9 TAHTA

9 TAHTA
BAB 137 : TAMU?


__ADS_3

Seluruh arena menjadi diam, mereka semua menatap arena tempat pertarungan Myro melawan Atrea penuh rasa tidak percaya.


Siapa Atrea? Ia merupakan sosok murid terkuat peringkat ke 3 dari Akademi Pedang Kayu, tapi banyak orang mengakui kekuatannya belum tentu lebih lemah daripada Poris sebab mereka belum pernah bertarung secara langsung.


Atrea dijuluki sebagai Ratu Burung dan mempunyai ratusan roh burung, di antaranya terdapat 3 roh burung raksasa yang mempunyai kemampuan menakutkan.


Tidak diketahui berapa banyak orang yang kalah melawan Atrea, bahkan di Provinsi Talper, kemungkinan besar Atrea merupakan sosok yang memiliki roh terbanyak walaupun tidak semua rohnya berguna untuk bertarung.


Sedangkan Vann hanya murid baru yang bergabung ke akademi selama kurang dari setahun, ketika baru tiba disini, ia mulai sebagai orang yang membersihkan akademi.


Tetapi Vann terus membuat berbagai kejutan di Akademi Pedang Kayu baik dari tiba-tiba menjadi kultivator, bergabung ke kelas, mengalahkan Yun Tian yang merupakan murid Qi Gathering terkuat, mengalahkan Horge dan duduk di posisi 10 besar Akademi Pedang Kayu, lalu Vann tidak berhenti sampai di situ melainkan terus bertarung sampai duduk di posisi 3, ia menang dari Atrea.


Padahal semua orang tahu, 3 orang terkuat di Akademi Pedang Kayu merupakan sosok yang berbeda dari 10 murid elit terkuat.


Sosok yang berada di peringkat 4 sekalipun terlalu jauh dari menjadi lawan Atrea, apalagi Vann yang seharusnya hanya berada di peringkat 9.


Guru topeng perang sadar lebih dulu, ia mengangkat tangannya dan berteriak penuh semangat "Pemenangnya adalah Vann, ia akan menjadi peringkat ke 3 murid terkuat Akademi Pedang Kayu!".


"Hebat!", teriakan dan tepuk tangan penonton bergema di seluruh arena, mereka menatap Vann penuh kekaguman, iri dan tujuan yang harus mereka kejar.


Vann menyimpan pedangnya dan tersenyum ramah, ia tidak menunjukkan sikap sombong sedikitpun akibat kembangnya ini melainkan ia mengulurkan tangannya kepada Atrea yang duduk di tanah "Apakah kau dapat berdiri? Nampaknya aku tadi sedikit berlebihan, seharusnya aku memperlemah api ku sedikit supaya tidak terlalu melukaimu".


Atrea menerima uluran tangan Vann dan berdiri, ia menggelengkan kepalanya "Kau tidak perlu memperlemah api milikmu, tadi sangat hebat! Kemungkinan besar kau harus melawan Tarion di pertarungan selanjutnya, kau harus berhati-hati! Selama kau berusaha sebaik mungkin, kau pasti dapat mengalahkan Tarion! Tunjukkan kepada semua orang, aku belum tentu lebih lemah dari Tarion".


"Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mengalahkan Tarion nanti", kata Myro tidak menolak sebab ia memang bertujuan mengalahkan Tarion lalu menjadi sosok terkuat di Akademi Pedang Kayu.

__ADS_1


Atrea tersenyum ramah yang membuat wajah semua orang di arena membeku, mereka menatap senyuman di wajah Atrea yang bertahan selama beberapa detik sebelum menghilang penuh rasa tidak percaya.


"Tidak mungkin! Apakah aku barusan bermimpi? Nona Atrea tersenyum, ia benar-benar tersenyum!".


"Gila! Berita utama baru hari ini, Nona Atrea tersenyum! Kenapa tidak boleh membawa kamera di akademi? Padahal waktu Nona Atrea tersenyum merupakan kejadian yang harus disimpan!".


"Dasar lemah, aku tidak membutuhkan kamera! Dengan kemampuan ingatan milikku, senyuman Nona Atrea barusan tidak akan terlupakan!".


"Tunggu dulu! Bukankah berarti senyuman Nona Atrea tadi diberikan kepada Vann? Tidak, bagaimana mungkin Nona Atrea yang merupakan kecantikan dingin akhirnya jatuh ke pria lain? Aku tidak bisa menerimanya".


"Vann, kenapa kau tidak cepat-cepat mati! Jangan ganggu Nona Atrea kami!".


Teriakan penonton terus bergema di seluruh arena, mereka belum pernah melihat Atrea tersenyum ramah seperti barusan. Sebagian besar wajah Atrea adalah wajah dingin, sekalipun lawan bicaranya merupakan Tarion atau Poris.


Di bawah tatapan iri dan membunuh, Vann duduk di kursi nomor 3 sedangkan Atrea berada di nomor 4. Untuk peringkat 4 ke bawah, mereka juga mengalami penurunan 1 peringkat.


Ketika baru duduk, Vann mengamati pertarungan antara Tarion dan Poris. Bagaimanapun lawan Vann berikutnya adalah 1 di antara mereka, Vann harus memahami kemampuan yang mereka miliki serta gunakan agar dapat menang.


Di sisi lain, Hasel yang berada di kursi penonton terus menatap kursi guru di sekitarnya penuh kebingungan "Kenapa Gostaf belum datang? Walaupun ia tidak senang pergi dari aula bela diri miliknya, namun ia seharusnya muncul di acara penting seperti ini? Apakah ia kesiangan lagi?".


Hasel menggelengkan kepalanya dan tidak banyak berpikir, kalau sampai pertarungan selesai dan Gostaf tetap belum datang, Hasel baru akan menemuinya.


Bagaimanapun sebagai teman dekat Gostaf, Hasel mengetahuinya sangat jelas mengenai Gostaf yang kesiangan.


...----------------...

__ADS_1


Di aula bela diri Gostaf, sosok Gostaf yang baru selesai membersihkan tubuhnya berada di ruang tengah aula bela diri.


Ia mengambil pedang di sampingnya sambil bergumam "Bagaimana mungkin aku kesiangan di hari yang begitu penting? Aku harap Kepala Akademi Tardi tidak menyadarinya, jika ia sampai tahu, aku pasti tidak akan terhindar dari hukuman! Memikirkan harus berdiri berjam-jam di rumahnya membuatku sangat bosan, apalagi kalau aku benar-benar harus ke sana".


Ketika Gostaf baru selesai bersiap dan akan pergi, ia mendengar suara ketukan dari pintunya.


Gostaf merasa sedikit aneh, di tengah festival besar yang dibuat Kepala Akademi Tardi, siapa yang masih datang ke aula bela diri miliknya.


Membuka pintu depan, Gostaf menemukan sosok yang datang adalah orang yang dikenalnya "Ternyata kau, kenapa datang kesini? Apakah kau tidak pergi ke Festival Puncak? Tunggu dulu, aku lupa mengambil sesuatu, aku akan pergi ke kamarku dulu dan mengambilnya".


"Tidak perlu", kata sosok yang baru datang ke aula bela diri Gostaf.


"Apa yang kau katakan tadi?", kata Gostaf menatap orang yang baru datang penuh kebingungan, lagipula ia tadi berencana langsung pergi untuk mengambil sesuatu sebelum menuju arena yang membuat ia tidak mendengarkan perkataan tamu yang datang tadi dengan jelas.


"Aku bilang kau tidak perlu mengambilnya", kata sosok tamu yang datang "Karena tujuanku kesini tidak lain adalah untuk mengambil benda itu juga".


"Stab!".


Sebelum Gostaf menyadarinya, sosok tamu yang ia kenal di depannya menusuk dirinya memakai pedang.


Gostaf membuka matanya lebar-lebar penuh rasa tidak percaya terhadap pedang yang menusuk perutnya, ia menatap sosok tamu yang tidak lain menjadi orang yang menusuknya "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?".


Sosok tamu yang datang menggelengkan kepalanya "Tidak ada alasan khusus, sejak awal aku bukan bagian dari kultivator manusia atau Akademi Pedang Kayu, aku merupakan monster bayangan! Kalian harus menyalahkan diri sendiri karena tidak pernah menyadari penyamaran ku selama ini".


Gostaf berusaha melepaskan diri dari pedang yang menusuk perutnya, tapi ia menemukan tubuhnya menjadi melemah sampai tidak bisa bergerak lagi, Gostaf tahu kemungkinan besar terdapat racun pada pedang yang menusuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2