
"Aku pikir, aku bisa berbohong dan tak peduli, ternyata aku tak bisa" lanjut Hoon seperti berbicara sendiri. Risa masih ingin menangis. Tapi ucapan Hoon menyita perhatiannya
"Jadi berhentilah menangis! kau membuatku pusing!" gertak Hoon kemudian, dia mengeluarkan nada merengek seperti biasanya.
"Bisakah kau menangis nanti saja, bukan aku yang menyakitimu!" pukas Hoon kesal, dia mengerutkan dahi tak habis pikir, kenapa harus dia yang menemani Risa menangis, bahkan dia tak berbuat apapun. Hoon menoleh dan menatap Risa kesal. Risa yang masih sedih membalas tatapan Hoon dan cemberut.
"Aku menangis karena kau bilang kekasihku sudah punya istri!" jawab Risa kesal.
"Kenyataannya memang seperti itu!" balas Hoon tak mau kalah, dia berteriak.
"Kau bodoh!" hardik Hoon kesal
"Aku bodoh" ulang Risa
"Kau sungguh payah dalam berhubungan, kau sama saja denganku!" cibir Hoon
"Iya, aku payah" ulang Risa
"Kau jangan mengulang kata kata ku, kau membuatku kesal!" Hoon bangkit dari duduknya, dia sungguh kesal. Antara kesal dan juga kecewa. Hoon melirik Risa yang masih menunduk, dia merasa iba tapi juga marah, dia merasa kasihan tapi juga kecewa.
"Kau menelpon siapa?" tanya Risa melihat Hoon menekan layar ponselnya.
"Jemputan ku." balas Hoon ketus.
"Apa kau akan pulang ke Korea?" Hoon tak menjawab, dia menekan kontak lainnya.
"Apa kau juga sudah beristri?" Apa! Hoon mengangkat wajah menatap Risa, dia bengong dengan pertanyaan Risa.
"Kau gila ya!" hardik Hoon kesal, Enak saja, jangankan istri pacar saja belum pernah punya, batin Hoon menangis.
"Bawakan aku makanan dan soju!" ujar Hoon pada orang di seberang sana melalui sambungan ponsel.
"Apa itu soju?" tanya Risa
"Bir!" ketus Hoon, Risa mengangguk.
"Apa aku boleh mencoba?" Hoon melirik sinis. "Aku membeli untukmu, agar kau tak cepat gila!" Risa tersenyum. Melihat bibir Risa tersenyum Hoon mencibir kesal, dia menyembunyikan senyumannya.
"Ah, dokumen ku tertinggal lagi!" Hoon segera beranjak.
"Kau mau kemana?" tanya Risa, wajahnya masih cemas.
"Aku akan ke atas sebentar, ada yang tertinggal, kau tunggu disini, atau kau ingin ikut ke atas?" entah menyindir atau apa, kalimat Hoon tak tepat, mana mungkin Risa ikut ke atas dengan pakaian seperti ini, Hoon sudah merobek bajunya.
__ADS_1
"Aku akan mengambilkan baju mu" ujar Hoon membuka pintu, kau tunggu disini dulu!" Risa mengangguk.
Tak berselang lama handle pintu di putar lagi, Risa meraih taplak meja dan menutup seadanya.
"Kau sudah kembali?" tanya Risa, dia pikir itu Hoon.
Pria asing itu melongo melihat gadis di hadapannya, begitupun Risa, dia segera merapatkan taplak meja sebisa mungkin menutupi tubuh atasnya. Pria itu tersenyum sinis.
"Wah, menyewa apartemen sekarang ada hadiahnya" ujar pria itu tertawa senang, dia melangkah mendekati kasur.
Tak cukup taplak meja, Risa mengambil bantal, dia menutupi tubuhnya.
"Jangan mendekat!" pinta Risa takut, pria itu tak peduli, dia malah semakin berani, semakin mendekat. Risa mundur hingga mentok ke tembok. Pria itu kian berani, dia naik ke atas ranjang.
Risa mencari sesuatu yang bisa menyelamatkannya. Dia tak akan membiarkan pria mesum ini menyentuhnya. Pria berbadan besar, kepala plontos itu kian penasaran melihat tingkah Risa yang takut.
"Sudahlah, jangan pura pura. Berapa tarifmu?" tanyanya, Risa semakin ketakutan. Pertanyaan pria itu sungguh melukai harga diri Risa, bukankah tadi Hoon bilang dia murahan. Sepertinya benar. Risa menahan gejolak emosi dan perasaannya. Bukan saatnya untuk melankolis Risa! batinnya menguatkan. Risa mencari sesuatu yang mungkin bisa dia jangkau di meja sebelah ranjang.
Pria itu mengangkat tangannya, dia akan menyingkirkan bantal yang menghalangi tubuh Risa.
Dia menarik dengan tenaga, melempar bantal yang berhasil dia rebut, Risa menutupi tubuhnya dengan taplak, dia ketakutan. Pria itu sudah sangat dekat, bahkan bibir tebalnya sudah jelas ingin menyambar bibir Risa.
"KYAAA!!!" Risa berusaha kabur sambil berteriak, tapi yang ada taplak untuk menutupi tubuhnya malah ditarik pria itu, Risa membelakangi pria seram itu, dia menyilangkan tangan di dada. Siapapun tolonglah! doa Risa dalam hati, dia sudah sangat ketakutan.
"Sini manis, jangan malu malu!" rayu pria itu masih terus mendekati Risa dengan perlahan. Kedua telapak kekarnya menyergap pundak Risa, membuat gadis itu berontak sekuat tenaga, tapi dia tetap kalah.
BUUUUKK!!
Hoon datang melayangkan sikut di punggung pria besar itu. Dia terjerembab sebentar lalu bangkit. Hoon melemparkan kaos, dan Risa segera menangkap dan mengenakannya, dia mencuri lirik bagaimana pria itu menarik leher kaos Hoon dan membanting ke tembok. Hoon kalah tenaga, pria itu terlalu berotot untuk menjadi lawan Hoon. Risa segera berlari mencari telepon, dia dengan panik mencoba menghubungi security gedung.
Pria itu mengepalkan tinju, dia hendak menghantam wajah Hoon. Risa segera berlari dan memeluk Hoon
"JANGAAAANN!!" Teriak Risa menahan tangis. Dia memeluk Hoon, mencoba melindungi. Melihat bagaimana manisnya kedua pasangan muda itu membuat pria paruh baya itu kesal. Dia menarik lengan Risa membanting ke lantai. Hoon mencoba bangkit dan menendang biji pria besar itu. Itu adalah jurus terbaik yang pernah ada. Security datang dan mengamankan pria mesum itu, ternyata dia menyewa ruangan ini lebih dulu. Pihak gedung membuat kesalah pahaman, mereka meminta maaf pada Hoon.
"Apa kau terluka?" Hoon mengulurkan tangan, membantu Risa berdiri. Gadis itu menerima uluran tangan Hoon, mereka bangkit dan duduk di kasur.
Risa mengalami sedikit luka nyeri, sementara Hoon luka lebam dan memar di sudut bibirnya.
"Maaf, kau terluka karena ku" ucap Risa dengan wajah bersalah, Hoon mengangguk pelan.
"Harusnya aku tak meninggalkanmu" balas Hoon ikut merasa bersalah.
Risa mengambil air dan membersihkan luka Hoon, dia berhati hati sekali menyentuh luka Hoon.
__ADS_1
"Auu.."
"Maaf" Risa menggaris senyum getir.
"Ada apa?" selidik Hoon, wajah seperti itu biasanya hanya saat Risa risau, seperti saat ini. Risa melebarkan senyuman pahitnya, dia masih terus menyeka luka Hoon.
"Kau benar, ternyata aku gadis murahan. Setelah kupikir pikir aku dan bos Glen belum begitu saling mengenal, tapi aku begitu yakin. Kau tahu kenapa?" Hoon menggeleng.
"Karena dia memberiku hadiah yang tak mungkin bisa kumiliki!" Risa mengangkat jarinya, memamerkan cincin berlian yang masih dia pakai. Risa membuka cincinnya dan meletakkan di kasur. Hoon tersenyum sinis.
"Kau mau tahu sesuatu?" tanya Hoon seperti mengejek.
"Apa?"
"Cincin itu adalah produk sample yang di endorse nuna ku" ucap Hoon menahan wajah gelinya.
"APPA!!" Risa berteriak tak percaya, dia mendengus kesal.
"Ah bahkan dia tak cukup kaya" rengek Risa kesal. "Jangan jangan dia akan menyita rumah orang tuaku" Risa menahan wajah sedih nya, membayangkan Glen akan mengambil pemberiannya. Dia lupa harus membersihkan luka Hoon dengan hati hati, saking gemas mengingat tentang Glen, Risa menekan luka Hoon. Pemuda itu sampai meringis.
"Apa aku harus menjual rumah itu sebelum dia merebutnya!" Risa berpikir licik, membuat Hoon tertawa geli.
"Jangan kau jual, aku menyukai rumah itu" Risa mendengus kesal mendengar kalimat Hoon. "Itu Glen yang beli tau!" mengingat rumah itu pemberian Glen, Risa jadi serba salah.
"Aku harus mengakhiri hubungan ini. Dan harus mengembalikan semua pemberiannya" dengan berat hati Risa akhirnya membuat kesimpulan sendiri.
"Tidak perlu" ujar Hoon. Risa menautkan alis
"Aku akan membayar semuanya" Risa melongo tak percaya.
"Wah, benar benar pewaris Jung" gumam Risa antara takjub tapi juga mencibir. "Aku tak perlu belas kasihan" tolak Risa gengsi "Kau tahu Hoon, dengan begini aku jadi tau, bagaimana harus bersikap pada pria" Hoon mencibir, tak percaya dengan kalimat bijak Risa.
"Pria tuh mulutnya manis tapi berbisa!" umpat Risa kesal membayangkan wajah bos Glen.
"Tapi aku mencemaskan sesuatu.." Risa menatap wajah Hoon dalam, pemuda itu mengeryitkan alis tak mengerti, apa yang Risa cemaskan?
"Apa nuna mu akan menuntutku?", "Aku takut nuna mu akan memenjarakan aku!" Rengek Risa dengan wajah memohon. Hoon menaikkan bahu "Itu salahmu sendiri" ujarnya tak peduli. Risa semakin ketakutan.
"Aku tidak mau dipenjara, apalagi nuna mu orang hebat, aku mah apa atuh!" Risa menarik narik tangan Hoon, dia mencoba merayu untuk mendapatkan simpati Hoon.
"Huaaa.. aku takut dipenjara!" rengek Risa, Hoon tersenyum sinis.
"Kau mau terbebas dari tuduhan nuna?" tanya Hoon, Risa langsung mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu, jadilah kekasihku!"