yang menunggu Ansel dan yang lainnya, ketiganya mobil milik Felix, Mads dan Garvin, sedangkan dua mobil lainnya milik Ansel.
Ansel meminta Vero untuk menyetir sedangkan mobil di belakang berisi para pengawal.
"Aku sudah tidak sabar ingin cepat sampai." Senyuman Bella terus terpancar di bibirnya.
"Kamu terlihat bahagia sekali sayang."
"Tentu aku bahagia, aku akan bertemu dengan keluargaku." ucap Bella.
Mobil membelah jalanan kota A, di depan kemudi Vero sesekali mencuri-curi pandang ke arah istri bosnya lewat kaca spion depan.
"Akhirnya sampai juga." Bella tidak menunggu Vero untuk membukakan pintu, dia sudah tidak sabar untuk turun.
"Sayang kita langsung masuk saja." ucap Ansel mengandeng tangan istrinya disusul Vero di belakang mereka.
Di ruang keluarga Mama Tia dan Mama Eva sedang berbincang, sedangkan Papa Tio dan Papa Robert sudah pergi ke kantor, perbincangan keduanya terpotong saat mendengar langkah seseorang mendekat.
"Bella.." Mama Eva terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya, pelukan dan tangis rindu pun tak bisa di cegah, begitu juga dengan Mama Tia, ia juga ikut menangis bercampur haru melihat menantunya baik-baik saja.
"Nak Ansel dan nak Vero terima kasih karena kalian sudah membawah putri Mama pulang." ucap Mama Eva.
"Sama-sama ini sudah tugas Ansel Ma sebagai seorang suami." Ansel mengucapkannya dengan tulus.
"Sama-sama Tante, Vero ikut bahagia." ucap Vero dengan sopan.
Ansel berdecak kesal, di matanya laki-laki ini sedang mencari muka di hadapan mertuanya.
"Kalian sudah makan siang?" tanya Mama Tia membuyarkan lamunan Ansel.
"Belum Ma kan kita tadi berangkat pagi-pagi sekali." jawab Bella.
"Kalau begitu, Mama akan menyuruh Ririn memasak makanan untuk kalian." ucap Mama Tia ingin berlalu.
"Tidak usah Ma kami akan makan siang di luar saja." Ansel mencegah Mamanya.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati jaga Bella dengan baik." pesan Mama Tia, ia pun kembali duduk.
"Iya Ma, Ayo sayang." ajak Ansel menarik tangan istrinya.
Bella hanya menurut saja, lumayan lah sambil jalan-jalan pikirnya.
__ADS_1
Mereka berlalu menuju mobil, Vero membukakan pintu untuk Ansel dan Bella, tugas Vero ialah mengikuti kemana saja Bosnya pergi.
"Kita kemana Tuan?" tanya Vero mobil sudah melaju membelah jalanan kota A.
"Ke mall saja Ver, sekalian nonton." jawab Ansel.
"Siang-siang begini nonton?" tanya Bella.
"Kenapa memang? sekalian kita kencan." bisik Ansel di telingga Bella.
Bella memutar bola matanya malas mendengar bisikan Ansel.
Tidak menunggu lama karena Vero melajukan mobilnya cukup kencang, akhirnya mobil sampai di halaman mall terbesar di kota A, Vero memarkirkan mobil di parkiran khusus.
"Ayo Ver cepat." ucap Bella, ia sudah tidak sabar karena perutnya sudah mulai bernyanyi.
"Lama sekali." seru Ansel kesal, ia tidak suka melihat Bella berkomunikasi dengan Vero.
Ansel menarik tangan istrinya meninggalkan Vero yang masih memarkirkan mobil.
"Sudah tahu masih parkir, eh di tinggal." gerutu Vero di setiap langkahnya.
Langkah Vero terhenti saat ada gadis SMA bergerombol menghampirinya.
"Kak ganteng banget si."
"Kak sudah punya pacar belum?"
Banyak pertanyaan yang menyerangnya membuat Vero mendengus, ada-ada saja pikirnya.
Bella yang mendengar keributan di belakangnya akhirnya menoleh.
"Astaga.." Bella di buat melonggo melihat aksi gadis-gadis SMA yang terlihat agresif itu.
"Kenapa?" tanya Ansel ikut menoleh, lagi dan lagi pria itu selalu membuat ulah.
Vero menatap Bella dari jauh dengan sorot mata penuh permohonan, ia ingin terbebas dari gadis-gadis yang menyerangnya, hingga ia melupakan seseorang yang sedang menatapnya tajam saat ini, siapa lagi jika bukan Ansel.
"Suamiku boleh aku membantunya?" tanya Bella.
Ansel mendengus, kurang ajar sekali pria itu mencuri-curi kesempatan pada istrinya.
__ADS_1
"Cepatlah."
Bella tersenyum setelah mendapat izin dari Ansel, ia menghampiri Vero yang tertinggal cukup jauh darinya.
"Minggir-minggir jangan menganggu pacarku." Bella menyingkirkan para gadis ganjen itu.
Vero tersenyum mendengarnya, akhirnya atas bantuan dari istri bosnya dia bisa lari dari serangan mereka.
Bella langsung menarik tangan Vero untuk menjauh dari kerumunan.
"Lain kali tidak usah tebar pesona." ucap Bella.
Vero hanya tersenyum canggung, ia menatap tangannya yang masih di genggam oleh Bella.
Dari jauh mata Ansel melotot ke arah istrinya, bisa-bisanya Bella mengandeng tangan pria lain di depannya.
"Lepas tangannya atau tangan ini akan meluncur ke wajah Vero." ucap Ansel mengepalkan tangan saat istrinya mendekat.
Bella reflek melepas tangannya dan terkekeh.
"Hehehe kan nolongin, jadi tidak boleh setengah-setengah biar meyakinkan." ucap Bella tanpa takut.
Ansel mendengus, dia berjalan lebih dulu meninggalkan istrinya dan Vero.
"Kamu si Ver jadi ngambek kan." Bella menyusul suaminya dengan sedikit berlari.
"Dasar gangster bucin." umpat Vero menggeleng sembari tersenyum, ia kesal melihat bosnya yang tidak ingat usia.
Ansel memilih food court yang menjual aneka makanan khas prancis.
Ketiganya saat ini sudah duduk menunggu pesanan datang.
"Kamu masih marah suamiku?" tanya Bella.
Ansel tidak merespon dia sibuk memainkan ponselnya, melihat suaminya cuek membuat Bella kesal.
"Dasar, sikapnya seperti anak kecil." batin Bella.
Tidak lama pesanan pun sampai, mereka makan dengan diam tidak ada sama sekali obrolan dari ketiganya.
Saat Bella menatap sekeliling, tidak sengaja matanya menangkap seorang pria yang sangat mencurigakan, terlihat pria itu sedang mengawasi suaminya.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak cinta kalian😘😍