Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Kenyamanan sebenarnya


__ADS_3

Di parkiran apartemen milik Glen, kediaman Hoon dan Risa


"Apa kau masih marah padaku?" tanya Hoon dengan air wajah dibuat menggemaskan, Risa bukannya terhibur malah pengen memukul. Mereka masih membahas perihal ciuman kemarin. Risa mencibir kesal.


"Kau itu menyebalkan tahu!" Risa segera membuka pintu mobil, dia lebih dulu masuk dan meninggalkan Hoon. 


"Hei! setidaknya bantu aku bawa oleh oleh dari omma dong!" pinta Hoon berteriak, Risa kembali lagi ke mobil, dia menjangkau dua kantong belanjaan yang penuh dengan camilan bikinan orang tuanya. Mama dan papa sungguh perhatian, mereka memberikan banyak stok cemilan, khusus untuk Hoon, ckck.


"Apa kau akan makan semua ini?" tanya Risa mendapati banyak toples cemilan, Hoon mengangguk dengan wajah ceria.


"Tentu saja, appa dan omma membuat dengan penuh kasih" kalimat Hoon membuat Risa tersenyum.


"Kau pasti senang memiliki keluarga seperti itu, keluarga mu sungguh hangat" Hoon memuji, Risa tersenyum senang.


"Tentu saja, mereka orang tua yang hebat" balas Risa bangga.


Hoon dan Risa masuk ke apartemen, menyalakan pendingin ruangan, membuka hordeng. Risa merapikan barang bawaan sementara Hoon mencuci tangan di wastafel. Hoon meraih dua cup mie instan.


"Kau mau apa?" tanya Risa heran melihat Hoon mengambil cup mie instan.


"Kau memangnya tidak lapar?" tanya Hoon


"Lumayan" jawab Risa singkat.


"Aku akan membuatkan mie instan untukmu!" ujar Hoon bersemangat.


Risa membuat wajah tak percaya. "Apa kau yakin?" tanya Risa membuat wajah melongo, Hoon mencibir ekspresi mengejek Risa.


"Baiklaah.." ujar Risa berusaha percaya, dia mendaratkan diri di kursi, memperhatikan Hoon yang meraih ketel dan menyeduh air.


"Kau bisa menggunakan air panas dispenser kalau kompor sedikit sulit untukmu" ucap Risa sedikit mengingatkan. Terakhir dia bahkan tak bisa menyalakan kompor. Hoon, menoleh ke arah dispenser, Dia tersenyum.

__ADS_1


"Kau benar, aku tak perlu memutar knop kompor" balas Hoon setuju. Risa menahan senyuman. Tingkah Hoon membuat Risa terhibur.


Walau hanya menyeduh mie instan, tapi kali ini Hoon terlihat berbeda. Dia menggulung ujung sweater kaos putihnya, membaca petunjuk memasak dengan seksama.


Hoon mengambil gelas ukur, mengisi dengan air panas. Setelah sesuai takaran, Hoon menuang ke dalam cup mie, dia menutup kembali cup, dan menghidang kan nya di meja.


"Taraaa.. tinggal tunggu beberapa menit, kita siap makan!" melihat wajah ceria Hoon membuat Risa bertepuk tangan.


"Terima kasih kau sudah berusaha" puji Risa. Meski hanya masak mie instan, setidaknya Hoon sudah lebih baik dari sebelumnya.


Hoon membuka bumbu dan mengaduk dengan penuh semangat. Mereka makan bersama, wajahnya terlihat kagum melihat hasil masakannya untuk pertama kali. Hoon menyendok mie bagiannya.


"Benar katamu, ini enak sekali!" 


"Benarkan! tentu saja, aku tidak salah kalau memilih makanan!" Risa jumawa.


Hoon melahap mie instannya, Risa tertawa melihat tingkah Hoon.


"Kalau begitu kau harus coba varian menu lainnya!" usul Risa, Hoon mengangguk setuju.


Setelah selesai makan Hoon meraih kemasan bekas dan membuang sampah, dia juga membantu membersihkan meja makan.


"Kau bersemangat sekali, aku jadi kagum" puji Risa melihat Hoon berbeda lagi hari ini.


"Tentu saja, aku melihat appa mu melakukan pekerjaan rumah, dia membantu omma, memasak, mengepel membersihkan rumah. Bukankah appa keren?" Risa tak menyangka Hoon memperhatikan keluarganya begitu detail. Risa tak menyangka jika papa nya terlihat keren di mata Hoon, padahal jika harus membandingkan, orangtua Risa hanyalah pedagang kecil, mereka berjualan nasi uduk di pagi hari. Tapi benar kata Hoon, papa selalu membantu mama, mereka berdua sangat kompak dan serasi.


"Tentu saja!" sahut Risa bangga, dia bangga pada orangtuanya, dan ucapan Hoon barusan kenapa membuat Risa terharu. Hoon memuji dengan begitu tulus. Semua itu terlihat jelas di wajah dan tingkahnya.


"Kau juga keren Hoon!" puji Risa, membuat Hoon tersipu.


"Apa aku keren?" tanya Hoon tak percaya. Risa mengangguk, meyakinkan.

__ADS_1


"Di mata ku kau setiap hari bertambah keren" Hoon mengepalkan tangan dan menarik dengan penuh semangat, mendapat pujian dari Risa membuatnya begitu senang "Yess!!" tingkah Hoon persis seperti anak anak yang kegirangan. Membuat Risa tertawa, Hoon kau sangat menghibur.


Melihat Hoon yang akrab bersama orangtuanya, melihat Hoon yang tertawa diantara keluarga, Risa sedikit khawatir, apakah bos Glen akan melakukan hal yang sama seperti Hoon? apa bos Glen akan menerima keluarganya yang begitu sederhana? apa bos Glen juga akan memuji kedua orang tuanya seperti yang dilakukan Hoon. Kenapa semua itu membuat Risa cemas.


Risa menyembunyikan senyumnya. Dia tidak berbohong perihal Hoon setiap hari semakin keren, kenyataanya Hoon bertambah hari lebih baik dan menyenangkan. Risa sadar betul perubahan pada diri Hoon. Dia sangat manja dan pemilih sebelumnya, tapi kini Hoon lebih terbuka dan mandiri.


Risa senang melihat perubahan positif di diri Hoon. Itu membuatnya kagum sekaligus bangga. Dada Risa bergetar, kenapa setiap memperhatikan Hoon dia berdebar aneh? Ini tak mukin tentang hati kan? Risa menggeleng berusaha menolak. Aku tak boleh berpikiran aneh, lupakan! batin Risa memaksa, Dia beranjak dari posisinya.


Risa mengambil vacum dan bersiap membersihkan ruangan, dua hari membuat ruangan terasa berdebu, Hoon sigap membantu, dia menggeser perabot agar Risa lebih mudah membersihkan. Dia juga menggantikan Risa menjangkau daerah sulit dan tinggi. Keduanya membersihkan rumah dengan kompak dan penuh tawa hangat.


"Pekerjaan jadi cepat selesai kalau bekerja sama" ujar Risa kemudian melepaskan apronnya. Dia meraih gelas yang diulurkan Hoon. Kali ini Hoon memberi Risa minuman dingin dengan porsi penuh.


"Terima kasih" ucap Risa tulus.


"Apa yang harus kita lakukan setelah ini?" ujar Hoon melihat ruangan mereka sudah bersih dan rapi.


"Haruskah aku mencuci pakaian?" Risa menggeleng cepat. Mereka teringat bagaimana malu dan canggung saat Hoon pertama kali mencuci pakaian mereka, saat itu Hoon juga mencuci dan menjemur pakaian dalam Risa.


"Biar aku mencuci pakaianku sendiri" ucap Risa menahan tawa lucunya, Hoon ikut tertawa, dia mengerti kenapa Risa berkata seperti itu.


"Harusnya tak apa aku mencuci pakaian mu, lagian aku sudah melihat semuanya kan!" Hoon mendapatkan tepukan di punggung karena ucapannya.


"Kau mulai mesum ya!" tuding Risa dengan wajah bercanda.


"Aku kan pria normal!" balas Hoon.


"Kau mesum, dasar kau sudah bertambah umur ya! otak mu mulai kotor.." Hoon menolak tudingan Risa, dia menangkap jari telunjuk yang mengarah padanya, keduanya bercanda dan saling mengejek.


"Itu bukan mesum, hanya pikiran saja!" tolak Hoon, dia mendekatkan kursi mereka. canggung semakin hilang di antara keduanya, mereka terlihat semakin akrab dan saling bercanda lepas.


"Hahaha.. hentikan Hoon, hentikan!!" Hoon tetap tak mau terima tudingan Risa dia mengeluarkan jurus terakhir, Hoon menggelitik perut Risa. Meski memberontak, Risa tetap kalah tenaga, tertawa membuatnya lemas.

__ADS_1


"Lepaskan, ampuunn.." Risa sudah terdengar memohon, dia berusaha kabur, tapi Hoon menangkapnya, dia menarik pinggang Risa yang membelakanginya, Hoon merangkul tubuh Risa masuk ke dalam pelukannya.


__ADS_2