Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Jatuh cinta


__ADS_3

POV Hoon


Mobil sedan keluaran Eropa juga tidak terlalu buruk. Setidaknya dengan kendaraan ini aku bisa menemani Risa. Dia tak perlu berjalan jauh menenteng belanjaan yang berat. Kami juga tak perlu hujan hujanan dan membuat tubuhku drop. Sebenarnya itu bukan masalah. Bukankah saat aku demam dia merawatku dengan baik. Ah, jika kemarin aku demam dan mencuri ciumannya, aku tak bisa bayangkan jika nanti, aku sudah semakin sulit mengontrol diri. Dia terlalu mempesona untukku.


Lihat wajah bahagia dan sorot mata berbinar itu. Kau bilang tak usah mengantarmu, tapi sorot matamu berkata lain. Apa kau senang bersama dengan ku? aku ingin mendengarnya, sekali saja. Ah, lupakan!


Karena wajah dan senyuman mu itu aku jadi hilang fokus, hampir saja aku melewati lampu merah. Kau berteriak mengejutkan ku. Kau bahkan mengejutkan ku dengan serentetan omelan khas mu itu. Kau tidak tahu ya! kau itu seperti mama yang selalu marah dan mengoceh padaku, kau bahkan terus saja memainkan bibirmu.


Sebetulnya kesabaran ku sudah semakin menipis karena tingkah mu yang menggemaskan. Kau sungguh menghiburku. Kau sungguh membuatku semakin jatuh cinta. Sulit sekali bagiku menahan debaran di dada ini. Sulit sekali bagiku menatap mu dengan jarak seperti ini. Kenapa kau masih saja mengoceh padahal waktumu sudah habis? kau mempermainkan emosi ku? Bibirmu yang bergerak itu, garis lehermu yang tersingkap diantara rambut panjang tergerai. Kerlingan matamu yang membuat bibirku tak berhenti tersenyum. Kau sungguh mengganggu alam bawah sadarku.


Cuppss!!


Aku menahan debaran yang semakin menjadi, perasaan senang seakan meledak di hatiku. Apa yang aku lakukan! aku tersadar. Aku segera menarik diri dan mencari alasan. Kau pasti kesal tapi kau diam saja. Diam mu itu membuatku semakin berharap. Risa, bisakah aku memilikimu? hatiku terlalu menyukaimu, hidupku terlalu membutuhkanmu. Bisakah kau selalu di sampingku? aku menarik nafas dalam. Berharap suatu hari nanti kesempatan itu jadi nyata.


Mamammaamay… mamaa..


Risa merogoh tasnya dan mencari ponsel yang terus berdering. 


"Hallo mah"


"Hallo sayang, apa kabarmu?" Risa melirik ke arah Hoon sejenak. Hoon mengangguk seolah mengerti, dia menempelkan telunjuk ke bibirnya, memberi kode pada Risa jika dia akan diam, bukannya dari tadi mereka sudah saling berdiam diri.


"Aku sehat ma, papa dan mama bagaimana?"


"Sayang, pulang jam berapa?" mama tak menjawab pertanyaan Risa, itu artinya orangtuanya baik baik saja. 


"Mama dan papa sudah merapikan kamarmu, kau harus lihat sendiri, semuanya sudah rapi dan bersih" Risa melirik Hoon sesaat, dia cuek. 


"Iya ma, Risa akan pulang. Mama tunggu ya.." ucap Risa menurunkan nada suara.


"Katamu akan membawa dia. kau sudah janji sama mama dan papa. Kita harus merayakan rumah barukan! bawa dia kemari!"


"Bawa dia Risa! papa ingin bertemu dan mengucapkan terima kasih!"


Suara berisik orang tua Risa membuat anaknya mengerutkan dahi. Risa menghela nafas berat.


"Iya ma, pa, tapikan.." Risa sedikit frustasi, masalahnya dia yang dijanjikan Risa belum juga kembali. Bos Glen sudah berjanji akan mengunjungi orang tua Risa di hari dia meninggalkan Risa. Bagaimana membawa bos Glen, jangankan kembali, satu pesan pun tak kunjung tiba. 

__ADS_1


"Maaa.." Risa mencoba mengatur nafas dan ingin menjelaskan.


Hoon melihat Risa cemas, dia menurunkan kecepatan mobil.


"Ada apa?" tanya Hoon pelan, dia hanya mencemaskan Risa. gadis itu menggeleng dan meminta Hoon tutup mulut. Hoon mengangguk mengerti.


"Kau lagi sama dia ya!" celetuk mama Risa


"Bawa dia ke rumah sayang! cepat perkenalkan dengan kami!" Risa menepuk dahi kesal. Dia melirik Hoon sinis. matanya menyorot tajam.


"Ada apa?" Hoon bertanya lagi. Membuat Risa kian marah.


"Benar! kau sedang dengannya, mana-mana, mama mau bicara!!" teriakan mama dari seberang sana semakin membuat sorot mata Risa tajam. Hoon mengangkat bahu tak mengerti. Risa menekan tombol suara pada ponselnya.


"Risa sayaang, cepat bawa calonmu!!"


"Mama dan papa sudah tidak sabar!"


"Bukankah 23 tahun terlalu tua untuk menjomblo!!"


"Cepat bawa kekasihmu sayang.."


"PUAS!!"


Hoon bengong tak mengerti.


"Sudah ku bilang untuk diam, tapi kau malah berisik, aah.. kau tak tahu betapa berharapnya orang tuaku!!" kesal Risa mengacak rambutnya. Dia sungguh frustasi dan kesal. Bagaimana memenuhi janjinya untuk membawa bos Glen ke rumah. Risa membanting punggung bersandar di jok.


"Dia saja tak pernah menghubungiku.." gumam Risa putus asa. "Jangan jangan dia sudah melupakanku.." Risa masih bergumam, wajah cerianya seketika hilang.


"Dia menyebalkan!" umpat Risa kesal. Hoon mencoba berpikir.


"Kau berjanji apa pada orang tua mu?" Risa menarik nafas dalam, dia berkata dengan suara pelan "Aku berjanji akan mempertemukan papa dan mama dengan kekasihku, aku berjanji akan bertunangan dan segera menikah.." wajah Risa seketika sedih


"Huaaaaa… aku bodoh!" Hoon terkejut mendengar teriakan Risa, dia menangis atau menakuti orang sih! gerutu Hoon dalam hati.


"Hoon!!" Risa merengek dan mencubit ujung kaos Hoon, dia menarik narik paksa, Hoon mencoba menghindar, tapi Risa terus memaksa. "Hoon… hikss...huhu.." Hoon terpaksa, dengan wajah malas Hoon membiarkan Risa merengek dan menangis di pangkal lengannya. Risa menghapus ingus dan airmata dengan ujung kaos Hoon.

__ADS_1


"Lakukan lah sesuka mu" gerutu Hoon pasrah.


"Hiks.. jangankan membawa pacar, bahkan pacar saja seperti hantu, antara ada dan tiada.." keluh Risa masih saja merengek.


"Sudah hentikaan.." Hoon mendorong wajah Risa yang menangis berlebihan.


"Kau jelek kalau menangis seperti ini, kau tidak terlihat sedih tapi memaksakan menangis!" gerutu Hoon menyodorkan tisu.


"Aku kesal tau!" cemberut Risa.


"Itukan salah mu sendiri, kenapa kau berjanji banyak pada orang tua mu!" balas Hoon sewot.


"Mama selalu bertanya, kapan nikah, kapan nikah. Lagipula kan aku sudah punya pacar, nih lihat!" Risa mebgangkat jari manisnya dengan bangga. Hoon mencibir.


"Dia berjanji akan menikahiku" bisik Risa dengan wajah penuh harap. Hoon melirik sesaat, "cincin itu lagi" gerutu Hoon dalam hati "Aku harus mengingat dimana cincin seperti itu pernah kulihat" Hoon mencoba menggali ingatannya. Dia tak bisa mengingat dengan pasti, tapi benda kecil itu bukanlah hal asing.


"Mama dan papa pasti kecewa.." 


"Aku akan mengantarmu besok!" Risa mengangkat wajahnya. Dia menatap Hoon heran.


"Kenapa kau menatapku seperti itu!" dengus Hoon kesal.


"Aku tidak meminta pertolongan mu" balas Risa ikut kesal.


"Aku tak mau orang tua mu kecewa" ujar Hoon kemudian.


"Apa kau mau menjadi pacarku?" tanya Risa kemudian. pertanyaan dengan suara yang ringan tapi terasa berat di pendengaran.


Hoon dan Risa tersadar dengan kalimat barusan. Apa kau mau menjadi pacarku? Risa hanya bertanya dengan lelucon. Dia tak menganggapnya serius, sebelumnya. Tapi kenapa mereka malah saling salah tingkah dan tersipu malu. Apa jatuh cinta seringan ini?


Mobil berhenti. Hoon menatap Risa. Risa tak bisa menolak tatapan Hoon. Bibirnya bahkan belum terkatup sempurna.


"Aku mau.." jawab Hoon singkat.


Deg.. deg.. deg..


Bersambung..

__ADS_1


2bab ini berakhir dengan suara degun degun..


Tetap baca ya, jangan lupa bintang2, komentar positif kalian (5 bintang) dan beri aku hadiaaah..


__ADS_2