Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Pertemuan Ansel dengan Ardolp dan rekannya


__ADS_3

"Kita kemana Tuan?" tanya Vero.


Ansel melihat gps di ponselnya.


"Kita ke Belmont Cafe." jawab Ansel.


Sejak Vero menjadi tangan kanan Ansel, ia juga di pekerjakan sebagai asisten pribadi oleh bosnya di kantor.


"Kemana pun kamu pergi, bawah pistol yang aku berikan padamu kemarin." ucap Ansel.


"Baik Tuan."


Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil, Ansel menyuruh Vero untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, fikirannya berkecamuk menginggat istrinya bertemu dengan empat cecungguk yang di bencinya, walaupun Ansel tahu ke empatnya tidak mungkin menyakiti Bella, tapi tetap saja dirinya tidak suka jika Bella terlalu dekat dengan pria lain selain dirinya, apalagi ke empat musuhnya itu.


Di Belmont Cafe


"Bagaimana kabarmu? apa Damien memperlakukanmu dengan baik saat kamu bersamanya?" tanya Ardolp.


"Kabarku baik-baik saja, dia pria yang baik." jawab Bella.


Keempat pria tampan itu seperti tidak suka dengan jawaban Bella, terlihat dari raut wajah ke empatnya berubah masam saat Bella memujinya.


"Apa yang ingin kalian katakan padaku?" tanya Bella pada Ardolp.


Kelima orang ini duduk santai sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Pasti kamu menggira, kami ikut campur tentang penyerangan yang terjadi pada suamimu kemarin." Ardolp menatap Bella sembari menyenderkan punggungnya di sofa.


"Benar, itu rekan-rekanmu kan, pasti kalian yang menyuruh mereka." Bella menatap ke empat pria tampan itu dengan sorot mata tajam.


"Kamu salah sangka Bell." Sea membela diri.


"Lalu?" Bella menunggu penjelasan dari ke empatnya.


Obrolan terhenti sejenak karena pesanan mereka datang, mereka melanjutkan obrolan ketika waiters berlalu pergi.


"Mereka melakukan penyerangan tanpa persetujuan dari kami." Kaya menjelaskan di susul Grisham.


"Banyak rekan kami yang keluar dari anggota Bell." tambah Grisham.


Suasana hening sejenak, hingga suara Ardolp kembali terdengar.


"Kami menemuimu untuk membicarakan hal ini, kami tidak ingin kamu salah sangka, mereka membangun gang sendiri untuk membalaskan dendam mereka pada Black Wolf, terutama suamimu." tambah Ardolp.


Bella masih diam mendengarkan penjelasan dari mereka.


"Kamu harus lebih berhati-hati lagi Bell, mereka mengincarmu kami tidak ingin kejadian lalu terulang kembali, maaf kami terlambat mengetahui kabar itu." ucap Kaya.


Ke empat pria tampan ini memberondong penjelasan pada Bella, membuat wanita cantik ini menautkan kedua alisnya, di tatapnya satu persatu dari mereka.


"Apa pentingnya untuk kalian, aku mengetahui kebenaran ini?" tanya Bella.

__ADS_1


Keempat pria ini menutup bibirnya rapat-rapat, mereka tidak bisa menjawab pertanyaan wanita di depannya, tiba-tiba terdengar gebrakan meja yang begitu keras hingga membuyarkan lamunan ke empatnya.


Tubuh Bella membeku melihat Ansel berdiri dengan wajah murka.


"Suamiku.." Bella berdiri merangkul tangan kekar Ansel, dia tidak ingin terjadi keributan disana.


Tanpa kelima orang itu sadari di dalam cafe sudah tidak ada orang selain mereka, ya Ansel menyuruh Vero untuk menyewah Balmont Cafe untuk sehari ini tentunya dengan biaya yang tidak sedikit.


"Apa yang kamu lakukan disini?" Ansel menatap tajam istrinya.


Ardolp, Sea, Kaya dan Grisham tidak terpengaruh dengan kedatangan Ansel, mereka malah duduk dengan santai.


"Kami hanya memberi info penting pada istrimu." jawab Ardolp tanpa takut.


"DIAM, aku tidak bertanya padamu." Ansel menodongkan pistol ke arah Ardolp, Ardolp hanya tersenyum tipis melihatnya.


"Suamiku jangan seperti ini." Bella panik melihat suaminya emosi.


"Katakan apa yang mereka katakan padamu?" tanya Ansel, tangan bak barbel itu mengepal memperlihatkan otot-otot kasarnya.


"Dia benar, mereka hanya memperingatkan ku agar lebih berhati-hati." jawab Bella.


Ansel memejamkan mata sejenak, nafasnya begitu memburu karena menahan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun.


"Dengarkan aku, kalau saja kalian tidak menyelamatkan istriku dari peristiwa penculikan itu, hari ini kalian akan mati di tanganku, hari ini aku berbaik hati pada kalian dan aku peringatkan pada kalian berempat, jangan pernah menemui istriku lagi." ucap Ansel dengan suara lantang, ia memasukkan pistol ke sakunya dan membawah Bella pergi dari sana, disusul Vero di belakangnya.


Ardolp, Kaya, Sea dan Grisham hanya tersenyum mendengar ancaman dari Ansel.


"Kenapa Bella mau dengan pria seperti itu." ucap Grisham menimpali.


Ardolp berdiri. "Urusan kita sudah selesai dengan Bella, kita pergi dari sini." ajak Ardolp pada ketiga kawannya.


Ke empat pria ini pergi meninggalkan cafe yang terlihat sepi.


Dimobil Ansel mengintrogasi istrinya, dia kesal sekali dengan Bella, baru kemarin akur sekarang Bella membuat ulah lagi.


"Tidak bisakah kamu tidak membuatku kesal." ucap Ansel tanpa menatap Bella.


"Maafkan aku suamiku." Bella menunduk ia merasa sangat bersalah pada suaminya.


Ansel melirik istrinya yang terlihat sangat menyesal, sebelum bicara Ansel membuang nafas kasar.


"Lain kali jangan di ulangi lagi, itu sangat berbahaya." ucap Ansel menarik Bella dalam pelukannya.


Bella hanya mengangguk, ia memeluk suaminya dengan erat.


"Terima kasih."


"Tapi jangan senang dulu, aku harus menghukum mu." bisik Ansel.


Bella menarik diri, ia mendonggak menatap suaminya.

__ADS_1


"Hukuman apa?" tanya Bella dengan polos.


Telingga Vero terasa panas mendengar obrolan pasutri ini, ia memilih memakai earphone dan memutar musik.


"Nanti saja aku jelaskan, lain kali jangan nakal lagi heem." Ansel mencium bibir Bella sekilas.


Pipi Bella bersemu merah mendapat serangan tiba-tiba dari suaminya.


"Kamu ikut ke kantor saja ya." ucap Ansel.


"Tapi aku memakai baju seperti ini."


Tidak mungkin bukan Bella ke kantor dengan baju seperti sekarang.


"Tak apa, kita langsung ke kantor saja Ver." ucap Ansel.


Vero tidak mendengar ucapan bosnya karena ia memakai earphone.


"Ver.." Ansel menendang kursi Vero dari belakang membuat pria tampan itu terkejut, reflek Vero mengerem mobil secara mendadak.


'Ciiiiiitttttt' mobil berhenti mendadak, membuat orang yang berada di belakang kesal.


"Ada apa Tuan?" tanya Vero.


"Kamu ingin mati Ver." teriak Ansel geram.


"Maaf Tuan saya terkejut." ucap Vero.


"Sudahlah jangan di perpanjang lagi, kita langsung ke kantor Ver." ucap Bella menengahi perdebatan antara keduanya.


Baru saja Vero menginjak gas, ia di kagetkan dengan dua mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya, dari kedua mobil itu keluar beberapa pria dengan tubuh tegap berwajah sanggar, ada sekitar 10 orang yang menghalangi mereka.


"Tuan ini bahaya." ucap Vero panik.


"Jangan panik, kita pasti bisa mengatasi mereka." Ansel berbicara dengan santai.


"Sayang jangan keluar dari mobil, kamu harus tetap disini." pesan Ansel pada Bella.


Bella mengangguk, Ansel dan Vero keluar meninggalkan Bella di dalam mobil sendirian.


"Belum juga sampai mansion sudah ada yang menyerang." batin Bella.


Jangan lupa kasih dukungan kalian untuk author😍


__________________


LIKE, VOTE DAN KOMEN


__________________


Kenalan sama Author yuk follow ig. Wulan_056t7

__ADS_1


__ADS_2