
Glen segera kembali dengan membawa botol obat milik Eun. Dia melangkah cepat dan sedikit memaksa mendorong pintu. Eun menahan sesak nafas, dia terlihat kepayahan menghirup udara. Glen segera berlutut dan menumpahkan beberapa butir obat, meminta Eun segera meminum obatnya. Glen mengulurkan botol air mineral. Eun menarik nafas panjang, dia merebahkan diri di atas kursi panjang,tubuhnya terasa lemah, nafasnya memburu tak sanggup menarik panjang, Eun berusaha dengan payah mengatur nafasnya agar cepat kembali normal. Glen membantu mengelus lembut punggung Eun.
"Apakah lebih baik sekarang?" tanya Glen penuh perhatian. Eun mengangguk pelan, wajahnya masih pucat, dia juga tak memiliki cukup tenaga untuk bangkit dari posisinya. Glen segera menuntun tubuh istrinya, mengambil punggung dan belakang lutut Eun, Glen menggendong Eun keluar dari ruang pertemuan yang lantainya berserakan. Glen menggendong istrinya yang lemah dan pucat, mereka kembali ke kamar.
Glen merebahkan Eun perlahan di kasur, dia mengatur kaki dan lengan Eun. Dia menyelimuti istrinya.
Dengan perlahan Glen membawa handuk kecil dia mengelap keringat di dahi istrinya dengan penuh perasaan, gerakan lembut yang perlahan membuat Eun semakin tenang.
Aroma kamar pun semakin membuat Eun nyaman, aroma terapi dari tangki uap membuat emosi Eun perlahan kembali stabil. Dia sudah bisa menggaris senyum.
"Aku akan mengambil pakaian, kau harus mengganti piyama kotor mu itu" ujar Hoon seraya bangkit dari kasur, dia hendak mengganti pakaian Eun yang tadi terkena noda darah.
"Apa lukamu masih sakit?" tanya Glen. Eun menggeleng. Pelayan sudah membersihkan dan menutup lukanya saat Glen mengambil obat tadi.
"Sayang.." cuma Eun. Glen belum juga selesai mengambil pakaian ganti Eun, tapi sorot mata dan uluran kedua tangan Eun membuat Glen mengerti. Dia meninggalkan lemari dan kembali kepada istrinya di atas ranjang. Glen paham betul kemauan istrinya. Selain obat penenang berdosis rendah, sentuhan Glen lebih berarti. Eun merasa jika Glen adalah belahan jiwanya, tempat dia bersandar. Hanya Glen yang bisa menyalurkan emosi nya, hanya Glen yang bisa menurunkan kadar depresi di kepala nya. Eun sangat membutuhkan Glen, daripada mencintai, Eun lebih membutuhkan Glen. Tanpa Glen mungkin Eun tak akan bisa menjalani hidup dengan baik.
"Ada apa?" tanya Glen berpura pura tak mengerti. Kedua tangan Eun meraih pundak Glen, dia bersandar pada dada bidang di hadapannya. Pelukan saja sudah membuat Eun semakin tenang.
__ADS_1
"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Glen menyadari istrinya belum menikmati apapun pagi ini, sementara hari sudah siang. Eun menggeleng "Aku tak punya selera makan" jawabnya pelan. Glen mengangguk saja.
"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Glen lagi, dia mengelus lembut pergelangan istrinya, mencoba menyalurkan ketenangan, membuat Eun menikmati pelukan mereka.
"Ya" jawab Eun singkat, dia menatap dalam mata suaminya. Dalam bola mata hitam itu dia melihat dunia yang tenang, dalam sorot mata Glen dia merasakan kesendirian. Eun benci keramaian, Eun benci pengkhianatan. Semua itu membuatnya lepas kendali. Dia benci kata kata bernada tinggi, ada trauma mendalam dalam hidupnya, Eun masih belum mampu mengucapkan tragedi apa yang dia pendam, hingga dirinya begitu frustasi dan stress berkepanjangan.
"Sayang, katakan kau selalu mencintai ku" pinta Eun dengan sorot mata memohon
"Aku mencintai mu sayang" balas Glen langsung menurut, dia mengelus lembut kulit mulus pipi Eun.
"Katakan kau selalu ada di samping ku" Glen mengangguk, dia mengangkat kedua tangan dan memangku dagu istrinya, mengelus lembut kulit wajah istrinya.
"Katakan kau akan selalu seperti ini padaku" Glen mengangguk lagi, Eun ******* habis bibir suaminya, dan Glen membalas tak mau kalah, keduanya berpacu saling berebut dan tak mau kalah, saling mengecap dan *******, saling menggigit dan menghisap, saling menikmati. Bohong jika Glen gak menikmati, dia sangat menikmati permainan pengecap di bibir masing masing. Dia mengeluarkan banyak suara desah dan rintihan, Eun dan Glen pasangan yang kompak. Mereka belajar bersama, memulai pengalaman pertama, menonton acara dewasa bersama, besar dan nakal bersama. Jika Eun terkenal dengan wanita cantik sukses dan dominan, Glen ambil bagian dalam pembentukan karakter itu. Glen menyukai gadis gadis cantik dengan tubuh sempurna. Eun sering melihat wajah berbinar dan decak kagum Glen saat melihat majalah fashion milik Eun. Glen menikmati dada bervolume, kaki jenjang dan kulit yang mulus. Membuat Eun semakin terobsesi.
Flashback sedikit
"Gadis di majalah ini cantik sekali, dia memiliki kaki yang panjang, dan lihat! Bahkan dadanya sangat sempurna!" teriak Glen di kamar Eun. Mereka sering menghabiskan jam belajar bersama. Glen akan rutin berkunjung ke kamar Eun, mereka akan mengerjakan tugas sekolah atau sekedar saling berbagi cerita.
__ADS_1
Kapan pertama kali Glen masuk ke keluarga ini? seingat Eun, mereka masih mengenakan seragam senior school saat itu. Glen sangat pintar, tuan Jung sangat kagum. Walau Eun membenci papanya, dia menyukai Glen berada di rumahnya. Glen remaja sangat mengagumkan, bukan hanya bagi tuan Jung, Eun pun jatuh cinta akan pesona Glen, pemuda itu membuat Eun bisa tertawa lagi, dia membuat Eun lebih tenang dan nyaman.
Glen melepaskan pakaian istrinya perlahan, dia menelusuri tiap jengkal kulit mulus Eun yang mengkilap bagai porselen, Glen bukan hanya mendaratkan sentuhan telapak tangan, dia juga menikmati permukaan epidermis Eun dengan indra perasannya, dia menyukai aroma tubuh istrinya walau terkadang terlalu menyengat.
Eun tak mau kalah, dia membuka pakaian suaminya, melepaskan celana pantalon yang dikenakan Glen, melempar ke mana saja, saling menikmati tubuh polos mereka.
Eun beranjak dari posisinya, dia tak mau posisi monoton. Wanita itu pindah ke pangkuan Glen, dia lebih suka menjadi pengendali dalam urusan apapun. Glen menurut saja.
"Silahkan nikmati perjalanan indahmu nyonya" bisik Glen di telinga Eun sebelum wanitanya sibuk melenguh dan menahan rasa nikmat berkepanjangan.
Eun mengingat bagaimana Park berceloteh panjang lebar, ikut campur dalam urusan keluarganya, semua itu menyulut emosi Eun, membuat tenaganya berpacu cepat di atas tubuh suaminya. Eun melepas kan kekesalannya hingga Glen sedikit meringis, tangan kekarnya mencengkeram kuat permukaan kasur. Eun tak peduli, baginya semua amarah yang terpendam di dada harus di lampiaskan semuanya. Bersabarlah Glen, semakin Eun kesal, semakin lama durasi yang mereka mainkan. Glen hanya bisa menahan perasaannya sendiri, dia berusaha menahan gejolak yang sudah hampir terlepas, tapi tunggu dulu, dia tak boleh mendahului wanitanya. Ini adalah cobaan terberat pria, menanti puncak kenikmatan bersama wanita yang tersulut emosi. Glen bersusah payah menahan diri, menunggu waktu yang tepat, giginya beradu kencang, sudah tak sabar, kapan Eun akan menyudahi adegan panas mereka.
***
Bersambung..
Setiap rumah tangga itu menyimpan berbagai rahasia yang kadang sulit di ceritakan, mungkin ada yang mau berbagi pengalaman? buat nambah wawasan cerita hehe..
__ADS_1
tetap dukung, dengan komentar, review bintang 5, dan lemparkan hadiahnya!