Aku Kau Dan Masa Lalu

Aku Kau Dan Masa Lalu
Kesan pertama


__ADS_3

Di rumah orangtua Risa.


Mama sedang sibuk di dapur, Risa membantu mengatur meja. Sementara papa sibuk memotong daging, mereka akan makan besar hari ini. Sementara anggota keluarga sedang sibuk, Hoon tampak celingak celinguk tak mengerti. Dia merasa canggung saat semua bekerja dia malah bermain game.


"Risaa.." bisik Hoon meminta perhatian Risa. Tentu saja Risa mendengar hanya saja dia masih sibuk menyusun meja, mempersiapkan piring, mengisi teko, memecahkan es batu.


"Hemm" balas Risa menimpali panggilan Hoon.


"Apa tidak ada yang bisa kubantu?" Risa menghentikan pekerjaannya, dia melirik Hoon. Terakhir kau membantuku dengan menghancurkan dapur, Risa tersenyum lebar.


"Kau sedang membantu" jawab Risa santai. Hoon menautkan alis, dia sedang bermain game di ponsel, bagaimana mungkin Risa menganggap ini membantu, Hoon heran.


"Appa.." Hoon bangkit mendekati pak Bambang yang memegang pisau daging. "Ada apa nak?" tanya nya ramah sambil mengacuhkan pisau. Hoon bergidik ngeri melihat permukaan pisau yang mengkilap.


"Ah, sepertinya appa tak butuh bantuan" ujar Hoon pelan, dia tersenyum getir. Aku tidak akan bisa memakai pisau besar itu, bisik batin Hoon.


"Bahkan pisaunya lebih besar daripada wajahku" gumam Hoon tak mau ambil resiko. "Apa itu tak terlalu mengerikan, bagaimana kalau appa melukai lengan nya sendiri?" bisik hati Hoon takut, dia tak bisa membayangkan jika pisau besar itu salah sasaran. Hoon beralih ke arah Bu Emi, mama Risa. Beliau sedang memasak di dapur.


"Omma.." panggil Hoon dengan gaya manja "Apa aku bisa membantumu?" tanya Hoon membuat Emi menghentikan suapan sup di depan wajahnya, dia baru saja ingin mencicipi kuah.


"Kau mau membantu?" tanya Emi dengan wajah takjub. Hoon mengangguk.


"Aiih kau bukan hanya tampan, kaya dan baik. Kau juga anak yang sangat berbudi luhur" puji Emi membuat Risa mencibir.


"Mama akan menyesal setelah tahu apa yang akan dia lakukan nanti" cibir Risa mengejek, dia tahu betul Hoon tak pernah melakukan pekerjaan dengan benar, dia selalu gagal pada tugas pertama. Risa menyimak pekerjaan mama dan Hoon di belakang punggung mereka.


"kenakan celemek mu dulu.." ujar Emi memberikan sebuah celemek yang masih dilipat. Hoon menerima dan bingung bagaimana mengenakannya. Hoon mencoba membuka lipatan dan mendapatkan banyak tali, dia pernah melihat koki memakai benda ini, tapi dia tak tahu kemana tali harus disimpulkan.


Risa menahan tawa melihat wajah bingung Hoon. Dan Hoon menyadari itu.


"Hahahaa… piring ini lucu!" ujar Risa mengambil piring acak, dia mengalihkan pandangan saat Hoon menyadari tawa gelinya. Hoon mencibir.


"Mari omma bantu pakai.." ujar Emi dengan nada lembut, dia membantu Hoon mengikatkan tali celemek hingga benda itu rapi terpakai. Risa membulatkan mata, mama begitu perhatian pada Hoon, itu membuatnya gerah.

__ADS_1


"Apa kau bisa memotong wortel?" tanya Emi dengan lembut, Hoon mengangguk ragu. Risa serius memperhatikan sambil duduk di kursi meja makan.


"Oh ya- kenapa kau memanggil ku Oma? apa aku terlihat tua?" tanya Emi sebelum menyerahkan tugas pada Hoon. 


"Ya?" Hoon heran dengan pertanyaan Emi. "Kau boleh memanggilnya opa, tapi jangan panggil aku oma, aku belum punya cucu.." ujar Emi meraut senyuman yang mengandung banyak arti, dia keberatan dengan panggilan yang dilontarkan Hoon. Risa mengulum senyum, melihat wajah heran Hoon, Risa sungguh terhibur. Melihat mamanya protes pada Hoon adalah kebahagiaan bagi Risa.


"Omma bukan panggilan untuk nenek, itu panggilan sayang untuk mama dalam bahasa Korea, dan appa juga bukan opa, itu panggilan anak yang sayang pada ayahnya" jelas Hoon. Penjelasan yang sangat baik Hoon. Lihatlah wajah papa dan mama Risa, senyum simpul hingga senyuman yang semakin lebar, Emi tersenyum senang sementara Bambang yang mencuri dengar sempat menjeda potongan dagingnya.


"Jadi kau menganggapku mama tersayang?" tanya Emi dengan wajah berbinar. Bambang bangun dari posisi jongkok di lantai, dia ikut bergabung di dapur.


"Jadi kau memanggilku dengan sebutan ayah tersayang?" tanyanya dengan mimik wajah terharu. Hoon tersipu, dia mengangguk perlahan.


Haa!! Risa tak percaya dengan skill melelehkan yang Hoon punya. Apa apaan itu? Risa tak menyangka orang tua nya begitu terbuka menerima kehadiran Hoon. Risa bangkit dari duduknya dengan wajah heran, dia berniat bergabung ke dapur tapi sikunya menyenggol keranjang sendok.


PRAAK!!


Sendok garpu dan pisau kecil berjatuhan ke meja kaca hingga ke lantai keramik. Papa, mama dan Hoon menoleh kompak, ketiganya membuat wajah kecewa.


"Maaf ya, omma akan mengajari Risa supaya lebih feminim, kau tak apa kan?" Emi meminta perhatian Hoon. wajah Emi terlihat memohon. Hoon mengangguk dan beralih pada wortel di hadapannya.


"Risaaa, bereskan dengan rapi sayaaang!" teriak Emi meminta Risa merapikan kecerobohannya. Risa berjongkok dan mulai memungut satu persatu.


"Biar aku bantu" ujar Hoon segera beranjak dari dapur, dia ikut berjongkok di bawah meja, membantu Risa.


Bambang dan Emi saling menyenggol, keduanya kagum dengan sikap Hoon.


"Aku harap dia sabar menghadapi anak gadis kita" bisik Emi dan dibalas anggukan oleh Bambang.


"Dia terlalu sempurna untuk anak kita yang kentang" gumam Emi menggeleng pelan. Mereka sangat menyukai Hoon. Pemuda itu memikat hati kedua orang tua Risa. "Dia bukan hanya memberi banyak barang mewah, tapi sikapnya juga sempurna" puji Bambang penuh syukur melihat Hoon ada di sisi anak gadisnya, Emi sangat setuju.


Risa cemberut dan mengambil satu persatu sendok yang dia jatuhkan. Hoon ikut jongkok dan mengambil satu persatu.


"Kau aktor ya" hardik Risa dengan suara pelan, Hoon tersenyum bangga.

__ADS_1


"Kau terkesan ya" balas Hoon dengan senyum menyebalkan, Risa mencibir.


Hoon melihat sebuah garpu sedikit masuk ke bawah meja, dia berusaha menjangkau nya, sedikit sulit. Hoon harus menjulurkan tangan dan mencari cari posisi garpu di bawah sana. Ah, akhirnya dia mendapatkan juga, Hoon segera menarik tangannya.


DUK!!


baru saja Hoon hendak berdiri, kepalanya menyundul meja kaca, Risa segera jongkok dan membantu mengelus kepala Hoon, Risa menahan tawanya.


"Apa sakit?" tanya Risa perhatian. Hoon mengangkat wajah, dia mencoba menyentuh kepalanya yang di elus Risa.


Kedua tangan mereka saling bersentuhan. Bertepatan Hoon mengangkat wajah dan menatap Risa yang tepat di hadapan nya. Keduanya saling menatap beberapa saat.


Deg.. deg.. deg..


Suara detak jantung seakan berirama, semakin berpacu dengan senyuman yang ditarik perlahan.


Risa tak tahu jika Hoon memiliki sorot mata yang dalam, sudut matanya terlihat tajam dan indah. Risa baru menyadari jika Hoon memiliki senyuman yang indah, senyuman yang membuat orang akan menyukainya walau baru pertama bertemu. Risa merasakan sentuhan hangat di punggung tangannya, sementara telapak nya menyentuh helaian lembut rambut Hoon. Apa pemuda tampan dan mempesona ini yang selama ini bersamanya? kenapa Hoon hari ini sangat berbeda. Risa tak bisa berhenti menatap wajah Hoon.


Tarikan bibir Hoon kian melebar. Dia tak pernah melihat Risa segembira hari ini, apa karena bertemu orang tuanya? Hoon sadar jika gadis yang bersama dengannya selama ini memiliki jajaran gigi indah, yang mempesona, memiliki senyuman lebar yang ramah. Setiap hari, semakin bertambah hari, semakin lama kebersamaan, Risa membuat Hoon jatuh cinta kian dalam. Aku menyukaimu, aku mengagumimu, aku menginginkanmu.. hampir saja semua itu terucap jika saja Emi tak terburu buru meletakkan panci panas di atas meja.


"Apa kau baik baik saja?" bisik Risa sekali lagi. Hoon tersenyum.


"Aku tidak baik baik saja" bisik hati Hoon menahan gejolak perasaan di dadanya.


Bersambung..


Haii.. terimakasih masih membaca .


tinggalkan review bintang 5 ya berikut komentar kalian, kritik saran membangunnya


berikan aku bintang


hujani aku hadiah

__ADS_1


__ADS_2