Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Bertemu lagi


__ADS_3

Hoon dengan malas mengenakan kemeja. Dia jarang sekali berpakaian formal. Kaos polos, celana pantalon adalah andalannya, satu lagi, sendal rumah yang nyaman. Memang ya, sifat itu sulit dirubah. Hoon tetap cuek seperti sebelumnya.


"Ayolah Hoon sayang, kenakan sepatu ini!" pinta Eun memaksa. Hoon tak ingin terlibat perdebatan panjang. Dia menurut saja. Ah, jika Hoon berdandan dengan baik, tak perlu memakan waktu, bahkan hanya dengan satu kedipan wanita akan terpesona.


"Sudah?" ketus Hoon melihat senyum puas di wajah Eun. Wanita itu begitu bersemangat mendandani adiknya.


"Kudengar direktur Mei memilih wanita yang eeemm!!" Eun mengacungkan kedua jempol. Hoon tak tertarik.


Dengan langkah cepat Hoon menyambar kontak mobilnya. Mau tak mau dia harus menurut kali ini. Barangkali setelah ini tidak akan ada lagi kencan buta. Hoon benar benar lelah mengikuti kemauan aneh Eun.


Harusnya dia tak marah begitu saja pada Risa. Harusnya dia memberi waktu dan mendinginkan kepala. Hoon menghela nafas berat sebelum menginjak gas. Dia mengingat bagaimana hari hari yang berlalu tanpa Risa. Setahun tak cukup untuknya melupakan cinta pertamanya itu.


Hoon memukul kemudi. Mengingat Risa membuat dia kesal sendiri. Ingin menangis, kecewa, menyesal. Hoon menahan semua perasaannya.


Dia beberapa kali mengunjungi rumah keluarga Risa di sudut kota. Sebuah daerah sejuk dimana Hoon merasa betah. Tapi dia tak pernah memberanikan diri mengetuk pintu rumah yang tertutup itu, Hoon hanya bisa melihat dari kejauhan.


Hampir setiap minggu, dia berkunjung dari kejauhan, sekedar memantau walau hanya melihat pintu yang tertutup rapat. Dia begitu merindukan Risa. Dengan mengenang kejadian saat dia berkunjung ke rumah itu, sedikit banyak mengobati rasa rindunya.


Suatu hari pintu rumah itu terbuka lebar. Hoon tersenyum sumringah, dia akhirnya datang di saat yang tepat. Akhirnya dia bisa melihat wajah Risa meski dari kejauhan. Sayang, senyum itu segera redup. Wajah wajah di depan sana terlihat asing dan berbeda. Hoon tak melihat papa, mama ataupun Risa. Rumah itu bukan lagi milik keluarga Risa.


Sejak itu Hoon menyerah. Dia tak lagi mengunjungi rumah di kaki gunung itu. Hoon semakin menyesal akan keputusannya. Hoon ingin mengulang lagi hari yang lalu. Harusnya dia tak boleh marah dan memaki seperti itu. Harusnya dia menerima dan percaya penjelasan yang Risa akan ucapkan. Tapi dia tak memberi kesempatan. Seperti Risa yang tak memberinya kesempatan untuk bertemu lagi. Risa hilang bagai di telan bumi.


Mengenang nama Risa, membuat Hoon berkaca kaca. Tatapan matanya kabur, dia tak akan menangis. Itu sudah berlalu, ah, tetap saja! Hoon tak akan bisa lupa bagaimana kebersamaan sederhana mereka. Bagaimana gadis riang itu membuatnya berubah.


"Aku merindukanmu.." gumam Hoon lirih. Dia tak bisa menarik senyum, bibirnya terasa kering, sama seperti perasaanya. Bagaimana dia bisa jatuh cinta jika dihatinya hanya ada Risa. Bagaimana Hoon bisa lupa, jika cinta pertamanya saja belum berakhir dengan sempurna. Mengharap, perasaan yang belum tuntas. Semua itu mengganjal, mengharap pada waktu untuk memberi kesempatan sekali lagi, sekali lagi.. sekali saja!


***


"Ma, bagaimana makeup ku?" tanya Risa, dia sibuk menggendong baby Ri di tangan kanan, sementara tangannya memulas bedak dengan asal. Mama tersenyum dan mengangkat jempol.

__ADS_1


"Berantakan ga ma?" Mama menggeleng. Meski sudah memiliki anak, Risa tetap saja wanita yang sama seperti sebelumnya. Cuek dan apa adanya. Dia sudah cantik saat dia menerima semua takdir dalam hidupnya.


"Sayang, mama kerja dulu ya, sekarang sama nenek dulu.. Mama janji akan cepat pulang" ujar Risa menggaris senyum lebar dan meninggalkan kecupan di dahi baby Ri. Dia tersenyum sekali lagi sebelum meninggalkan kamar Emi.


"Heii.." gumam Kai lemah dari kamar sebelah. Risa menghela nafas malas. Kai masih terbaring lemah di kasur.


"Ada apa?" tanya Risa malas.


"Bisa belikan saya baju?" Risa menatap kaos yang dikenakan Kai. Karena Bambang memiliki postur besar tentu pakaian itu terlihat longgar di tubuh Kai. Risa mengangguk mengerti. Kai mengambil beberapa lembar uang dari dalam sakunya, dia menyerahkan pada Risa.


Risa membulatkan mata melihat lembaran di tangan Kai.


"Apa itu dolar?" tanya Risa heran "Bukan, itu won ya?" tanya Risa tak percaya. Kai mengangguk.


"Kau bisa menukarnya nanti. Kali ini biar aku berbaik hati padamu!" ketus Risa meninggalkan Kai. Pria itu memaksakan garis senyum.


***


Lihat visual baby Ri di ig : anyun yun yun yun (jangan pakai spasi)


Eun mengikuti mobil Hoon. Dia sengaja mengintil dari belakang. Selain memang penasaran dengan gadis yang jadi lawan kencan buta adiknya hari ini. Eun juga ada sedikit urusan pekerjaan.


Hotel Atelier..


Dia membuka salah satu cabang haute cuture nya di sini. Eun dengan elegan melangkah di belakang punggung Hoon, pria itu tak menyadari kakaknya yang mencuri perhatian seisi hotel. Eun memang cantik dan memukau, ditambah lagi senyuman lebar yang bersinar.


Hoon tak peduli, dia segera menaiki lift, menuju cafe dimana direktur dan Eun mengatur kencan buta untuknya.


"Tunggu, tunggu, tunggu!!" dengan berlari Risa menyerobot masuk ke lift. Dia melirik jam tangan dan menghembus nafas lega. Dia mengurut dada menyadari masih ada waktu, dia tidak begitu terlambat untuk bekerja. Risa menyeka pangkal rambut dengan jarinya, sekedar mengatur nafas agar lebih tenang.

__ADS_1


Hoon membelalakan mata melihat wanita di sebelahnya. Risa yang tanpa canggung menyisir rambutnya dengan jari, menghela nafas dan meraut wajah santai. Senyuman Hoon seketika mengembang, ini benar Risa!


"Risa!" ujar Hoon, dia bahkan membesarkan suaranya hingga mencuri perhatian penghuni lift yang cukup padat.


Suara yang tak asing. Dengan ragu Risa menoleh ke sebelah, dimana Hoon berdiri tepat di sisi kanan Risa.


Mata wanita itu segera membesar. Hoon! Tarikan nafas yang harusnya membuat Risa tenang justru kini membuat perasaanya terombang ambing. Sial! jantung ini masih saja deg degan! Gerutu Risa kesal. Dengan cepat jarinya menekan tombol lift dengan asal.


Dia ingin cepat cepat keluar dari ruang sempit yang sekarang terasa panas dan sesak. Risa bahkan tak berani walau sekedar melirik ke arah Hoon. Cepatlah, cepatlah!! harap batin Risa tak sabar.


TING..


Pintu lift terbuka, Risa segera menghambur keluar. Sayang sekali, telapak Hoon lebih cekatan, dia menarik pergelangan Risa. Menarik tubuh ramping itu semakin kuat masuk kembali ke dalam lift.


Hoon mengurung Risa di sudut lift dengan kedua tangannya, dia memblokade Risa, wanita itu kian panik. Apa yang dia lakukan sih! gerutu hati Risa kesal.


Hoon menatap wajah cemas Risa. Dia masih saja memiliki aura yang sama. Hoon tak bisa mengalihkan tatapannya. Kedua tangannya semakin memperpendek jarak, hingga tubuh keduanha kian dekat, tubuh Hoon membuat posisi Risa kian terdesak.


"Pak bisa pesan room! Ini bukan drama Korea!!" gusar seorang wanita paruh baya di belakang punggung Hoon.


Seketika kalimat ketus wanita itu menyadarkan Hoon, dia tersipu malu dan melepaskan satu tangannya


"Maaf.."


****


Terus baca, terus dukung!!! tinggalkan review bintang5 dan komenrar.. tinggalkan star vote di cerita ini. Jangan lupa kasih hadiah biar aku kian semangattt


happy happyy reading.. kisss

__ADS_1


__ADS_2