9 TAHTA

9 TAHTA
BAB 140 : 2 RAKSASA


__ADS_3

Cyclops menggelengkan kepalanya "Kami Cyclops memang tidak tertarik memperebutkan kekuasaan, dapat menjadi penguasa sebuah pilar sudah lebih dari cukup bagi kami. Tapi tujuanku datang kesini bukan untuk kekuasaan, melainkan aku membantu temanku, Gordaf! Bukankah kau juga datang kesini untuk membantu Akademi Pedang Kayu yang dulunya dibuat oleh rekanmu?".


Titan dan Cyclops saling berhadapan selama beberapa saat, lalu mereka berlari serta saling memukul.


Setiap kali raksasa itu memukul atau bertarung, tanah akan bergetar dengan hebat yang membuat banyak murid khawatir, mereka semua takut sosok Titan atau Cyclops akan menghancurkan akademi dengan sekali tendangan.


Namun sepertinya Titan dan Cyclops mempunyai pemahaman secara diam-diam yaitu tidak peduli seberapa keras mereka bertarung, mereka tidak boleh sampai menarik murid-murid dari akademi serta membuat orang yang tidak bersalah ikut pertarungan mereka.


"Karena 2 raksasa telah memulai pertarungan mereka, ayo kita mulai juga!", kata Tardi yang menebas pedang apinya menuju Gordaf.


Gordaf tidak diam, ia mengumpulkan bola magma di sekitar tubuhnya dan bertabrakan dengan api Tardi.


2 orang itu mulai melakukan pertarungan mereka juga yang tidak kalah dari raksasa. Meskipun tubuh mereka layaknya manusia normal, kekuatan mereka tidak lebih lemah daripada para raksasa sebab mereka juga kultivator tingkat menengah.


Melihat Tardi bertarung, 10 guru yang lain bersama Hasel bergegas membantu.


Walaupun bantuan kultivator tingkat rendah tidak terlalu banyak bagi kultivator tingkat menengah, setidaknya bantuan mereka membuat posisi Tardi semakin baik daripada Gordaf.


Vann yang ada di sisi lain menemukan Tarion yang kesulitan melawan Poris, bagaimanapun sejak bergabung bersama Pedang Monster, kekuatan Poris terus meningkat. Jika tidak ada yang membantunya, hanya masalah waktu sebelum Tarion dimakan pedang Poris.


Tanpa ragu, Vann berlari ke belakang Poris dan menebasnya yang sibuk mencoba memakan Tarion.


"Slash!".


Sebuah tebasan berdarah yang sangat besar muncul di belakang tubuh Poris, ia berteriak seperti monster yang kesakitan "Graaaaa!".


Apa yang paling menarik perhatian Vann bukan teriakan Poris yang seperti monster, melainkan luka tebasan yang ia berikan pada Poris barusan kembali pulih sangat cepat.


Poris berhenti mencoba memakan Tarion, ia menatap Vann dengan mata merah sebelum bergegas menuju ke arah dirinya dengan mulut penuh taring.

__ADS_1


Melihat sikap Poris yang tidak menunjukkan tanda-tanda manusia lagi, Vann menggelengkan kepalanya. Tidak peduli apa yang ia lakukan, nampaknya Poris tidak dapat menjadi manusia lagi. Oleh karena itu, Vann bertekad membunuhnya.


"Tang!".


Pedang dan cakar Poris saling bertabrakan, ketika ia berubah menjadi monster maka Poris memiliki cakar yang tidak kalah dari pedang.


Selama menahan pedang Poris, Vann berteriak "Tarion, pergi dan obati lukamu dulu! Aku akan menahan Poris selama beberapa saat, sekarang aku belum membutuhkan bantuan mu!".


"Brak!".


Poris mendorong Vann hingga membuatnya melompat sejauh 5 meter sebelum Vann mendarat di tanah "Bukan hanya cakar yang tajam, otot di tubuhnya serta kekuatan yang ia miliki ikut meningkat, seperti yang diharapkan dari Pedang Monster! Sebagai ganti hidup penggunanya, Pedang Monster mampu memberikan kekuatan yang kuat!".


Tanpa memberi kesempatan bagi Vann untuk berpikir, Poris bergegas menuju ke arah dirinya.


Namun sebelum Poris mendekati Vann, 2 elang raksasa menangkap Poris memakai cakarnya.


"Aku akan ikut membantu!", suara Atrea bergema di seluruh arena.


"Graaaaa!", Poris terus berteriak seperti monster, tapi cakar elang terlalu kuat sampai-sampai ia tidak mempunyai kesempatan melepaskan diri.


Vann tidak membuang kesempatan itu, ia mengambil pedangnya dan berencana menebas kepala Poris yang tidak mampu bergerak "Dengan ini, semuanya berakhir!".


Sebelum Vann menebas Poris, tiba-tiba suara seruling terdengar yang membuat seluruh tubuh Vann gemetar.


Bukan hanya Vann, seluruh orang di akademi merasa ketakutan akibat suara seruling yang muncul.


Gordaf yang diserang secara terus-menerus oleh Tardi dan para guru akhirnya tersenyum "Aku telah menunggu ini dari tadi! Kenapa mereka sangat lama! Untungnya mereka segera melakukannya, kalau tidak aku pasti kalah sebentar lagi!".


Sebagian besar orang kebingungan, mereka tidak mengerti arti dari suara seruling tersebut.

__ADS_1


Di antara semua orang, kecuali Gordaf, cuma Hasel dan Tardi yang mengerti maksud suara seruling ini.


Wajah Hasel berubah menjadi khawatir, ia berbalik dan bergegas menuju ke rumah Gostaf yang berada cukup jauh dari arena. Sebagai guru lama di akademi, Hasel tahu suara seruling yang sedang bergema di seluruh akademi sekarang tidak lain merupakan harta yang dijaga Gostaf sejak lama. Tidak, lebih tepatnya kepala akademi sebelumnya mempercayakan Gostaf menjaga harta tersebut. Oleh karena itu, Gostaf hampir tidak pernah pergi dari ruang latihannya sebab ia harus menjaga harta yang disembunyikan pada akademi.


Siapa yang berpikir seseorang benar-benar menggunakan harta yang dijaga Gostaf tanpa membuat keributan apapun, Hasel yakin sesuatu pasti telah terjadi kepada Gostaf.


Namun apa yang membuat Hasel lebih khawatir adalah akibat dari menggunakan seruling, ia takut apabila tidak dihentikan tepat waktu, seluruh Akademi Pedang Kayu mungkin akan hancur.


Melihat Hasel yang berencana pergi menghentikan suara seruling, Gordaf tentunya tidak akan membiarkan Hasel mengacaukan rencana mereka "Kemana kau berencana pergi?".


Tangan magma raksasa terbentuk di tubuh Gordaf, ia berusaha menangkap Hasel.


Tapi sebelum tangan magma berhasil menyentuh Hasel, sebuah pedang api muncul dan menebas tangan magma.


"Slash!".


Tangan magma Gordaf terbagi menjadi 2 sehingga ia tidak dapat menangkap Hasel tepat waktu, sosok Hasel sekarang telah menghilang.


Tardi yang tidak lain merupakan orang yang menghentikan Gordaf dari menangkap Hasel tersenyum dingin "Lawan mu adalah aku, kau lebih baik tidak mengalihkan perhatian mu atau pedangku mungkin membunuhmu!".


Gordaf menggelengkan kepalanya "Ya, aku rasa tidak masalah membiarkan guru tadi pergi, bagaimanapun ada orang lain yang menjaga Diryas sewaktu menggunakan seruling. Sekalipun kalian berhasil menghentikan Diryas, semuanya telah terlambat! Seruling sudah digunakan, Akademi Pedang Kayu pasti hancur!".


Wajah Tardi menjadi suram, ia mengerti mengenai kegunaan seruling tersebut yang membuat dirinya khawatir.


Masalahnya Gordaf berada di depannya, Gordaf pasti tidak akan membiarkan dirinya pergi menghentikan seruling.


Oleh karena itu, Tardi menyerahkan masalah menghentikan seruling kepada Hasel sedangkan apa yang perlu ia lakukan yaitu terus mencoba mengalahkan Gordaf.


Suara seruling terus bergema di seluruh Akademi Pedang Kayu yang menyebabkan banyak murid merasa khawatir.

__ADS_1


"Nak, keadaannya sekarang benar-benar buruk! Aku pikir dengan adanya Titan dan kepala akademi kalian, Akademi Pedang Kayu mampu menahan serangan musuh! Tapi aku tahu aku salah, musuh menggunakan artefak yang cukup menakutkan!", kata Burung Vermilion memberikan Vann peringatan agar ia berhati-hati.


__ADS_2