Wanita Cupu Milik Gangster

Wanita Cupu Milik Gangster
Om Damien Mine 14


__ADS_3

Stella berlari jauh dari taman, gadis itu ingin menyendiri sejenak, ia mencari celah untuk bisa terhindar dari para bodyguard, dan akhirnya ia berhasil keluar dari taman tanpa sepengetahuan Robby.


"Arra maaf aku tidak bisa menemani mu lebih lama lagi." Damien beranjak dari kursi, dari tadi fikirannya hanya tertuju pada Stella.


"Tapi aku masih ingin disini bersama mu Kak." pinta Arrabel.


"Maaf aku tidak bisa." Damien berlari meninggalkan Arrabel begitu saja.


"Brengsek.." umpat Arrabel dengan kesal.


Damien berlari menghampiri Robby dengan nafas terengah-engah. "Robb, mana Stella?" tanya Damien.


Robby menautkan kedua alisnya. "Bukannya Nona Stella bersama Tuan." jawab Robby, sepertinya ada yang tidak beres saat melihat raut wajah Tuannya tiba-tiba berubah menegang.


"Argghh shiiittt." umpat Damien memukul udara.


"Robb kita cari Stella sekarang juga, kalian berpencarlah cari Stella sampai dapat." perintah Damien.


Tanpa banyak bertanya Robby mengiyakan, begitu juga dengan para bodyguard, mereka berpencar mencari Stella di sekitar taman, sementara Damien dan Robby mencari di sepanjang jalan dengan mobil.


"Sebenarnya apa yang terjadi Tuan?" tanya Robby.


"Kita tidak sengaja bertemu dengan Arrabel di danau, sedikit ada insiden tadi, membuat gadis itu kembali merajuk." jawab Damien, ia meraup wajahnya dengan kasar, kembali fokus ke jalanan berharap bisa menemukan Stella.


Tidak jauh dari taman terlihat seorang gadis berlari, tidak salah lagi itu pasti Stella.


"Robb berhenti." ucap Damien dengan tiba-tiba.


Mobil seketika berhenti mendadak. " Ada apa Tuan?" Damien menghiraukan pertanyaan Robby, ia bergegas keluar dan berlari mengejar Stella.


"Stell.." teriak Damien.


Stella terus berlari tanpa menatap ke belakang, hingga tanpa sadar ia sudah terlalu jauh berlari, saat ini Stella berada di tengah-tengah gedung kosong tempatnya nampak sepi tidak berpenghuni.


"Stella." Damien berhasil meraih tangan Stella.


"Apa yang kamu lakukan hah?" bentak Damien dengan nafas memburu.


Mendengar bentakan dari Om nya, mata lentik itu seketika menetes, sebenarnya ia pantang sekali menangis apalagi hanya karena Arrabel, tapi menginggat baru kali ini Damien membentaknya membuat hatinya rapuh.


"Baru tadi kamu meminta maaf pada Om, kenapa kamu bersikap kekanak-kanakan lagi, tidak sepantasnya kamu bersikap tidak sopan pada Arrabel, dia lebih tua darimu." ucap Damien.


Stella hanya menunduk, matanya terus berair hatinya sangat sakit saat Om nya lebih mempercayai wanita itu dari pada mempercayainya.


"Dia gadis yang baik, Oppa yang membawah gadis itu ke mansion, Om sendiri yang memilihnya, kamu jangan bersikap seperti itu padanya, Om mohon hilangkan sifat kekanak-kanakan mu itu."


Kepala Stella terangkat, ia sudah tidak bisa menahannya lagi, dengan berani ia berbicara.


"Om tahu gadis itu licik Om dia jahat, Stella tidak ingin Om menjadi korban kejahatannya, kenapa Om tidak mempercayai ucapan ku." teriak Stella mengebu dia mengambil nafas lalu melanjutkan ucapannya kembali. " Stella bukan hanya tidak suka dengan gadis itu, Stella juga cemburu Om karena Stella sangat mencintai mu." teriak Stella lagi, setelah mengungkapkan perasaannya gadis itu kembali berlari, meninggalkan Damien yang mematung.


Stella sudah berlari jauh, Damien baru menyadari ucapan Stella padanya.


"Stella mencintai ku, benarkah dia mencintaiku?" bibir Damien terus tersenyum.


"Stella." Damien menatap sekitar, gadis itu sudah menghilang, dengan cepat Damien mengabari Robby, menyuruhnya menugaskan para bodyguard untuk mencari Stella, tidak lupa ia mengirim lokasinya pada Robby.


"STELLA SAYANG.." teriak Damien, pria itu berlari sembari mencari, bibirnya terus tersenyum, tenaga yang tadinya hampir habis sekarang kembali terisi, ia sudah tidak sabar ingin mengungkapkan perasaannya pada Stella.

__ADS_1


Hari sudah hampir malam tapi Stella tak kunjung ketemu, Damien membanting tubuhnya di sofa, pria itu sudah pulang lebih dulu atas permintaan Robby, wajah Damien terlihat pucat karena terlalu jauh berlari hingga Robby memutuskan menyuruh Tuannya untuk pulang dan beristirahat, sementara Robby dan para bodyguard masih mencari keberadaan Stella.


Damien kawatir dengan keadaan gadis itu, padahal esok hari dimana mereka harus terbang ke kota A, bagaimana kalau Stella belum juga di temukan? apa yang harus Damien katakan pada Ansel.


"Stella pasti baik-baik saja nak, Robby akan menemukannya." Papa Daniel menepuk bahu putranya, entah apa yang terjadi hingga gadis itu melarikan diri dari mansion, ya Papa Daniel mengira Stella melarikan diri.


Damien memejamkan mata, berharap gadis itu di temukan, semua ini karena nya, kalau saja ia tidak kasar dan membentaknya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini, lamunan Damien buyar saat mendengar deru mobil datang, ia beranjak dari sofa berlari menghampiri Robby dan lainnya.


Langkah Damien terhenti, menatap seseorang yang sudah membuat semuanya kawatir, gadis itu berdiri di samping Robby dengan kepala menunduk, dengan langkah panjang Damien berlari, ia langsung memeluk Stella di hadapan semuanya.


"Sayang maafkan Om." suara Damien sedikit bergetar, ia memeluk Stella dengan erat dan sesekali mencium puncak kepala gadis itu.


Stella hanya diam, tidak ada niatan untuk membalas pelukan Om nya.


"Robb terima kasih telah menemukannya." Damien menepuk bahu Robby, Robby hanya tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih sudah kembali." bisik Damien di telingga Stella.


Damien membawah Stella masuk, Papa Daniel tahu pasti Robby berhasil menemukan cucunya, beliau beranjak dari sofa merentangkan tangannya menyambut cucu kesayangannya.


"Oppa.." Stella berlari menabrakkan tubuhnya pada tubuh tua renta itu.


"Oppa yakin jika kau baik-baik saja sayang." Papa Daniel mengurai pelukannya mengajak Stella untuk duduk.


"Maafkan Stella Oppa sudah membuat semua orang kawatir dan kerepotan." ucap Stella menunduk.


Stella tidak memandang Damien sama sekali, gadis itu masih marah pada Om nya, bukan hanya marah dia juga malu, malu karena sudah mengungkapkan perasaannya.


"Tidak apa-apa sayang, tidak ada yang merasa di repotkan disini." kini Damien yang bersuara.


Sementara Damien membuang nafas kasar, mungkin Stella masih marah padanya, wajah cemas Damien terbaca oleh Papa Daniel.


"Apa kalian bertengkar?" tanya Papa Daniel.


"Tidak Pa Stella hanya merajuk pada ku, Damien ke kamar dulu Pa."


Damien beranjak dari sofa meninggalkan Papa Daniel, pria parubaya itu menatap putranya dengan tatapan nanar, sepertinya hubungan Damien dan Arrabel tidak ada perkembangan sama sekali, padahal beliau berharap Damien segera meminang Arrabel dan memberinya cucu.


Langkah Damien terhenti tepat di depan kamar Stella, ia ragu-ragu ingin masuk dan menemui gadis yang masih merajuk padanya, tapi ia tidak bisa menundanya lagi untuk meminta maaf, tidak mungkin bukan saat mereka terbang ke kota A, Stella bersikap sedingin ini padanya, bisa-bisa Ansel mencongkel kedua matanya karena membuat putri sulungnya merajuk.


Sebelum mengetuk pintu Damien membuang nafas dalam, semoga ia berhasil membujuk Stella.


'Tok tok tok...'


Sudah berkali-kali Damien mengetuk pintu, tetap tidak ada jawaban dari dalam, akhirnya Damien memutuskan untuk masuk, matanya menyusuri setiap ruangan tak ada siapa pun disana, terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi, mungkin Stella sedang mandi, Damien berjalan ke arah sofa, memilih menunggu Stella disana, tidak ada waktu lagi untuk menundanya, karena nanti malam Damien harus pergi menemui anggota Red Blood untuk mendiskusikan rencana yang Ansel tawarkan padanya.


'Kreeeeekk..' pintu kamar mandi terbuka.


Mata Damien teralihkan, menatap Stella yang hanya memakai hotpan dan tangtop, rambutnya yang basah membuatnya terlihat nampak sexy, Damien berkali-kali menelan ludahnya, hanya dengan Stella tubuhnya bereaksi.


"Kenapa Om kesini?" suara Stella terdengar dingin, sebenarnya ia malu harus bertatap muka dengan Om nya setelah kejadian tadi siang.


Damien berusaha mengendalikan tubuhnya, ia berdiri menghampiri Stella.


"Sayang maafkan Om, Om sudah membentak kamu." Damien memegang kedua bahu Stella, memaksa Stella agar menghadapnya.


Stella melepas tangan Damien dari bahunya. "Sudahlah Om tidak usah di bahas lagi, memang semuanya salah Stella." ia menghindar menjaga jarak dengan Om nya.

__ADS_1


Saat ini Stella memunggungi Damien, gadis itu tidak berani menatap wajah Om nya, sementara Damien meraup wajahnya kasar, pria itu langsung menghampiri Stella memeluk tubuh gadis itu dari belakang, membuat tubuh Stella menegang.


"Sayang jangan seperti ini, asal kamu tahu bahwa Om." suara Damien tercekat, debaran jantungnya semakin bertalu-talu saat ingin mengucapkannya, mata elang itu terpejam. "bahwa Om juga sangat mencintai mu."


'Degh'


Stella melepas tangan Damien yang melingkar di perut rampingnya, membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Om nya, apa Stella tidak salah dengar jika Om nya memiliki perasaan yang sama sepertinya?


"Om bilang apa tadi?" Stella tersenyum menatap Damien, gadis itu malah iseng ingin mengoda Om nya.


Damien menunduk malu, membuat Stella menahan tawanya, sikap Om nya seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.


"Om coba katakan."


Damien semakin salah tingkah, gadis yang usianya baru 18 tahun ini berhasil mempora-porandakan isi hatinya, wajahnya sudah memerah, entah mengapa lidahnya menjadi kaku, pria itu mencoba melirik gadis di depannya, alis tebalnya saling bertaut, melihat Stella menahan senyum membuatnya berfikir gadis itu memang sengaja ingin mengodanya.


Damien lebih mendekat, matanya menatap nyalang Stella, membuat gadis itu mundur teratur hingga tubuhnya menempel ke dinding, ia tidak bisa bergerak lagi karena tubuh Damien menghimpitnya.


"Kamu ingin mengoda Om heeemm." bisikan Damien membuat tubuh Stella meremang, untuk pertama kalinya tubuhnya merasakan sensasi berbeda.


"Ti-tidak Om, Stella.."


Belum selesai ucapan Stella, Damien berhasil membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya, Damien melakukannya dengan sangat lembut, membuat Stella terbuai, aktifitas ini mengalir begitu saja, hingga suara ketukan pintu memaksa Damien untuk melepas pagutannya.


"Sayang boleh Oppa masuk." teriak Papa Daniel dari luar.


"Stella..." teriaknya lagi.


Mata keduanya melotot sempurna dan saling pandang, dengan cepat Damien mencari tempat untuk bersembunyi.


"Sebentar Oppa.." teriak Stella panik.


"Om sembunyi disini saja." Stella membuka lemarinya, mendorong Om nya dengan kasar hingga kepala Damien terbentur dengan sangat keras.


"Aduh, sakit sayang." Damien mengusap kepalanya.


"Maafkan Stella Om." gadis itu langsung menutup lemarinya, lalu berlari mengambil jubah tidurnya.


"Oppa.." Stella membuka pintunya.


"Oppa boleh masuk sayang?"


"S-silahkan Oppa." jawab Stella sedikit gugup.


Papa Daniel mendudukkan dirinya di sofa, di susul Stella juga ikut duduk di samping Papa Daniel.


"Nak apa kamu punya masalah dengan Om mu?" tanya Papa Daniel.


"Eeemm."


"Oppa sarankan lebih baik kalian saling akur, besok kan cucu Oppa akan pulang, jangan membuat kedua orang tua mu berfikir yang tidak-tidak pada Om mu nak." ucap Papa Daniel.


"Baik Oppa." Stella mengangguk.


"Ya sudah Oppa hanya ingin membicarakan itu, Oppa tunggu di meja makan ya sayang." Papa Daniel beranjak dari sofa, meninggalkan kamar Stella tanpa menaruh curiga.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2