
Vann maju perlahan-lahan di antara semak dan pepohonan yang ada di Hutan Jiwa, ia tidak berani bertindak sembarangan sebab takut kehilangan hidupnya seperti terkena ilusi barusan.
Sepanjang jalan, Vann sama sekali tidak menemukan monster melainkan ia melihat banyak sekali mayat orang-orang yang berbaring di tanah.
Setiap kali Vann mengamati wajah orang yang mati, ia pasti menemukan wajah orang tersebut terlihat sangat ketakutan seakan-akan sedang melihat hal paling menakutkan di dunia.
Vann kurang lebih sudah bisa membayangkan bahwa ilusi yang muncul dipikiran mereka kemungkinan besar yaitu sosok yang paling mereka takuti seperti monster kuat atau sosok paling dibenci, Vann bertemu dengan Tude di ilusinya sebab Vann sangat membenci Tude yang pernah hampir membunuhnya.
Setiap kali Vann menemukan mayat seseorang, ia tidak mengambil barang mereka.
Bagaimanapun tidak ada banyak orang yang akan membawa banyak uang ke lokasi tes, apalagi sebagian besar orang ini mati akibat ilusi yang berarti mereka belum melawan monster sedikitpun, apabila orang-orang ini tidak melawan monster maka berarti token mereka juga tidak ada. Tanpa token ataupun uang, Vann tahu tidak ada benda berharga apapun pada tubuh orang yang mati.
"Untungnya Torti gagal di tahap paling awal tes, setidaknya ia tidak perlu mati akibat ilusi di hutan jiwa ini", pikir Vann yang terus melangkah maju di antara pepohonan.
Vann yang berada di Hutan Jiwa ataupun para murid yang lain sama sekali tidak mengetahui bahwa alasan mereka melakukan tes di Hutan Jiwa bukan untuk menguji kekuatan mereka, melainkan kepala 4 kekuatan besar di Provinsi Talper mempunyai alasan yang lain.
...----------------...
Hasel yang mendapatkan hari libur sebab tidak perlu menjadi panitia berjalan marah ke atas puncak gunung di Akademi Pedang Kayu.
Semua orang tahu semakin tinggi posisi rumah seseorang di gunung akademi, maka semakin penting juga posisi mereka di Akademi Pedang Kayu.
__ADS_1
Jadi di seluruh akademi, hanya ada 1 orang yang bisa tinggal di puncak gunung yaitu kepala Akademi Pedang Kayu itu sendiri, Zerten.
Dengan waktu kurang dari 5 menit, Hasel yang berada di dasar gunung langsung tiba di puncak.
Apabila itu kekuatan Qi Fondation sekalipun, mereka pasti tidak akan mencapai puncak gunung secepat itu meskipun menggunakan seluruh kecepatan dan kekuatan yang mereka miliki.
Tetapi Hasel merupakan sosok guru yang berada di peringkat 3 besar guru terkuat Akademi Pedang Kayu, naik ke puncak gunung dengan waktu beberapa menit adalah masalah mudah baginya.
Di atas gunung tidak ada apapun kecuali sebuah pondok kayu yang terletak di daratan luas puncak gunung, Hasel berlari ke arah pondok kayu lalu menendang pintunya dengan keras.
"Brak!".
Sosok pria itu tidak lain adalah Zerten, kepala Akademi Pedang Kayu yang tidak akan muncul kecuali keadaan gawat pada akademi.
Jangan lihat wajahnya yang seperti berusia 30 tahun, sebenarnya usia asli dirinya yaitu 50 tahun. Namun karena Zerten seorang kultivator tingkat menengah, wajahnya tidak akan menjadi tua lagi kecuali saat ia berusia 100 tahun nanti.
"Hasel, kau membuatku terkejut! Kenapa kau menendang pintuku secara tiba-tiba? Di seluruh akademi, mungkin hanya orang gila sepertimu yang berani melalukan ini di pondok milikku!", teriak Zerten kaget akibat gerakan Hasel yang menendang pintu barusan.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, Hasel menarik pakaian Zerten sambil berteriak "Apakah kau sudah gila? Kenapa kau mengirim anak-anak Qi Gathering ke Hutan Jiwa? Kau sendiri tahu seberapa menakutkannya hutan tersebut, bahkan kultivator tingkat menengah seperti dirimu juga bisa mati disana!".
Senyum bercanda di wajah Zerten menghilang dengan cepat, ia mendorong Hasel mundur melalui lambaian tangannya.
__ADS_1
Sebagai kultivator tingkat rendah, Hasel langsung mundur 5 langkah akibat lambaian tangan Zerten, sekarang Zerten sedang membenarkan pakaiannya yang ditarik Hasel "Bukankah kau tahu alasanku melakukan semua ini? Peninggalan kepala akademi sebelumnya dari Akademi Pedang Kayu, Teknik Pedang 5 Elemen yang asli ada disana! Selama kita mendapatkan benda itu lagi, akademi kita bisa menjadi semakin kuat! Tidak, bahkan ada kemungkinan Akademi Pedang Kayu menjadi akademi tingkat menengah!".
"Hasel, kau seharusnya mengerti maksudku bukan? Kau dan kepala akademi sebelumnya itu sama, kalian berasal dari generasi ke 1! Oleh karena itu, walaupun aku bertarung melawan mu, aku belum tentu menang sebab kau mempunyai teknik yang pernah diajarkan pemegang tahta kepadamu sebagai orang dari generasi ke 1. Teknik Pedang 5 Elemen yang asli juga berasal dari pemegang tahta ke 5, selama kita mendapatkannya kembali maka Akademi Pedang Kayu akan kembali menuju kemakmuran".
"Apakah kau gila? Kita berkali-kali mengirim ratusan orang di masa lalu dengan kekuatan Gold Core ke atas, tapi tidak ada hasil! Bukan hanya itu, sebagian orang yang pergi kehilangan hidup mereka", teriak Hasel "Ketua Akademi Pedang Kayu dulu membawa pergi teknik itu ke Hutan Jiwa dan tidak meninggalkannya di Akademi Pedang Kayu, hal tersebut membuktikan ia tidak tertarik memberikan Teknik Pedang 5 Elemen yang asli kepada kalian, ia sedang menunggu pewaris yang tepat datang untuk mengambil teknik tersebut! Zerten, tarik kembali seluruh murid yang pergi ke Hutan Jiwa, apabila kita terlambat maka hanya akan ada kurang dari 10 murid yang kembali, tidak menutup kemungkinan semuanya mati disana!".
Melihat Hasel tidak mengerti dirinya, Zerten segera menjadi kecewa "Inilah alasan kenapa kau gagal menjadi kultivator tingkat menengah, padahal kau berasal dari generasi ke 1 yang diajar oleh para pemegang tahta. Cukup, aku tidak akan membatalkan tes dan kau juga tidak mempunyai kemampuan menghentikan ku, kekuatanmu tidak sekuat diriku!".
Hasel hampir meledak marah, tapi ia tahu bahwa kekuatannya tidak cukup untuk menghentikan Zerten.
Menggertakkan giginya, Hasel berbalik lalu pergi dari tempat ini.
Hasel tahu temannya di masa lalu yaitu Zerten terlalu tergila-gila dengan teknik Pedang 5 Elemen yang asli, bagaimanapun teknik pedang tersebut dikatakan dipakai pemegang tahta ke 5 untuk menebas pilar hingga hancur. Oleh karena itu, Zerten selalu berusaha mendapatkan teknik tersebut walaupun berarti harus mengorbankan hidupnya.
Menghela nafas, Hasel sepertinya harus bertindak sendiri pergi ke Hutan Jiwa.
Apa yang paling penting bagi Hasel yaitu hidup Vann, ia menganggap Vann sebagai murid berbakat yang pasti berperan besar bagi manusia melawan monster di masa depan sehingga Vann tidak boleh mati.
Meskipun cukup sulit untuk diam-diam bergerak ke Hutan Jiwa sebab disana dijaga oleh Githa yang berkekuatan hampir sama dengan Hasel bersama 2 guru lain, namun bukan berarti tidak ada kemungkinan sedikitpun.
"Vann, kau harus berhati-hati", kata Hasel yang sosoknya menghilang dari Akademi Pedang Kayu.
__ADS_1