
Semua orang menatap para murid elit yang berada di posisi 10 besar dengan rasa penasaran, bagaimanapun mereka tidak dapat menunggu lagi untuk melihat kekuatan sebenarnya dari murid elit terkuat Akademi Pedang Kayu.
Gertias yang berada di peringkat 9 melambaikan tangannya "Kalian boleh mulai duluan, Vann nampaknya masih membutuhkan beberapa waktu sebelum ia mampu bertanding lagi. Oleh karena itu, aku akan menunggunya dulu sebelum melawan peringkat 8".
Vann sekarang berada di ruang tunggu, ia menatap beberapa Obat Emas yang ada di tangannya dengan tegas.
Setelah mengalahkan lebih dari 20 orang, Vann menerima kurang lebih 10 Obat Emas.
Harus diakui bahwa jumlah Obat Emas yang mereka miliki terlalu sedikit, sebagian besar musuh yang ia lawan barusan sama sekali tidak memiliki Obat Emas apapun. Sedangkan beberapa orang lainnya cuma mempunyai 1 Obat Emas, tidak ada yang memiliki lebih dari 1 Obat Emas.
Vann tentunya mengerti kenapa hal ini bisa terjadi yaitu Obat Emas terlalu berharga serta langka, jumlahnya di akademi sangat terbatas sehingga setiap murid Gold Core belum tentu mendapatkannya.
Belum lagi Obat Emas lebih diutamakan kepada 10 murid terkuat Akademi Pedang Kayu, jadi mereka yang tidak berada di 10 besar belum tentu menerima Obat Emas.
Sekalipun mereka mendapat Obat Emas, sebagian besar orang pasti langsung menggunakannya supaya kekuatan mereka meningkat secepat mungkin daripada memilih menyimpannya.
Tanpa banyak berpikir lagi, Vann memakan Obat Emasnya. Walaupun jumlahnya tidak banyak, setidaknya 10 Obat Emas dapat membantu Vann semakin dekat dari kekuatan lawan yang harus ia hadapi nanti.
Lagipula Vann tidak berencana tetap di posisi murid elit terkuat peringkat 10, melainkan Vann bertujuan mencapai murid elit peringkat 1.
Apabila ada yang mengetahui tujuan Vann, mereka mungkin menganggap dirinya sangat sombong sebab Vann baru berada di akademi selama kurang dari setahun sehingga berada di posisi ke 10 sudah cukup baik. Namun mereka sama sekali tidak tahu, tujuan Vann bukan menjadi murid elit terkuat di Akademi Pedang Kayu, bukan juga di Provinsi Talper, melainkan Vann berencana menjadi yang terkuat di dunia agar mencapai posisi dimana Luna berada.
__ADS_1
Melihat tidak ada seorangpun yang baik ke atas panggung, pria yang berada di posisi 4 berdiri dari kursinya sebelum melompat ke tengah-tengah panggung.
Saat telah sampai di panggung, ia membungkuk sopan "Nona Atrea, jika kau tidak keberatan, kenapa kita tidak memulai pertarungan kita lebih dulu?".
Atrea menatap pria yang berada di atas panggung dengan mata tidak peduli, sosok Atrea berubah menjadi puluhan burung berbagai jenis yang mengejutkan semua orang.
Beberapa saat kemudian, sosok Atrea muncul di atas panggung setelah semua burung berkumpul lagi hingga membentuk sosoknya.
Semua orang kaget dan kagum akibat gerakan Atrea, ia mampu berubah menjadi burung untuk bergerak dari 1 tempat ke tempat yang lain.
Tiba-tiba teriakan terdengar dari seluruh arena "Seperti yang diharapkan dari Ratu Burung, selama ia menggunakan kemampuannya barusan, bukankah sulit mencari Nona Atrea yang menyamar sebagai burung di antara puluhan burung lainnya".
"Kau benar, tapi aku tidak mengerti, sebenarnya teknik apa yang dipakai Nona Atrea? Apakah teknik yang ia gunakan berasal dari Akademi Pedang Kayu? Kalau memang begitu, aku juga tertarik mempelajarinya!".
Ketika semua orang sibuk membahas kekuatan Atrea, pria yang berada di peringkat 4 sedikit tidak senang. Kenapa sewaktu ia maju, tidak ada seorangpun yang membicarakannya. Sedangkan Atrea menjadi pusat perhatian semua orang yang membuat pria tersebut iri.
Tetapi ia menyembunyikan perasaan iri nya secepat mungkin sebelum berkata sopan "Nona Atrea, hati-hati! Aku akan melakukan serangan terbaik sehingga kau mungkin terluka".
Bersamaan dengan perkataannya, pria itu melempar puluhan pedang dari jubahnya.
Bukan hanya pedang melainkan hampir semua senjata, baik tombak, panah, belati, kapak dan berbagai senjata lainnya.
__ADS_1
Setelah melemparkan semua senjatanya, pria tersebut mengambil sebuah palu yang besar, ukuran palu itu sekitar 2 kali lipat dari ukuran tubuhnya sendiri.
Meskipun pria yang berada di peringkat 4 tidak terlihat berotot, melainkan ia agak kurus. Tapi ia mengangkat palu besar di tangannya dengan mudah, lalu bergegas menuju Atrea.
Gertias yang sedang mengamati dari samping tidak bisa untuk tidak kagum "Julukan Gudang Senjata memang tepat untuknya, tidak diketahui berapa banyak artefak kelas 2 dan 1 yang ia simpan. Tetapi sebuah hal yang pasti, ia juga memiliki banyak sekali roh senjata! Selama aku terjebak di antara serangannya, aku pasti tidak memiliki kesempatan menang".
"Itu karena kau terlalu lemah", kata Poris yang mendengar perkataan kagum Gertias "Di matamu, serangannya mungkin tidak memiliki celah sedikitpun. Tetapi bagi orang sepertiku atau Atrea, kumpulan senjata yang ia lempar seperti mainan anak-anak, kami dapat lolos dari serangan senjatanya tanpa masalah!".
Sesuai perkataan Poris, sosok Atrea berubah menjadi puluhan burung lagi dan menghindari senjata yang hampir menusuknya tanpa masalah.
Meskipun beberapa burung tertusuk oleh senjata lawan, tapi mereka adalah roh yang membuat mereka tetap bisa pulih selama cukup beristirahat.
Di antara puluhan burung yang Atrea gunakan, sekitar 5 burung berhasil lepas dari hujan senjata barusan.
Pria di peringkat 4 tahu kesempatannya telah datang, ia membunuh 1 burung di dekatnya memakai palu. Setelah itu, ia melempar pedang dari jubahnya yang menusuk 1 burung lagi.
Tidak berhenti sampai di situ, sebuah jarum ditembakkan dari mulutnya dan menusuk burung lagi hingga mati.
Bisa dikatakan, pria yang berada di peringkat 4 merupakan ahli senjata, tidak diketahui berapa banyak artefak yang ia sembunyikan di seluruh tubuhnya. Hal yang paling menakutkan dari dirinya yaitu ia mengubah tubuhnya menjadi senjata, hampir semua tubuhnya mampu menembakkan senjata seperti jarum yang ia tembakan dari mulut barusan.
Melihat tinggal 2 burung lagi yang asli, pria di peringkat 4 tersenyum "Dengan ini, semuanya berakhir! Aku yang akan menjadi pemenangnya!".
__ADS_1
Ia memukul 1 burung lain memakai palu sedangkan 5 pedang artefak tingkat 1 ditembakkan dari jubahnya menuju burung yang lain, ia yakin kemenangan telah berada di depan mata.
Tarion yang dari tadi tidak peduli segera membuka matanya, ia menatap tajam menuju panggung dan menggelengkan kepalanya "Pertandingan sudah berakhir, ini terlalu cepat! Apakah ia tidak dapat bertahan lebih lama lagi? Terlalu lemah!".