
Vann bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya, ia segera melompat dari tempat tidurnya dengan penuh semangat.
Tanpa membuang waktu sedikitpun, Vann bergegas mandi lalu memakai pakaian terbaiknya sebelum membawa tas yang sudah ia persiapkan sejak kemarin malam.
Vann sama sekali tidak memiliki banyak barang yang harus ia bawa, paling banyak dirinya hanya perlu membawa beberapa baju.
Sedangkan uang, maka itu tidak diperlukan sebab para kultivator tidak memakai uang. Apabila seorang kultivator mencari sumber daya maka mereka hanya bisa memakai kristal energi yang merupakan mata uang kultivator. Untuk makanan dan sumber daya, akademi yang menyediakan hal tersebut bagi muridnya, ini adalah pengetahuan yang Vann dapatkan saat ia belajar sejarah kultivator selama beberapa bulan ini.
Ketika datang ke ruang makan, Vann menemukan ayahnya yang sedang memakan roti.
Vann ikut mengambil sehelai roti di atas meja sambil berkata "Pagi, ayah!".
Ayah Vann tersenyum pahit "Nampaknya kau sangat bersemangat hari ini, apakah menjadi kultivator membuatmu begitu senang?".
Vann yang baru memakan roti langsung berbicara lagi "Apa yang ayah katakan? Akhirnya aku semakin dekat dengan mimpi milikku, bagaimana mungkin aku tidak merasa senang? Terima kasih ayah, aku yakin kau adalah orang yang membantuku bergabung ke Akademi Pedang Kayu bukan?".
"Ayah tidak melakukan apapun", kata Ayah Vann yang terlihat tidak peduli.
Tiba-tiba suara ketukan di pintu terdengar, setelah itu suara seorang pria terdengar "Apakah ini rumah murid Vann, aku adalah perwakilan dari Akademi Pedang Kayu yang akan membawamu ke akademi hari ini".
Mendengar orang yang datang dari akademi sudah tiba, Vann mengambil tasnya secepat mungkin sebelum berkata "Ayah, aku berangkat dulu!".
"Vann, tunggu dulu!", teriak ayahnya yang memberikan sebuah kalung kristal ke tangan Vann "Aku mengizinkanmu pergi ke akademi dan menjadi kultivator, tapi kau harus selalu mengingat bahwa tidak peduli apapun yang terjadi, jangan pernah melepaskan kalung yang aku berikan sekarang! Apakah kau mengerti?".
Vann tidak mengerti kenapa ayahnya memberikan sebuah kalung dan ia harus selalu memakainya, namun apa yang Vann tahu yaitu ayahnya pasti tidak akan berencana hal yang buruk pada dirinya.
__ADS_1
Oleh karena itu Vann memakai kalung kristal itu di lehernya "Aku mengerti ayah, aku pasti tidak akan melepaskan kalung yang kau berikan. Kalau begitu aku berangkat dulu".
Setelah itu Vann berlari penuh semangat menuju pintu, ayah Vann hanya menatap kepergian Vann lalu menggelengkan kepalanya "Apakah kau masih bisa bersikap penuh semangat seperti ini ketika sudah merasakan kekejaman akademi terhadap orang yang tidak memiliki bakat ataupun latar belakang? Ayah harap kau tidak akan menyerah saat waktu itu tiba".
Vann membuka pintunya untuk menemukan seorang pria berusia sekitar 40 tahun.
Pria ini memiliki rambut kuning pendek serta wajah dingin dengan jejak kesombongan, dari pakaiannya maka Vann tahu pria di depannya adalah sosok seorang guru dari Akademi Pedang Kayu.
"Apakah kau Vann? Ayo pergi, kenapa aku harus membuang waktu untuk murid tanpa bakat yang beruntung bisa bergabung ke akademi karena pernah membantu anak kepala sekolah? Aku, Hasel yang berbakat sama sekali tidak memiliki waktu bagi anak-anak tidak berkata seperti ini", kata pria bernama Hasel itu yang berbalik pergi.
Melihat sikap Hasel, Vann tahu guru ini pasti tidak setuju terhadap Vann yang bergabung ke akademi. Jadi Vann juga tidak banyak berbicara, ia hanya ikut Hasel pergi menuju Akademi Pedang Kayu.
2 orang tersebut berjalan menuju lingkaran teleportasi yang pernah Vann gunakan pada tes sebelumnya, sepanjang jalan mereka tidak membicarakan apapun.
Belum lagi setiap akademi memiliki lingkaran teleportasi, oleh karena itu mereka tidak perlu khawatir untuk pergi melawan serangan monster yang ada di benua lain.
Hasel mengaktifkan lingkaran teleportasi tersebut, lingkaran di tanah bersinar lalu sosok Vann bersama Hasel menghilang.
Lagi-lagi Vann merasa seluruh kepalanya berputar-putar, setiap kali melakukan teleportasi maka hal ini pasti terjadi.
Tetapi berbeda dari sebelumnya, Vann kali ini hanya merasa sakit kepala tanpa muntah sedikitpun.
Ketika Vann membuka matanya lagi, ia menemukan dirinya sudah tiba di sebuah kota yang sangat ramai.
Berbeda dari kota tempat Vann berada sebelumnya, disini tidak ada mobil atau kendaraan lainnya, semua orang berjalan di jalan-jalan serta ada banyak toko di sekitar.
__ADS_1
Sebagian besar bangunan di kota terbuat dari kayu, tidak ada menara tinggi seperti yang terlihat di kota-kota. Bahkan Vann menemukan bangunan tertinggi di kota hanya memiliki tinggi 3 lantai, Vann merasa dirinya kembali ke zaman dulu dimana teknologi bangunan bertingkat masih belum ada.
Melihat Vann yang berdiri diam di tempat sambil menatap sekitar penuh rasa tertarik, Hasel semakin tidak senang "Anak bodoh, cepat ikuti aku! Jangan membuang-buang waktuku yang berharga lebih banyak lagi, pada akhirnya orang tanpa berbakat seperti dirimu tidak akan tinggal lama disini! Kembalilah ke kota tempat dimana kau berada!".
Setelah itu Hasel berjalan pergi menuju gunung yang berada di dekat kota ini, Vann yang masih bingung terhadap keadaan sekitarnya kembali sadar.
Tanpa ragu Vann mengikuti Hasel, ia tidak marah mengenai sikap buruk Hasel.
Bagaimanapun ada banyak orang seperti ini di tempat ia tinggal dulu juga, beberapa orang sangat menghargai anak yang cerdas dan berbakat sedangkan mereka yang normal ataupun sedikit lebih buruk, orang-orang akan memarahi serta menyalahkan mereka.
Saat semakin dekat di gunung, Vann menemukan sebuah tangga yang langsung menuju ke bagian atas gunung.
Di depan tangga tersebut, terdapat sebuah monumen batu besar yang memiliki tulisan seperti diukir oleh pedang "Akademi Pedang Kayu".
Walaupun itu hanya sebuah tulisan pada monumen batu, Vann bisa merasakan jejak aura menakutkan pada tulisan tersebut.
Vann sedikit bertanya-tanya, jika tulisan yang ia buat sudah memiliki aura sekuat ini, lalu seberapa kuat orang yang membuat tulisan ini.
Hasel terus membawa Vann naik ke atas tangga batu, untungnya Vann sudah berlatih selama beberapa bulan yang membuat ia tidak kelelahan sedikitpun naik ke atas.
Ketika tiba di bagian pertengahan gunung, Vann menemukan bahwa ada sebuah kota kecil lagi di tempat ini.
Namun berbeda dengan kota di bawah gunung yang ramai, kota di tengah gunung tidak memiliki terlalu banyak orang.
Namun apa yang menarik perhatian Vann yaitu setiap orang yang lewat membawa pedang kayu pada diri mereka, Vann sadar bahwa ia benar-benar sudah tiba di Akademi Pedang Kayu.
__ADS_1