
"Kenapa harus memukul sekuat itu Al?" tanya rekannya sembari meringis menahan luka yang di sebabkan oleh Albert.
Albert terkekeh mendengar para rekannya mengeluh."Kalian lemah sekali." Albert menuangkan wine ke dalam gelas dan meneguknya.
Ya dalang di balik penculikan Stella ialah Albert dan Arrabel, mereka berdua sepakat untuk bekerjasama mengambil hati Damien dan Stella, tujuan Albert melakukan ini untuk mencari simpati dari seorang Stella, gadis itu terlalu susah untuk di luluhkan membuat Albert memakai cara licik ini.
Flash Back on
"Ar Kakak butuh bantuanmu." kini Albert sedang barada di apartment Arrabel, pria itu membaringkan dirinya di sofa.
"Bantuan apa?" tanya Arrabel tanpa melirik Albert, gadis itu sibuk dengan kuku indahnya.
"Buat keponakan Om kesayanganmu itu keluar dari mansion malam ini."
Arrabel mengernyit. "Untuk apa Kak?"
"Aku ingin meluluhkan gadis bar-bar itu, gadis itu sangat susah untuk di dekati." Albert bangun kemudian duduk sembari menatap adiknya yang masih sibuk dengan kukunya.
"Apakah ini rencana Daddy mu itu?" mendengus pelan.
"Ya kamu benar adik ku, bukankah ini kabar baik untukmu agar gadis itu tidak menganggu Om kesayanganmu lagi jika Stella menjalin hubungan denganku."
Aktifitas Arrabel terhenti, ia mendongak menatap Albert yang berada di sampingnya, apa yang di ucapkan Kakaknya ada benarnya juga.
"Ah Kakak benar, baiklah aku akan membantu mu." ucap Arrabel dengan semangat.
Albert tersenyum smirk, pria itu juga meminta bantuan pada rekan-rekannya agar rencana yang sudah ia susun berjalan sempurna.
Flash Back Off
Setelah kejadian semalam, paginya Damien langsung menuju markas, ia menyerahkan semua tugas kantor pada Robby, kebetulan Lano saat ini sedang berada di ruangannya, pria itu terlalu fokus hingga tidak sadar jika Damien sudah berada disana.
"Ekhem.." Damien berdehem dengan keras mengagetkan Lano.
"Akh shiitt.." umpat Lano memegang dadanya.
"Kamu mengumpatku Lan?" Damien menatap Lano dengan tajam, beraninya pria itu mengumpatinya.
"Ah bukan begitu Om, aku hanya terkejut." ucap Lano mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Damien menghembuskan nafas dalam, kemudian pria itu mulai bercerita mengenai kejadian semalam.
"Menurutmu siapa yang ingin menculik wanita ku Lan?"Damien menegakkan tubuhnya, menatap Lano intenst, Lano pun juga menatap Damien keduannya mengangguk secara bersamaan.
"Ya mungkin dugaan kita sama." senyum smirk tersungging di bibir Lano dan Damien.
"Tapi sepertinya mereka mempunyai tujuan Om, tidak mungkin dengan mudah pria asing itu mengalahkan mereka." lanjutnya.
"Ya kamu benar Lano, dan tugasmu sekarang menyelidiki hal ini." ucap Damien kembali menyenderkan punggungnya.
__ADS_1
Lano mengangguk, pria itu berdiri ingin menelpon seseorang.
'Hallo.."
(.....)
"Hah benarkah?" tubuh Lano nampak menegang karena kaget.
(.....)
"Oke." telpon pun tertutup, Damien yang dari tadi penasaran siapakah yang di hubungi Lano dan kenapa mimik wajah pria itu berubah-ubah, kini mulai mengeluarkan suaranya.
"Ada apa Lan?"
Lano menghembuskan nafas kasar, sepertinya perang hampir akan di mulai.
"Cartel Sinaloa memiliki pemimpin baru, dia anak asuh dari Gent, dan yang melakukan penculikan itu ialah dirinya."
"****..kenapa mereka selalu mengibarkan bendera perang padaku." tangan Damien mengepal erat hingga urat nadinya tampak terlihat jelas.
Damien tidak ingin banyak rekannya tahu hubungannya dengan Stella, jika itu terjadi kemungkinan buruknya Ansel akan tahu kalau dirinya menjadikan anak gadis Ansel sebagai kekasih, maka dari itu jika Damien butuh bantuan, dia percayakan semuanya pada Lano.
Dua hari berlalu, seperti yang di perkirakan Albert, sikap Stella tidak lagi dingin padanya, bahkan Stella dua hari ini makan di kantin bersama Albert, banyak yang menggira jika keduanya menjalin sebuah hubungan, hingga kabar itu menjadi tranding topik di kampusnya.
"Pak kenapa mereka menatap ku seperti itu, apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Stella pada Dosen tampan itu, siapa lagi kalau bukan Albert.
"Mungkin mereka iri dengan kecantikanmu." jawab Albert.
"Apa aku harus melaporkan hal ini pada Tuan Dam ya." gumam Vero yang berada di belakang.
"Kau bicara apa Ver?" tanya Stella tanpa menoleh.
"Ah tidak ada Nona." jawab Vero.
"Stell." panggil Albert keduanya sudah berada di tempat parkir, sementara Vero sedang mengambil mobilnya, Stella yang biasanya menunggu Vero di depan gerbang, kini memilih menunggu di parkiran karena merasa sungkan pada Albert.
Iya Pak kenapa?"
"Apa nanti malam kamu punya waktu?"
Stella menautkan kedua alisnya, "Kenapa Bapak bertanya seperti itu?" bukannya menjawab gadis itu malah balik bertanya.
Albert tersenyum. "Aku hanya ingin mentraktirmu makan malam."
Stella berfikir dia merasa sungkan jika menolak tapi di sisi lain dia tidak berani keluar berdua dengan Dosennya takut Om tersayangnya salah faham padanya.
Melihat Stella hanya diam, Albert pun menunjukkan wajah kecewanya. "Tak apa, mungkin lain waktu aku bisa mentraktirmu.
"Eem begini saja, nanti aku kabari lagi ya Pak kalau aku bisa."
__ADS_1
Albert tersenyum saat mendengar gadis itu menyebut aku kamu tidak seformal kemarin, lalu pria itu menyodorkan ponselnya kepada Stella.
"Aku belum punya nomor ponselmu."
Stella ragu-ragu untuk mengambil ponsel itu, tapi detik kemudian diapun menyimpan nomor miliknya disana.
"Nona.." Vero turun dari mobil, mempersilahkannya masuk.
"Aku duluan Pak." ucapnya tersenyum dan memasuki mobil, begitu pula dengan Albert pria itu tersenyum dan melambaikan tangan sampai mobil milik Stella tak terlihat lagi.
"Yes, akhirnya." ucap Albert tersenyum smirk, ia pun melenggang pergi menuju mobil sport yang terparkir tidak jauh dari sana.
Di negara lain
Sudah dua hari ini Azzura mendapat perlakuan yang tidak baik dari teman sekelasnya, ia selalu menjadi bahan bulian di kelas, namun hal itu tak menyurutkan niatnya untuk menyudahi penyamarannya.
Hari ini ada pelajaran tambahan dalam bidang olahraga, karena 5 bulan lagi akan di adakan lomba turnamen se provinsi, segala macam jenis olahraga ada disana, saat ini ada puluhan siswa siswi dari beberapa kelas sudah berkumpul di halaman sekolah yang tampak luas, terutama Azzura ia duduk termenung sendiri tanpa teman, sebab penampilan dan wajahnya yang kusam membuat semua temannya menjauh.
Di sisi lain Azzam menjadi pusat perhatian disana, bukan hanya Azzam kelima temannya yang tergabung dalam club basket itu pun juga tidak kalah tampan dari Azzam, terdengar suara riuh dari siswi-siswi yang ganjen hingga teriakan mereka sampai ke telingga Azzura.
"Ihch lebay." umpat Azzura.
Umpatan Azzura tidak sengaja di dengar oleh teman sekelas yang biasa membulinya.
"Hei udik, berani loe mengumpat mereka, nih ngaca." ucapnya sambil melempar kaca yang sengaja ia injak hingga retak sebelum di lemparkan ke arah Azzura.
"Bagaimana, wajah loe sama bukan seperti kaca itu." terdengar tawa dari beberapa siswa siswi yang mendengarnya.
Azzura berdiri ia pergi begitu saja tanpa mau meladeni mereka, hal itu membuat teman yang tadi mengejeknya murka.
"Sialan dia mengacuhkan ku." gadis itu berjalan cepat lalu menarik rambut Azzura dari belakang.
Situasi disana sangat ramai karena banyaknya siswa hingga kejadian seperti ini satu guru pun tidak ada yang tahu, apalagi posisi mereka saat ini berada di samping, cukup jauh dari tempat dimana yang lain sedang berlatih, sedangkan siswa lainnya menunggu giliran di panggil.
Tanpa mereka ketahui Azzam melihat semua itu, ia selalu memantau adiknya walaupun mereka berjauhan, tangan Azzam mengepal kuat saat melihat adiknya di aniayah seperti itu.
"Zam loe lihat apa?" tanya temannya.
Kelima teman Azzam melihat arah pandang pria itu, mereka begitu terkejut saat melihat Azzam menatap gadis jelek yang sepertinya mendapat bulian dari teman-temannya.
"Zam jangan bilang loe suka sama cewek udik itu."
'Hahaha..' terdengar tawa dari ke empat temannya, kecuali brayen.
Brayen pria berwajah tampan, wajahnya yang sedikit ke bule-bulean itu membuat wanita yang melihatnya terpesona.
Azzam tersadar, ia menatap tajam satu persatu temannya yang tertawa membuat ke empatnya langsung terdiam.
"Zam lihatlah.."
__ADS_1
Azzam menoleh ke belakang, di lihatnya Brayen berjalan setengah berlari ke arah Azzura, hal itu membuat Azzam menyunggingkan senyumnya.
Bersambung ...