
"Sampai bertemu lagi di sekolah minggu depan, Vann", kata Toregas yang melambaikan tangannya ke arah Vann, lalu pergi dari tempat ini penuh rasa kecewa.
Vann dan Toregas sudah kembali ke kota asal mereka dari tempat tes memakai lingkaran teleportasi, mereka sudah gagal sehingga tidak ada gunanya tetap disana lebih lama lagi.
Melihat Toregas yang pergi dengan kecewa, Vann tidak tahu harus berkata apa sebab ketika di kelas, Vann mendengar bahwa Toregas sudah bermimpi menjadi kultivator kuat sejak berusia 5 tahun.
Tetapi orang tuanya selalu melarang Toregas menjadi kultivator sebab itu terlalu berisiko, kultivator sering bertarung di medan perang melawan monster yang membuat mereka mudah mati. Oleh karena itu, orang tua Toregas melarang anaknya menjadi kultivator.
Namun Toregas tidak menyerah, ia mencoba membujuk orang tuanya untuk memberikan izin sampai bertahun-tahun hingga ia diizinkan. Walaupun berhasil mendapat izin, orang tuanya memberi syarat kepada Toregas bahwa ia harus memiliki bakat di atas 50 sebelum boleh menjadi kultivator.
Sekarang, jangankan memiliki bakat tingkat 50, bakat Toregas sudah tidak memenuhi syarat yang membuat mimpinya hancur.
Mimpi yang sudah ada sejak puluhan tahun, hancur oleh kenyataan kejam dengan waktu kurang dari sehari, Vann tahu seberapa kecewanya Toregas karena Vann yang baru bermimpi menjadi kultivator selama sekitar sehari ikut merasa sangat kecewa saat mengetahui dirinya gagal.
Kembali ke rumah setelah berjalan selama 30 menit, Vann menemukan ayahnya yang sibuk makan siang.
Tanpa melihat Vann, ayahnya langsung berkata "Bagaimana? Kau gagal bukan? Baik itu ayah atau ibumu sama sekali bukan kultivator dan tidak memiliki bakat, kenapa kau berpikir bisa menjadi kultivator? Vann, menyerah! Mulai minggu depan, kau bisa kembali ke sekolah dan belajar seperti sebelumnya. Sampai kau lulus sekolah, ayah pasti sudah menyiapkan uang ratusan miliar agar kau bisa hidup tanpa merasakan kesulitan! Selama ayah hidup, ayah pasti akan menyiapkan banyak uang untuk dirimu".
Apabila itu orang lain, mereka pasti senang sebab mereka hanya perlu menghabiskan uang sepanjang hidup mereka tanpa bekerja.
Tetapi wajah Vann tidak terlihat senang sedikitpun, ada jejak ketegasan di matanya "Ayah, aku mungkin gagal kali ini. Meskipun begitu, aku yakin aku masih bisa menjadi kultivator! Bagaimanapun, kerja keras tidak kalah penting dari bakat".
__ADS_1
Senyuman ramah di wajah ayah Vann berubah menjadi suram, ia meletakkan alat makanannya kembali ke mangkuk sebelum berdiri penuh kemarahan "Apakah kau masih belum mengerti juga? Dengan bakat mu itu, kau hanya akan mati sebagai kultivator! Kerja keras memang tidak kalah penting dari bakat, namun tanpa bakat yang cukup, kerja keras tidak akan menunjukkan hasilnya yang kau harapkan! Vann, menyerah! Jika kau terus mencoba menjadi kultivator, kau hanya akan mati!".
"Ayah", kata Vann dengan lembut, ia tidak berani berteriak kepada ayah yang sudah merawatnya selama ini "Aku memiliki tujuanku sendiri! Walaupun aku baru beberapa hari bermimpi menjadi kultivator, tapi tekad ku tidak akan berubah. Suatu hari nanti, aku mungkin mati akibat keputusanku ini, namun aku tidak keberatan. Setidaknya, aku senang mencoba mencapai apa yang aku mimpikan. Selain itu, aku tidak akan mati semudah itu! Aku pasti membuat ayah bangga kepadaku, aku akan menjadi kultivator yang hebat atau bahkan pemegang tahta sehingga ayah bisa menyombongkan diri di depan teman-teman ayah bahwa ayah memiliki anak yang berhasil menjadi pemegang tahta".
Tanpa menunggu jawaban ayahnya lagi, Vann berbalik kembali ke kamar "Ayah, mulai besok aku akan pergi belajar bela diri. Aku harus melatih tubuh serta kemampuan bertarung ku besok".
Vann sudah menutup pintu kamarnya lalu berbaring di tempat tidur, ia merasa cukup lelah hari ini yang membuat Vann menutup matanya untuk beristirahat.
Melihat Vann yang sudah pergi, ayahnya kembali duduk di meja makan lalu menghela nafas "Tidak peduli seberapa kuat kau di masa depan, ayah tidak akan merasa bangga, melainkan ayah pasti selalu merasa khawatir kau mungkin terbunuh akibat para monster itu. Vann, kenapa kau tidak mengerti maksud perkataan ayah!".
Setelah berpikir sebentar, ayah Vann menggelengkan kepalanya "Lupakan, aku yakin ini hanya kebodohan sesaat Vann. Beberapa bulan kemudian, ia pasti berhenti mencoba menjadi kultivator dan menyerah terhadap mimpinya".
Ayah Vann menghabiskan makanannya sebelum kembali ke kamar, ia masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan.
2 bulan kemudian, ayah Vann duduk dengan suram di kamarnya. Ia baru menyelesaikan siarannya di Itubers, saat ini ia melihat ke arah jendela.
Jendela kamar ayah Vann langsung terhubung ke halaman, oleh karena itu ia selalu bisa melihat Vann yang sedang berlatih memakai pedang kayu di depan halaman rumahnya.
Selama 2 bulan ini, Vann benar-benar tidak menyerah atas mimpinya.
Meskipun Vann masih pergi ke sekolah di bawah tekanan ayahnya, tapi setelah sekolah selesai, Vann pasti memanfaatkan semua waktunya untuk berlatih menjadi kultivator.
__ADS_1
Pada siang hari saat baru kembali dari sekolah, Vann pergi ke rumah bela diri pedang yang baru ia ikuti 2 bulan yang lalu.
Waktu berlatih disana hanya 2 jam setiap harinya, lalu Vann kembali ke rumah agar bisa berlatih mengayunkan pedang di lapangan sampai malam hari.
Tidak diketahui berapa banyak pedang yang Vann ayunkan setiap harinya, namun ayahnya tahu bahwa Vann tidak akan berhenti sampai waktu makan malam tiba.
Ketika sudah makan malam, Vann tidak tidur melainkan mempelajari buku mengenai kultivasi yang ia beli dari toko.
Walaupun buku-buku ini tidak mengajari tentang cara berkultivasi atau teknik apapun, tapi mereka memberikan pengetahuan dasar sejarah para kultivator dari dulu sampai sekarang serta aturan-aturan unik di antara para kultivator.
Sedangkan cara berkultivasi serta teknik bertarung, semua itu adalah rahasia masing-masing akademi kultivator dan tidak disebarkan kepada umum. Oleh karena itu, Vann tidak bisa mendapatkannya.
"Anak ini benar-benar keras kepala, apakah ia masih belum menyerah?", kata ayah Vann dengan wajah berat.
Ia bisa melihat tekad Vann menjadi kultivator melalui perubahan tubuhnya selama ini.
Vann yang dulunya kurus sekarang terlihat lebih berotot, setiap kali ia mengayunkan pedang maka kekuatan yang cukup besar bisa dirasakan dari sana.
Bukan hanya itu, Vann yang sebelumnya hanya mengayunkan pedang secara sembarangan sekarang lebih terlatih. Setiap ayunan pedangnya adalah pukulan efektif untuk mengalahkan musuh, ia mempelajarinya melalui rumah bela diri yang ia ikuti.
Ayahnya terus menonton hingga matahari mulai menghilang dan digantikan oleh malam, Vann meletakkan pedang kayunya di sudut halaman serta berjalan kembali ke rumah yang menandakan waktu istirahatnya sudah selesai.
__ADS_1
Melihat Vann sudah selesai, ayahnya juga berjalan ke ruang makan. Meskipun masih tidak setuju terhadap ide Vann menjadi kultivator, ayahnya memiliki sesuatu yang sangat penting untuk diberitahukan kepada Vann hari ini.