
Sejak suara seruling terdengar, Vann merasa ia mempunyai firasat yang sangat buruk dari suara seruling tersebut, firasat Vann memberitahukannya untuk segera menghentikan suara seruling sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Masalahnya Vann sekarang sibuk melawan Poris yang berubah menjadi monster, ia tidak mempunyai cukup waktu untuk mengatasi suara seruling. Belum lagi Vann tidak mengetahui, apa sebenarnya tujuan dari suara seruling yang bergema di seluruh Akademi Pedang Kayu.
Oleh karena itu, melihat bahwa Burung Vermilion mengetahui sesuatu, Vann tidak dapat untuk tidak bertanya penuh rasa penasaran "Apakah kau mengetahui sesuai dari suara seruling ini?".
Burung Vermilion terdiam beberapa saat sebelum menjelaskan kepada Vann "Jika aku tidak salah, suara seruling ini pasti merupakan artefak kelas menengah, mungkin artefak kelas 5 ke atas yang berguna untuk memanggil monster. Masalahnya kalau hanya memanggil monster, aku pasti tidak akan berlebihan memberimu peringatan. Bagaimanapun disini ada kepala akademi kalian dan Titan, selama 2 kultivator tingkat menengah bekerja sama, mereka pasti mampu mengulur waktu sampai bantuan kultivator manusia yang lain tiba. Masalahnya aku merasakan sesuatu yang lain dari suara seruling, yaitu ia menyerap hidup penggunanya".
Mendengar penjelasan Vermilion, wajah Vann membeku sebentar "Maksudmu suara seruling tersebut--".
"Seruling itu menyerap hidup penggunanya!", kata Vermilion menghela nafas berat "Sebuah artefak umumnya tidak menyerah hidup penggunanya, karena artefak hanya sebuah senjata untuk membantu penggunanya, bukan membunuh siapapun yang menggunakan mereka. Tapi ada beberapa pengecualian, yaitu artefak menakutkan yang menyerap hidup penggunanya setiap kali digunakan. Setiap artefak yang menyerap hidup tuannya pasti memiliki kekuatan gila, kau harus siap bagi kemungkinan terburuk nak! Monster yang dipanggil seruling ini pasti bukan monster normal, melainkan monster yang seharusnya tidak muncul lagi di dunia ini".
Sebelum Vann bisa bertanya lagi, seluruh Akademi Pedang Kayu bergetar hebat yang membuat sebagian murid terjatuh.
Walaupun pertarungan Titan dan Cyclops juga membuat seluruh akademi bergetar, tapi getaran kali ini jauh di atas sebelumnya.
Merasakan getaran tersebut, semua orang menghentikan pertarungan mereka. Bahkan Cyclops dan Titan yang saling memukul berhenti, semua orang menatap ke sebuah lokasi berjarak 500 meter dari Akademi Pedang Kayu.
Titan berkata tidak percaya "Apakah kalian gila? Kalian benar-benar berani memanggil monster yang disegel pada seruling kutukan itu? Cyclops, kau seharusnya tahu sosok seperti apa yang disegel pada seruling itu! Baik kalian para monster dan kami manusia sama sekali tidak dapat mengendalikannya, selama ia lepas, seluruh Provinsi Talper mungkin hancur kecuali kultivator tingkat tinggi tiba! Apakah kalian gila? Kalian berusaha mati bersama seluruh orang di Provinsi Talper?".
"Kau salah paham, aku tidak berencana mati disini sejak awal", kata Cyclops penuh semangat "Aku penasaran, apakah legenda dari monster dibalik seruling itu benar yang membuat aku repot-repot datang kesini untuk membantu! Setelah memastikan kebenarannya dan tidak ada kesempatan bagiku untuk menang melawan monster di balik seruling, aku tinggal melarikan diri! Selama kita, kultivator tingkat menengah melarikan diri memakai kekuatan penuh, monster tersebut pasti tidak akan menangkap kita. Sedangkan seluruh Provinsi Talper, aku tidak peduli sekalipun mereka hancur!".
__ADS_1
Titan marah, ia berencana memukul Cyclops lagi. Tapi tanpa menunggu Titan bergerak, sosok monster raksasa muncul pada jarak 500 meter dari Akademi Pedang Kayu.
Semua orang menatap ke sosok raksasa yang baru muncul setinggi 50 meter, Titan sekalipun masih kalah tinggi dari sosok monster yang baru muncul.
Seluruh tubuh monster sulit terlihat, semuanya ditutupi oleh kabut hitam. Namun berdasarkan bentuk kabut, tubuh monster terlihat seperti manusia kecuali terdapat hampir 8 tangan pada dirinya.
Sosok monster kabut hitam menatap ke arah Akademi Pedang Kayu dengan mata bersinar, ia baru bangun sejak tersegel selama bertahun-tahun di seruling yang membuatnya sangat lapar.
Masalahnya ia membutuhkan terlalu banyak manusia normal agar ia tidak kelaparan lagi, tapi kultivator berbeda.
Semakin kuat kultivator maka semakin mudah juga bagi dirinya merasa kenyang. Di mata monster asap hitam, Akademi Pedang Kayu tidak lain merupakan tumpukan makanan yang dapat ia makan kapanpun.
Bahkan beberapa penduduk di kota bagian bawah Akademi Pedang Kayu atau murid yang lebih lemah kehilangan kesadaran akibat teriakan monster asap hitam. Padahal ia baru berteriak dan belum menyerang, tapi semua orang dapat merasakan seberapa menakutkan kemampuan yang ia miliki.
Tidak berhenti sampai di situ, sosok monster kabut hitam kecil muncul dari tubuh monster kabut hitam besar.
Ukuran monster kabut hitam kecil hanya setinggi 2 meter, kekuatannya turun jauh daripada kekuatan kabut hitam besar sehingga banyak orang membuang rasa khawatir mereka.
Tetapi ketika mereka berpikir monster kabut hitam kecil yang bermunculan cuma monster lemah, wajah mereka membeku sebab monster kabut hitam kecil terus bermunculan tanpa henti dari monster kabut hitam besar.
Pada awalnya jumlah mereka hanya ratusan, tapi terus bertambah sampai mencapai ribuan, puluhan ribu hingga ratusan ribu monster kabut hitam kecil.
__ADS_1
Semua orang panik dan khawatir, kekuatan kabut hitam ini beragam dan hampir mirip seperti murid-murid di Akademi Pedang Kayu, masalahnya jumlah mereka terlalu banyak. Seluruh murid Akademi Pedang Kayu bergabung sekalipun, mereka bukan lawan ratusan ribu monster kabut hitam.
Tidak, seluruh murid di Provinsi Talper bergabung, jumlah mereka tetap kurang dari ratusan ribu.
Di sisi lain, Vann menatap semua monster kabut hitam kecil yang mendekati Akademi Pedang Kayu dengan wajah suram.
Kekuatan monster kabut hitam kecil sangat beragam yaitu Qi Gathering, Qi Fondation, Gold Core ataupun Soul Wandering, namun tidak ada seorangpun monster yang mempunyai kekuatan kultivator tingkat menengah kecuali pemimpin mereka.
Masalahnya terbesarnya, jumlah mereka terlalu banyak yang membuat banyak orang khawatir, bahkan Vann sekalipun merasa sakit kepala sebab ia tidak bisa memikirkan ide menyelesaikan masalah ini.
Saat Vann baru berpikir apakah menyerang monster kabut hitam raksasa akan membuat semua monster kabut hitam kecil menghilang, sebuah teriakan terdengar tidak jauh dari Vann.
"Graaaaa!".
Vann menatap ke arah teriakan barusan dan menemukan Poris yang sebelumnya tidak dapat bergerak di bawah cakar elang mulai melakukan perlawanan.
Pada awalnya cakar elang mampu menahan Poris, tapi mereka menemukan kekuatan Poris terus meningkat sehingga gagak emas dan burung lainnya harus membantu.
Seiring waktu, semua burung yang mencoba menahan Poris memiliki tanda-tanda dikalahkan, hanya masalah waktu sebelum Poris lepas dari cakar roh burung milik Atrea.
Vann tidak ragu, ia mengambil pedangnya dan bergegas menebas kepala Poris. Kemungkinan besar peningkatan kekuatan Poris memiliki hubungan dengan suara seruling barusan.
__ADS_1