
Selepas makan dengan Calista Ansel berencana kembali ke kantor, tapi di tengah jalan dia bertemu Bella, wanita itu berdiri di persimpangan jalan, seperti sedang menunggu taksi, Ansel menautkan kedua alisnya saat menginggat belum saatnya jam makan siang, kenapa istrinya berkeliaran di jalan, bukankah saat jam makan siang, resto begitu ramai dengan pembeli.
Ansel penasaran, ia pun memutar mobilnya, ia sedikit manambah kecepatan karena takut Bella mendapatkan taksi, mobil Ansel langsung berhenti tepat di depan Bella.
Tubuh Bella menegang saat melihat mobil suaminya berhenti tepat di depannya, ia mencoba melarikan diri.
Ansel semakin penasaran saat melihat Bella lari darinya, ia segera keluar dari mobil dan mengejar wanita itu.
Bella berlari dengan sesekali menoleh ke belakang takut Ansel mengikutinya, saat mendapati tak ada yang mengejar, Bella pun menyandarkan tubuhnya di tembok, mengatur nafasnya yang begitu memburu, Bella memegang dadanya dengan memejamkan mata.
Saat Bella membuka matanya, betapa terkujutnya dia, pria yang dia hindari ada di hadapannya sekarang.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Ansel dengan aura mengintimidasi, dia memegang dagu Bella, memaksa wanita itu untuk menatapnya, tatapan mereka bertemu, Bella sebisa mungkin menghilangkan rasa takutnya.
"A-Aku ingin makan siang" jawabnya terbata.
Ansel mengernyit, dia melepaskan dagu Bella dan sedikit mundur.
"Bukankah kamu bekerja di resto?" tanya Ansel membuat Bella menegang.
"Ehm itu, aku.. aku izin untuk makan siang di luar, iya aku izin makan siang di luar." Bella terlihat gugup.
Ansel kembali mendekat, dia menghimpitkan tubuh Bella ke dinding dan mendekatkan wajahnya pada Bella.
"Apa kamu berbohong?" bisik Ansel di telingga Bella.
Bisikan Ansel membuat Bella merinding.
"Tti-tidak.." jawab Bella terbata.
Ansel menatap mata Bella lekat, mencari kejujuran disana tapi nihil, Ansel mundur teratur dan meninggalkan Bella begitu saja.
Bella memegang dadanya, dia serasa baru turun dari roller coaster.
"Untung saja dia tidak curiga."
"Aku beli roti saja lah." Bella sudah tidak nafsu makan.
Minggu berganti minggu, sejak kedatangan Calista sikap Ansel pada Bella kembali dingin, mereka berdua benar-benar pintar menutupi keadaan rumah tangganya dari keluarga, Bella tidak mempermasalahkan hal itu, selama Ansel tidak melakukan kekerasan seperti dulu, biarlah suaminya melakukan apa yang dia inginkan.
Calista sudah berpindah ke negara A, karena banyak keluarganya yang menetap disana dan alasan yang paling penting, dia bisa berdekatan dengan Ansel.
Bella saat ini sudah tidak lagi mengikuti kursus, kemampuannya sudah tidak bisa diragukan lagi bahkan dia memboyong 3 sertifikat Grade sekaligus.
__ADS_1
"Apa kau tidak bekerja?" tanya Ansel, saat ini sudah berpakaian rapi bersiap untuk ke kantor.
"Aku sudah risent suamiku." Bella berbicara tanpa menatap Ansel.
Bella sekarang sudah lebih berani dengan suami gangsternya.
Ansel merasa kesal karena beberapa minggu ini sikap Bella berubah, dia terlihat cuek dan jarang tersenyum saat Bella bersama dirinya, tapi tidak jika bersama dengan Arka, ia merasa ada yang hilang.
"Kenapa sikapmu dingin denganku?" Ansel duduk di sofa, ia memperhatikan Bella yang sedang merapikan ranjang.
"Itu hanya perasaanmu saja." Bella sudah selesai merapikan tempat tidurnya, dia ingin keluar dari kamar tapi dihadang oleh Ansel.
"Minggirlah aku ingin ke dapur." Bella mendorong sedikit badan Ansel.
Melihat Bella yang berani dengannya, amarah Ansel terpancing, dia mencengkram leher Bella dan menghimpitnya ke tembok.
"Jangan coba-coba untuk melawanku." Ansel menatap mata Bella dengan tajam, dia sudah kehilangan kendali, Ansel mulai bertindak kasar karena beberapa minggu ini Ansel menahan amarahnya melihat sikap dingin Bella.
Bella yang tidak ingin mati, mencoba melepas tangan Ansel, dengan gerak cepat Bella membalikkan tubuh kekar suaminya, memelintir tangan itu dengan keras.
"Arrggh.." erangan Ansel keluar.
Bella mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu di telingga Ansel.
Bella melepaskan tangan Ansel, dia keluar kamar meninggalkan Ansel yang masih mencerna kejadian tadi.
Berani sekali gadis cupu itu pada Ansel, tapi tidakk tahu mengapa, justru Ansel saat ini terlihat seperti orang bodoh.
"Arggh.." Ansel mengibas-gibaskan tangannya yang terasa linu.
"Kenapa dia kuat sekali, dari mana dia tau jika aku sering keluar dengan Calista." monolog Ansel.
*Flash back on
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, hari ini dimana hari terakhir Bella kursus menembak, dia tidak menyangka jika membawah pulang 3 sertifikat Grade sekaligus.
Saat ini Bella sedang berada di pinggir jalan untuk menyetop taksi, dia ingin segera sampai mansion dan menyimpan 3 sertifikat ini di tempat yang aman, tidak lama terlihat ada taksi kosong yang melewatinya, Bella segera menyetop taksi itu, taksi pun melaju membela jalan yang begitu ramai, di penyetopan lampu merah tidak sengaja Bella melihat mobil Ansel, saat itu kaca kedua mobil Ansel terbuka, terlihat disamping Ansel wanita cantik berambut pirang asik bercanda dengan suaminya..
Tangan Bella mengepal, dia berfikir jika Ansel memiliki seorang kekasih kenapa dia mau di jodohkan dengannya, sekarang Bella tahu alasan kenapa Ansel kembali bersikap dingin padanya, karena wanita itu lah suaminya juga sering pulang malam.
"Pria sialan." batin Bella.
Sejak saat itu Bella berani melawan suaminya, tapi Ansel malah bersikap acuh padanya.
__ADS_1
Waktu itu Ansel membantu Calista pindahan dengan membawah barang-barangnya ke apartemen, karena dia baru datang dari negaranya.
"Apa kamu tidak kelelahan Sel?" tanya Calista, berdiri di belakang Ansel dengan memijat bahunya.
"Sedikit.." tidak tahu mengapa Ansel merasa nyaman saat bersama Calista.
Tiba-tiba dering panggilan ponsel milik Ansel menggema di ruangan itu.
"Sebentar aku angkat telpon dulu." pamit Ansel meninggalkan Calista, Calista hanya mengangguk.
Ansel kembali setelah menutup telponnya, dia mendapat kabar dari Felix bahwa rencana pembalasan terhadap anggota Jevarck di undur.
Ansel berpamitan pada Calista karena ingin pergi ke markas barunya, Ansel menjadikan villanya sebagai markas gangster Black Wolf, setelah mendapat kecupan pipi dari Calista Ansel bergegas pergi, hanya dengan wanita inilah Ansel bersikap lembut.
*flash back off
Ansel turun ke lantai bawah masih dengan lamunannya, lamunan Ansel dengan sekejap menghilang saat mendengar tawa Bella dan Arka di meja makan.
Seketika tubuh itu menegang, tangan kekar itu mengepal, dia berjalan menuju meja makan dengan langkah panjang.
"Bell.." tatapan Ansel menghunus ke arah Bella dan berganti menatap Arka.
Bella tidak meresponnya, hal itu membuat Ansel kesal.
Keduanya yang asik makan di selinggi tawa, mendongak menatap Ansel.
"Ada apa suamiku?" Bella bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, sedangkan Arka melihat Kakaknya sekilas dan kembali melanjutkan makan.
"Ikut denganku." Ansel langsung menarik tangan Bella dengan paksa.
Jangan Lupa dukungannya untuk Author😍
________________________Like Vote Dan Komen
________________________
Kenalan sama othor yuk follow instagram othor.
Wuland4ri_05
Wulan
__ADS_1