
"Ibu berencana bertemu denganku besok untuk makan siang?", tanya Vann sedikit bingung kepada ayah yang duduk di depannya.
Saat ini Vann bersama ayahnya sedang makan malam di ruang makan bersama, ayahnya mengangguk tidak peduli "Kau sendiri tahu bahwa beberapa minggu lagi, ibumu akan menikah lagi. Oleh karena itu, kalian mungkin tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini. Ia sudah memiliki anak dan suami baru di masa depan, waktu agar bisa bertemu bersamamu akan menjadi kecil. Jadi sebelum hal itu terjadi, ibumu berencana bertemu bersamamu lagi. Setidaknya, ia harus melihat wajahmu yang sudah lama tidak bertemu".
Vann tidak terkejut mengenai dirinya yang akan bertemu lagi dengan ibunya, bagaimanapun ibu Vann sudah kembali normal ketika Vann berumur 10 tahun. Lebih tepatnya ibu Vann sudah melewati rehabilitasi selama 5 tahun, ia sudah menjadi seorang ibu yang baik lagi.
Pada usia 10 sampai 15 tahun, Vann bertemu dengannya sekitar 7 kali. Pada awalnya Vann merasa masih takut sehingga ayahnya harus menemani dirinya saat ia bertemu ibu, tapi sekarang Vann sudah tidak takut lagi sehingga ia bisa menemui ibunya sendiri. Apalagi Vann bisa melihat bahwa ayah dan ibunya selalu menjadi diam ketika mereka saling bertemu, seakan-akan mereka berharap untuk tidak saling melihat. Mungkin jika tidak ada Vann disana, mereka pasti sudah pergi.
Namun beberapa bulan yang lalu, Vann sudah mendengar berita ibunya sudah bertemu seorang pria baik serta memiliki seorang anak perempuan dari istri sebelumnya. Tapi istri pria itu mati sekitar beberapa tahun yang lalu, ia harus merawat anaknya sendiri.
Mereka secara kebetulan bertemu, setelah 2 tahun dan merasa cocok, ibunya memutuskan membentuk keluarga baru.
Ketika sudah memiliki keluarga baru, Vann tahu kemungkinan besar ia tidak akan bertemu ibunya lagi.
Bagaimanapun ibunya sudah memiliki kesibukan serta keluarga sendiri yang harus diurus, tidak ada waktu bagi Vann.
Walaupun begitu, Vann tidak terlalu keberatan. Ia memiliki seorang ayah yang selalu memperhatikannya disini, itu sudah lebih dari cukup.
"Aku mengerti ayah, kalau begitu besok aku pasti bertemu ibuku", kata Vann.
Ayah Vann mengangguk, ia berdiri dari meja makan "Ia sekarang sudah memiliki keluarga baru, sampaikan pesanku kepada ibumu, aku harap ia tidak memilih orang yang salah lagi sebagai suaminya. Jangan pilih monster seperti diriku".
Setelah itu, ayah Vann kembali ke kamarnya penuh rasa sedih.
Menatap kepergian ayahnya, Vann ikut menghela nafas.
Baik itu ayah ataupun ibunya sama sekali tidak pernah menceritakan kepada Vann mengenai alasan mereka berpisah, apa yang Vann tahu yaitu ibunya menganggap ayah sebagai monster.
__ADS_1
Oleh karena itu, Vann yang lahir dari ayahnya juga dianggap sebagai anak monster ketika masih kecil dulu.
Saat ini ibunya sudah berubah, ia ramah terhadap Vann walaupun Vann masih beberapa kali menemukan jejak ketakutan di matanya ketika menatap Vann.
Menggelengkan kepalanya, Vann berhenti memikirkan hal tersebut.
Besok adalah hari minggu sehingga ia tidak perlu pergi ke sekolah, waktu yang tepat untuk bertemu ibunya.
...----------------...
Keesokan harinya, Vann berjalan ke sebuah rumah makan termewah di kota kecil ini.
Sekarang siang hari yang menyebabkan cuaca cukup panas, tapi Vann tidak terlalu terpengaruh akibat panas di sekitarnya.
Ia membuka pintu restoran dimana seorang pelayan langsung mendekatinya "Tuan, apakah anda datang sendiri atau bersama yang lain?".
"Aku kesini menemui ibuku, seharusnya ia sudah datang kesini", Vann menjelaskan.
Makan disini membuat mereka tidak akan terganggu, tapi sebagai gantinya, biaya makan di ruangan khusus seperti ini menjadi lebih mahal.
Vann tidak terlalu peduli tentang hal itu, bukan hanya ayahnya yang berhasil menjadi orang kaya tapi ibunya juga.
Setelah menyelesaikan rehabilitasinya, Ibu Vann nampaknya berhasil membuat perusahaan sendiri yang berhasil menjadi perusahaan besar di negara ini.
Bahkan pria yang berencana menjadi suaminya beberapa bulan lagi juga bukan orang sembarangan, pria tersebut merupakan sosok pemilik banyak perusahaan terbaik di negara ini hingga negara lain. Jadi kekayaannya sama sekali tidak perlu diragukan, ibunya benar-benar berhasil sekarang baik itu di bisnis ataupun membangun keluarga baru.
Pelayan itu membuka sebuah pintu ruangan sambil berkata "Tuan, ibu anda sudah menunggu di ruangan".
__ADS_1
Vann mengangguk, ia berjalan menuju ruangan tersebut sedangkan pelayan kembali menutup pintu dan berjalan pergi dari ruangan ini.
Di ruangan itu, Vann menemukan seorang wanita berusia sekitar 40 tahun yang sudah duduk di atas meja sambil menunggunya.
Wanita itu memiliki rambut berwarna coklat panjang, walaupun dirinya sudah cukup tua namun masih ada jejak kecantikan di wajahnya yang menunjukkan pada usia muda, wanita ini pasti sangat cantik.
Melihat wanita itu, senyuman lembut muncul di wajah Vann "Ibu, senang melihatmu sehat".
Ibu Vann juga tersenyum, tapi ada jejak rasa bersalah pada senyumannya "Kau sekarang sudah semakin besar, selain itu kau sepertinya sudah banyak berlatih hingga memiliki banyak otot, Vann. Ayo duduk, ibu sudah memesan semua makanan yang kau sukai".
Vann duduk di depan ibunya dan mengamati banyak sekali makanan yang ada di atas meja. Seperti yang dikatakan ibunya, sebagian besar makanan disini adalah makanan yang paling disukai Vann. Meskipun mereka tidak tinggal bersama, nampaknya ibu Vann masih sangat mengerti dirinya.
Tanpa ragu sedikitpun, Vann mulai mengambil alat makan dan memakan beberapa makanan yang sudah ibunya pesan di atas meja.
"Bagaimana rasanya? Apabila ada yang kurang, kau bisa memesan lagi", kata ibu Vann penuh perhatian.
"Tidak, ini sudah lebih dari cukup, bahkan aku ragu bisa menghabiskan semua makanan disini", kata Vann tersenyum pahit melihat ibunya yang banyak sekali memesan makanan.
"Vann, apakah kau masih marah terhadap ibu yang pernah mencoba membunuhmu beberapa tahun yang lalu?", kata Ibu Vann sambil menatap ke bawah, ia tidak berani melihat wajah Vann secara langsung akibat rasa bersalahnya.
Vann menggelengkan kepalanya sambil tersenyum "Ibu, aku tidak pernah marah ataupun membencimu. Apalagi itu semua hanya masa lalu. Tidak peduli apa, ibu masih ibuku, Vann sangat berterima kasih karena ibu sudah memberikan waktu supaya bisa bertemu denganku. Setelah ini, ibu mungkin sudah memiliki keluarganya sendiri sehingga akan sangat sulit untuk bertemu Vann, aku harap ibu bisa hidup senang bersama keluarga yang baru".
Ibu Vann kembali mengangkat kepalanya, ada ketegasan di matanya "Walaupun ibu tidak memperlakukan mu dengan baik di masa lalu, tapi di masa depan ibu pasti akan berusaha membantu Vann mengatasi setiap masalah. Meskipun ibu sudah memutuskan membentuk keluarga baru, Vann masih anak ibu! Tidak peduli seberapa sibuk ibu, aku pasti meluangkan waktu bagi Vann. Apabila ada masalah, Vann bisa menghubungi ibu".
Vann mengangguk lalu tidak berbicara lagi, mereka hanya mulai makan.
Ketika sebagian besar makanan di atas meja sudah hampir habis, Ibu Vann kembali berkata "Aku dengar Vann tertarik menjadi kultivator, apakah itu benar?".
__ADS_1
"Itu benar, aku memang memiliki bakat yang rendah. Namun selama aku berusaha, aku yakin aku pasti bisa menjadi kultivator juga. Bahkan aku sudah berlatih selama 2 bulan ini, aku akan berhasil di tes berikutnya", kata Vann tanpa keraguan sedikitpun.
Ibu Vann menatap anaknya yang dipenuhi tekad sebelum berkata ragu-ragu "Ibu tidak bisa membantumu mengenai masalah kultivator, bagaimanapun para kultivator sama sekali tidak peduli terhadap uang. Meskipun begitu, ibu mungkin bisa memberikanmu beberapa saran sebab ibu kenal orang yang bisa membantumu menjadi kultivator, masalahnya sangat sulit meyakinkan orang tersebut supaya bersedia membantumu".