
"Segera pergi! Semua murid harap meninggalkan sekolah secepat mungkin, jangan terlalu panik dan mengambil barisan teman kalian! Semua murid akan dievakuasi secara tertib, jangan panik!", teriak seorang guru di halaman sekolah, para murid berbaris sesuai perkataannya dan meninggalkan sekolah ini menuju tempat perlindungan.
Vann saat ini sedang berbaris di bagian belakang bersama Anto dan Sania, kelar mereka terletak paling jauh dari gerbang sekolah sehingga mereka juga menjadi kelompok orang yang paling terakhir bisa melakukan evakuasi kecuali para guru yang tidak akan melarikan diri sebelum semua murid pergi.
Ketika Vann dan Anto sedang sibuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi, Sania sibuk mencari suatu barang di tasnya "Tidak ada! Sapu tanganku tidak ada di tas!".
Melihat wajah panik Sania, Anto sebagai pasangan prianya tidak bisa untuk tidak bertanya "Sapu tangan? Maksudmu sapu tangan yang selalu kau bawa itu? Mungkin tertinggal di kelas, kita bisa mengambilnya kembali lagi nanti setelah penyerangan monster selesai atau jika sapu tangan itu hilanga sekalipun, kita bisa membeli yang baru".
"Kau sama sekali tidak mengerti!", kata Sania dengan marah "Sapu tangan itu adalah benda yang diberikan ibuku! Aku harus memeriksanya lagu di kelas, kalian bisa pergi ke tempat perlindungan dulu! Aku akan mengejar kalian nanti".
Tanpa menunggu jawaban dari Vann dan Anto lagi, Sania berlari kembali menuju kelas untuk mencari sapu tangannya.
Vann serta Anto sedikit tidak bisa berkata-kata, mereka sudah menjadi teman sejak lama sehingga mereka tahu bahwa Ibu Sania sudah tidak ada di dunia ini dari 5 tahun yang lalu akibat sakit. Oleh karena itu, mereka juga sangat mengerti seberapa berharganya sapu tangan yang diberikan ibunya bagi Sania.
Setelah saling menatap, Vann dan Anto mengangguk lalu mengejar Sania.
Bagaimana mungkin mereka membiarkan seorang wanita pergi sendiri seperti itu? Apalagi mereka sudah menjadi teman selama lebih dari 10 tahun, mereka sudah merasa seperti kakak adik sehingga tidak bisa saling meninggalkan. Walaupun Vann bukan pasangan Sania seperti Anto, ia sudah menganggap Sania sebagai adiknya juga.
Beberapa guru tentunya melihat gerakan 3 murid yang kembali ke sekolah tersebut, tapi mereka sama sekali tidak memiliki waktu untuk menghentikan 3 murid itu sebab Vann dan yang lainnya pergi terlalu tiba-tiba.
Menggertakkan giginya, para guru tidak berani mengambil resiko lagi. Bagaimanapun suara alarm evakuasi mejadi semakin besar yang berarti monster sudah sangat dekat, mereka tidak tertarik kehilangan hidup mereka hanya karena 3 murid yang tidak terlalu dikenal.
Berlari menuju kelas, Vann dan Anto menemukan Sania yang sudah ada di depan mejanya. Ia memeriksa laci meja sebelum berteriak "Ketemu!".
"Apakah sudah ketemu?", kata Anto yang berlari mendekati Sania "Kalau begitu ayo cepat ambil sapu tangan itu, kita harus pergi dari sini sebelum para monster datang.
Vann tidak ikut pergi ke kelas melainkan tetap berdiri di depan pintu kelas agar mengetahui apabila monster sudah datang menyerang.
__ADS_1
Sebelum mereka bisa pergi dari sini, sebuah suara tabrakan terdengar dari kelas.
"Brak!".
Bersamaan dengan suara tabrakan itu, Vann bisa mendengar teriakan Anto dan Sania yang membuat ia tahu bahwa sesuatu sudah terjadi "Ada apa?".
Saat melihat ke arah kelas, wajah Vann membeku.
Suara tabrakan keras tadi merupakan suara kaca jendela yang pecah.
Sekarang di kelas, terdapat Anto dan Sania yang duduk ketakutan di tanah.
Di depan 2 orang tersebut, ada seorang banteng yang berdiri seperti manusia.
Makhluk ini mirip seperti manusia, tapi ia memiliki kepala banteng serta kulit berwarna coklat.
Di antara para monster, terdapat Minotaur yang merupakan sosok berkepala banteng serta memiliki tubuh seperti manusia.. Dibandingkan manusia, Minotaur memiliki kekuatan yang jauh lebih menakutkan, hanya para kultivator yang bisa menghadapinya.
Minotaur itu menatap ke arah Anto dan Sania, sebuah senyum kejam muncul di wajahnya "Siapa yang berpikir bahwa aku belum terlambat? Ternyata masih ada daging manusia yang bisa dimakan hari ini, aku benar-benar beruntung! Tidak perlu takut anak manusia, paman sama sekali bukan orang yang kejam! Paman hanya membutuhkan daging kalian untuk dimakan".
Minotaur itu mengangkat pedang raksasa di tangannya, ia siap menebas Anto serta Sania lalu memakan mereka.
Melihat hal tersebut, Vann mulai berpikir dengan cepat.
Tanpa ragu sedikitpun, Vann mengambil sapu yang ada di sudut kelas.
Ia mematahkan tongkat sapu yang terbuat dari kayu itu hingga hanya tinggal tongkat tajam, setelah itu Vann bergegas maju menuju Minotaur.
__ADS_1
Vann tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya dan kenapa ia yang belum pernah bertarung bisa memiliki keberanian untuk melawan monster seperti ini, namun apa yang Vann tahu bahwa tubuhnya bergerak sendiri menghadapi monster ini.
"Aaaaa! Mati, monster!", teriak Vann yang menusukkan tongkat sapu yang sudah sedikit tajam ke tubuh Minotaur tersebut.
"Stab!".
Tongkat sapu itu benar-benar berhasil menusuk tubuh Minotaur, darah jatuh di area dimana tubuh Minotaur tertusuk.
Nampaknya Minotaur di depan mereka ini adalah Minotaur paling lemah sehingga Vann yang bukan kultivator sekalipun masih bisa melukainya.
Minotaur itu sedikit terkejut bahwa manusia normal yang masih belum dewasa ini bisa melukainya, mata Minotaur jatuh ke tubuh Vann "Sangat menarik, aku berubah pikiran sekarang! Ada sebuah daging yang lebih bagus daripada daging manusia, yaitu daging manusia yang memiliki sikap seperti seorang pejuang. Aku sudah memutuskan, aku akan memakan mu lebih dulu!".
Vann tidak terkejut bahwa tusukan tongkat sapu ini tidak bisa memberikan luka fatal kepada Minotaur, ia hanya melihat teman di sampingnya itu "Anto, apa yang kau lakukan? Cepat bawa Sania pergi dari sini, selagi aku masih bisa menahan musuh!".
Anto yang ketakutan kembali sadar, ia menatap ke arah Vann sebelum mengangguk dengan tegas.
Jika mereka terus disini, mereka tidak bisa memberikan bantuan apapun kepada Vann juga.
Oleh karena itu, Anto menarik tangan Sania yang masih terkejut hingga tidak bisa berbicara dan berjalan pergi dari sini "Vann, aku pasti memanggil kembali bantuan untuk datang kesini, kau harus bertahan hidup sampai waktu itu! Aku pasti menemukan kultivator hebat yang membantumu".
Saat Vann melihat Anto dan Sania yang pergi, ada sedikit kesepian di matanya.
Walaupun Vann adalah orang yang memberitahu mereka untuk pergi, tapi apabila itu adalah Vann, maka ia tidak akan pergi melainkan membantu temannya.
Seperti apa yang terjadi pada Anto dan Sania sebelumnya, selama Vann memutuskan melarikan diri dengan mengorbankan 2 temannya itu, Vann pasti masih bisa hidup.
Hal ini mengingatkan Vann tentang masa lalunya dimana ibunya sendiri menganggap ia sebagai monster "Pada akhirnya aku masih tetap sendirian, tidak ada yang peduli apakah aku tetap di dunia ini atau tidak. Tunggu dulu, mungkin hanya ayahku yang peduli-- Tidak, ayahku pasti tidak menyadari kematian ku dan hanya mementingkan gamenya, aku benar-benar sangat menyedihkan".
__ADS_1
"Jangan khawatir", kata Minotaur itu yang tersenyum serta menebas pedang raksasanya menuju Vann "Aku akan segera membunuhmu sehingga kau tidak perlu merasa kesepian lagi!".