Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Cerita Hoon


__ADS_3

Masih di kediaman orang tua Risa.


"Maaf ya, kau jadi ikut berbohong sampai seperti ini" gumam Risa dengan wajah tak enak. Dia melepaskan gandengan tangan mereka.


Sudah berapa lama mereka bergadeng tangan? sampai lupa lepas. Tadi Emi dan Bambang meminta mereka berfoto berdua, karena jelas canggung dan kikuk, orang tua Risa mengatur pose mereka. Mungkin karena beda budaya makanya Risa dan Hoon canggung, itu sih pendapat Emi dan Bambang sebagai orang tua. Nyatanya Hoon dan Risa memang bukan pasangan kekasih, bersikap mesra saja sulit apalagi ditambah di depan orang tua, sulitnya jadi double double.


Ris kembali duduk di tepi kolam, memainkan percikan air dengan telapak tangannya.


Hoon menatap hangat telapak tangan yang baru saja mereka lepaskan. Dia tersenyum sendiri, apa jatuh cinta segila ini? Hoon merasa begitu senang dan bahagia, padahal apa yang telah mereka lakukan? hanya berfoto bersama, bercanda bersama, hanya bergandengan tangan. Kedengaran konyol kan. Hoon.. jatuh cinta memang konyol! dan kau suka dengan kekonyolan itu.


Hoon mengambil duduk di sebelah Risa, dia menangguk air dengan telapak tangan, memercik sedikit ke wajah gadis di sebelahnya, Risa berusaha menghindar, tapi tetap saja mengenai wajahnya.


"Ish, kau iseng!" gusar Risa kesal. Dia membalas tingkah Hoon. Bukannya marah Hoon malah tertawa.


"Sebegitu senangnya kau. Biasanya kau membalas kesal, sekarang kau malah tertawa!" hardik Risa tak percaya dengan tingkah Hoon yang berbeda. Dia banyak berbeda hari ini. Senyum Hoon semakin lebar.


"Risa, terima kasih sudah membawaku kesini" Risa mengerutkan dahi. Dia tak percaya Hoon mengucapkan terima kasih karena kebohongan mereka.


"Aku sudah lama merindukan suasana seperti ini" ujar Hoon kemudian. Dia mengatur duduk di sebelah Risa, Badannya sedikit miring, menyenggol pelan bahu rekannya. "Aku senang ada di sini" bisik Hoon tersenyum lepas. Risa membalas senyuman itu.


"Dulu aku juga sering bermain dengan nuna--"


"Sebentar, nuna itu apa sih?" potong Risa. Dia tak mengerti.


"Nuna itu panggilan sister ku" ujar Hoon menjelaskan.


"Oh, jadi nuna itu kakak perempuan mu?" Hoon mengangguk.


"Iya, nuna ku itu sangat cantik, dia itu salah satu world goddess nya Korea!" ucap Hoon bangga. Risa membuat wajah tercengang.


"Wow, dia pasti cantik sekali" Hoon mengangguk setuju.


"Dia cantik, smart dan --" Hoon sedikit berpikir, Risa menunggu kalimat lanjutan dari Hoon, tapi dia malah menarik nafas panjang.


"Aku dan nuna sangat dekat, kami sering bermain dan bercanda di perkarangan rumah. Nuna ku memiliki senyum yang indah, ah aku baru ingat!" suara Hoon yang tiba tiba meninggi, sedikit mengejutkan Risa.

__ADS_1


"Kai itu cinta pertama nuna!" teriak Hoon. Risa mengerutkan dahi tak paham.


"Aih, kenapa aku lupa sih!" lanjut Hoon bingung sendiri, dia memukul kepalanya gemas.


"Kau kenapa sih?" ejek Risa melihat tingkah aneh Hoon.


"Kau tahu, direktur Mei!" Risa mengangguk, tentu saja dia tahu, itukan direktur perusahaan dimana dia bekerja.


"anak direktur Mei adalah cinta pertama nuna ku!" seru Hoon membuat Risa melongo kedua kalinya.


"Ahh, sayang cinta mereka tak baik. Aku tidak tahu apa yang terjadi hingga mereka saling membenci" suara tinggi Hoon perlahan turun, dia membuat wajah bingung. Hoon saja bingung dengan cerita nya apalagi Risa.


"Dulu aku, nuna dan Kai sering bermain bersama. Kami akan pergi ke taman bermain, membeli eskrim hingga singgah di game centre!" melihat wajah ceria Hoon yang mengingat masa lalunya membuat Risa serius menyimak. Dia meraih setoples cemilan yang ditinggalkan Emi, Risa menyimak kisah indah masa kecil Hoon ditemani rengginang.


POV. Hoon


Saat itu aku masih sekolah junior, sementara nuna dan Kai sudah senior. Mereka selalu saja berangkat sekolah bersama. Mereka akan bangun di pagi buta, bersiap dan meninggalkan ku yang masih mengantuk.


"Nunaaa.. tunggu aku!" Aku tidak mau lagi menghabiskan sarapan, aku akan mengejar nuna, dia selalu saja kabur dengan Kai.


"omaa.. nuna dan Kai sepertinya berkencan, mereka tidak mau aku ikuti kalau bermain. Mereka juga selalu pergi sekolah berdua" mama hanya tersenyum kalau aku merengek manja.


"Hoon habiskan susu mu, ayo apa antar"


"Appa, aku tidak mau diantar dengan mobil, aku ingin sepeda seperti Kai hyung-nim!" aku juga bingung kenapa waktu kecil saat bicara aku selalu merengek. Itu terdengar menyebalkan dari pada meluluhkan.


"Hoon, mengayuh sepeda akan membuat seragam mu basah, kau akan kegerahan" ujar mama tak mengabulkan permintaanku. Aku semakin cemberut.


"Kalau begitu katakan pada nuna untuk berangkat dengan ku jangan dengan Kai, aku tidak suka berangkat sendiri" lagi lagi aku merengek. Papa menatapku.


"Kau berangkat dengan appa dan sopir, kau tidak pernah sendiri." balas papa dianggukkan mama.


"Bukan itu maksudku!" ah mama dan papa tak mengerti, aku tidak mau sendirian! aku ingin nuna bersama denganku, Kai menyebalkan!


**

__ADS_1


"Aish.. bahkan kau kecil 1000 kali lebih manja dari sekarang?" Risa mengeryitkan dahi, tatapannya terlihat jijik dan kesal.


"Pasti berat jadi anggota keluarga yang mempunyai anak manja seperti mu!" Hoon melirik Risa sinis, harusnya dia tidak menceritakan bagian itu. Harga diri Hoon semakin jatuh dihadapan Risa.


"Kau harusnya bersyukur punya orangtua baik dan sayang, kau lahir dengan semua kehidupan yang baik. Kalau aku lahir dengan keringat dan usaha orang tua.." sambung Risa menasehati, mereka sepertinya bertukar usia.


"Lalu apa kau pernah meminta hal lain pada orang tua mu? misalkan istri dari kerajaan Inggris gitu?" Risa semakin mengejek. Hoon melanjutkan kisahnya.


**


Hubungan baik kami berubah ketika mama divonis penyakit mematikan. Aku, nuna dan papa jarang berkomunikasi. Kami seakan fokus kepada mama, semakin hari keadaan mama semakin buruk. Pada awalnya mama divonis tumor, lalu papa mencari rumah sakit terbaik dan menjalani operasi. Sayang sekali operasi pertama membuat reaksi buruk. Sel tumor yang lain ikut tumbuh dengan cepat hingga vonis mama menjadi kanker.


Aku berusaha terus tegar dihadapan mama, baik nuna dan papa. Kami tidak pernah menangis atau mengeluh dihadapan mama. Tapi kenyataanya baik aku, nuna dan papa saling menangis. Kami menangis dalam kesendirian. Aku menangis dibalik pintu kamarku setiap aku pulang berganti pakaian.


Nuna tak pernah berangkat sekolah. Dan saat itu Kai pun tak sekalipun menjemput nuna. Kupikir mereka punya kesepakatan sebelumnya. Sesekali papa masih pergi ke kantor, ada pekerjaan yang terkadang tak bisa di wakilkan. Awalnya ku kira hanya aku yang sering menangis. Tapi nyatanya kami semua sering menangis dalam diam.


Aku hanya berniat memberi tahu nuna jika besok mama akan chemotherapy, sudah seharian nuna mengurung diri di kamar.


"Nunaa.." Aku memanggilnya pelan, beberapa hari menginap di rumah sakit membuat tenggorokan ku kering, perawat sudah memberikan banyak vitamin untukku, tapi tetap saja tenggorokan ku tak kunjung membaik.


"Kai.. aku menelponmu, kenapa kau tak menjawab panggilanku. Omma sakit, omma sakit parah. Omma menangis di ruang rawat, dia bilang badannya sakit. Omma terpaksa tersenyum padahal omma kesakitan. Aku tidak bisa lihat omma seperti itu, aku tidak bisa lihat omma.. huhuhu…"


Aku hanya bisa tertegun, mengintip dibalik pintu kamar nuna. Nuna ku menangis tersedu sedu hingga akupun ikut menangis. Nuna benar, mama kesakitan, walau mama berusaha tersenyum tapi dia sangat menderita. 


"Kai.. kau tak pernah mengunjungiku, apa karena omma ku sakit parah? apa kau takut penyakit omma akan menular padamu. Kau bahkan tak pernah mengirimkan pesan padaku. Kaii.." awalnya ku kira nuna sedang menghubungi Kai, ternyata dia hanya bicara pada foto kami. Nuna memegang bingkai foto. Dia terus berceloteh dengan airmata yang menetes membuat blur kaca penutup bingkai.


Aku tak bisa memanggil kata nuna lagi. Suara ku seakan habis. Tangisan nuna seperti mengiris perasaanku. Nuna memeluk lututnya dan terisak, nuna pun begitu menderita.


Mendengar nuna yang terus terisak akupun menangis. Aku tak bisa menahan perasaanku. Mama yang semakin hari semakin melemah, nuna yang semakin hari semakin tak banyak bicara. Aku tak mengerti harus bagaimana. Rumah hangat kami perlahan meredup seketika


Bersambung..


Makasih semua masih baca cerita ini


kirim komentar dan review kalian, kritik dan saran (tolong jangan kurangi bintangnya ya)

__ADS_1


kirim bintang vote dan hadiah untukku juga, semoga kebaikan kalian dibalas sama yang di atas, aku cm bs mendoakan. semoga kita semua sehat dan murah rezekinya.


__ADS_2