Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Rahasia


__ADS_3

Cuaca pertengahan tahun didominasi dengan udara hangat dan sesekali hujan. Eun duduk bersandar pada sebuah kursi dengan menjulurkan kakinya pada kursi kecil beralas fur kulit kelinci yang lembut. Udara hangat tiba tiba berganti dengan rintik hujan kecil, Eun menoleh ke jendela, udara nya masih memungkinkan untuk dinikmati, dia tak menutup kaca jendela kamarnya.


"Nyonya!" seorang pelayan masuk dan menunduk sopan.


"Ada apa?" tanya Eun menangkap tingkah aneh si pelayan.


"Maaf nyonya, tuan Kai memaksa masuk" Eun membulatkan mata, kok bisa! Bukankah Glen sudah mengurusnya, batin Eun mendengus kesal.


"Cepat usir dia, dan beri tanda pengamanan khusus!" perintah Eun. Si pelayan mengangguk dan meninggalkan kamar Eun.


Meski sempat terjeda kini matanya fokus melihat detail majalah fashion di tangan, trend mode terbaru yang didominasi warna warna panas. Baru beberapa lembar terbuka.


Tuk!


Eun menoleh ke jendela yang begitu dekat dengan wajahnya. Suara lemparan kerikil terus menerus menyentuh kaca jendela kamar Eun. Dia mengeluarkan sedikit kepala, meneliti siapa sosok yang meloncat di bawah sana. Eun mengerutkan dahi menyadari itu adalah Kai. Apa yang dia lakukan sih! Eun mencoba tak peduli, dia kembali duduk. Dan lemparan kerikil terus saja berkali kali.


"Apa mereka tak mampu mengurus satu pria!" kesal Eun, dia bangkit dari posisi duduk, menarik handle pintu, menutup dengan membanting.


"Nyonya" Eun mendengus melihat kedua pelayan didepan pintu


"Kami tak menemukan tuan Kai" ujarnya. Eun semakin kesal, dia menghentakkan kaki, menuruni anak tangga. Pintu sayap kanan tujuan Eun, sebuah pintu berukuran sedang yang jarang di buka. Eun membuka sendiri pintu yang sudah lama tertutup itu. Di pekarangan kanan ini biasanya mereka sekeluarga mengadakan barbeque,, sebelum nyonya Park tiada. Eun membuka pintu dengan cepat, dia tak menemukan sosok Kai.


Kai bersandar pada dinding di sudut, antara sayap kiri dan sedikit sodetan pipa, dia bersembunyi disana.


Melihat Eun, Kai keluar dari persembunyiannya, tangan kirinya memegang pangkal lengan, dia mengenakan coat berwarna coklat gelap. Kai mengangkat punggungnya yang bersandar, melangkah perlahan mendekati posisi Eun yang lebih tinggi.


"Apa yang kau lakukan disini!" hardik Eun melipat tangan di dada.


"Sudah kukatakan jangan muncul dihadapanku lagi!" kesal Eun, matanya membulat menahan geram. Wajah Kai membuat Eun seketika ingin meledak. Jarak antara mereka terpisahkan oleh tangga. Kai tak mampu membalas kalimat Eun, dia berusaha meniti tangga dengan sisa tenaganya.


"Jangan mendekat!" pinta Eun menahan laju kai dengan telapak tangannya, pria itu masih saja melangkah, dia berusaha melangkah dengan sekuat tenaga.


BRAAAKK!! 


Tubuh Kai terjatuh, terjerembab di tangga, Eun seketika panik, dia segera berlari dengan heel nya. Eun menghampiri tubuh Kai yang terjatuh di lantai.


"Kai!!" panggil Eun, wajah wanita itu seketika pucat, saat dia membuka coat Kai, darah sudah memenuhi pangkal lengannya.


"PELAYAAAAN!!" teriak Eun. 


"Bawa Kai segera!!" dua orang Pelayan datang dan tampak bingung. Kedua nya juga ikut cemas.


"CEPAT BAWA!!!" Teriak Eun dengan wajah beringas. Dia gemetar. Saat pelayan membantu menggotong tubuh Kai, Eun tak kuasa berdiri hingga satu pelayan yang tersisa membantunya bangun, sendi Eun seketika kehilangan tenaga. Eun melihat telapak tangannya yang menyentuh sedikit darah Kai, dia tak kuasa menahan gejolak emosi, Eun menangis. Kai! ada apa dengan Kai!


Tetesan darah dari ujung jari Kai membuat mata Eun berkunang kunang. Eun pingsan.

__ADS_1


***


Jangan lupa luangkan waktu buat komen dengan bintang 5, kasih star vote juga, sama hadiah, biar cerita ini bisa ikut nebeng di jejeran novel me. terimakasih dukungannya.. pliss bgt dukungannya ya


****


***


Risa tak bisa konsentrasi, dia terus memikirkan Glen, banyak hal yang terlintas di dalam kepalanya, tapi tak satupun yang baik. Risa menggelengkan kepala mencoba fokus pada sisa pekerjaanya.


Hoon menatap dari jarak kurang lebih satu setengah meter, ya meja mereka berseberangan, ada meja kecil dan pot sebagai penghalang, Hoon masih bisa jelas menatap wajah rekan seruangannya, wajah cemas Risa membuat Hoon tak habis pikir, apa yang dia pikirkan? berkali kali Hoon mencoba menebak, wajah seperti itu biasanya saat Risa merindukan kekasihnya, apa iya, saat ini dia sedang memikirkan kekasihnya? Hoon menggelengkan kepala, dia tak bisa mengerti.


"Kekasih itu membuat pusing" gumam Hoon tak tertarik. Kau yakin?!


Baru saja bel makan siang berbunyi, Risa segera bergegas meninggalkan ruangan.


"Kau mau kemana!" Hoon berseru sebelum Risa menutup pintu.


"Aku ada urusan sebentar, kau makan siang dengan yang lain ya!" ujar Risa, dia terburu buru meninggalkan Hoon. Yang ditinggalkan merengut, dia kesal.


"Dia bahkan meninggalkan box makan siangnya" gerutu Hoon tak habis pikir.


Hoon mencari akal, dia tak mungkin menikmati makan siang sendiri. Risa bisa bisanya meninggalkan begitu saja, Hoon jelas jengkel.


Dia meraih gagang telepon.


***


Risa mendorong pintu ruangan MD, matanya mencari seseorang.


"Ya ampun Risa, kita hidup dan bernafas pada udara yang sama, tapi sulit banget ya ketemunya!" seru Reza segera menempelkan pipi mereka. Apa sih, mereka bahkan memiliki ruang kerja dengan lantai yang sama.


"Tumben lu kesini!" sindir Reza, Risa cengengesan, membuat senyuman lebar. Dia menyapa rekan rekannya dengan melambaikan tangan. Tapi mana sosok yang dia tunggu, belum ada juga.


Bunga muncul dari balik punggung Risa.


"Lu udah di sini aja!" seru Bunga mengejutkan Risa. Keduanya meninggalkan ruangan dengan bergandeng tangan.


"Lu tumben banget nelpon gue!" Risa memasang senyuman getir mendengar sarkas Bunga.


"Gimana hubungan lu sama Amar?" Risa mulai bertanya perihal pribadi pada Bunga, apa mereka seketika dekat karena hari itu? bisa jadi. Bunga mengeratkan gandengan tangan mereka. semantara sebelah lagi membuat gerakan seolah menggorok leher sendiri.


"End!" gusar Bunga. Lalu tertawa kecil.


"Bagus deh!" dukung Risa, keduanya mengangguk setuju.

__ADS_1


"Tapi ko," Risa memperhatikan pergelangan Bunga, sedikit memar. Amar menggenggam terlalu kuat tadi malam.


"Lu ga papa Nga?" Risa sedikit khawatir. Bunga menggeleng. "Engga ko, semua udah beneran end!" ujar Bunga dengan senyuman sinis.


Keduanya mengunjungi sebuah cafe pinggir jalan, memesan makanan dan sedikit berbagi cerita.


"Jadi, kenapa lu mau kita ngobrol disini hari ini?" tanya Bunga penasaran. Risa berpikir sejenak, lalu meyakinkan hati untuk curhat pada Bunga.


"Nga, gue mau nanya sama lu, secara lu kan uda lama banget pacaran" Bunga memasang wajah serius, Risa melanjutkan kalimatnya "Menurut lu, bedain cowok yang beneran lu cinta sama yang engga tuh gimana sih?" tanya Risa dengan raut wajah begitu ingin tahu.


Bunga menarik nafas dalam, dia menatap wajah Risa sejenak.


"Mm.. kenapa? lu ada masalah sama bos Glen?" tanya Bunga dengan raut wajah datar. Risa menggeleng.


"Trus, pertanyaan lu tuh ambigu banget tau. Lu mau tau bos Glen cinta apa ga sama lu, gitu?" tanya Bunga menarik benang merah dari kalimat panjang Risa. "Bisa jadi!" jawab Risa singkat dan cepat.


"Yaudah gini aja, selama doi masih mau sama lu, perhatian, sayang, ngelakuin apa yang lu mau, artinya dia cinta. Kalo dia udah ga lakuin itu semua, berarti dia udah ga cinta sama lu!" ujar Bunga kemudian. Dia menyorot wajah Risa, menarik senyuman getir.


"Gue ga tau Nga, bos Glen sama gue bakalan gimana, kayaknya mimpi kita buat nikah, buat serius ko malah longgar ya?" Bunga mengangkat bahu, seolah tak mengerti dengan maksud kalimat Risa.


"Setau gue, berdasarkan pengalaman gue. Terlalu cape buat bertahan sama cowok yang ga tulus sama kita" ujar Bunga berusaha jujur, ya, menurut Bunga bos Glen jelas bukan orang yang tulus. "cara buktinya dia tulus atau ga tuh, dengan.." Bunga memutus kalimatnya, dia sedikit berpikir.


"Dengan apa?" sambar Risa penasaran. Bunga menarik nafas berat, di wajah Risa yang polos dia mengingat pergulatan panas malam tadi. Bagaimana Glen menikmatinya, bagaimana pria itu seperti orang yang dahaga dan menemukan segelas air dingin, bahkan Bunga seperti lupa bernafas dibuatnya. Bunga mencoba menyingkirkan rahasia yang dia buat bersama bos Glen tadi malam. Menyimpan rapat rapat.


"Lu harus cari tau sendiri lah!" ketus Bunga kemudian.


"Ah, gue kan nanya sama lu, biar tau" gerutu Risa sedikit kecewa.


"Ris, kita tuh masih muda. Lu aja baru 23 tahun, emang lu udah siap jadi ibu rumah tangga?" tanya Bunga menyindir.


"Siap aja sih, kalau punya suami kayak bokap, secara dia bapak siaga"


"Apa bos Glen kaya bokap lu gitu?" tanya Bunga dengan tatapan mata tak percaya. Risa menggeleng.


Tentu saja bos Glen tidak bisa dibilang seperti ayahnya. Mana mau bos Glen berkecimpung di dapur dan mengerjakan pekerjaan rumah. Lagipula pekerjaan bos Glen lebih penting ketimbang menerima ocehan istri, belum lagi ditambah ibu ibu kompleks saat melayani kios.


"Bos glen si engga.." gumam Risa pelan, Bunga mengangguk setuju. Bos Glen mah jauh lah.


"Tapi ada seseorang yang kayak bokap!" ujar Risa kemudian


"Siapa!" Bunga penasaran.


"Ada deh!" senyum Risa mengembang sambil menyimpan nama Hoon dihatinya.


"Ish.. gue bilangin bos Glen ya!" ancam Bunga

__ADS_1


"Emang lu berani?" sindir Risa, Bunga kan tidak sedekat itu dengan bos Glen. Bunga membuat senyuman lalu menggeleng.


"Engga sih" ujar Bunga pelan disambut tawa kecil Risa. "Tapi gue bisa bikin dia berteriak nikmat dan menagih lagi dan lagi" batin Bunga menahan senyuman di bibir.


__ADS_2