
Sebuah senyuman sopan muncul di wajah Vann, ia bersikap seakan-akan dirinya ragu agar Horge tidak curiga terhadap kekuatan Vann yang lebih tinggi darinya "Apakah kau yakin? Bagaimanapun kita sudah setuju untuk bertarung sebulan kemudian, orang-orang mungkin akan mengejek dirimu karena menantang ku untuk bertarung lebih dulu tanpa menunggu waktu sebulan sesuai yang disetujui sebelumnya".
Melihat Vann yang ragu, Horge tersenyum semakin senang dan membuang kekhawatiran terakhirnya.
Pada awalnya Horge berpikir ada kemungkinan Vann lebih kuat dari dirinya sejak berhasil mengalahkan pengikut Horge yang lain, tapi nampaknya ia terlalu banyak berpikir.
Vann pasti sangat ketakutan sekarang, apa yang perlu ia lakukan hanya membuat Vann menerima tantangannya.
"Kau benar, itu tidak baik untuk memulai pertarungan secara tiba-tiba padahal kita telah menetapkan aturan sebulan kemudian sebelumnya", kata Horge bersikap seperti sedang berpikir "Namun kita tidak boleh menunda pertarungan kita lebih lama lagi bukan? Melihat kekuatanmu yang sudah setara melawanku, aku rasa kita tidak perlu membuang-buang terlalu banyak waktu lagi. Selain itu, aku yakin banyak orang sangat penasaran mengenai siapa yang akan menjadi pemenang dan kalah di antara kita. Di sisi lain, ini hanya pertandingan pertemanan! Bagaimanapun kita berasal dari akademi yang sama, tidak peduli siapa yang menang atau kalah, kita tidak boleh terlalu menyakiti pihak lain bukan?".
Vann mengejek dipikirannya, ia tidak percaya Horge akan membiarkannya pergi apabila Vann kalah. Ia dapat membayangkan, sewaktu dirinya kalah, Horge pasti memukul Vann tanpa henti sampai Vann tidak mampu berdiri lagi selama paling tidak setahun.
Bukan hanya itu, tidak menutup kemungkinan Horge akan mematahkan beberapa tulang kaki atau tangan milik Vann.
Tetapi Vann tidak menunjukkan ia mengetahui rencana Horge, melainkan ia tetap tersenyum ramah "Ternyata begitu, kalau semuanya cuma pertandingan pertemanan, maka aku tidak boleh menolak! Ayo kita pergi, lebih baik menggunakan arena pertarungan dimana aku bertarung kemarin bukan?".
"Aku tidak keberatan, karena aku yang menantang mu, kau boleh memilih tempat dimana kita akan bertanding", kata Horge ikut tersenyum.
2 orang itu pergi menuju arena pertarungan sambil tersenyum ramah, layaknya 2 teman dekat yang sudah lama tidak bertemu.
Beberapa orang yang melihat tindakan Vann dan Horge merasa bingung, mereka mulai meragukan apakah 2 orang ini bermusuhan atau sebenarnya berteman.
__ADS_1
Tetapi orang-orang yang lebih cerdas mampu menemukan senyuman di wajah Horge dan Vann bukan senyuman ramah, melainkan senyum seekor rubah yang berusaha menipu lawannya.
Selama seseorang tidak berhati-hati, senyuman rubah mungkin menipu mereka.
Berita pertarungan Vann dan Horge segera menyebar ke seluruh akademi, bahkan kali ini, 2 orang guru bertindak sebagai penengah yaitu guru topeng perak dan guru lain yang Vann tidak kenal.
Di seluruh arena, terdapat beberapa guru lain yang sedang berjaga-jaga. Bagaimanapun Vann pernah hampir dibunuh yang membuat nama akademi mereka diragukan, kenapa pihak akademi membiarkan pembunuh datang ke akademi mereka dan hampir membunuh seorang murid?
Oleh karena itu, apabila Vann dibunuh lagi kali ini, nama Akademi Pedang Kayu pasti benar-benar hancur.
Alasan tersebut yang membuat banyak guru bertindak sebagai penjaga pertarungan kali ini, Tardi ikut menyetujui para guru yang bertindak sebagai penjaga.
Tidak berhenti sampai di situ, Tardi yang berada di puncak akademi terus menatap ke arah arena pertandingan.
Selama Tardi melangkah maju, ia pasti dapat segera tiba ke arena secepat mungkin.
Vann tidak peduli terhadap penjagaan banyak guru dan Tardi yang turun tangan sendiri di sekitarnya, ia naik ke atas arena dan menatap Horge yang menjadi lawan di depannya.
Horge mengambil Pedang Monster yang diberikan Poris. Berbeda dari sebelumnya, Pedang Monster tidak menunjukkan keanehan apapun seperti ada mata dan mulut. Di mata semua orang, Pedang Monster cuma seperti pedang normal berwarna perak sehingga mereka tidak tahu kebenarannya.
Selama guru atau Tardi mengetahui pedang apa yang digunakan Horge, mereka pasti bertindak secara langsung.
__ADS_1
Namun Tardi yang ada di puncak gunung menatap Pedang Monster dengan aneh "Kenapa aku merasa pernah melihat pedang di tangan anak itu? Apakah senjata yang ia bawa merupakan senjata terkenal hingga aku pernah mendengarnya? Kalau benar begitu, kenapa senjata yang hebat jatuh ke tangan anak muda seperti dirinya?".
Tardi berpikir Pedang Monster yang dibawa Horge merupakan harta kultivator tingkat menengah sebab Tardi merasa pernah melihatnya, artefak kultivator tingkat rendah pasti tidak akan diingat Tardi.
Padahal kenyataannya, Tardi pernah melihat pedang ini sewaktu pertemuan kultivator tingkat menengah yang diadakan baru-baru ini mengenai Pedang Monster yang bisa berubah seperti pedang normal.
Walaupun perubahan Pedang Monster sulit dilihat, mereka memiliki 1 kelemahan fatal yaitu Pedang Monster cuma dapat berubah menjadi 1 pedang yang sama yaitu pedang perak di tangan Horge sekarang, Pedang Monster tidak cukup hebat untuk berubah menjadi bentuk pedang lain.
Masalahnya waktu pertemuan itu, Tardi sama sekali tidak memperhatikan sebab ia terlalu mengutamakan masalah rencana mengembangkan Akademi Pedang Kayu, karena hal tersebut Tardi gagal mengingat Pedang Monster di tangan Horge.
Setelah sebagian besar kursi penonton mulai penuh, beberapa murid bahkan memilih berdiri agar mendapat kesempatan menonton pertandingan ini, guru topeng perak melangkah maju ke pusat arena.
Semua orang langsung menarik nafas, lagipula pertandingan Vann dan Horge akan membawa perubahan besar kepada Akademi Pedang Kayu tidak peduli siapa yang menang atau kalah.
Horge yang tidak lain merupakan murid elit terkuat ke 10 di Akademi Pedang Kayu, ia mempunyai kultivasi Gold Core tingkat 4 yang 2 tingkah di atas Vann.
Sedangkan Vann yang dikenal sebagai Naga Air, Sang Badai Gila, dan setiap kali lawan yang harus Vann hadapi mempunyai kultivasi lebih tinggi daripada dirinya. Namun Vann tidak pernah kalah sampai sekarang, ia selalu menang yang membuat Vann nampak seperti sebuah legenda bagi para murid akademi yang lain.
Selama Vann menang melawan Horge, ia pasti benar-benar menjadi legenda dari murid normal yang bakatnya cuma 1 poin hingga menjadi murid elit terkuat ke 10 di Akademi Pedang Kayu.
Semua mata penonton menuju ke arena, tidak banyak orang yang berbicara karena takut menganggu jalannya pertandingan 2 pihak.
__ADS_1
Guru topeng perak berdiri di tengah-tengah, ia menatap menuju Vann lalu Horge sebelum berteriak keras "Pertandingan di mulai!".
Bersamaan teriakan guru topeng perak, Vann dan Horge mulai bergerak.