
'Ehhhhmmmm..'
"Aku cemburu sayang kamu terlalu dekat dengan mereka." ucap Damien setelah bibir mereka terlepas.
Wajah Stella seketika merah merona, mendengar pengakuan dari kekasihnya.
"Benarkah hubby cemburu, akh hubby tidak pantas untuk cemburu, lihatlah berapa usia hubby." ucap Stella mengejek sembari tertawa geli.
Sementara Damien yang sedikit kesal, langsung memakan habis bibir kekasihnya, sembari mengigitnya gemas.
"Ayo berani mengejek lagi."
"Iiich sakit.." keluh Stella sembari memegang bibir bawahnya.
Kini giliran Damien yang menertawai Stella, ia pun kembali menjalankan mobilnya menuju mansion.
...
Pagi ini dimana Derward akan memberikan kepemimpinannya pada Albert, sebenarnya Calista tidak setuju akan hal ini, dari awal menikah wanita ini memang tidak menyukai anak angkat dari suaminya itu, Calista berfikir Albert akan menjadi benalu dan penghalang untuk bisa menguasai harta suaminya, tapi apa mau di kata sang suami sudah teguh dengan pendiriannya, membuat dirinya tidak bisa berkutik lagi.
"Aku mengumpulkan kalian disini untuk mengumumkan hal penting (Saat itu Albert tepat bediri di samping Derward) you must know lah, siapa yang berdiri di samping ku saat ini, dia Albert putra kebangaan ku (Derward menarik nafas) dengarkan baik-baik, hari ini aku Derward ketua mafia Cartel Sinaloa memutuskan, mulai detik ini dan di jam ini Albert resmi aku tunjuk sebagai pengantiku, pemimpin Cartel yang baru."
Bagai dentuman bom atom yang meledak, semua anggota sangat terkejut mendengar keputusan sepihak dari Derward, banyak yang tidak setuju akan hal ini, bukannya mereka tidak suka dengan pilihan pemimpinnya, tapi mereka memang belum mengenal siapa Albert, mereka mengira Albert hanyalah seorang pemuda yang tidak memiliki kemampuan apapun.
Seruan penolakan terus di lancarkan oleh pihak anggota, sementara Albert tetap berdiri dengan tenang, ia tidak sama sekali terpancing dengan ucapan-ucapan anggota Cartel yang menganggapnya remeh.
"Kenapa harus dia."
"Dia belum berpengalaman."
"Masih banyak anggota kita yang lebih berhak menjadi kandidat."
Teriakan satu persatu terlontar dari mulut mereka, hingga suara Derward mengema memecah kegaduhan itu.
"Diaaaammm.." teriak Derward dengan lantang.
Ribuan orang yang berada disana diam serempak, setelahnya muncul tayangan Albert di layar monitor besar yang berada di depan, tempat itu memang di khususkan untuk perkumpulan besar seperti saat ini, nampak tayangan dimana Albert melatih semua anggotanya yang berada di Amerika, bukan hanya itu tayangan merakit bom pun nampak jelas terlihat di layar monitor, membuat semua orang yang berada di sana terkagum-kagum dengan kemampuan seorang Albert.
"Bagaimana? kalian masih meragukan putra terbaik ku?" tanya Derward pada anggotanya.
"Tidak Gent." jawab mereka serempak.
Bibir Derward tersenyum senang saat semuanya dengan serempak menyebut nama Albert.
"Albert.. Albert.. Albert.." gemuruh suara anggota kini memenuhi seluruh ruangan.
"Selamat son, Daddy bangga padamu, buat mereka menjadi lebih tangguh lagi, Daddy ingin melihat perubahan mereka sebelum Rick Devil bertindak menyerang kita." wajah Derward penuh harap.
"Yes Dad, aku akan bimbing mereka sesuai permintaan Daddy."
Di tempat Lain
"Bagaimana ini? kita mengalami kesulitan karena musuh kita berada di negri sebrang, bagaimana kita bisa melakukan penyerangan jika kita terpecah belah seperti ini." ucap Ansel pada rekan-rekannya.
__ADS_1
Saat ini Ansel dan rekannya sedang berkumpul di markas, mereka sedang mencari solusi mengenai perbedaan tempat tinggal yang terlampau begitu jauh.
"Ya kamu benar sel, kita tidak bisa menyerang jika posisi kita berpencar seperti sekarang." seru yang lainnya.
Selama 5 jam Ansel berada di markas, padahal hari ini waktunya ia menemani keluarganya di rumah, dimana semua keluarga tengah berkumpul di hari minggu seperti sekarang ini, sudah 5 jam bermusyawarah dan saling bertukar pendapat, tapi Ansel dan yang lainnya belum menemukan jalan keluarnya, karena sudah sangat lama berada di markas akhirnya Ansel pun memutuskan untuk pulang ke mansion, menemui istri dan si kembar.
"Sayang.." Ansel mengecup bibir Bella dengan mesra, ia saat ini sudah berada di mansion.
"Kemana anak-anak?" tanyanya lagi.
"Mereka berada di kamar masing-masing mungkin tidur siang, kamu sudah makan?" Bella mengandeng tangan suaminya menuju kamar.
"Kebetulan belum sayang, aku lapar sekali."
"Mandi lah dulu, oh ya tadi Arka menelpon dia bilang lusa dia dan istrinya akan datang kemari." ucap Bella membantu membukakan jaket yang suaminya pakai.
"Oh ya, tumben sekali anak itu." ucap Damien.
Sejak menikah Arka memilih berpindah ke negara tetangga, karena sang istri memang asli orang sana, kebetulan disana Arka juga di tugaskan sang mertua untuk meneruskan kepemimpinan di perusahaan milik keluarga, karena pengaruh usia yang tidak memungkinkan lagi untuk menjalankan bisnis keluarga, istri dari Arka juga anak semata wayang yang mereka miliki, jadi semua tanggung jawab perusahaan di alihkan padanya, mau tidak mau Arka di sibukkan dengan tanggung jawab perusahaan hingga pria itu jarang sekali berkunjung ke mansion utama.
Selepas mandi Bella menemani suaminya makan siang, lepas itu keduanya bersantai di ruang keluarga.
"Pa kamu tidak menyuruh anak buahmu lagi untuk mengawasi putri kita?" tanya Bella, keduanya sudah berada di kamar.
"Papa percaya Damien sayang, semoga pria itu benar-benar menjaga putri kita, untuk sementara ini tidak ada kendala seperti sebelum-sebelumnya, sepertinya Cartel sudah puas berhasil membunuh Om Daniel, tapi Papa masih penasaran apa motif Gent membunuh Om Daniel, kalau motif balas dendam kenapa keluarga kita tidak mendapat penyerangan lagi, seakan-akan mereka melakukan pembunuhan ini atas dasar keinginan seseorang."
"Ya kamu benar Pa, aku jadi curiga ada orang lain di balik Gent, menyuruh pria itu untuk menculik dan membunuh Om Daniel." Bella pun berfikiran sama.
Memang telat menyadari hal ini, tapi ini tetap harus di selidiki, secepatnya Ansel akan membicarakan kecurigaannya mengenai kematian Om Daniel pada Damien.
Setelah mendapat kabar dari Ansel tentang kecurigaannya pada seseorang, akhirnya Damien memutuskan untuk bertemu dengan Lano, pria dengan kecerdikan di atas normal itu pasti mampu memecahkan masalah ini.
"Brengsek, karena terlalu bahagia akan restu Papa aku jadi bodoh begini." umpat Damien.
"Hubby mau kemana?" suara Stella tiba-tiba mengejutkan Damien.
"Aku keluar sebentar ingin menemui Lano, kamu baik-baik di rumah ya." Damien mengacak rambut Stella dengan gemas.
"Hari semakin sore loh, masak mau keluar lagi." ucap Stella sembari cemberut.
Dari pagi Damien pergi entah kemana, ia baru sampai mansion pukul 13.00 siang dan sekarang pria itu mau berangkat lagi, hal itu membuat mood Stella hancur seketika, padahal malam ini ia ingin mengajak Damien makan malam di luar.
"Ada hal penting yang harus aku selesaikan sayang." bujuk Damien.
"Pergi sana, lebih baik aku keluar dengan teman baruku." Stella akan beranjak dari tempat duduknya, dengan cepat Ansel menarik tangan kekasihnya.
"Ikut aku saja." tanpa banyak bicara Damien mengandeng tangan kekasihnya menuju mobil, disana sudah ada Robby yang menunggu.
Wajah Stella berbinar, ternyata triknya berhasil juga, mobil pun melaju membelah jalanan kota paris, tidak menunggu waktu lama mobil pun akhirnya sampai di markas, sebelumnya Damien sudah mengabari Lano jika ia ingin bertemu, Lano pun mengiyakan kebetulan sore itu dirinya juga berada disana, sembari menunggu Damien datang Lano duduk di depan komputer canggihnya.
"Ayo sayang kita masuk."
Untuk pertama kalinya Damien mengajak Stella ke markas, untung saja sore ini situasi di markas nampak sepi.
__ADS_1
"Beruntung tidak ada orang." batin Damien tersenyum.
Damien dan Stella langsung melangkah menuju ruangan Lano, dia tahu jika Lano menunggunya disana, sementara Robby memilih berjaga di luar.
"Tok Tok Tok.." setelah mengetuk pintu Damien langsung masuk.
"Lano.."
"Hai Om, apa kabar." Lano menjabat tangan Damien.
"Hai Stella.." sapanya pada Stella.
"Hai Lan."
Damien menatap Lano dengan tajam, hal yang paling tidak ia suka jika wanitanya tersenyum pada pria lain, meskipun itu rekannya sendiri.
"haha Santai lah Om." Lano tertawa renyah menanggapi sikap bucin Damien.
Ya hanya Lano yang tahu jika Damien dan Stella memiliki hubungan khusus. "Apa yang membuat Om tiba-tiba ingin menemui ku."
"Lan, tolong cari tahu apa ada orang lain di balik Gent." jawab Damien ambigu.
"Maksud Om, Om mencurigai ada seseorang yang menyuruh gent untuk membalas dendamnya pada keluarga Om Dam begitu?"
"Yes, tepat." Damien menepuk pelan bahu Lano.
Sementara Stella lebih memilih bermain game, dia tidak tertarik sama sekali mendengar pembahasan mereka.
"Kasih waktu Lano dua hari Om atau secepatnya Lano akan mengabari Om Dam." ucap Lano tanpa ragu.
"Oke, maafkan Om sudah merepotkanmu." ucap Damien merasa sungkan.
"Tidak ada yang di repoti kok Om."
"Baiklah kalau begitu Om dan Stella pamit pulang, sepertinya wanitaku tidak nyaman berada disini " Damien melirik Stella sekilas.
Lano terkekeh mendengar ucapan Damien, ia tidak habis fikir kenapa dirinya dan ketiga kawannya bisa kalah saing dengan Damien, yang notabenya jauh lebih pantas menjadi kekasih Stella.
"Hati-hati."
Damien mengangguk, sementara Stella menjawabnya dengan senyuman, Keduanya pun mulai meninggalkan markas, Lano yang merasa tertantang dengan tugasnya lebih memilih tetap tinggal, ia fokus mengerjakan tugas barunya dari Damien.
**
Dua hari berlalu, Lano mengirim email ke akun Damien, pria muda itu tidak menyangka jika di balik pembunuhan Tuan Daniel ialah Calista seseorang di masa lalu Damien.
Saat ini Damien sedang berada di kantor, pria itu sibuk mengecek berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya, tiba-tiba saja ia mendapat notif email dari Lano, seketika Damien meninggalkan pekerjaannya begitu saja dan fokus pada komputernya.
Bagai tersambar petir saat Damien membaca email dari Lano, disana berisi semua informasi tentang Gent.
"Brengsek keparat, ternyata dalang di balik semua ini wanita siluman itu." umpat Damien saat tahu siapa istri dari Gent.
Akhirnya terbongkar sudah, tapi ini belum apa-apa, Damien belum tahu saja jika masih ada dalang lain yang ikut serta di dalamnya.
__ADS_1
Bersambung ...