Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
AKDML-2 Canggung


__ADS_3

Di penginapan siswa


Alicia melangkah kembali ke dapur, Minji melirik tangannya yang masih digenggam erat oleh RI, dia menghentakkan tangan hingga pegangan RI terlepas. Akan lebih gawat jika teman mereka mengetahui apa yang terjadi di bawah meja. RI masih enggan melepaskan tangan Minji meski dadanya bergemuruh kuat. dia berusaha untuk tenang dengan denyut jantung yang mempermainkan dadanya, dia menikmati pacuan kuat adrenalinya.


Tatapan semuanya kian tajam, menyoroti wajah Minji. Kompak menghakimi Minji.


"Teman teman, kalian salah sangka!" Suara Jordi mengejutkan, pria ini hadir begitu saja di antara keramaian para gadis yang curiga.


"Aku meminta RI membantu Minji. Kudengar dia tertarik untuk belajar menyalakan kompor," terdengar tak masuk akal sih. Tapi wajah yang lain terlihat lebih tenang kini. Jordi itu pandai bermain kata kata dan membaca situasi, Minji menarik nafas dalam. Dia melirik RI sinis. Dia berusaha melepaskan genggaman tangannya, meski sekali dua kali gagal, ketiga kali terlihat ada hentakan kuat di kedua lengan orang itu hingga gadis gadis nampak heran dan aneh.


'bisakah kau hengkang dari sisiku!' hardik batin Minji kesal.


Tak ada yang berani berkata kata apalagi setelah Jordi ikut bergabung masuk ke dapur, tapi seseorang ikut menyerobot masuk di belakang Jordi, dia ingin memastikan apa yang telah terjadi antara pangeran kampus kesayangan mereka dengan gadis ini.


"Kau tak perlu melakukan itu RI.. itu adalah tugas anak perempuan bagaimana kalau biar aku yang membantu min, min-- siapa tadi?" Suara salsa terdengar terpaksa ramah, dia bergabung di dapur "-- ah Minji ya!" Ujarnya meraih pisau, dia menggeser posisi RI dengan senatural mungkin, tangannya mengangkat pisau tajam membuat yang melihat bergidik ngeri.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya. Kalian silahkan tunggu di meja!" Pinta Minji sambil mengedarkan senyum kecut. anak orang kaya hanya bisa bicara dan mengacau saja.


"Itu bagus!" Alicia setuju "bukankah kita sudah membayarnya!" Yang lain manggut manggut setuju dan segera menuju meja makan. "kau sendiri bagaimana Salsa? kau yakin akan menggunakan benda itu? bukankah itu tampak berbahaya?" tanya Alicia cemas pada rekannya. Minji mengangguk setuju dengan ucapan Alicia.


"kau bahkan terbalik mengarahkan mata pisaunya!" gumam Minji dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi.


prak!


Salsa membanting pisau ke meja. "sejak kapan benda seperti itu punya mata?" tanyanya pada diri sendiri dengan wajah ngeri. Salsa keluar dari dapur dan bergabung bersama teman temannya.


"Aku melihat orang memegang benda itu untuk menguliti tubuh korbannya.." bisik seseorang di telinga Salsa dan membuat gadis itu merinding ketakutan.


"darimana kau tahu hal seperti itu?" tanya Salsa takut.


"dari komik dan anime yang aku tonton!"


"hush! ayo kita ke meja makan, kita lebih baik menunggu saja daripada menodai tubuh kita dengan terjun ke dapur.. kalian tak pernah melakukan itu kan? jadi jangan mencoba.." bisik Alicia melirik Minji sinis, entah lirikan iri atau benci, bukannya sama saja ya!


Minji mempersiapkan pesanan anak anak manja itu satu persatu, meski banyak permintaan yang tak masuk akal yang mereka request dan tak bisa berhenti membuat Minji terus bolak balik kerja keras di dapur. Sementara RI masih mematung di posisinya, menatap kesibukan Minji dari sofa yang tak jauh dari meja bar dapur.


"RI, apa kau tak bergabung?" Tanya Jordi menengahi. Dia tak mau banyak kesalahpahaman lagi, gadis gadis ini selalu saja berisik kalau menyangkut dengan pria idola mereka itu. RI melirik Minji sejenak. Lalu melangkah bergabung ke meja makan dengan langkah sungkan.


Minji menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap menunggu di dapur. Dia menunggu tamunya selesai makan dan bersiap mencuci piring. Sekalipun dia tak peduli dengan tatapan RI yang tak berpaling dari arahnya. Membuat sorot mata gadis gadis nampak kesal. Apa istimewanya si gadis itu!


"Apa kau tak ikut bergabung!" Jordi melempar senyuman ke arah Minji, gadis itu menggeleng dengan senyum getir membalas ajakan Jordi. Sementara para gadis kompak meraut wajah sinis. Bisa bisanya menawarkan semeja dengan gadis itu!


RI melirik wajah Jordi sekilas. Dia tak menyukai sikap ramah Jordi pada Minji.


Ah menjadi anak orang kaya pasti melelahkan. Lingkungan yang penuh kepalsuan dan persahabatan karena status. Minji menengadahkan kepala. Dia bersandar pada kaki meja dan duduk di lantai. Suara riang di meja makan membuat Minji tersenyum getir.


Dia merasa hidupnya lebih beruntung meski harus bekerja keras bersama Omma. Tapi dia juga merindukan sekolah formal. Kejar paket bukanlah kesukaan Minji.

__ADS_1


"Kapan aku bisa memiliki teman sekolah?" Minji menghela nafas dalam. "Aku harus bersemangat! Aku yakin bisa masuk kampus yang aku inginkan.." dengan wajah penuh harap Minji bangkit dari posisinya. Itulah mengapa dia ada disini hari ini, Minji mengumpulkan banyak uang untuk kampus teknik yang dia impikan.


Suara piring di wastafel mengejutkan Minji.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Minji pada RI yang memunggunginya.


"Kami sudah selesai makan setengah jam lebih. Bahkan semua sudah istirahat di kamar masing masing." Minji mengedarkan tatapan. Benar sekali ruang bawah sudah kosong. Minji mengangguk kecil.


"Terima kasih" ujar Minji mulai merapikan meja dan memakai sarung tangan karet. Dia bersiap mencuci piring. Tapi RI masih saja berdiri di sampingnya.


"Kenapa kau masih disini?" Ketus Minji.


"Menemanimu, mungkin kau ingin mengatakan sesuatu padaku" Minji menoleh sinis dan RI memutar bola matanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Minji tak mengerti


"Bukankah kau berhutang maaf padaku?" Suara kecil RI terdengar tajam di telinga Minji, daun telinga gadis itu seketika merah.


"Berhentilah menggoda dan mendekatiku!" Ketus Minji. RI tak bergeming. Dia melipat tangan dan memperhatikan semua aktivitas Minji.


"Berhentilah menatapku, kau membuatku kikuk" Minji hampir putus asa. RI hanya mengangkat bahu.


"Ayolah katakan maaf padaku!" Pinta RI manja. Minji cuek.


"Hey, kau jangan menghindariku!" Pinta RI, mengurung posisi Minji dengan kedua tangan bertumpu pada meja.


Jarak keduanya begitu dekat, hingga Minji bisa merasakan tarikan nafas RI. Saat memutar badan. Dan dia baru menyadari betapa tampan pemuda di hadapannya ini. Pantas saja dia begitu populer.


"Kenapa? Kau sekarang yang tak bisa berhenti menatapku?" Tanya RI menggoda. Minji membersihkan tenggorokannya. Dia berusaha tenang. Minji merapikan rambut sampingnya ke belakang daun telinga. Dia jelas kikuk. Dia tak bisa untuk mengontrol diri saat RI terus saja menatap dirinya.


"Ayolah.." pinta Minji sedikit memohon "bagaimana kalau fans mu itu melihat kita seperti ini. Aku tidak siap dihakimi masal!" Pinta Minji menyembunyikan senyumannya. RI tertawa kecil


"Kau mengkhawatirkan itu juga?" Tanya RI menundukkan pandangan. Wajah keduanya jelas merona.


PLIP!!


Tiba tiba lampu mati! Sontak Minji terkejut dan spontan masuk ke dalam dekapan RI. Pemuda itu tak bisa menahan bibirnya yang mengembang sempurna. RI mengangkat tangan dan mendekap Minji.


"Apa gadis ketus ini takut gelap?" Goda RI. Minji menahan kepalanya untuk tak terangkat, dia merasa wajah RI begitu dekat hingga nafasnya menerpa rambut lurusnya. Belum lagi degup jantung yang berdendang seperti melodi indah.


Tap Tap Tap!!


Suara tapak kaki menuruni anak tangga mengejutkan RI dan Minji. Keduanya spontan menunduk dan bersembunyi di bawah meja. 


"Kenapa kita sembunyi?" Tanya Minji heran. RI mendekatkan telunjuknya di bibir Minji. 


"Sshh!" Pinta RI

__ADS_1


Dia membuka kakinya hingga tubuh mungil Minji masuk di antara kakinya. RI bahkan dengan santai duduk di lantai, sementara Minji di dalam dekapannya. Minji menyadari posisi aneh mereka. Rasanya darahnya seketika berdesir hangat.  Udara disini seketika panas. Padahal biasanya sejuk dan segar.


Seseorang mengetuk pintu kamar RI, tentu saja tak ada jawaban. Dia melangkah melintasi dapur membuat Minji kian merapatkan tubuhnya pada RI, sadar tak sadar dada keduanya begitu menempel rapat. RI mengangkat wajah, panas. Dia bisa merasakan sesuatu kenyal menyentuh tubuhnya. Dia yakin Minji bisa merasakan detak jantungnya. RI seakan kesulitan bernafas. 


Langkah kaki semakin menjauh dan mengetuk pintu lainnya.Sepertinya dia mengecek satu persatu kamar teman temannya.


RI dan Minji masih bertahan pada posisi yang sama. Melewati detik demi detik dengan berdiam diri.


Kenapa sunyi sekali? Minji mencoba melirik jam tangan RI, wah lihatlah arloji yang dia kenakan! Pasti sangat mahal. Batin Minji menggerutu.


Ternyata sudah hampir pukul satu malam.


'ada apa?" RI berbisik, bibirnya begitu dekat dengan telinga Minji.


'kakiku kesemutan' bisik Minji membuat RI tertawa kecil. Dengan sengaja telunjuk RI menyentuh punggung kaki Minji.


'ah, jangan lakukan itu!' protes Minji kesal. RI menyukai menggoda Minji.


'sepertinya semua sudah tidur. Sebaiknya kita juga istirahat' Minji mengangguk bingung. Dia harus istirahat dimana?


'ah, kau tak dapat kamar!', risau RI menyadari Minji yang tak bisa menjawab kalimatnya. 'mau bagaimana lagi' RI bangkit dari duduk dan menarik tangan Minji.


'pelan pelan dong!' bisik Minji kesal. 


'ah, maaf -- apa perlu ku gendong?' Minji menepuk pundak RI. Dia menahan senyum kecil.


Keduanya masuk ke dalam kamar RI.


Leo mengeryitkan dahi. Dia tidak salah lihatlah. Sepasang Lovebird bergandengan tangan dan masuk kamar.


"Apa aku sedang bermimpi?" Leo bertanya pada diri sendiri. Dia dari tadi duduk di sofa menunggu lampu menyala. Tapi RI dan Minji tak menyadari itu.


"Ah, kita bahkan belum wisuda tapi dia sudah mau lepas perjaka!" Gusar Leo kesal


"Menjadi pria populer enak ya, bisa memilih gadis mana saja!" Leo kembali merebahkan diri di sofa.


RI mendorong pintu kamarnya hingga tertutup sempurna. Tiba tiba lampu nyala.


Wajah Minji terlihat tegang sementara RI tak berani mengangkat wajah.


Kamar anak laki laki? Minji kehilangan kata kata. Dia mengedarkan pandangan. Ruangan cukup besar dengan ranjang king size, lengkap dengan head bed, karpet fur lembut dan sebuah sofa panjang. Apa yang aku lakukan disini? Minji seketika merinding, dia melirik pemuda di sebelahnya.


Telapak tangan yang masih bertaut terasa panas. Wajah RI merah padam, pertama kalinya dia mengajak gadis dalam kamar, dan gadis ini terasa berbeda. Minji spesial di mata RI.


Deg.. deg.. deg..


***

__ADS_1


__ADS_2