9 TAHTA

9 TAHTA
BAB 142 : SERULING ASAP HITAM


__ADS_3

Hasel bergegas menuju rumah Gostaf secepat mungkin, sebagai guru yang telah berada sejak lama di Akademi Pedang Kayu dan teman Gostaf yang dapat dikatakan cukup terpercaya, Hasel mengetahui sangat jelas mengenai seruling yang digunakan Diryas sekarang.


Seruling tersebut merupakan sebuah artefak yang pendiri Akademi Pedang Kayu dapatkan dari Laboratorium Monster.


Setelah mengetahui kegunaan seruling itu, pendiri akademi memutuskan untuk tidak menggunakannya lagi melainkan ia menyegelnya dan membiarkan Gostaf menjaga seruling tersebut.


Sejak awal pendiri akademi sama sekali tidak mengetahui nama asli seruling yang ia segel, tapi ketika ia mengetahui kegunaan seruling, pendiri akademi memutuskan namanya sebagai seruling asap hitam sebab seruling tersebut mampu memanggil monster yang terbentuk oleh kumpulan asap hitam tidak diketahui.


Alasan pendiri Akademi Pedang Kayu menyegel seruling adalah ia mengetahui seberapa menakutkan kekuatan monster asap hitam.


Selama seseorang terus memberikannya energi kehidupan yang mereka miliki, monster asap hitam tidak akan mati. Tidak peduli seberapa berat luka yang ia terima, lukanya pasti beregenerasi.


Cara terbaik menyegel kembali monster asap hitam yaitu membunuh penggunanya.


Tidak berhenti sampai di situ, kekuatan monster asap hitam juga tidak kalah menakutkan yaitu kultivator tingkat menengah. Baik dari segi kekuatan atau kemampuan, monster asap hitam tidak kalah dari Tardi ataupun Gordaf sebagai kultivator tingkat menengah.

__ADS_1


Masalah terakhir yaitu monster asap hitam mampu terus membagi dirinya menjadi bentuk kecil. Menurut pendiri akademi, monster asap hitam dapat membuat 1 juta dirinya yang kecil setiap hari.


Walaupun perhitungan pendiri akademi belum tentu akurat sebab ia mengatakan terdapat kemungkinan kesalahan seperti terlalu kurang atau lebih banyak, tapi seharusnya jumlah tiruan dirinya sendiri yang bisa dibuat oleh monster asap hitam mendekati angka 1 juta.


Yang berarti monster asap hitam mempunyai 1 juta pasukan yang membantunya, sosok seperi itu tidak boleh dibiarkan bebas. Terutama monster asap hitam tidak bisa dikendalikan, baik monster atau manusia, ia selalu menolak tunduk. Mungkin kalau orang yang datang adalah Kaisar atau pemegang tahta, monster asap hitam pasti menyerah. Tetapi sosok hebat seperti Kaisar dan pemegang tahta tidak menganggap monster asap hitam sebagai lawan penting, bagaimanapun kekuatan mereka terlalu menakutkan hingga dapat menghancurkan monster asap hitam menggunakan 1 pukulan.


Oleh karena itu, mereka tidak tertarik membuat monster asap hitam menyerah kepada mereka.


Lalu kegunaan lain dari Seruling Asap Hitam adalah semua monster yang mendengar suara seruling akan menjadi semakin gila dan bertambah kuat, sedangkan manusia tidak akan menerima efek apapun dari suara seruling.


Ketika Hasel hampir tiba di rumah Gostaf, ia berhenti sebab dirinya menemukan Githa yang berdiri disana.


Hasel menatap ke arah Githa penuh rasa hati-hati "Apa yang kau lakukan disini, Githa? Apakah kau tidak pergi ke arena untuk menonton pertandingan murid Akademi Pedang Kayu? Selain itu, apakah kau tidak mencoba menghentikan suara seruling yang sedang bergema di seluruh akademi? Walaupun kau tidak tahu fungsi dari seruling, aku yakin kau tentunya mengetahui seruling tersebut bukan sesuatu yang baik bagi manusia kan?".


"Hasel, tidak perlu membuang waktu dan membicarakan sesuatu yang tidak berguna", kata Githa tersenyum di wajah cantiknya kepada Hasel, banyak pria di akademi yang jatuh kepada Githa akibat senyuman ini "Sejak kau melihatku berada di rumah Gostaf, kau pasti mengerti tentang kita merupakan musuh bukan? Jika aku bukan musuh kalian, aku pasti telah menghentikan seruling di tangan Diryas dari tadi! Kenapa aku tidak menghentikannya? Jawabannya mudah, Aku dan Diryas adalah rekan, setidaknya untuk sekarang".

__ADS_1


Seluruh tubuh Hasel bergetar, ia menatap Githa penuh kebencian dan tidak percaya "Apakah alasan tidak ada perlawanan dari Gostaf juga karena dirimu? Kekuatan Diryas tidak lebih kuat dari Gostaf, lebih tepatnya kekuatan mereka sama. Apabila Diryas mencoba mencuri Seruling Asap Hitam, Gostaf pasti menyadarinya sehingga mereka akan bertarung. Selama mereka bertarung, kami pasti menyadari seseorang berusaha mencuri artefak seruling".


"Masalahnya sejak awal, aku tidak pernah merasakan pertarungan apapun disini yang berarti 1 hal, kau menipu Gostaf dan membunuhnya secara langsung tanpa memberikan ia kesempatan untuk melawan, apakah aku benar? Dengan cara itu, kalian bisa mengambil Seruling Asap Hitam tanpa harus bertarung yang pasti menarik perhatian guru lain di akademi".


Githa bertepuk tangan "Kau benar, aku menipu Gostaf dari awal dengan bersikap seperti tamu. Bagaimanapun kita cukup dekat sebagai 3 orang terkuat dari guru lama Akademi Pedang Kayu, Gostaf sama sekali tidak curiga terhadap kedatanganku. Saat ia lengah, aku membunuhnya memakai racun! Bagaimana? Apakah kau sudah merasa cukup bertanya? Jika kau mempunyai pertanyaan lain, kau boleh bertanya! Mengingat pertemanan kita di masa lalu, aku tidak keberatan membagi beberapa cerita kepadamu kecuali berita penting yang tidak boleh kalian ketahui".


"Tidak perlu, aku tidak tertarik membuang waktu lagi berbicara denganmu!", kata Hasel yang menarik pedangnya, wajah Hasel berubah menjadi sedingin es "Githa, aku harap kau sudah bersiap! Ketika kau membunuh Gostaf dan mengkhianati Akademi Pedang Kayu, kau telah menjadi musuhku! Dengan memakai pedang ini, aku akan membunuh pengkhianat seperti dirimu".


"Sangat menarik!", kata Githa yang mengambil pedangnya juga "Ayo bertarung, mulai hari ini, 3 guru lama terkuat Akademi Pedang Kayu akan menghilang dan berubah menjadi guru lama terkuat Akademi Pedang Kayu sebab hanya 1 orang dari kita yang memiliki kesempatan hidup! Baik aku ataupun kau, kita tidak bisa hidup normal saling berteman lagi!".


Hasel dan Githa saling menatap sambil memegang pedang di tangan masing-masing. Mereka tidak berani bertindak sembarangan sebab mereka tahu, lawan mereka sama sekali tidak lemah.


Sebagai rekan yang bekerja sama selama bertahun-tahun, baik Hasel ataupun Githa mengerti seberapa menakutkannya kekuatan lawan mereka.


Oleh karena itu, tidak seorangpun dari mereka memilih menyerang lebih dulu melainkan menunggu waktu yang tepat supaya dapat menyerang musuh serta memberi luka fatal kepada lawan mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2