Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Masalah


__ADS_3

Pagi pagi sekali, seorang tamu mengganggu kediaman Jung, seorang pelayan mengetuk pintu Hoon.


"Tuan, seseorang ingin bertemu di lantai bawah" Hoon mengangguk, dia masih mengantuk. Wajah bantalnya terlihat jelas. Tapi dia segera bangkit dan membuka selimut. Mengikat tali piyama yang melonggar. Hoon mengenakan sandal dia bersiap turun ke lantai bawah.


PRAANG!!


Langkah kaki Hoon semakin dipercepat. Dia berhenti di tangga saat mendapati Eun dengan pecahan piring atau gelas di sekitar kakinya. Tak berapa jauh berdiri sosok pria yang memunggungi Hoon. Dia menuruni tangga perlahan. Memastikan figure yang familiar di bawah sana. Itu mungkinkah?


Hoon menapakkan kaki di lantai dasar, pandangan kaget Eun pindah pada wajah heran adiknya. Benar saja, pria yang membalikkan badan tidak lain dan tidak bukan, persis seperti dugaanya.


"Kauu.." suara Hoon tercekat. Pantas saja Eun menjatuhkan benda di tangan, wajah Glen sangat tak dinantikan di pagi hari mereka.


Glen mencoba mengatur wajah, tapi beban berat tetap jelas terlukis di sana.


"Hoon.." ujar nya pelan, dengan ragu Glen menatap wajah tegang Hoon. "Hoon ada yang harus aku sampaikan" ujar Glen menelan ludah pahit. Hoon dan Eun terdiam, keduanya menunggu Glen melanjutkan kalimat.


"Eun.." seru Glen ragu, dia melangkah mendekati Eun. refleks wanita itu melangkah mundur. Entah mengapa meski dia sudah memantapkan hati tetap saja Glen membuatnya takut dan serangan panik tak bisa di hindari. Pria yang dianggap paling baik selama ini hanya lah fiktif belaka, Eun masih tak percaya jika Glen begitu jahat padanya. Glen memanipulasi kehidupan Eun.


"Eun, aku mohon kau mau memaafkan ku" pinta Glen memelas. Eun hanya bisa mematung, wajahnya tegang.


"Eun, aku tahu aku sudah sangat jahat, aku pria buruk, aku mohon kau memberiku maaf.." pinta Glen dengan wajah sendu berharap Eun mengabulkan permohonannya. Eun menggeleng. Memanipulasi hingga dia begitu membutuhkan Glen di sampingnya. Mengganti vitamin dan obat obatan tanpa fungsi. Memberi terapi bukan ahli, dan mempermainkan emosi, Eun tak bisa menerima semua itu. Glen membuat Eun lepas kontrol selama ini. Glen sudah merencanakan semuanya.


"Eun.." bisik Glen lirih.


"Heh, kau membayar dokter dan terapis palsu, kau mengatur obat dan pelayan di rumah, kau membuat aku tergantung dan mencuci pikiranku. Kau membuat ku depresi dan gila.. Lalu, bagian mana hingga aku harus memaafkanmu?" tanya Eun sinis. Glen terdiam. Wajahnya mengeras. Eun sudah tahu semua itu.

__ADS_1


"Eun, aku akan berubah. Aku sadar diriku begitu buruk padamu, aku janji aku akan berubah.." seketika Glen menjatuhkan badan, bertumpu pada lututnya, dia memohon dengan berlutut.


"Aku berjanji akan menjadi suami yang baik, aku akan selalu menjagamu, aku akan selalu setia, tidak ada lagi manipulasi ataupun perselingkuhan. Aku mohon.." Dengan mata berkaca kaca Glen terus meminta belas kasihan Eun.


"Kau tak hanya menghancurkan kehidupan pribadiku. Apa katamu! kau selingkuh!" dengus Eun kian kesal. Tapi tidak seperti dahulu, kini dia hanya mendengus dan melipat tangan di dada.


"Hoon pasti sudah memberi tahumu semuanya.." Eun melirik Hoon, mata nya menyipit tajam.


"Kau bahkan menyembunyikan dari nuna!" hardik Eun pada Hoon. Adiknya bahkan tak pernah sekalipun mengadu perihal perselingkuhan Glen.


"Sekarang dosamu semakin bertambah. Kau juga selingkuh di belakangku! lalu apa yang harus aku maafkan dari mu!!" teriak Eun emosi. Dia tertawa sinis melihat wajah memelas Glen.


"Perceraian kita adalah jalan terbaik" gumam Eun membuat keputusan. Glen tak percaya, dia beranjak dari posisinya, dia sudah merendahkan diri di hadapan Jung.


"Euun.." bisik Glen meminta perhatian Eun untuk terakhir kali. "Kim mengambil semua kekayaan mu, dia bahkan menghancurkan istana keluarga Jung.." lirih Glen menyesal. Eun dan Hoon terkejut. Kedua nya segera menekan layar masing masing.


"Nuna, perusahaan K2 meng-akulisi saham Jung, perusahaan kita turun drastis karena kediaman Jung terbakar.." Hoon menunjuk headline berita di laman media online. Eun terperangah mendapati foto kediamannya habis dilalap api. Banyak spekulasi miring di kalangan media perihal keluarga Jung, membuat nilai usaha Jung's corp merosot tajam. Dan apa itu perusahaan K2, mereka mengakulisi dengan cepat, seketika itu duit bermain. Memindahkan kekayaan seperti mendorong gelas saja.


"Tidak mungkin!" gumam Eun tak percaya.


"Euun.." Glen kembali berlutut "Aku mohoon.. maafkan aku!" pinta Glen memohon. Eun membalikkan badan. Dia tak peduli.


"Jika kau ingin aku berteriak dan gila kau tak akan berhasil. Tapi jika kau ingin aku mengusirmu saat ini, maka pergilah!" dengus Eun. Dada nya bergetar hebat. Hari ini Eun memutuskan mengakhiri pernikahannya. Mengakhiri kerajaan bisnis keluarganya, mengakhiri kebanggannya. Tapi satu hal yang Eun mulai saat ini. Dia bisa mengontrol diri, dia bisa berdiri dan tersenyum.


"Harta memang bukan segalanya.." Bisik Eun mencoba menenangkan diri. Dia menatap punggung Glen yang sudah menjauh dari pantulan cermin. Eun tersenyum, dia bangga pada dirinya yang sekarang.

__ADS_1


"Nuna.." Suara Hoon mengejutkan Eun, "Ada apa?"


"Nuna, kita akan kembali mendapatkan semuanya, percayakan padaku.." ujar Hoon percaya diri, Eun tersenyum tipis, dia sedikit mencibir.


"Nuna percaya padamu.." Eun tersenyum karena bisa berhasil menguasai emosinya. Harusnya dia sudah berteriak dan mengumpat kasar. Tapi tidak. Kehormatan dan harga dirinya lebih penting. Dia mungkin kehilangan banyak harta dari warisan keluarga, seperti Hoon bilang, mereka akan memperjuangkannya. Kali ini Eun tidak sendiri, ada Hoon bersamanya. Eun merasa sesak di dada sudah tak begitu menyiksa. Meski dia masih ingin menangis, toh wajar sajakan. Eun mengambil kontak mobil di meja.


"Kau mau kemana nuna?" Tanya Hoon curiga.


"Aku harus mencari angin segar!" teriak Eun sambil mengangkat tangan memamerkan kontak mobil milik Hoon.


"Kau tak tahu jalan nuna!!" balas Hoon berteriak. Eun sudah menghilang keluar dari pintu.


"Gps ku tahu jalan!" samar jawaban Eun masih terdengar. Hoon hanya bisa diam, mungkin Eun butuh waktu sendiri. Hoon mencoba maklum.


Hoon membuka layar ponsel, banyak sekali berita miring perihal keluarganya di Korea, skandal perselingkuhan Glen. Tekanan emosi Eun. Kehancuran perusahaan. Hingga kepergian dari Korea.


"Dia merancangnya dengan sangat baik!" genggam Hoon menahan emosi. Bibirnya menggaris senyum sinis. Entah apa di dalam kepalanya, Hoon berpikir keras untuk bisa menjalani bisnisnya dengan baik ke depan nanti. Lupakan masalah asmara, dia akan membuang dulu pikirannya perihal Risa. Risa? dada Hoon bergetar mengingat mantan kekasihnya itu. Ada terselip rasa nyeri di dalam hati, Hoon berusaha mengingkari perasaanya.


"Dia bahkan tidur dengan pria lain!"


***


terima kasih masih terus baca, terus kasi semangat ya.. makasih yg terua kasi komentar dan bintang 5nya.. beri star vote biar bisa masuk jadi salah satu novel populer (ngarep)


juga bantu beri hadiah biar bisa menang ikut top writing (aaamiin)

__ADS_1


tanpa kalian semua apalah daya ku..


__ADS_2