Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Banyak rasa


__ADS_3

Risa hanya bisa mengikuti langkah Hoon dan menatap penasaran.


Ruangan kamar dengan ranjang berukuran king, terlihat lega dengan perabot mewah minimalis. Hoon melihat pintu kamar mandi juga terbuka, terdengar suara kucuran keran dari dalam kamar mandi.


Berbeda dari ruang depan, kamar ini sudah bersih dan dingin, air cooler sudah cukup lama menyala, itu artinya kamar ini sudah dihuni.


Hoon melangkah perlahan menuju kamar mandi, Risa masih setia mengikuti. Mereka penasaran siapa yang mengisi kamar luas ini.


Bersamaan tapak kaki perlahan Hoon, terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi.


Alangkah terkejutnya Hoon mendapati tetesan air yang jatuh ke lantai dari ujung kain tipis basah. Pandangan mata Hoon naik, dan seorang gadis dengan lekuk tubuh yang amat jelas membuat Hoon terkejut dan mundur, Risa membelalakan mata, terkejut.


Gadis dengan tubuh berbentuk sempurna, tonjolan jelas dengan bulatan pink pada dadanya. Bokong berisi, dan pinggang yang ramping, gadis yang sempurna untuk mata pria.


Kedua kali Risa dibuat terkejut. Wajah yang tak asing dengan rambut basah, Bunga menyeka rambut yang jatuh di depan wajahnya, menyingkap jelas ekspresinya, dia juga terkejut mendapati Hoon dan Risa di depan wajahnya.


Masih terkejut dan Riaa seketika merasa kesal dan marah. Apa apaan ini! Bisa bisanya Hoon mengajaknya ke rumah, sementara di rumah itu ada seorang gadis yang nyaris bugil sedang menunggu. Tidak mungkin Bunga dan Hoon tak punya hubungan! begitu pikir Risa. Seketika dadanya terasa panas dan terbakar. 


Risa berlari keluar ruangan. Dia menahan dongkol di dada. Wajahnya jelas kesal dan marah.


Bunga mengukir senyum tipis. Sementara Hoon bingung dan curiga.


"Kenapa kau disini?" tanya Hoon dengan wajah ketus. Bunga seolah olah tak mengerti, dia membetulkan ikatan pada kain tipis yang dia kenakan untuk menutup tubuh, dia tak membutuhkan semua itu, kain putih tipis basah yang dia kenakan sama sekali tak ada fungsinya.


"Aku sedang dirumah orang yang memintaku disini" ujar Bunga dengan senyum menggoda.


"Apa maksud mu!" tanya Hoon tak bisa lagi menahan emosi. "Siapa yang meminta mu kesini!" Bunga tersenyum tipis, dia melangkah mendekati Hoon. Menyentuh ujung dagu Hoon dengan jarinya yang dingin.


"Bukankah kau yang meminta?" tanya Bunga mencoba membangkitkan gairah Hoon dengan pesona yang dia miliki. Siapa yang tak tergoda melihat lekuk tubuh indah Bunga. Belum lagi bibir berisi merah muda. Tetesan air dari ujung helaian rambutnya memberi kesan sensual yang kuat, Bunga gadis yang mampu membangkitkan hasrat pria hanya dengan menatap matanya.

__ADS_1


***


Risa berlari keluar rumah, dia menghentakkan kaki kesal. Wajahnya jelas cemburu.


"Bisa bisanya Hoon dan Bunga di sini!" gerutu Risa. Dia tak bisa lagi membayangkan apa yang telah mereka lakukan. Hoon bilang ini mansion pribadinya, tapi kenapa ada Bunga di sana. Bunga lagi, bukankah mereka berteman, kenapa dia ada di mansion Hoon? Tunggu, kenapa aku lari? tanya Risa bingung, Kenapa juga dia harus kabur dan kesal. Bukankah Bunga juga tidak tahu hubungan nya dengan Hoon, bukankah setau Bunga bos Glen adalah pacar Risa bukan Hoon. Kalau dia lari seperti ini, pasti aneh kan? Risa mengerutkan dahi, bingung sendiri. 


"Aku harus kembali lagi?" tanya Risa mengucapkan pergolakan batinnya. Haruskah dia kembali lagi? Risa tak ingin Bunga berpikir kalau Risa aneh. Lagipula bukankah Risa harus tahu jelas hubungan apa antara Hoon dan Bunga, jangan sampai hubungan baru Risa bernasib sama seperti sebelumnya. Risa balik badan, dia kembali ke dalam.


Sebelumnya..


Bunga masuk ruangan, dimana bos Glen menyambutnya dengan senyuman.


"Kau tak mungkin tinggal sendiri di sini?" tebak Bunga melihat ruang apartemen bos Glen yang tertata rapi. Glen merebahkan diri di sofa dengan santai. Dia sengaja menghubungi Bunga dan meminta gadis ini berkunjung ke apartemennya, Glen yakin jika Risa dan Hoon tidak akan kembali malam ini.


"Apa kau butuh teman?" tanya Bunga duduk di samping bos Glen, telapaknya sengaja menepuk perlahan di atas paha bos Glen. Pria itu melirik sebentar, lalu mendaratkan telapaknya diatas tangan Bunga.


"Kau tahu betul itu" ujar Bos Glen bergerak sedikit hingga berhadapan dengan Bunga, keduanya saling menatap dan mengerti. Tatapan sensual dengan hasrat tak mudah padam. Bunga mendekatkan wajahnya pada wajah bos Glen. Mendaratkan bibir sensualnya di atas bibir bos Glen, sedikit bergumam dan membalut penuh semua bibir tipis Glen, mengecap, dan menikmati tiap gerakan yang mendarat. Bos Glen masih belum memberi respon, dia menikmati gerakan bibir Bunga. Mencoba merasakan tiap reaksi yang terus naik dan meningkat dalam dirinya.


"Memangnya bos Glen masih sabar?" tanya Bunga, jari jemarinya membuka kancing kemeja yang dia kenakan, memamerkan dua gunung bervolume yang menjadi aset kebanggaanya, gadis itu membuka kemeja dan melemparkannya, dia mengambil kait bra dan menyusul jatuh ke lantai. Glen masih menikmati pertunjukan, dia menanti kejutan selanjutnya. Glen bersandar pada tepi soda, merebahkan diri, menaikkan sebelah kaki yang menjulur di atas sofa panjang.


Bunga membuka kancing celana Glen, menelusup kebalik bahan katun itu, dia mencari sesuatu yang menyimpan banyak kenikmatan. Glen melenguh merasakan setiap sentuhan, menikmati perasaanya, Bunga sungguh lihai.


Sudah tak bisa lama lagi, Bunga menghancurkan kesabaran Glen, dia menarik gadis itu berpangku diantara pahanya, menikmati benda kenyal dengan indra perasa, sedikit menggigit hingga meninggalkan noda merah. Bunga semakin menggila, bos Glen membuatnya kian gila.


Jemari Bunga enggan hanya berdiam diri, dia bermain di atas dada bos Glen yang kaos nya baru saja ditanggalkan, meninggalkan banyak bekas kecupan dan noda lipstik. 


"Aaakhh,, teruss" pinta Bunga membuat libido Glen tak terkendali, gadis ini terus menggeliat saat jemari Glen mencari titik nikmat Bunga, gadis itu kian melenggu tak jelas lagi. Gerakannya semakin hilang kesabaran 


"Mari menikmati malam ini" bisik Glen bersiap dengan senjatanya

__ADS_1


"Aah.. permainanmu membuatku gila.." bisik Bunga membuat Glen kian bangga, dia memulai dengan gencatan senjata yang membuat daerah Bunga tak bisa menahan gejolak yang ada.


"Ini baru permulaan!" ketus bos Glen, dengan sigap dia menahan tangan Bunga, memasukkan jari ke dalam mulut gadis yang sudah tak mempunyai pertahanan lagi di hadapannya. Bunga, kau sungguh luar biasa, batin Glen memuji.


"Kemana pacar mu?" tanya Bunga setelah mereka membersihkan diri, dan kembali duduk bersama bos Glen.


"Biarkan dia menikmati malam ini dengan seseorang. Dia akan membayarnya di hari esok" dengan wajah datar, senyuman sinis, bos Glen menatap tajam televisi yang menyala. Hoon dan Risa meninggalkan apartemen dan tak kembali lagi, memangnya apa yang akan sepasang manusia lakukan kalah bukan seperti yang barusan Glen dan Bunga lakukan.


"Kau murah hati sekali" ejek Bunga.


"Huh, dia juga harus mencari pengalaman kan!" Bunga hanya membuat raut wajah terserah. Glen tersenyum kecil.


"Kau seorang pemuas yang berbakat, apa kau mau menjadi salah satu teman ranjangku?" tanya Glen menatap Bunga, Bunga mengalihkan pandangan, dia tersenyum sinis.


"Kau tak usah bertanya, aku melakukannya dengan sukarela" jawab Bunga membuat Glen tertawa kecil.


"Apa kau mau membantuku selain hal itu?" Bunga mengerutkan dahi tak mengerti.


"Membantu apa?" tanya Bunga. Glen mendekatkan kepalanya, dia berbisik pada telinga Bunga.


"Sebuah mansion?" Glen mengangguk. Dia lanjut berbisik. Bunga tertawa kecil.


"Itu mudah" jawab Bunga, "Lalu apa keuntunganku?" Dia selain lihai menggoda juga jago negosiasi, Glen menarik pundak Bunga, hingga menempel di dadanya. Glen lanjut berbisik. Bunga melebarkan senyuman, sepertinya dia mendapat penawaran yang amat baik.


"Baiklah.." setuju Bunga, bibirnya tersenyum sementara tangannya bergerak nakal, Bunga meremas sekali lagi senjata Glen, membuat pria itu seketika tersentak. Glen manatap Bunga heran.


"Apa kau mau lagi?" Bunga tersenyum malu malu mau..


"Mari melewati malam panjang ini" ujar Glen tak mau menyia nyiakan waktu, gadis muda memang penuh gelora, Bunga bukanlah barang buruk, Glen selalu bersemangat menikmati rumah rumah baru yang memiliki perbedaan rasa.

__ADS_1


***


Kirim review, star vote, dan hadiahnya !!


__ADS_2