
Perlahan-lahan tubuh Gostaf jatuh ke tanah dengan berat, sosok tamu yang datang ke tempat Gostaf itu berkata penuh rasa dingin "Aku tahu kekuatanmu tidak boleh diremehkan, jadi sejak awal aku telah memakai racun agar mampu mengalahkan mu secepat mungkin tanpa memberimu kesempatan melawan lagi, Gostaf!".
"Kerja bagus", sosok Diryas muncul di pintu aula bela diri.
Ia berjalan melewati tamu yang menusuk Gostaf "Kau cukup berharga disini dari sekarang, selama aku memakai harta yang dapat memanggil monster tersebut, kau harus menghentikan siapapun yang berani mendekati tempat ini dan berencana menggangguku, apakah kau mengerti?".
Sosok yang menusuk Gostaf menatap Diryas dingin "Aku adalah bayangan, bukan pengikut mu dari Laboratorium Monster! Apabila bukan karena tuanku yang setuju untuk membantumu, aku pasti tidak akan repot-repot membantu manusia lemah seperti dirimu".
"Tapi kau tidak mempunyai pilihan lain bukan? Jangan banyak bicara dan bekerja, kita tidak memiliki banyak waktu untuk dibuang", kata Diryas yang bergegas menuju kamar Gostaf yang kemungkinan besar menjadi tempat dimana Gostaf menyembunyikan artefak tersebut.
Sosok tamu yang menyerang Gostaf menatap ke arah Diryas dengan dingin "Lebih baik kau mati oleh artefak tersebut karena kalau kau berhasil bertahan hidup, aku adalah orang yang akan membunuhmu memakai tanganku sendiri! Tuanku cuma berkata aku harus membantumu selama melawan Akademi Pedang Kayu, tapi ketika akademi berhasil dikalahkan, aku tidak perlu membiarkanmu hidup lagi!".
...----------------...
Di arena, semua orang sama sekali tidak mengetahui tentang apa yang terjadi pada Diryas melainkan mereka masih sibuk menonton semua pertandingan yang ada.
Walaupun pertandingan Vann melawan Atrea berakhir, tapi bukan berarti tidak ada lagi pertandingan yang menarik. Terutama pertandingan antara Tarion dan Poris yang menarik perhatian banyak orang, setiap kali pedang mereka saling bertabrakan, teriakan banyak orang pasti terdengar.
Seiring berjalannya waktu, Poris mulai melemah, ia kehabisan energi sedangkan serangan Tarion terus menjadi kuat.
Semua orang yang melihat kejadian itu tahu, Poris kalah.
Vann juga harus mengagumi kemampuan Tarion yang memiliki teknik pedang kuat, belum lagi ia dibantu kultivasi tahap Soul Wandering yang setara dengan kultivasi beberapa guru.
Jika Vann melawannya nanti, ia ragu apakah dirinya bisa menang tanpa menggunakan bantuan Burung Vermilion.
__ADS_1
Akhirnya setelah pertarungan berjalan selama 10 menit lagi, pedang di tangan Poris terlempar pergi dari arena.
Tarion meletakkan pedangnya di leher Poris sambil berkata "Pertarungan berakhir, seperti yang aku katakan, pada akhirnya kau tetap bukan lawan ku!".
Merasakan dingin dari lehernya, senyum pahit muncul di wajah Poris "Aku menyerah!".
Tarion mengangguk, ia menyimpan pedangnya lagi "Kau kuat, tapi masih ada banyak kekurangan dan celah. Selama tidak terjadi kesalahan apapun, sampai kau tua sekalipun, kau tidak akan pernah melebihi kekuatan milikku".
Setelah mengatakan kata-kata kejam yang membuat Poris menundukkan kepalanya, Tarion berjalan turun dari panggung. Ia tidak peduli apakah Poris akan membencinya akibat semua yang ia katakan barusan, Tarion cuma mengatakan pendapat yang ia rasakan.
Guru yang menjadi penengah mereka berteriak "Pertarungan selesai, pemenangnya Tarion!".
Tepuk tangan bergema di seluruh arena beserta teriakan memberi semangat kepada Tarion "Pada akhirnya legenda Tarion tetap tidak dapat dihancurkan, kecuali Tarion pergi dari akademi dan menuju ke akademi tingkat menengah, mungkin tidak ada seorangpun yang menggantikan posisinya di peringkat 1".
"Tetapi perkataan Tarion tadi terlalu kejam, apakah Poris tidak apa-apa?".
Tanpa diketahui semua orang, sebuah senyuman muncul di wajah Poris "Kau benar, apabila tidak ada kesalahan, kemungkinan besar sampai aku mati sekalipun, aku tidak akan dapat melebih bakat milikmu. Oleh karena itu, hari ini aku menyiapkan sesuatu yang akan membuat kesalahan tersebut terjadi!".
Di depan mata semua orang, Pedang Monster muncul di tangan Poris, tidak diketahui dimana ia menyimpan pedang itu dari tadi.
Pedang Monster mulai memakan tubuh Poris, namun ia sama sekali tidak peduli melainkan berlari menuju Tarion "Aku akan memakan mu! Dengan Pedang Monster, aku mampu memakan lalu mengambil semua bakat yang kau miliki, Tarion!".
Kecepatan dan kekuatan Poris meningkatkan dengan cepat hingga mencapai Soul Wandering tingkat 1 juga akibat bantuan Pedang Monster. Bukan hanya itu, dari segi kekuatan dan kecepatan, Poris berada di atas Tarion yang baru menjadi Soul Wandering secara asli.
"Kau pikir dirimu dapat menggunakan Pedang Monster di depan mataku? Nak, kau terlalu naif!", kata Tardi yang berada di kursi penonton.
__ADS_1
Selama Tardi melambaikan tangannya, Poris pasti terlempar menjauh dari arena.
Namun saat Tardi baru akan bergerak untuk menghentikan Poris, wajahnya berubah menjadi suram.
Sebuah suara bergema di atas langi "Tardi, bukankah cukup tidak adil bagi sosok seperti dirimu melawan seorang junior? Daripada harus repot-repot melawan junior, kenapa kau tidak melawanku agar lebih adil?".
Tardi mengangkat kepalanya dan menemukan sosok seorang monster yang terbang di langit memakai sebuah pedang dari magma "Gordaf, aku tidak pernah berpikir kau berani datang kesini dari Pilar Magma milikmu, apakah kau tidak takut terbunuh olehku?".
"Kita tidak akan tahu siapa yang hidup atau mati sebelum bertarung bukan? Tardi, aku sarankan kau tidak terlalu sombong dulu!", kata Gordaf tersenyum percaya diri.
"Hahahahaha, kalian para monster memang selalu menjijikan, menggunakan cara-cara licik untuk mengalahkan manusia! Baiklah, aku akan menemanimu bermain hari ini! Tetapi sejak kau datang kesini, kau tidak bisa kembali menuju Pilar Magma dengan mudah kecuali kau melepas kepalamu!", teriak Tardi yang mengambil pedangnya.
Api berkumpul di sekitar pedang Tardi yang membuat seluruh arena bergetar, lalu Tardi menebas menuju Gordaf yang ada di atas langit.
Melihat tebasan api Tardi yang mendekat, Gordaf mengulurkan tangannya ke depan.
Magma berkumpul di sekitar Gordaf yang membentuk perisai hingga menutupi seluruh tubuhnya.
"Booooom!".
Ledakan yang keras terdengar, api dan magma saling bertarung, 2 kekuatan kultivator tingkat menengah saling bertabrakan yang membuat seluruh Akademi Pedang Kayu dan daerah sekitarnya bergetar hebat seperti terjadi gempa bumi.
Asap akibat ledakan menghilang, sosok Gordaf yang tidak terluka di atas langit terlihat "Kau tetap hebat, kemampuanmu belum menurun sedikitpun walaupun kau berubah menjadi seorang kepala akademi, bukan petarung lagi. Tetapi belum cukup untuk mengalahkan ku!".
"Aku sendirian memang tidak bisa mengalahkan mu dengan cepat, namun apakah kau lupa? Disini bukan Pilar Magma, melainkan Akademi Pedang Kayu!", kata Tardi percaya diri.
__ADS_1
Bersamaan dengan perkataan Tardi barusan, 10 guru di bawah Tardi, Hasel dan semua guru lainnya memegang senjata mereka untuk menyerang Gordaf secara bersamaan.